![A Falling Memory [Belum Direvisi]](https://asset.asean.biz.id/a-falling-memory--belum-direvisi-.webp)
" Kring kring " terdengar bunyi handphone berdering. Imanuel yang awalnya tertidur mengerjapkan matanya. Tangannya bergerak meraba bawah bantalnya untuk mencari asal suara itu. Setelah menemukan Handphone asal kekacauan itu, dia langsung mematikan alarm Handphonenya.
"Males banget mau sekolah. Mager... Coba aja Arlete mau diajak bolos. " Gumamnya sambil mengumpulkan nyawa nyawa tanda kehidupan.
"Ckck Siapa tuh Arlete hayo??" Goda seorang gadis tengah berdiri bersandar pada pintu kamar Immanuel yang sudah dibukanya.
"Nambah lagi pagi pagi yang dilihat nenek lampir. " Kesal Imanuel yang pagi pagi sudah diganggu oleh kakaknya. Kattie adalah kakak perempuan Imanuel yang memiliki selisih usia yang cukup jauh, yaitu 7 tahun. Kakaknya itu kini sudah menjadi seorang manager dari perusahaan keluarganya. Dan alasannya tetap menetap di Indonesia adalah pekerjaan, walau dia juga berniat mengamati adik menjengkelkannya itu.
"Udah. Mau mandi. Keluar, hush hush! " usir Imanuel Bagai mengusir kucing yang biasa di ajak main Scharlete.
"Adik durhaka! " Maki Kattie berjalan keluar kamar Imanuel tanpa menutup pintunya.
"Tutup pintu wahai kakak terbenci. " suruh Imanuel tanpa bergerak dari tempatnya.
Namun tak ada jawaban dari gadis itu. Imanuel pun dengan kesal berjalan dan menutup pintu kamarnya itu. Dia kemudian mengambil handuk lalu langsung masuk ke dalam kamar mandi di kamarnya.
*
"Mana yang namanya Arlete, blis? " Tanya Kattie penasaran dengan menggunakan nama panggilan 'iblis' pada Imanuel. Tadi Kattie memaksa ingin mengantar Imanuel ke sekolah.
"Entar, paling 5-6 menit lagi ada." Jawab Imanuel sambil membuka pintu mobil kakaknya.
__ADS_1
"Yang mana bocah? " Tanya Kattie penasaran dengan pacar adiknya sekarang itu.
"Cari sendiri. Males. " Kata Imanuel beranjak dari duduknya di dalam mobil kakaknya.
Sebelum Imanuel keluar dari dalam mobil, Kattie langsung mencubit perut adiknya dari belakang sehingga Imanuel membatalkan niatnya.
"Eitss, Manuel tersayang, kasih tau dulu atau aku bilangin ke Papa kalo kamu disini cuma Main doang. " Ancam Kattie tanpa melepas cubitannya. Imanuel tiba tiba bergidik ngeri mendengar kakaknya itu membawa bawa makhluk paling ganas itu. Jovan, papa kedua manusia ini memang sangat keras dan disiplin. Dan bila dilihat sesaat, papanya itu seram sekali, ditambah dengan wibawanya itu, wew ngeri kalo marah.
"hih... Iya iya aku sebutin ciri cirinya. " Imanuel tampak ngeri .Kattie pun melepas cubitannya, lalu Imanuel langsung Melanglahkan kakinya keluar mobil.
"Nanti ada cewe, paling 4-5 menitan lagi. Putih, rambut coklat ikel bawah, kurus, tinggi sekitar 167, tas abu abu. " kata Imanuel menunduk menghadap kakaknya.
"ok. " balas kakaknya mengancungkan jempol
*
"El, kak Kattie cuci tangan ga? " tanya Scharlete menghampiri tempat duduknya setelah 5 menitan ditahan Kattie.
"Ga sejorok itu kok. " Jawab Imanuel masih fokus membaca buku dihadapannya.
"Ada ulangan?! " Tanya Scharlete terkejut.
__ADS_1
"Ga. Pengen baca bab selanjutnya aja. " Jawab Imanuel menutup buku ditangannya.
**
Kini Dian dan Sean tengah berjalan menuju kantin mereka menyusuri lorong lorong gedung sekolahnya. "Sean!! Ada kasus!! " Delen menghampiri Sean dan Dian yang lewat di depan kelasnya.
"Kasus apa, Beby?" tanya Sean bercanda.
"Ih, najis bab* bab*. Aku manusia. " bantah Delen.
"Iya, iya. Apaan? " Tanya Sean pada wakilnya itu.
"Si Jessica anak kelas kau ilang kalung emas" jawab Delen.
"Ko bisa? " Tanya Dian penasaran.
"Nah, suruh kayak kau aja. Males aku, kelas kalian juga. " Delen pergi memasuki kelasnya lagi Sambil mengibas ngibaskan tangannya.
"Woy, Ny***!!" Umpat Sean.
"Ckck gini loh, ketosnya kita. Ngumpat aja dibesar besarin. " kata Dian menggelengkan kepalanya mengejek.
__ADS_1
jangan lupa Like, komen, Dan vote ya!!