A Falling Memory [Belum Direvisi]

A Falling Memory [Belum Direvisi]
Ga Pernah


__ADS_3

"Hoam... ngantuk. " Scharlete yang baru terbangun dari tidurnya itu bergegas pergi menuju kamar mandi. Selang beberapa waktu, gadis itu keluar dari kamar mandi dengan handuk yang melilit badan dan rambutnya.


Scharlete bergegas memakai seragam sekolahnya. Ini sudah hampir dua minggu setelah kejadian Peter. Gadis itu kemudian mengambil Hand Phone yang berada di atas meja nakas samping ranjangnya.


**


"duk duk duk" Suara pintu rumah Imanuel diketuk.


"Siapa sih? Pagi pagi gini udah datang. " Imanuel yang baru selesai sarapan itu pun bergegas membuka pintu rumahnya.


"Halo, Nuel!! " Sapa Sandra pada anaknya itu.


"Mommy! " Imanuel memeluk ibunya itu.


"Huh, Who am I? ~Siapa aku? " Ujar Seorang pria .


"Eh, pak galak. " Kata Imanuel sambil tetap mengabaikan ayahnya itu.


*/


"Tumben si El belum dateng. " Scharlete tengah berbicara dengan dirinya sendiri sambil bermain ayunan yang bersenggayut di dahan 'pohon'.


"Yailah, palingan bangun kesiangan. " jawab Fani sambil membaca novel. Ya, kini dua sejoli itu tengah duduk di sekitar 'pohon'.


"Tapi, kau akhir akhir ini kok dateng pagi terus? " tanya Scharlete.


"Supaya ga ketemu otak udang. " jawab Fani terus membaca.


"oooo... ya ya ya ya tapi gak ada niat cari yang lain? " tanya Scharlete menggoda.


"Kapan kapan aja. " Balas Fani sambil menutup bukunya.

__ADS_1


"Jangan marah... Eh, itu Mita sama Evan, kan?? Woah.. " Scharlete terkejut melihat apa yang sedang temannya lakukan sambil menutup mulutnya.


"Apa sih? " Fani terheran heran melihat temannya yang terkejut dengan muka merona itu dan hendak menolehkan kepalanya yang semula mengarah ke Scharlete.


"Dek Fani gak boleh liat! " Scharlete bergegas turun dari ayunan untuk menutup mata Fani.


"Apa sih? " Fani melepaskan tangan Scharlete yang menempel di matanya itu.


"Mungkin kau yang seharusnya ga boleh liat. " Kata Fani sesudah melihat apa yang terjadi.


Evan dan Mita kini tengah berpelukan di pinggir lapangan lari yang sepi itu dengan bibir yang saling menempel.


"Apaan. Jelas -jelas aku lebih tua! " Scharlete tidak setuju.


"Apa guna umur kalau pengalaman gak ada. " ucap Fani sambil menandangi Scharlete .


"jlep " serasa ada panah yang menusuk tepat di hati Scharlete.


"Emang bener.Apa guna pacaran kalo gak ada pengalaman! " perkataan Fani menusuk pas untuk kedua kalinya di hati Scharlete.


"Udah... Nyerah aku ngomong sama kau. Mulutnya tajam setajam silet. " Scharlete memanyunkan mulutnya.


"Eh... Mereka udah pergi loh! " Fani melihat lapangan lari yang kini sudah kosong.


"Udah, balik ke kelas aja deh. " Scharlete berdiri sambil meregangkan tangannya itu.


**


"Dian!! " Scharlete berlari ke arah Dian yang tengah mengobrol dengan Viona.


"Yes... Sayang, napa? kangen? " Dian menanggapi sahabat gilanya itu.

__ADS_1


"Tumben banget Imanuel ga dateng -dateng. " Kata Fani sambil melirik ke arah Scharlete yang tengah mendudukkan dirinya itu .


"Baru di chat waktu mau ke kelas katanya tadi mama papanya baru dateng. " Jawab Scharlete sambil mengambil kotak pensil berwarna biru dari dalam tasnya.


"Oooo... Emang mama papanya dimana? Gak tinggal serumah? " tanya Mita yang baru datang ke kelas.


"Kan tinggal di Inggris. " jawab Scharlete singkat.


"Eh, tau gak ya? tadi di lapangan lari ada scene drakor loh! " Scharlete melirik ke arah Mita yang duduk di depan Fani itu.


"huk huk " Fani sengaja membatukkan diri.


"Sumpah sedih banget aku, Ta. Kejam anda tak memikirkan saya! " Imbuh Scharlete.


"Eh... coba kau tanyain siapa yang belum pernah ciuman coba. cuma kau tau! " balas Mita.


"Iya, loh... " Dian ikut mengiyakan.


"Pada jahat... Hiks! " Scharlete mendramatisir keadaan lagi.


-


-


-


-


-Sorry, ya telat update nya....


jangan lupa like, komen, dan klik favorit ya kalo suka! Bye!!

__ADS_1


__ADS_2