![A Falling Memory [Belum Direvisi]](https://asset.asean.biz.id/a-falling-memory--belum-direvisi-.webp)
"Gimana? Selesai pertemuannya? " Tanya Imanuel yang melihat Scharlete sedang berjalan menuju dirinya.
Scharlete tanpa basa -basi langsung duduk di atas rerumputan di bawah pohon maple yang rimbun hingga membuat daerah sekitarnya teduh. Dia duduk tepat di samping Imanuel yang sedang mengotak ngatik layar ponselnya.
"Udah. " Jawabnya singkat sambil ditemani senyum semanis permennya itu.
"Kelawat hoki tau gak sih kau tuh. Nyewa peramal kah? Beener terus jir, tebakannya." Sahut Imanuel heran.
Aneh kan? Sewaktu Scharlete bilang kalau hari ini dia akan dipanggil ke luar kelas, eh sesaat menjelang ujian dia malah dipangggil Bu Vana.
"Scharlete gitu loh... " Scharlete menyibak rambutnya yang sudah dikuncir kuda itu.
"Ckck... Enak banget. Kami ngerjain soal, kau malah bolos. " Imanuel merasa dirugikan disini.
"Enak sih enak. Bolos ulangan. Tapi malah telat Istirahatnya. " Scharlete mengeluh.
"Emang kalian ngapain sih di atas tadi? " Imanuel lanjut bertanya.
"Lomba basket. Tapi males join, ada Viona sama Mita juga. " Jawab Scharlete menggedikkan bahu seolah tak peduli dengan rasa tidak bersalahnya. Dari pada dia ikut dan ada masalah kan sia-sia. Perasaannya tidak enak untuk lomba ini, entahlah hambatannya nanti jika dia ikut.
"Besok juga kau udah ijin kan? " Tanya Imanuel lagi. Scharlete juga harus mengikuti lomba desain di Inggris dua hari lagi. Kesempatan yang cukup langka karena jarang- jarang ada lomba desain, apalagi desain pakaian.
"Iya. " Jawab Scharlete singkat sambil mengkepang rambut bagian depan kepalanya.
"Tumben kau kepang rambut? " Pertanyaan Imanuel terus berlanjut.
"Ada hal yang baik terjadi. " Jawab Scharlete sambil tersenyum. Dia memang tidak girly tapi tidak juga tomboy, jadi dia biasanya hanya akan mengkepang rambut bila terjadi sesuatu yang baik.
"Apaan? " Tanya Imanuel lagi dan lagi.
"Kok aku jadi kayak di interogasi sih? " Tanya Scharlete sudah bosan menjawab setiap pertanyaan Imanuel.
"El perhatian banget deh... " Goda Scharlete mencondongkan kepalanya menghadap Imanuel.
"Cup" Imanuel mengecup sekilas bibir merona milik Scharlete.
"Iya. " Ucapnya dengan pipi yang mulai merona.
"El!! " Scharlete langsung mengalihkan pandangan dengan tangan yang bergerak memukul bahu Imanuel.
__ADS_1
"Hei! " Imanuel memanggil Scharlete yang tengah menatapi pemandangan belakang sekolah mereka itu.
"Apa? " Jawab Scharlete tanpa menoleh.
"Kenapa kau suka pohon ini? " Tanya Imanuel. "Percaya ga? " Tanya Scharlete balik. Imanuel hanya mengangguk mengiyakan.
"Rasanya... Aku akrab dengan pohon ini. " Lanjut Scharlete. Imanuel semakin mengerutkan dahi.
"Kamu pernah kesini? " Tanya Imanuel lagi dengan wajah sangat keheranan.
Scharlete menggeleng. "Setelah berumur 6 tahun, aku pertama kali kesini waktu festival sekolah kelas 3 dulu. "
"Hmmmm.... Setelah berumur 6 tahun? "
Scharlete tersenyum sebagai jawaban.
"Alasan kenapa sering kesini waktu aku ga ada? " Tanya Imanuel lagi.
"Lihat, daun yang jatuh itu?" Tanya Scharlete menunjuk sebuah daun yang gugur tepat di depannya. Imanuel mengikuti arah yang ditunjuk oleh jari telunjuk milik pacarnya itu.
"Tau ga? Rasanya... Setiap satu daun gugur di depan kita... Seperti sedang melukiskan... sebuah kejadian di depannya. Kejadian yang nantinya akan menjadi... Ingatan berharga untuk kita. " Katanya Tersenyum menatap Imanuel dalam.
Imanuel yang sedari tadi menyimak Scharlete, ikut tersenyum. Dia kemudian mengeluarkan sebuah pulpen dari dalam saku celana seragam sekolahnya. Dia kemudian mulai memahat sesuatu pada batang pohon maple itu.
"Kau ngapain?? "
"Entar ada sirupnya keluar ga? "
"Merusak lingkungan sekolah ih. "
Kata kata itu terus terlontar dari mulut Scharlete, namun hal itu seperti tidak terdengar oleh Imanuel, dia terus fokus pada pahatannya.
"A Falling memory. " Nampak hasil pahatan Imanuel.
"Nama pohon ini, *A Falling memory * . Artinya Memori yang berjatuhan. " Jelas Imanuel sambil menatap puas ke arah batang pohon itu.
Scharlete mengeluarkan spidol dari dalam saku jas almamaternya. Dia mulai melakukan hal yang sama seperti Imanuel, namun bedanya dia mencoretnya.
"Arlete & Nuel "
__ADS_1
"Gapapa lah, sekali kali ngerusak sekolah. " Tawa Scharlete.
Keduanya kini saling menatap dalam dan melontarkan senyuman manis pada satu sama lain.
Scharlete menyenderkan kepalanya ke bahu Imanuel. "Hmm? " Imanuel heran, tidak biasanya Scharlete menjadi sangat manja.
"El... " Scharlete mulai berbicara tanpa merubah posisi duduknya.
"Kalau, misalkan kita.... kepisah lagi gimana? "Tanya Scharlete pelan.
"Hussh... Ga boleh doa kayak gitu. Mulut kau tuh asin tahu ga? " Balas Imanuel ikut menyenderkan kepalanya di atas kepala Scharlete.
"Hmmm... Tapi, kalau misalkan ada sesuatu yang terjadi... Jangan pernah anggap aku udah ga ada, ya? " Lanjut Scharlete lagi.
Imanuel menggangkat kepalanya, kemudian menangkup pipi Scharlete dengan kedua tangannya agar menatap matanya.
"Iya. Tapi kenapa kok kau doanya yang gituan terus sih? "
Scharlete terdiam sejenak.
'Kau ga tau, kalau mungkin sebenarnya identitas aku... ga semudah itu. Mungkin sangat rumit. ' Batin Scharlete.
"Gapapa kok. " Scharlete tersenyum.
Halo.....
Kangen gak????
Ini belum tamat loh...
Masih panjang 😂
Jadi mohon dukungannya terus!!!
Bubye.
Salam hangat
Grey Sky.
__ADS_1