A Falling Memory [Belum Direvisi]

A Falling Memory [Belum Direvisi]
Drama


__ADS_3

Seluruh kelas terheran heran dengan apa yang dilihat di tas Scharlete. Ada beberapa yang seolah tak percaya, ada yang terkejut, ada yang cemas, dan bahkan ada yang langsung mencibir.


"What, ini serius?"


"Astaga, ngapain Scharlete maling. "


"Wah gosip baru nih. "


"Ckck tampang doang baik baik. "


"Scharlete ko Diem aja? "


"Schar, kok kamu diem aja sih? " Senggol Fani


"Schar, kok bisa ada dalem tas kau? " Tanya Sean terkejut . Scharlete hanya mengangkat kedua bahu cuek.


"Schar... Kok bisa ada di kamu sih?? " tanya Jessica heran.


"plak" Awalnya Amel berjalan cepat mendekati Scharlete dan mengayunkan tangan hendak menampar gadis cantik itu. Scharlete dengan sigap menangkis tangan gadis itu. Amel kemudian mementalkan tubuhnya ke meja.


"Schar... " Mita menarik rok Scharlete pelan.


"Ckck, ga sabar banget sih? " Scharlete memandang Amel rendah.


"Scharlete kok kamu dorong Amel sampe jatuh sih? " Tanya Jessica menghampiri Amel yang terduduk di lantai.


"Hiks hiks aku ga gatau... Aku salah apa sama hiks kamu... huuu " tangis Amel.


"*nj*r jelas jelas dia sok jatuh. " Fani mulai emosi. "Sshh" Vito menepuk bahu Fani dari belakang menyuruh untuk tetap diam.

__ADS_1


"Selow... " Kata Imanuel menonton sambil memakan Chiki yang sejak kapan muncul itu.


"Oh ya? " Tanya Scharlete dingin dan tajam.


"Hiks hiks.... Kamu kenapa celakai aku sih? Itu kan kalung dari almarhum mama aku, kenapa hiks harus kamu curi? "tangis Amel membuat semua orang iba melihatnya.


Seluruh isi kelas tak percaya dengan yang dilihat. Dimana Scharlete yang ceria dengan senyum manisnya itu. Tak disangka dia kejam. Ada beberapa yang berpikir bahwa Scharlete menggunakan kekayaan untuk membully Amel. Jangan heran, Scharlete sebenarnya orang kaya, tapi tak terlalu menonjol. Hanya yang pernah ke rumahnya yang melihat dengan jelas kekayaan gadis cerdas ini.


"Hiks kamu kira aku ngegodain pacar kamu sampai kamu hiks gini ke aku? " tanya Amel lebih dramatis lagi.


"Ck, kamu kira kamu selev-" Ucapan Scharlete terpotong oleh adiknya yang datang karena melihat tontonan seru.


"Wah, ngapain kak? " Daniel menepuk pundak Scharlete yang tengah berdiri.


"Hush, bukan untuk anak di bawah umur! " Usir Dian.


"Heh, kita tuh harusnya seumuran tau! " Daniel tak setuju.


"Hih, ga berani deh ada body guard nya. " Kata Daniel Mengangkat bahunya cuek.


"kring kring " Sayangnya bel masuk kelas sudah berbunyi.


"Yah, sayang banget gara gara Nih bocah! " Vito menjewer telinga Daniel.


Semua saksi pun pergi kembali menuju tempat asal masing masing.


"Ckck. Niel ngacau banget sih, padahal seru. " Bisik Scharlete pada Fani.


"Baru pertama kali Tuhan mengabaikan anda." Kata Fani mengejek temannya yang selalu beruntung itu. Bisa dibilang kelewat beruntung. Continua saat dia tidak membawa pr, gurunya pasti mengundur, atau saat dia tak membawa alat gambar, ternyata tidak dipakai. Selain itu tebakan asal asalannya pun bisa benar.

__ADS_1


"Eh, tapi itu beneran kau ngambil? " Tanya Mita.


"Udahlah, palingan drakor gratis dari Tuhan. " Sahut Dian.


"Ikuti aja. " Scharlete memgedipkan matanya yakin tak akan terjadi masalah. Namun dia tak tahu apa yang mengganjal perasaannya.


"Eh, UKS lengkap kan? " Tanya Scharlete melihat ke arah Vito yang duduk di belakang teman sebangkunya.


"Lengkap kok. Kenapa? " Jawab Vito yang merupakan penghuni setia UKS sekolah mereka.


"Nyari obat tetes mata. " Jawab Scharlete.


"Kau nyari untuk apa? " Tanya Imanuel heran.


"Gapapa cuma feeling bilang nanti butuh. " Jawab Scharlete mengangkat bahunya.


**


"Halo, Charlotte, Apa kabar?" Sapa Sania melalui telepon.


"..."


"Aman kok. Dia naik kelas 3 ya?"


"..."


"Ok See You beloved cousin. " Sania mengakhiri panggilan suara tadi.


"Ga kerasa ya, keponakan tersayang harus balik. " gumam Sania.

__ADS_1


Jangan lupa like komen dan votenya. BUBYE!!


__ADS_2