A Falling Memory [Belum Direvisi]

A Falling Memory [Belum Direvisi]
Inggris


__ADS_3

Beberapa Hari kemudian


"Pagi semua! " Sapa Bu Vana pada seisi kelas yang menjadi tanggung jawabnya sekarang.


"Pagi bu!! " Jawab murid muridnya.


"Oke. Mari mulai belajar... Kemarin sampai mana? " lanjut Bu Vana.


**


"tring.... tring"bel sekolah berbunyi menandakan wakti istirahat telah tiba. Semua siswa bergegas merapikan meja kemudian pergi ke luar kelas.


"Bruk" Scharlete menabrak seseorang di depannya.


"Aduh... Maaf. " Ucap Scharlete menundukkan kepala.


"Ah... iya gapapa. "Balas orang itu.


Scharlete kemudian mengangkat kepalanya lagi.


"Boleh tanya kantin ada dimana gak? " Tanya laki laki itu.


"Mau ke kantin ya? Barengan aja. " Jawab Dian nimbrung.


"Baru pindah ya? " Tanya Dian pada laki laki itu saat mendudukkan dirinya di salah satu meja kantin.


"Iya... kenalin, Fransisco. Panggil aja sesuka kalian. " kata Frans mengulurkan tangannya sambil tersenyum.


"Pindah ke kelas berapa? " Tanya Scharlete.


"12.1 " Jawab Frans singkat.


"Berarti harusnya pake kak dong. " ujar Dian.


"Kak Frans. " kata Scharlete sambil tersenyum lebar.


"iya. " Kata Frans puas mendengar suara Scharlete itu dan melanjutkan makan.

__ADS_1


"Tapi ngapain pindah, kak? Ini kan udah mau ujian semester. " Tanya Dian heran sambil memainkan pipet minuman yang ada didepannya.


"Aku aslinya siswa pertukaran dari Inggris." Jawab Frans.


"Woah... hebat dong. Tapi bahasa Indonesianya kakak lancar banget, loh. Keren! " mata Dian berbinar binar. Logat bahasa Francisco yang sangat Indonesia


"Aku ada campuran Indonesia " Jawab Fransisco menjelaskan.


"Iya kah? " Tanya Dian yang sedari tadi antusias mengobrol dengan Francisco.


"Iya. Seperempat keturunan Indo. Seperempat Finlandia dan sisanya Inggris. " Jelas nya dengan medetail.


Sebenarnya ibu Fransisco merupakan keturunan Indonesia bercampur Inggris, dan ayahnya berdarah campuran Inggris Finlandia.


"Ada alasan khusus kesini? " Tanya Scharlete sambil meminum es teh manisnya.


"Iya. Memastikan sesuatu. " Jawab Frans mengangguk.


**


"Dian, kau naksir kak Frans, ya? " Tanya Scharlete pada Dian sambil berjalan untuk kembali ke kelas.


"Haduh, Aldian Aldian... Terukir jelas dimuka anda tuh! "


"iya.Tapi kan bentar lagi juga pasti balik ke Inggris. Jadi, gimana? " Dian menghembuskan nafas kasar tampak putus asa.


"Saya mendukung anda kok! Abis itu entah kenapa aku merasa yakin kalau kak Frans tuh baik! " kata Scharlete sambil membuka pintu kelas.


"Tapi... Aku ngerasa kalau dia merhatiin kau terus." kata Dian sambil melangkahkan kaki menuju tempat duduk miliknya.


"Orang aku udah ada pacar tuh. Tenang. Pasti saya tolong." Kata Scharlete meyakinkan sambil duduk di tempatnya.


"Apaan sih? Heboh banget. " Tanya Mita menoleh ke arah Kirinya yang nampak tempat Scharlete dan Dian duduk .


"Dian tadi naksir sama kakak kelas pertukaran pelajar dari Inggris. " Kata Scharlete. Dian seketika membekap mulut Scharlete.


"Hah?! Siapa?! " Sean yang semula mengobrol dengan Vito dan Evan mendobrak meja Fani dengan muka penasaran

__ADS_1


"Selow napa? " Fani yang semula membaca novel itu menyingkirkan tangan Sean dari atas mejanya.


"Namanya kak Frans.Dari Inggris, sekarang masuk kelas 12.1." Jawab Scharlete.


**


"Halo lagi pohon kangen ga? " Sapa Scharlete pada 'pohon' sambil mendudukkan dirinya di ayunan.


"Gak. " Jawab Imanuel yang duduk di bawah pohon.


"Hih... Kan aku tanya pohon bukan kamu. " Scharlete memanyunkan mulutnya.


"Tau gak? Sekolah kita kedatengan murid baru loh. " kata Scharlete.


"Iya, ya? kelas berapa? Dari mana? Kok kamu bisa tau biasanya pura pura gak tau ." Tanya Imanuel penasaran.


"Tadi dia nanya kantin sama kita. Katanya siswa pertukaran dari Inggris. Satu hal yang mengherankan. Dia udah kelas 12, tapi kok masih ikut program pertukaran siswa ." jelas Scharlete.


"Iya, ya... Namanya?" Tanya Imanuel lagi.


"Kak Frans. " Jawab Scharlete sambil tersenyum.


"kau udah seberapa deket sih? Manggil nama aja make kak. " Kata Imanuel memalingkan wajahnya yang semula menatap Scharlete.


"Gak tau sih. Rasanya aku udah biasa manggil dia gitu." kata Scharlete sambil menunjuk dagunya dengan jari telunjuk.


"cemburu ya? " lanjutnya lagi sambil tertawa.


"Untuk apa! " Imanuel menjawab kesal.


-


-


-


-

__ADS_1


-Jangan lupa like, komen, dan klik love nya ya kalo suka. Tolong bantu vote juga dong ,BUBYE!! SEE YOU TOMORROW


__ADS_2