A Falling Memory [Belum Direvisi]

A Falling Memory [Belum Direvisi]
Tuan Pohon?


__ADS_3

Seketika satu kelas melihat ke arah mereka berempat . "Selow nj*ir! kayak apa aja. " Kata Fani. Teman SD Scharlete itu pun bercerita lagi. "Kan mereka deket banget. Sampe suatu hari ." Ucap Fani dengan muka agak sedih. "Kenapa? cowok itu mati?! " Kata Dian asal.


"Yaampun... Sumpah otak kau isinya apa sih? " Kata Mita. "Bener tuh, Ta. Makanya dengerin dulu " Tambah Fani. Setelah kedua temannya itu diam dia lanjut berbicara. "Cowok itu pindah sekolah. " Lanjut Fani. Seketika mereka berdua menoleh ke arah Scharlete yang melihat ke luar jendela sambil mendengar musik. "Apa? " Tanya Scharlete heran karena sedari tadi dia tidak mendengar.


"Kok bisa sih? " Tanya Dian heran. "Nah, itu dia. Pergi nya dia tuh gak diketahui Scharlete. " Jawab Fani sambil menghela nafas. " Nah, apa sangkut pautnya ama pohon itu? " Tanya Mita. Sayang nya bel sudah berbunyi. "Nanti aja deh lanjut. " Ujar Fani.


Mereka terkejut karena yang masuk bukannya Bu Dila tapi Bu Vana. "Oke anak anak duduk di tempat masing masing dan dengar. " Suruh Bu Vana. Sekelas pun menjadi hening. "masuk " Kata bu vana di tengah keheningan itu. Seorang anak laki -laki pun masuk.


"Kok kayak kenal ya? " Kata Fani dalam hati. "Perkenalkan diri mu! " Suruh Bu Vana. "Nama saya Imanuel Petradi. " Ucap anak laki -laki itu. Seketika Scharlete berdiri dari duduknya dan tanpa ia sadari air matanya keluar begitu saja. Wajah Fani pun tidak seperti biasanya.


Seluruh kelas melihat ke arah Scharlete. "Bu... saya izin ke UKS. " Kata Scharlete lemas menyeka air mata. "Kamu kenapa Scharlete? " Tanya gurunya itu. Imanuel pun terkejut setelah mendengar nama dari gadis yang nampak tak asing itu .


Saat Scharlete berjalan menuju ke depan kelas untuk pergi ke UKS, ada sebuah tangan yang menarik tangannya itu. Scharlete pun menghempaskan tangan Imanuel itu dengan kasar. "Schar -" Ucap Imanuel yang terpotong. "Bu! Kami mau ngecek Scharlete! " Ujar ketiga sahabatnya itu.

__ADS_1


"Iya cepetan kasih tau nanti dia kenapa! " Kata Bu Vana cemas. "Iya bu! " Jawab Dian. "Kau parah banget baru balik sekarang. " Ucap Fani pada Imanuel dengan tatapan tajam dan dingin.


Seketika wajah Imanuel berubah menjadi penuh penyesalan. "Kau gapapa, nak? " Tanya Bu Vana pada murid nya itu. "Gapapa ,bu! " Jawabnya. "Udah cari tempat duduk dulu. " Suruh ibu gurunya itu. "Sini bro! " Kata Vito pada Imanuel. "Oke! " Jawab Imanuel.


"Dia ada apa sama Scharlete? "bisik Tina. "Gatau? " Bisik Eci. Satu kelas heran dengan kejadian tadi dan juga sang juara kelas yang menangis tadi. Selama ini mereka tidak pernah melihat air mata gadis ceria itu.


"Sudah sekarang cepat buka halaman buku cetak yang terakhir kalian pelajari dengan Bu Dila! Hari ini Bu dila izin sakit jadi kalian belajar sendiri. " Suruh Bu Vana . Setelah Bu Vana pergi, seluruh kelas menghampiri Imanuel untuk mengajak berkenalan. Tak heran jika ada banyak gadis yang mendekatinya, wajah Imanuel sangat tampan.


"Eh, btw kau ada apa ama Scharlete?" Tanya Sean penasaran. "Temen SD. " Jawab Imanuel dengan ekspresi sedih dan menyesal. "Apanya temen SD mantan kali... Orang nyampe masang muka gitu. " Kata Vito. "Eh... jangan -jangan kau si tuan pohon itu ya? " Tanya Sean sambil menunjuk ke arah pohon yang biasanya dihampiri Scharlete.


"Emang Scharlete ngapa sih, tiap hari duduk disamping tuh pohon? " Tanya Evan penasaran "Ga tau jelasnya juga aku. aku cuma sering ngedengerin dia ngomong ke pohon aja. sekali ditanya...eh, jawabanny ngeselin banget. " Kata Sean. "kau tau ngapa? " Tanya Vito dan Evan serentak ke imanuel. "rahasia" jawab Imanuel. "Nih orang sama iyanya kek Scharlete. " Kata mereka bertiga serempak.


-

__ADS_1


-


-


-


-


mohon dukungannya ya!!


silahkan tinggalkan kritik di bawah dan jangan lupa klik jempol ya!!tolong bantu vote juga dong. kalo suka klik favorit ya!


BYE!!

__ADS_1


__ADS_2