![A Falling Memory [Belum Direvisi]](https://asset.asean.biz.id/a-falling-memory--belum-direvisi-.webp)
"Hei, Vito. coba jawab jujur! " Pinta Evan yang kini tengah penasaran tentang asmara sahabatnya itu.
Kini, Evan, Sean, Vito, dan Imanuel tengah berkumpul di apartemen Imanuel. Tujuan awalnya sih persiapan ulangan, nyatanya bisa nyasar ke dunia game.
"Apa? " Tanya Vito yang masih belum mengetahui arah pembicaraan sahabatnya itu
"Kau suka Fani kan. " Sean langsung menyahut seolah olah membuat pernyataan bukan pertanyaan.
"A-apaan sih? " gugup Vito dengan telinga memerah mendengar perkataan Sean tadi.
"Ctek " Terdengar suara rambut Vito yang putus ditarik oleh Imanuel.
"Aww... apaan sih Manuel!? " Kesal Vito mengusap kepalanya yang sudah berkurang sehelai rambut.
"Ketahuan banget tau gak. " Kekeh Imanuel.
"Udahlah, ngaku aja mas. Saya ikhlas diduakan. " Drama Evan sambil mengusap pipinya yang tak basah.
"Plak " Sean melempar sebuah pena dari meja Imanuel tepat mengenai jidat Evan .
"Cuy, pena aku tau! kalo pecah gimana? " Kesal Imanuel. Asal lempar aja tuh anak, kalo macet kan sayang. Tambah lagi kalo kena jidat besinya Evan. Bisa pecah seribu.
"Iya. Aku suka Fani. " Akhirnya Vito memberi jawaban yang ditunggu tunggu. Tentunya didampingi wajahnya yang sudah seperti tomat.
"Oooooo" Sahut Imanuel, Evan, dan Sean bersamaan.
__ADS_1
"Udah bilang? " Tanya Sean.
"Ga. Fani ga peka. " Jawab Vito sedih.
"Kasihan anak orang. " Evan menggelengkan kepalanya.
"Tapi aku penasaran. Gimana rasanya suka sama orang? " Tanya Sean melirik ke arah tiga orang itu bergantian.
"Makanya pacaran. " Jawab Vito melontarkan tatapan datarnya pada Sean.
"Iya, penulis kok ga tau. " Sahut Imanuel.
"Ya kan aku nulis cerita Fantasi bukan romantis. " Sahut Sean membaringkan tubuhnya di atas ranjang temannya.
"Mau dengerin dari aku ga? " Evan menunjuk dirinya sendiri.
"Ya udah. Kau aja yang ceritain gimana perasaan kau ke Scharlete? " Vito bertanya.
"Iya. Sekalian ceritain 'pohon' itu tuh. " Sean ikut menambahi soal.
"Ga mau. " Jawab Imanuel langsung.
"Rasanya dunia ini hanya ada aku dan dia. Saling melengkapi karena tak akan ada orang lain yang bisa. Terkadang aku takut sendiri, bagaimana kalau tiba tiba aku serangan jantung saat melihat senyumnya. Rasanya semua perasaan bercampur aduk namun tetap bisa kurasakan kebahagiaan yang mengalir. " Kattie mengucapkan kata kata yang ditulis sendiri oleh adiknya di buku diarinya itu.
Imanuel yang menyadari dari mana narasi itu berasal langsung membungkam mulut Kattie yang sedang bersender pada pintu kamarnya itu.
__ADS_1
"Apa sih? Ngawur aja. Abis itu kayak setan tiba tiba dateng! " Seru Imanuel kesal.
"Aww... El sayang, Arlete terharu! " Sahut Evan menirukan panggilan yang biasa digunakan Scharlete dan Imanuel.
"Hahaha, sampe merinding sesaat aku . " Sean menertawakan Imanuel.
"Tapi bentar, Dia manggil Manuel "El " ?" Tanya Kattie.
"Iya. El dan Arlete, haha " Tawa Vito pecah.
' El... dan Arlete... Hmmm, Kok semakin kesini aku merasa kalo kami pernah ketemu sebelumnya ya? ' Batin Kattie memutar jari telunjuknya di atas pelipisnya.
**
"Natania Scharlete! " Mana Scharlete itu Mendobrak pintu kamar anaknya yang tak terkunci itu.
"Eh.. Ayam monyongnya copot!" Refleks Scharlete berteriak.
"Ditinggal sehari sudah terkenal di sekolah ya!" Kesal Ibunya itu dengan mata memerah.
*
"Siapa aja yang udah tahu tentang mata kamu? "Tanya Ibunya itu. Akhirnya Scharlete jadi disidang kan gara gara Jessica t** itu! Batinnya
"Mita, Dian, Fani, sama Viona doang kok! Jawab Scharlete memainkan jarinya.
__ADS_1
"Haduh... "