A Falling Memory [Belum Direvisi]

A Falling Memory [Belum Direvisi]
Bahagia


__ADS_3

"Ck ck Enak banget mesra mesraan, ga liat apa orang jomblo disini. " Ucap Fani melihat tingkah Imanuel menggendong Scharlete tadi.


"Sini mau gendong juga ga? " Goda Vito sambil memainkan rambut Fani dari belakang.


"Najis! Kata Mita ga mukhrim! " ketus Fani.


"Hih, galak amat buk! " Protes Vito. Vito akhir akhir ini terus berusaha mendekati Fani, entah apa alasannya. Mungkin bisa dibilang dia tertarik, suka atau bahkan sudah jatuh cinta pada gadis judes itu.


"Haih, tiba tiba pengen nyusul kak Frans ke Inggris. " Dian menghela nafas berat. Rasanya saat ini juga dia ingin memesan tiket pesawat ke Inggris tanpa mempedulikan pelajaran.


"Psst... Kau merasa Vito aneh ga? " bisik Evan pada Sean. "B aja tuh. " Sean menggedikkan bahu.


"Masa ga tau sih? Dia tuh suka ama Fani tau! " Evan yang sedari tadi menyimak dua orang itu mengutarakan pendapatnya.


"Iya kah? " Tanya Sean yang memang tak peka terhadap sesama jenis. Buat apa peka sama sesama jenis, orang nantinya sama lawan jenis. Begitulah batinnya.


"Ada pohon sakura bertebaran menyebarkan kelopak cinta untuk saling menghangatkan. " Evan berpuisi sambil memeluk dirinya sendiri.


"Haduh.... Drama kau lebay! " Balas Sean melihat tingkah anak klub teater itu.


**


**


" Ga seru banget. Masa aku jadi makan kue sendirian sih?! " Kesal Scharlete dalam hati sambil memotong kue rasa red velvet di depannya dengan sendok sebagai alat dan kekesalan sebagai bumbu.


Dia awalnya ingin mengajak ketiga sahabatnya itu mampir ke kafe untuk hangout bareng. Nyatanya sekarang malah sendirian di kafe dekat sekolahnya.


"Ping " notifikasi pesan masuk ke dalam handphone Scharlete.


Niel tak berotak


-Nih orangnya!


-File. Docs

__ADS_1


Me


-Tq.


Scharlete sebenarnya tak terlalu tertarik untuk urusan Amelia nanda ini. Namun apa boleh buat, dia penasaran dengan identitas orang ini sampai sampai takut disebar aibnya.


Dia sangat terkejut setelah melihat data itu. Dia sangat heran dengan identitas gadis ini. Disini ditulis bahwa dia masih mempunyai ayah dan ibu, namun bila pada data sekolah Ayah dan Ibu kandungnya sudah meninggal.


"Aneh... Apa sekolah yang salah atau Niel yang salah. Ohh.... Udah punya pacar toh? Kayaknya hubungan dengan pacarnya lumayan... Abis itu disini dibilang Mama Papa nya ga terlalu akur toh. " gumamnya sambil menatap layar Hand phone miliknya.


**


"Bruak " Terdengar suara pintu dari kamar seberang dibanting.


"Pergi kau ******. Muak aku! " Bentak lelaki yang memasuki kamar seberang dan membanting pintu tadi.


"##"!('/":'\=$$'?:"/:# " Setiap teriakan , bentakan, tangisan, dan kata kata kasar kedua orang itu terdengar jelas di telinga Amelia.


Gadis itu duduk di tepi ranjangnya sambil mendengarkan musik dengan earphone miliknya. Sekencang apapun musik yang keluar itu masih tak bisa mengalahkan kegaduhan di kamar seberang. Suara suara itu bahkan terdengar jelas.


"Kenapa? Kenapa aku ga bisa hidup seperti orang lain? Aku bahkan cuma ingin kehidupan normal. Kebahagiaan yang normal. Tapi kenapa hidupku begini? Aku cuma ingin mencoba seperti orang lain. Mendapat apa yang mereka sukai. " lirih gadis itu sambil menangis.


"Kenapa hidupku ga semulus hidup Scharlete? Kenapa? Apa cuma aku yang harus menderita? " rintihnya lagi.


Amel kemudian menghapus air matanya. Dia mengganti seragam sekolah nya dengan celana jeans dan kaos. Dia memutuskan untuk pergi ke luar rumah.


**


"Ohhh... Udah ambil kesimpulan. " gumam Scharlete.


"Cepet pulang! Donorin langsung ginjal kamu!" terdengar suara seorang wanita dari meja di belakang nya.


"Tapi bu... " Terdengar suara yang tak asing di telinga Scharlete yang tak lain adalah Amel. Ibu Amel berhasil menyusul anaknya yang tadi keluar dari rumah ini dan langsung meminta donor ginjal.


"Ga mau tau! Sekarang! " Paksa sang ibu menarik tangan Amel.

__ADS_1


"Gila, galak amat buk? " Hadang Scharlete sebelum Mereka berdua melangkahkan kakinya untuk langkah kedua.


"Minggir, ga sopan banget sih? Dia harus donorin ginjalnya supaya anak saya hidup! " Bentak Ibu Amel pada Scharlete sedangkan Amel hanya terdiam melihat Scharlete menyaksikan semuanya.


"OK. Awalnya sih saya masih mau sopan tapi karena ibu yang minta, saya penuhi! " Seru Scharlete.


"Minggir! Ada yang butuh ginjal dia! " Bentak sang ibu dengan suara kencang.


"Apa ada coba ibu kandung meminta anaknya untuk mendonorkan ginjalnya bagi saudaranya?! " Ucap Scharlete lantang agar didengar semua orang.


"Kalau ibu memang sayang dengan anak bungsu ibu, kenapa bukan ibu yang mendonor? " Ucapnya tambah lantang agar didengar orang lain. Orang orang yang mendengarnya langsung bergosip.


"Kau! " Bentak Ibu Amel.


"Bu... Orang aja jual ginjal dapet duit, sementara Amel? Malahan ga dapet kebahagiaan sedikitpun. Kenapa? Karena dia yang ngasih tau ke suami ibu kalo ibu selingkuh? " Tambah Schatlete.


"Dan kau, Amel. Kau bahkan berani ngejebak orang tapi kau sendirinya bodoh. Setidaknya minta dia perlakukan kau dengan baik! Ini? Udah ga seneng, dengerin orang tua berantem mulu, masih harus donorin ginjal lagi. Dapet duit aja enggak. Kalo misalkan ginjal yang satunya ga sehat, kau mati sia sia tau! " Bentak Scharlete kesal melihat orang yang bahkan berani bermain tipu muslihat padanya itu segitu bodohnya.


"Banyak tau orang yang bahkan ga dirawat orang tua kandung bisa bahagia. Tapi kau apa? " Lanjutnya.


"Dan kau ibu, kau bahkan melahirkan dia tapi sengaja mengorbankan dia hanya karena dia membuatmu kehilangan kesenangan mu itu. Haih... Ironisnya hidup. " Scharlete berbalik menghadap wanita tak berperasaan itu lalu langsung menghembuskan nafas.


Ibu Amel yang merasa malu Lansing meninggalkan Scharlete dan Amel.


"Buat apa? Malahan bagus kalo aku mati! Aku ga tahan! " Amel yang sedari tadi diam bersuara sambil meneteskan air matanya.


"Kalaupun kau Akan mati, setidaknya rasakan dulu kebahagiaan. " Scharlete menepuk pundak Amel kemudian mengambil ranselnya karena malas makan lagi.


"Satu lagi, aku kasih tau. Jangan melepaskan sebuah mutiara di tangan hanya untuk menangkap mutiara lain. Tapi kau sudah membuang mutiara itu dan bahkan tak mendapat mutiara lain. Jadi, sebelum mutiara milikmu tadi di tangkap orang, tangkap kembali dia! " Nasehat Scharlete pada Amel yang sebenarnya membahas mantan pacarnya .


Scharlete tahu bahwa kedua orang itu sangat saling mencintai. Sayangnya Amel memutuskan hubungan mereka hanya karena hasutan Jessica untuk mendapat Imanuel.


Scharlete langsung meninggalkan Amel sendirian setelah mengucapkan Kata kata mutiara itu.


"Percayalah Amel, setiap orang layak bahagia namun dengan cara yang berbeda. Janganlah kau melewatkan kesempatan bahagia itu hanya karena orang orang yang kau anggap penting itu.

__ADS_1


Tanpa orang tua kandung pun kita masih bisa bahagia dengan orang lain. Karena ada orang yang dirawat oleh orang tua angkat namun bahagia. Sama sepertiku. Karena, di dunia ini, kita masing masing sudah memiliki sandaran. Dan sandaran mu bukan pada keluarga itu. "


__ADS_2