A Falling Memory [Belum Direvisi]

A Falling Memory [Belum Direvisi]
Salah paham


__ADS_3

"Bye ma!! " Ucap Scharlete pada mamanya.


"Bye . Hati hati! " Balas mamanya itu.


Mita yang tengah menjemput temannya itu pun ikut pamit.


"Mita pamit ya, tante. " Pamitnya.


**


"Lete... Udah sampai ?" Tanya Dian melambaikan tangan.


"Iya... Btw ikut ke rumah aku yuk nanti. Ulah papa aku suruh ngajakin kalian. " Katanya.


"wokeh! " balas semuanya.


"Perasaan tadi katanya lagi berantem? " Tanya Imanuel heran saat dia dan Scharlete hanya berdua.


"Makanya tuh, jadi bapak pengen dibacok!" Jawabnya kesal.


"sabar buk! " Balas Imanuel mengipas ngipas muka Scharlete.


**


"Eh, yang cowok serius nih, gamau ikut? " Tanya Mita.


"Ga deh pada tidur" Balas Evan. "Yaudah bubye ya!! " Pamit Dian melambaikan tangannya.


*/


"Happy birthday to you happy birthday to you.." Surprize untuk ibu Scharlete berjalan lancar. namun, anehnya mamanya itu tidak nampak bahagia sepenuhnya. Seperti sedang memikirkan sesuatu.


"Udah, ya schar... Kita balik dulu! " pamit fani


"Iya, hati hati! " Balas Scharlete.


**


"Uh... Haus. " Ucap Scharlete yang terbangun dari mimpinya itu. dia melirik jam dan mendapati pukul 1.20 dini hari. dia pun memutuskan untuk pergi ke lantai bawah.

__ADS_1


dia pun mendengar suara papa dan mamanya itu dari dalam kamar kedua orangtua miliknya


"coba... kau jelasin!! " ucap mamanya itu sambil menangis.


"kan udah aku bilang nggak juga. " ucap papanya dengan nada sedikit membentak mamanya itu.


"udah... cukup aku gak tahan lagi! " ucap mamanya sambil menangis.


"mana, katanya ga ngulangin lagi. Tetep sakit tau, ga? " tanya mamanya berteriak.


Scharlete pun hanya diam di balik pintu. tangannya bergetar semua. Dia merasa jantungnya ingin lompat sekarang juga. Air matanya menetes satu persatu.


Dia kemudian berlari ke luar rumah.


Dia tidak tahu dia berlari ke arah mana. Tanpa dia sadari kakinya itu membawanya menuju "pohon" di sekolahannya


**


"Degh " perasaan imanuel sangat tidak nyaman dia berencana pergi ke luar rumah mencari udara segar pagi hari.


"Sean... aku keluar ya! " Katanya.


Imanuel kemudian pergi keluar rumah sean. dia kemudian berjalan dan tanpa sadar pada pagi hari sabtu itu, dia sampai di depan gerbang sekolah yang tak terkunci. Dia kemudian meneruskan langkahnya menuju "pohon" yang berada di belakang sekolah itu.


Betapa kagetnya dia melihat seorang gadis yang tak asing baginya itu sedang bermain ayunan dengan mata merah.


"Arlete? Kau ngapain disini pagi pagi gini? " tanyanya namun tak kunjung mendapatkan respon dari Acharlete.


"Lete?!" Katanya sambil mengibaskan tangannya di depan mata Scharlete.


"Hah..." Jawab Scharlete dengan tatapan kosong. imanuel yang melihat Scharlete begitu tak berdaya kemudian memeluk Scharlete. Air mata gadis itu kini tak dapat dibendung lagi.


"Lete... Kau kenapa? Cerita ,ya?" Pinta Imanuel.


"Aku harus gimana, El? Harus gimana? " Ujar Gadis itu dengan air mata yang bercucuran.


"Kau cerita, ya... Aku bantu cari penyelesaian. " Kata Imanuel melepas pelukannya kemudian menghapus air mata Scharlete dengan jempolnya.


"Mama papa aku berantem lagi ." jawabnya putus asa.

__ADS_1


"Bukannya katamu cuma surprize mama mu doang?" Tanya Imanuel bingung.


"Sebenarnya aku juga gatau. Kemarin malam aku dengar mama aku bilang papa ngulangin lagi." Kata Scharlete lirih.


"Udah....Tenang, siapa tau salah paham. " Kata Imanuel menenangkan.


"Semoga... " kata scharlete pasrah.


"Tangan kau kenapa? Ga mungkin dicakar kucing? " Tanya Imanuel melihat bekas Cakaran di tangan kiri Scharlete. Scharlete tidak menjawab dan hanya menutupi tangannya dengan tangan lainnya.


**


"Jadi ,coba kalian jelasin! kalian tuh udah tua tau. ngapain masih berantem hah?? Untung Scharlete ngasih tau ke aku! " Kata nenek Scharlete yang kini tengah menasehati kedua orangtua Scharlete dirumah Scharlete itu.


"ma, ini tuh salah paham. Orang kami ga berantem. " Jelas Papa Scharlete. Robert kemudian menjelaskan semuanya dan ternyata semua hanya salah paham Scharlete.


Flashback


"San, kamu kenapa? " Tanya Robert melihat wajah Istrinya pucat.


"Gatau, lemes kayaknya sakit. Kerokin dong. " pinta Sania lemas. Dia mensch sudah lemas Dari malam ini. Robert bergegas mengambil koin uang seribuan dan mengerok punggung istrinya itu.


##


"Haissh... Dasar Scharlete ini! gimana Scharlete sekarang? Kalian sih, ngucapin kata kata yang bikin salah paham. " Kesal neneknya scharlete itu.


"udah sania chat ma. bentar lagi sampe. " jawab sari.


"Oh iya. ma, Robert mau pindah ke luar kota beberapa tahun. " Kata Robert.


"Emang kalian sudah yakin? " Tanya nenek Scharlete. Robert hanya mengangguk.


-


-


-


-

__ADS_1


-terimakasih atas dukungannya ya! mohon juga dukungan kedepannya. thank you!!


__ADS_2