![A Falling Memory [Belum Direvisi]](https://asset.asean.biz.id/a-falling-memory--belum-direvisi-.webp)
"Anu.... Scharlete... " Panggil seorang gadis yang tak lain adalah Amel. Scharlete yang sedari tadi sibuk membagikan brosur brosur di tangannya langsung menoleh.
"Ya? " Tanya Scharlete tenang, tidak mungkin kan Amel masih mau mencari masalah dengannya setelah kemarin, begitulah pikirnya.
Lagi pula sekarang dia sedang mendapat peran anak baik dari ibunya. Ya, dia kini sedang menjalankan hukumannya, dia disuruh oleh ibunya itu untuk membagikan brosur brosur panti asuhan.
Ibunya berencana untuk mengunjungi panti asuhan, namun akibat insiden yang dibuat Scharlete kemarin terpaksa Scharlete harus ikut serta sebagai hukuman. Apakah ibunya tidak merasa puas dengan siksaan dari Millo beberapa hari yang lalu?
Bukan hanya harus melihat bejibun anak kecil yang menurutnya penyebar kekotoran itu, dia juga harus membagikan brosur panti asuhan di sekolahnya agar bila ada yang tertarik bisa ikut serta dalam kunjungan atau menyumbang. Ingin menangis rasanya.
"Itu... Boleh minta brosurnya ga? " Tanya Amel ragu sambil menggaruk pipinya yang tidak gatal menggunakan telunjuk tangannya.
"Boleh banget!! " Scharlete langsung semangat memberikan selembar brosur pada Amel. Terharu rasanya ada yang mau minta.
"Oh iya... Terima kasih juga untuk yang... kemarin " Lanjut Amel sambil menyambut Brosur di tangan Scharlete. Berkat Scharlete, dia jadi memberanikan diri agar tidak perlu memenuhi permintaan gila ibunya. Meski belum pasti bagaimana kedepannya, tapi kini ayahnya ada di pihak Amel.
"Sama sama " Balas Scharlete tersenyum ramah.
'Wuah... Rasanya terharu saya. Aku bangga pada diriku ini ' Bangga Scharlete dalam hatinya.
"Amel! Udah belum? " Tanya seorang pria pada Amel sambil berjalan menghampiri mereka berdua.
__ADS_1
"Oh, udah. " Jawab Amel menghadap Steven, mantan pacarnya yang kini sudah menjadi pacarnya lagi.
"Bye, ya! Jangan lupa dateng! " Scharlete melambaikan tangan pergi meninggalkan dua orang yang nampak sedang berpacaran itu. Sorry, ga mau jadi obat nyamuk, katanya.
"Duar!! " Scharlete yang baru memasuki kelasnya langsung berjalan menghampiri Fani dan mengejutkannya.
"Apasih, a****. " Umpat Fani kesal.
"Selow cuy, jan ngegas... " Vito yang awalnya mengobrol dengan Fani itu menenangkannya. Bahaya untuk kesehatan kuping kalau Fani mengumpat lagi.
"Gimana? Selesai tugasnya? " Tanya Dian nimbrung.
"Bentar. " Scharlete membagikan satu persatu brosur itu ke atas setiap meja yang ada di kelasnya kemudian berjalan duduk di tempatnya.
"Apa pelajaran yang diambil dari kejadian kali ini? " Tanya Imanuel pada Scharlete.
"Harus membungkam mulut itu Wibu Jepang serapat rapatnya. " Scharlete langsung berbalik menghadap ke belakang tersenyum kesal mengepalkan tinjunya.
"Ck ck ga patut dicontoh. " Ejek Imanuel menyentil dahi Scharlete.
"Schar!!! " Mita Lansing berteriak memanggil Scharlete saat dia baru memasuki kelas dengan tas ransel yang masih setia di pundaknya.
__ADS_1
"Apa!! " Scharlete berteriak tak mau kalah.
"Ada ulangan Fisika!! " Jawab Mita.
"What... Aku ga belajar cuy!! " Scharlete Langsung mengobrak abrik tas ranselnya mencari buku catatannya.
Setelah menemukan buku yang dicarinya dia langsung mengeluarkan. Sebelum dia ingin membuka buku catatannya itu, "Kayanya, aku bakal dipanggil ke mana aja. " Ucapnya mengucapkan tebakan di kepalanya.
"Kalo engga mau apa? " Tanya Dian ikut menimbrungi.
"Kan aku bilang aku bukan kamu. Jadi belajar aja sono, aku juga mau baca baca dikit. " Scharlete Lansung membuka buku catatannya dan membaca halaman yang berisikan bab yang baru saja dipelajari.
"Loh, kau jadi tukang brosur dadakan toh? " Tanya Mita yang baru melihat Brosur di atas mejanya.
"Iya. Hukuman dari mama aku gara gara Niel mulut ember. " Jawabnya tetap fokus membaca.
"Nasib... "
"Jahat banget sih! " cemberut Scharlete.
"Nah, iya. Gitu dong Scharlete, jangan senyum terus. Entar Jantung Manuel keluar. " Nasehat jahil dari Vito.
__ADS_1
"Shut!! Up!! " Imanuel langsung membungkam mulut teman sebangkunya itu. Rasanya sekarang juga dia sangat ingin mengutuk kakak semata wayangnya itu. Tidak hanya membaca buku diarinya diam -diam, Kattie bahkan juga menyebutkan kalimat itu di depan teman tenants kemarin.
'Rasanya ingin ku bejek bejek tu orang. Untung masih dosa, kalo engga dosa udah kubejek bejek beneran tu cewek. ' Batin Imanuel sambil terus melontarkan tatapan mengintimidasi pada Vito supaya tidak berbicara lebih lanjut lagi.