A Falling Memory [Belum Direvisi]

A Falling Memory [Belum Direvisi]
Bye Kak Fransisco


__ADS_3

"Cantik banget pemandangannya lain kali kesini lagi, yuk kak! " Kata Dian sambil meregangkan tangannya ke atas dan berjalan keluar biang lala.


"Iya ya. Nanti kalau aku ke Indonesia kita kesini lagi aja. " Faransisco mengelus pelan rambut Dian.


"Entar kalo kamunya ke Inggris aku tunjukin taman hiburan yang bagus deh! " lanjut Fransisco selagi mereka berdua berjalan menuju stand makanan yang tadi.


"Loh, muka orang ada yang mirip jeruk kunci. Masem amat." ejek Dian melihat ekspresi sebal dari Scharlete yang duduk di meja mereka tadi.


"Diam aja sana! " Scharlete bertambah kesal.


"Loh, kau abis makan cuka ya, Schar? Masem amat nular ke muka. Awalnya udah asem tambah diasemin. Kaya susu fragmentasi! " ejek Mita yang baru saja datang.


"Sewot amat. " balas Scharlete.


"Eh, dua anak monyet mana? " tanya Evan.


"Anak manusia... kau mau temenan sama monyet? " tanya Sean.


"Kan temen kau bukan temen aku. " balas Evan sigap yang diakhiri tawa olehnya.


"Gak lah, temen Manuel tuh!!" Sean yang duduk di kiri Imanuel menyikut lengan Imanuel.


"Waras ngalah. " jawab Imanuel selow.


"Tuh, anak monyetnya! " Mita menunjuk Fani dan Vito yang berjalan menuju mereka.


"Kalo mau ngatain, ngatain monyet aja. Kalo kau ngatain mereka anak monyet berarti emaknya yang monyet! " seru Dian.

__ADS_1


"Hi, monyet!! " sapa Scharlete pada Fani yang baru sampai dan tengah mendudukkan diri di sampingnya.


"halo, a****g!! " balas Fani sambil melambaikan tangan menghadap Scharlete.


"Hih, mulutnya balik pedes lagi! " seru Scharlete.


** esoknya


"Kak, tetep jaga kontak ya... Jaga kesehatan juga. Kalo ada apa apa boleh cerita sama aku! " ucap Dian sambil memeluk Fransisco.


Mereka berdua kini sedang berduaan di taman untuk saling berpisahan.


"Iya. Kamu juga, ya! Belajar giat giat supaya bisa nyamperin kakak ke Inggris. " Fransisco membalas pelukan Dian.


"Yakin nih ga mau dianter sampe bandara? " tanya Dian melepas pelukan Fransisco perlahan.


"Iya, deh! Bye kak Frans! " seru Dian kemudian menginjitkan kakinya dan mengulurkan tangannya ke pipi Frans.


"cup " Dian mengecup pipi Fransisco sesaat dengan wajah merona. Seketika seluruh telinga Fransisco memerah seperti tomat.


"Iya, titip adikku ya! Bye! " Fransisco kemudian mengecup jidat Dian.


**


"Hoam... Masih ngantuk banget. Males banget, hari Senin lagi! " seru Mita sambil menaiki tangga satu persatu dengan menguap dan langkah yang sangat malas.


"Halo, Evan. Mita membutuhkan kehangatanmu pagi ini. " ucap Imanuel dengan nada meledek sambil menempelkan handphone nya ke telinga dan berjalan melewati Mita.

__ADS_1


"Eh! Kau nelpon Evan? " Mita berteriak. Imanuel kemudian membalikkan tubuhnya dan menunjukkan Handphone di genggamannya yang belum aktif.


"Kapan kau ngambil nya! " Mita terkejut mengecek Handphone nya.


"Hihi, nih! " Imanuel menyerahkan handphone Mita kembali ke tangan Mita.


"Sumpah, aku ada dosa apa sih? Ketemu orang kaya iblis semua. Yang satu Scharlete, satu lagi nih anak. Pusing..." Sesal Mita sambil mengusap kepalanya dan berjalan melewati Imanuel.


**


"Loh, kau gambar apa Schar? " tanya Mita sambil duduk di bangkunya.


"Gambar ide buat lomba. tinggal 13 hari lagi." kata Scharlete.


"Kok ga gambar Minggu ini aja? " tanya Mita.


"Gatau. " jawab Scharlete singkat.


**minggu


"Hiks... Mita, tolong cepetan dateng sini! " kata Scharlete sambil menangis di telepon...


kira kira, apa yang terjadi pada Scharlete?


jangan lupa like, komen, dan vote ya!


BUBYE!!

__ADS_1


__ADS_2