A Falling Memory [Belum Direvisi]

A Falling Memory [Belum Direvisi]
Perpisahan #3


__ADS_3

"Eh, Vito! Itu Sean sama Evan kan? Ngapain berduaan ,gandengan lagi! " Fani heboh.


"Tobat. Gak tobat tobat. Udah samperin aja yuk!! " Vito langsung menarik tangan Fani mengarah pada Evan dan Sean yang tengah memberi permen kapas.


"Sean!! Evan!!" panggil Vito pada kedua sahabatnya itu.


"Ini nih. Jahat banget ninggalin sahabat demi pacar. " Evan menoleh pada Vito dan Fani bergantian.


"Kalian juga ngapain gandengan tangan, mesra banget curut! " Balas Fani ketus sambil melepaskan genggaman tangan Vito.


"Ini tuh Evan tadi narik aku! " Sean melepaskan genggaman tangan mereka berdua.


"Bentar, kau nggak nyangkal kalau kalian curut ya " Vito terkekeh di akhir kalimatnya.


"Udahlah males ngomong, kalau ngomong pun pasti kalah tajam sama omongan Fani." Sean mengibaskan tangannya santai.


"Kau ngomongin aku gimana, curut? " Fani kesal.


**


"Hei, bagi kau, Scharlete itu apa? " tanya Fransisco pada Imanuel sambil meminum soda kalengan di depannya. Kedua sejoli itu kini tengah duduk di sebuah meja yang terletak di sekitar stand makanan sambil menunggu yang lainnya.


Imanuel yang tadinya sedang memakan pop mie, menghentikan aktivitas sejenak untuk menjawab pertanyaan Fransisco.


"Cahaya. " jawab Imanuel sambil tersenyum.


"Maksudnya? " Fransisco tampak kurang mengerti.


"sesuatu yang bi-" jawaban yang keluar dari mulut Imanuel terputus.

__ADS_1


"Hih, lagi ngedate ya?! " Dian yang baru datang langsung menimbrungi.


"Haduh, baru mikir ga ada Fani. Eh, tau tau ada yang ketularan." Mita mendudukkan dirinya di salah satu kursi disitu.


"Tobat Dian... Sebelun parah kayak Fani!" nasehat Scharlete yang memicu tawa semua temannya itu.


**


"Naik biang lala yuk!! Wajib loh!! " Mita menunjuk biang lala yang terletak tak jauh dari stand makanan tempat mereka makan tadi.


"Yuk yuk!! Barengan aja! " Sahut Dian.


"Aku tinggal deh. Mau makan aja. " Jawab Sean dengan makanan di dalam mulutnya.


"Makan dulu napa sih? " Tanya Fani ketus..


"Mau berempat empat atau berdua dua? " Tanya Evan selagi membeli tiket.


"Aku sama Scharlete berdua aja. Kalian anak manusia terserah mau gimana. " Imanuel merangkul leher Scharlete.


"Dian, Dian! Ada kecoa. Ih... Jijik!!" Seru Fani melihat adanya kecoa di bawah kakinya. Dengan gesit tanpa banyak diskusi, Dian memasukkan kecoa tersebut ke dalam sebuah plastik.


"Yaampun, sampe ada hotel khusus dibuatin Dian. "kata Scharlete menepuk jidat.


"Tobat... tobat! " Fransisco mengelus kepala Dian.


"Ih, berantakan tau!! " protes Dian.


"Bentar, tiketnya kalian beli 4. Kalian kan ada pacar masing masing, lah truss aku sama hantu gitu? " Fani protes.

__ADS_1


"Ih, aku dibilangin hantu. " Sahut Vito dramatis


"Iya, sama Vito aja! " Evan setuju dengan senyuman yang aneh banget.


"Yaudah lah! " Fani setuju.


**


"El, matahari terbenamnya bagus loh, disini!! " Scharlete tengah menatap pemandangan di luar biang lala yang tengah dinaikinya.


"Iya. Cantik. " Sahut Imanuel.


Tiba tiba Imanuel yang duduk di seberang Scharlete menarik tangan Scharlete.


"Boleh? " tanya nya sambil mengelus pipi Scharlete lembut. Scharlete pun tak menjawab. Imanuel semakin mendekatkan wajahnya, Scharlete yang melihat itu pun memejamkan matanya.


"cup" sebuah kecupan di kening Scharlete. Scharlete spontan membuka matanya menatap Imanuel heran.


"Ih, ngarepin apa hayo? " goda Imanuel.


"Ga ada tuh! " Scharlete memalingkan wajahnya sebal. Imanuel kemudian menarik dagu Scharlete agar menatap wajahnya lagi.


"Cup " Imanuel mencium bibir Scharlete...


'Iya. Dia bagiku seperti cahaya. Cahaya yang nampaknya bisa kuraih namun tak pasti bisa. Cahaya yang bukan hanya milikku tapi juga milik semuanya. Cahaya yang membuat hidupku meriah. Juga cahaya yang membuatku bisa mengorbankan segalanya agar dia tetap disisiku untuk terus menerangiku. Cahaya yang selalu menyinari orang lain tapi belum tentu bisa menerangi dirinya sendiri, karena inilah, aku yang akan meneranginya. Namun, semakin diingat, dia juga merupakan sebuah cahaya yang bisa hilang dan lenyap. Jadi, selagi cahaya ini masih ada, aku akan melakukan segalanya. '


'Cahaya paling terang yang pernah ada dalam hidupku. Hal paling berharga bagiku untuk sekarang dan selamanya. '


Jangan lupa like, komen, dan klik favorit ya kalo suka!! Tolong bantu vote donk.... BUBYE!!

__ADS_1


__ADS_2