![A Falling Memory [Belum Direvisi]](https://asset.asean.biz.id/a-falling-memory--belum-direvisi-.webp)
"Eh eh, dek sini! " panggil Kattie pada seorang siswi di sekolahan adiknya itu. Gadis yang cocok dengan ciri ciri yang disebut adiknya itu mendekatinya.
"Iya kak? Mau cari orang kah? " tanya Scharlete sopan sedikit menunduk agar dirinya bisa melihat sosok orang yang memanggilnya dari mobil itu.
"Yang namanya Arlete? " Tanya Kattie bertanya melalui kaca mobil yang sudah terbuka. "Arlete?? Kakak siapa ya? " Tanya Scharlete halus karena orang yang biasanya memanggil dirinya Arlete hanya Imanuel seorang.
Kattie beranjak dari duduknya keluar dari mobil. Kattie kemudian memperhatikan Scharlete dari atas ke bawah.
'Bener kok dia. Tinggi 167 kan, berarti selisih sedikit sama aku. Putih, tas abu abu, rambut coklat, muka rada bule, rambut ikal bawah. Sopan juga. Tampangnya anak pinter, taat juga. ketauan dari bajunya lengkap' Kattie menganalisis.
"Kau pacar Imanuel kan?"Tanya Kattie to the point. Scharlete mengangguk mengiyakan.
"Kattie, kakak Imanuel. " Kattie mengulurkan tangan. Scharlete sesaat menyimak tangan kakak dari pacarnya itu.
"Bersih kok." Kattie meyakinkan.
"Ah, maaf kak ga maksud gitu. " Scharlete membalas uluran tangan Kattie nampak bersalah.
"Gapapa kok. Bye! " Kattie melambaikan tangan sambil masuk ke dalam mobil dan hanya dibalas lambaian tangan Scharlete. "brum" Kattie langsung menginjak gas.
"Hah?? " Scharlete bingung. Apakah orang itu sengaja ingin bertemu dengannya? .
Tapi ada satu hal yang membuatnya lebih gelisah. "Tuh orang bersih ga sih? " Scharlete menggosok gosok tangannya.
__ADS_1
**
Kini Kattie tengah rapat bersama perusahaan yang akan diajak bekerja sama dengan perusahaan mereka.
"Where did I met her before?~ Dimana ya, aku ketemu sama dia sebelumnya? " pertanyaan itu terus terlintas di kepala Kattie.
"Manager, Are you okay? Is something wrong? ~ Manager, Anda baik baik saja? Ada yang salah" Tanya Sekretaris Kattie, William. William heran melihat atasannya itu tidak bisa fokus.
"Oh, sorry. It's nothing. ~ Oh, maaf. Tidak ada apa apa. " Jawab Kattie mempersilahkan meeting dilanjutkan.
**
"Huhu... Sekarang kalungnya udah hilang. " Tangis Jessica.
"Udah, pasti ketemu kok. " Salah seorang murid menenangkan gadis itu dengan menepuk pundaknya.
"Ada kerjaan baru? " tanya Sean agak malas. Padahal biasanya ketua osis satu ini akan kegirangan mendapat pekerjaan. Namun, nampaknya kali ini tak seperti itu karena gadis yang terlibat adalah Jessica. Bukan mengapa, tapi dia masih kesal atas perlakuan Jessica pada kembarannya beberapa bulan lalu.
"Tuh, semangat. Fighting!! " Vito menyemangati Sean dengan agak mengejek.
"Kenapa bisa hilang sih? " Tanya Sean menghampiri Jessica malas.
"Hiks... Aku gatau wak-" kata kata Jessica terputus dahulu.
__ADS_1
"Jess, kok bisa ilang sih? " Tanya Amel tampak terkejut dengan mata agak berkaca kaca memasuki ruangan kelas tetangga.
"Maaf Mel, hiks. Aku balik dari Makan udah hilang. Hiks " Jawab Jessica menyedihkan dan kebingungan.
"Padahal itu kalung dari almarhum mama aku." Tangis Amel pecah.
"Maaf, Mel! " Jessica memegang tangan Amel.
"Ckck. Orang di peraturan sekolah ga boleh pake perhiasan. " Ucap Fani dengan nada malas tapi ketus.
"Bodohnya lagi ditipin orang. " Kata Mita tak kalah ketusnya.
"Huss! Ga boleh gitu. " Nasehat Eci.
"Eh, tumben kau diem diem ae. " Dian membalikkan badan heran.
"Sstt. Lagi fokus! " Kata Scharlete tetap fokus menatap ke luar jendela.
"Gimana kalau kita cek aja tas orang satu satu. " usul salah seorang teman Jessica.
"Iya ya. " Sahut Amel mengelap air matanya.
Satu persatu tas siswa maupun siswi di periksa tanpa terkecuali oleh Sean, Viona serta Vian .
__ADS_1
"Hah? " Seluruh kelas beralih atensinya menuju tas ransel abu abu milik Scharlete. Seluruh bisikan bisikan maut dari tukang gosip pun membara.
Jangan lupa like, komen, dan votenya ya!! BUBYE!!