A Falling Memory [Belum Direvisi]

A Falling Memory [Belum Direvisi]
Keren


__ADS_3

"Dek Nuel, sini!" Evan yang kini berjaga di depan pintu kelas layaknya satpam itu memanggil Imanuel. Imanuel berjalan menghampiri Evan yang tadi memanggilnya itu dengan berjalan santai sama seperti sebelumnya.


"Apa sih? " Tanya Imanuel saat sudah berada di hadapan Evan. Dia ikut terheran heran atas keadaan kelasnya yang agak gelap hanya mengandalkan cahaya di balik tirai jendela kelasnya.


" Tumben lama dateng? " Tanya Evan balik melihat Imanuel yang biasanya datang paling awal itu kini terlambat.


" Jadi pelayan dadakan. " Jawab nya tanpa ragu.


"Pembantu siapa? " Tanya Evan memamerkan muka seolah tak tahu. Padahal dia sudah tahu jelas atas Kattie yang ribet itu. Maklumlah, Imanuel kemarin curhat padanya akan siksaan Kattie yang terus memerintahnya.


" Ga laku muka kau! " Imanuel langsung melangkahkan kakinya memasuki kelas gelap itu.


Nampak hampir seluruh anggota kelas mereka sudah duduk manis di tempat masing masing seolah menunggu bioskop dimulai.


Ya, seluruh kelas sudah duduk manis dan nampak seolah menanti Imanuel kecuali Scharlete yang sedari tadi tak nampak batang hidungnya itu.


" Tes tes... Halo. " Terdengar suara Scharlete dari depan kelas seolah mengetes mikrofon. Padahal mulutnya tak kalah cempreng dari Dian.


"Mohon kalian tonton Film spesial berikut ini." Lanjutnya tanpa basa basi. Proyektor yang tergantung di langit langit ruang kelas mereka langsung menyala. Tampak sebuah video yang belum diputar. Sebelum diputar pun semua tahu kalau itu adalah rekaman CCTV kelas mereka.


Setelah di putar, nampak pemandangan Jessica dan Amel yang mengendap ngendap memasukkan kalung yang dicari cari kemarin ke dalam tas abu abu milik Scharlete. Seluruh kelas langsung riuh pikuk melihat video yang sedang diputar itu.


" Wah, licik banget! "


"Berarti selama ini kita ditipu dong "

__ADS_1


"Entah kenapa aku merasa bersalah sama Scharlete "


" Enggak! Ini palsu! " Elak Jessica langsung spontan berdiri diikuti oleh Amel yang secara khusus diundang Sean atas paksaan Scharlete.


"Oh, perlu panggil guru buat buktiin ini beneran? " Tanya Scharlete tersenyum memicingkan bibir.


"Enggak! Jelas jelas kau bully aku gara gara aku pernah pelukan sama pacar kau! " Amel ikut membela diri dengan penuh dusta.


"Iya, untuk apa sih pake palsuin CCTV segala? " Jessica tetap tak ingin menerima kekalahan untuk kedua kali setelah kejadian Francisco.


"Oh, coba logis... Apa mungkin Imanuel selingkuh? " Ucap Scharlete. Imanuel yang mendapat tayangan perdana dari sang pacar hanya menyimak.


"Iya! Plis, Scharlete... Stop bully aku! " Kata Amel dramatis minta dikasihani.


"Kau udah ngebully temen aku, abis itu ga puas lagi? " Jawab Jessica dengan sedih namun dibuat sejelas mungkin.


"Oh, ya? Apa aku berani ngebully seorang sahabat dari anak presdir perusahaan VN? Sementara aku pun mau jadi desainer dari perusahaan itu? " Scharlete mengangkat dagu Jessica agar sedikit mendongak menatap wajahnya yang lebih tinggi.


" Kan bisa saja. " Jawab Jessica menepis tangan Scharlete yang memegang dagunya. Sekali lagi, bibit bibit gosip bertebaran.


" Kau pikir aku ga takut sama orang yang bahkan membunuh pacar dari orang yang ditaksirnya? " Ucapan Scharlete membuat gempar seluruh kelas.


" Kau!! " Bentak Amel pada Scharlete sambil menunjuk dengan jari telunjuknya.


" Oh, mau fitnah apa lagi? Atau kamu lebih tertarik agar aib mu kusebar juga? " Ancam Scharlete. Sebenarnya Dia lupa meminta Daniel untuk mencari tahu tentang sosok Amelia Nanda ini. Tapi apalah daya, cuma ini yang berguna.

__ADS_1


Amel terdiam seribu bahasa. Baik Amel maupun Jessica terheran heran dari mana gadis ini mendapat informasi sepenting itu. "Mau kuambilin Kamus Besar Bahasa Indonesia ga? Ga enak ngeliat orang bisu. " Lanjut Scharlete mengetahui bahwa keduanya sudah dikalahkan.


"Cih! " Amel dan Jessica keluar dari kelas itu dengan menebalkan muka.


Setelah mereka keluar lampu pun kembali dinyalakan. "Thank you! Udah selesai dramanya, belajar! " Lanjut Scharlete setelah kedua gadis itu keluar meninggalkan ruangan itu.


"Bruk" Scharlete tak sengaja jatuh terduduk karena kakinya terbelit saat dia ingin kembali ke tempat duduknya. Seketika tawa seluruh kelas pecah.


"Hih! Kan lagi keren gini masa diketawain sih? " Kesal Scharlete. Padahal setelah sekian lama dia akhirnya bisa segitu keren dan tegas, eh, dia terjatuh.


"Kualat tuh! Ngatain aku monyet! " Dito masih tak setuju dengan panggilan yang diberikan Scharlete untuknya.


" Iya kakek! " Sahut Scharlete masih duduk sambil melihat kakinya.


"Kok kakek sih?! " Dito tambah tak setuju.


"Kan kalo kualat sama orang tua yaudah! " Sekali lagi seluruh kelas tertawa akibat Scharlete.


Scharlete kemudian berusaha untuk berdiri. Namun naasnya, kakinya keseleo dan sulit berdiri. Imanuel yang menyadari hal itu langsung berdiri menghampiri Scharlete.


" Udah. Seneng banget ya, ngelawak? " Tanya pria itu sedikit tertawa kemudian berjongkok dan mempersilahkan Scharlete menaikinya.


Scharlete yang menyaksikan itu langsung menaiki punggung lebar milik pacarnya itu. Dengan malu dia digendong oleh Imanuel menuju UKS.


jangan lupa Like, komen, dan votenya! BUBYE!

__ADS_1


__ADS_2