ABC ( AMARAH, BENCI, CINTA)

ABC ( AMARAH, BENCI, CINTA)
Sebuah Titik Terang


__ADS_3

πŸ”ͺ


πŸ”ͺ


πŸ”ͺ


πŸ”ͺ


πŸ”ͺ


Seperti biasa Kiara menyuapi Mamahnya makan dan merapikan rambut Mamahnya.


"Mah,Kiara sudah tahu dimana orang itu orang yang selama ini Kiara cari ternyata berada dekat dengan Kiara,Kiara tahu siapa orang itu dia adalah Pram Wild Blood," seru Kiara.


Mendengar nama Pram disebut,otak Mamahnya mulai bereaksi lagi Mamahnya mulai berontak dan berdiri.


"Pram bajingan kamu Pram," teriak Mamah Kiara.


"Sabar Mah,Mamah harus tenang."


Mamah Kiara mulai melempar kembali barang-barang yang ada disana,Al yang melihat kejadian seperti itu langsung masuk tapi Al terlambat Mamah Kiara keburu melempar gelas kearah Kiara dan tepat mengenai keningnya.


Seketika kening Kiara berdarah,Dokter dan Suster yang mendengar kegaduhan itu langsung masuk dan dengan sigap membaringkan tubuh Mamahnya Kiara dan menyuntikan kembali obat penenang.


Perlahan Mamah Kiara tenang dan mulai memejamkan matanya.Sementara Kiara tampak terkejut dengan kedatangan Al yang tiba-tiba.


"Kamu ngapain disini?" tanya Kiara dingin.


"Lebih baik sekarang kamu obati dulu luka kamu,kening kamu berdarah," seru Al.


"Apa kamu sengaja ngikutin aku?" tanya Kiara kembali dengan wajah yang tidak bersahabat.


"Nanti aku jelaskan semuanya,setelah luka kamu diobati."


Kiara ingin marah kepada Al tapi tiba-tiba kepalanya pusing dan akhirnya Kiara jatuh pingsan,Al dengan sigap mengangkat tubuh Kiara dan membawa keruangan Dokter.


"Ayo Mas,bawa Mbak Kiara keruangan saya," seru Dokter yang sudah paruh baya itu.


Dokter segera mengobati luka di kening Kiara dan saat ini Kiara masih belum sadarkan diri efek obat yang diberikan.


"Dokter,apa boleh saya tanya sesuatu?" tanya Al.


"Mas mau tanya apa?"


"Apa benar yang dirawat tadi Mamahnya Kiara?" tanya Al lagi.


"Maaf,Mas ini siapanya Mbak Kiara?soalnya saya sudah diwanti-wanti oleh Pak Alex jangan memberi tahu semua tentang Ibu Tiara," sahut Sang Dokter.


"Dokter tenang saja,saya bukan orang jahat justru saya ingin mengetahuinya karena saya ingin membantu Kiara."


Dokter itu tampak berpikir san ragu-ragu karena dia takut dimarahi oleh Alex kalau sampai orang tahu Bu Tiara dirawat disini.


"Please Dok,saya mohon saya butuh informasi tentang Kiara."


Karena Dokter melihat Al orang yang baik Dokter itu pun percaya dan mulai menceritakan semuanya.


"20 tahun yang lalu,Ibu Tiara dibawa kesini oleh seorang pria sebaya dengannya dan juga seorang anak kecil yang sangat cantik,mereka tidak lain adalah Pak Alex dan Kiara,Ibu Tiara mengalami defresi berat entah apa yang membuat beliau sampai defresi seperti itu."


"Sejak kesini Kiara memang anak yang dingin dan jarang sekali ngomong,tapi lama-kelamaan Kiara mulai mau berinteraksi dengan Suster dan saya,kata Pak Alex Kiara juga mengalami trauma berat malahan Kiara sempat menjalani terapi bersama Psikolog."


"Saya merasa kasihan kepada Kiara,walaupun Pak Alex tidak pernah memberi tahu apa yang sudah terjadi tapi saya yakin kalau Kiara dan Ibunya mengalami kejadian luar biasa yang mengguncang jiwanya,dan saya juga salut sama Kiara karena dulu diusianya yang sangat kecil dia mampu bertahan."


Panjang lebar Dokter itu menjelaskan semuanya kepada Al dengan sesekali melihat kearah Kiara yang masih terbaring diranjang matras itu.


"Apa,Pak Alex adalah Ayahnya Kiara?" tanya Al.


"Kayanya bukan deh Mas Al,soalnya Mbak Kiara suka memanggil Om kepada Pak Alex," sahut Dokter itu.


"Benar kan dugaanku kalau Kiara dan Om Alex itu bukan anak dan Ayah," batin Al.


Tiba-tiba ada pergerakan dari Kiara,Kiara memegang kepalanya dan berusaha bangun dengan cepat Al membantu Kiara bangun.


"Jangan bangun dulu kamu masih sakit," seru Al.


"Tidak,aku mau pulang."


Kiara berusaha turun dari ranjang,Dokter sudah tahu sifat Kiara dia sangat keras kepala kalau dia bilang mau pulang tidak akan ada yang bisa melarangnya.


"Sudah Mas Al,bawa pulang saja nanti Mas Al tinggal ambil obat di Apotek ini resepnya," Dokter itu menyerahkan secarik kertas.


"Terima kasih Dokter."


"Terima kasih Dokter," ucap Kiara lirih.


Kiara berjalan cepat meninggalkan Al karena Kiara merasa sedikit kesal kepada Al karena dia berani mengikutinya.


"Tunggu Ra," Al menarik lengan Kiara.


"Apalagi?"


"Maafkan aku Ra,aku memang salah sudah mengikutimu tapi sumpah aku ga ada niat jahat sama kamu aku hanya ingin membantu kamu,bisakah kita berteman?" seru Al.


"Enggak Al,aku ga mau kamu mengalami masalah kalau dekat denganku jadi lebih baik kamu jauhi aku," ucap Kiara.


Kiara melepaskan tangan Al dan kembali melangkah meninggalkan Al.


"Aku peduli sama kamu Ra," teriak Al.


Kiara menghentikan langkahnya,jantungnya kembali berdetak dengan kencangnya saat Al mengatakan itu.


Al segera melangkah menghampiri Kiara yang tampak dia terpaku,Al membalikan tubuh Kiara.


"Aku mohon biarkan aku menjaga kamu dan selalu ada disamping kamu,aku sangat peduli sama kamu walaupun kita baru kenal,tapi hati nuraniku berkata kalau aku harus menjaga dan melindungi kamu," seru Al.

__ADS_1


Tanpa terasa Kiara meneteskan air matanya,dia sangat terharu baru kali ini ada laki-laki yang bersikap seperti itu sama Kiara.


Perlahan Al menghapus air mata Kiara dengan ibu jarinya.


"Jangan menangis lagi,kamu adalah wanita tangguh dan kuat,kamu masih punya aku dan teman-teman aku yang siap menolong kamu disaat kamu membutuhkan bantuan,aku akan selalu ada untuk kamu,jadi aku mohon bukalah hati kamu dan mulai terbuka kepada orang lain aku ingin kamu menceritakan masalah yang sedang kamu alami,karena memendam suatu masalah sendirian itu hanya akan menyiksa diri kamu sendiri," seru Al lembut dengan terus menatap kedua bola mata Kiara.


Kiara tampak menundukan kepalanya dan Al mulai mengulurkan tangannya.


"Apa sekarang aku boleh berteman denganmu?"


Kiara melihat kearah tangan Al dan kemudian menatap mata Al tidak ada kebohongan dimata itu,perlahan Kiara mengangkat tangannya dan membalas uluran tangan Al.


Al pun tersenyum akhirnya dia bisa selangkah mendekati Kiara.


"Senyum dong,aku sangat suka kalau melihat kamu tersenyum," goda Al.


Dengan perasaan malu Kiarapun mulai mengembangkan senyumannya.


"Masya Alloh,indah sekali senyumanmu."


"Ishhh..."


Kiara langsung pergi meninggalkan Al,Al dengan cepat berlari dan menyusul Kiara.Mereka pun pulang bersama,menggunakan mobil Al.


Sesampainya dirumah,ternyata ketiga sahabat Al dan Sisi sudah berada diteras rumah Kiara dan sedang berbincang dengan Alex.


"Astagfirullah Ra,kepala kamu kenapa Nak?" tanya Alex panik.


"Aku gapapa."


"Gapapa gimana,orang kepala kamu diperban kaya gitu," sahut Sisi.


"Ya sudah,kamu istirahat dulu sana," suruh Alex.


Kiara menganggukan kepalanya dan disusul oleh Sisi.Sementara Al dan ketiga sahabatnya itu memilih pindah kerumah Al.


Didalam kamar Al,semuanya sedang menunggu Al bercerita tentang hasil pengintaiannya mengikuti Kiara.


"Gimana Al?" tanya Arya.


"Tadi aku ikuti Kiara dan dia datang kesebuah Rumah Sakit Jiwa aku terus ikuti dia sampai pada satu ruangan Kiara menemui seseorang wanita paruh baya yang masih terlihat cantik dan wajahnya itu mirip sekali dengan Kiara dan setelah aku tanya kepada Suster ternyata wanita itu Mamahnya Kiara," jelas Al.


"Hah..jadi Mamah Kiara masih hidup?" tanya Riki.


"Kenapa Mamahnya sampai masuk Rumah Sakit Jiwa?" tanya Boby.


"Kata Dokter disana sih bilang kalau Mamah Kiara mengalami defresi berat malahan Kiara juga sempat menjalani terapi dengan Psikolog karena dia juga mengalami trauma," seru Al.


"Kayanya kisah Kiara makin seru nih untuk diselidiki,tapi Kiara dan Mamahnya mengalami masalah apa sehingga mereka mengalami defresi dan trauma seperti itu?" sahut Arya.


"Kalau menurut aku sih,kayanya mereka mengalami kejadian menakutkan dan mengerikan," sambung Riki.


"Apa mungkin Kiara menyaksikan keluarganya dibunuh,soalnya kan aku pernah cerita sama kalian kalau Kiara pernah mengigau dan dia bilang jangan bunuh keluargaku,apa mungkin akibat kejadian itu?" seru Al.


"Apa mungkin kasus pembantaian yang sedang kita selidiki ini adalah yang menimpa keluarga Kiara?" ucap Boby.


Al yang saat itu ingin mengganti pakaiannya terkejut dengan ucapan Boby dan langsung menoleh kearah Boby.


"Iya Bob kamu ada benarnya juga,soalnya Mamah Kiara juga berada di Rumah Sakit Jiwa itu sudah 20 tahun yang lalu," sergah Al.


"Berarti kalau benar perkiraan kita,kita harus awasi Kiara,Om Alex,dan Mamahnya Kiara karena disini mereka adalah saksi kuncinya dan aku yakin saat ini pasti orang-orang itu masih mencari keberadaan mereka," sahut Arya.


"Fix,besok kita kumpul di Kantor dan menanyakan siapa nama keluarga yang 20 tahun itu mengalami pembantaian,kita harus memastikan apa benar ada hubungannya dengan Kiara atau tidak," sambung Riki.


Sementara itu,disebuah rumah mewah nan megah Pram sedang melamun dipinggir kolam berenang dengan duduk dikursi rodanya.


"Mata anak itu,tatapannya sangat mirip dengan Tiara siapa sebenarnya dia?aku harus mencari tahunya," gumam Pram.


Pram tampak menjentikan jari tangannya dan Pengawal yang berada dibelakang Pram seolah mengerti dengan panggilam Pram dia mendekati Pram.


"Iya Tuan."


"Selidiki perempuan yang tadi malam Frans bawa kesini dan saya ingin kalian secepatnya memberikan informasinya kepada saya," seru Pram.


"Baik Tuan."


Malam pun tiba,Kiara seperti biasa saat ini sedang mengotak-ngatik Laptopnya mengerjakan beberapa pekerjaan,tiba-tiba Ponselnya berbunyi tanda ada notifikasi pesan yang masuk.


Kiara yang melihat siapa yang mengirimkan pesannya langsung mengembangkan senyumnya entah mengapa Kiara merasa senang mendapat pesan pertamanya dari Al.


Al : " Malam,lagi apa nih?"


Kiara : " Lagi kerja."


Al : "Kan week end ngapain masih kerja?"


Kiara : " Tambah borring saja,soalnya belum ngantuk."


Al : "Besok mau latihan Boxing?"


Kiara : "Iya."


Al : " Berangkat bareng ya!!"


Kiara : " 😊😊😊 "


Kiara hanya memberikan emot seperti itu karena bingung mau jawab apa,sementara Al yang mendapat balasan gambar emot senyum dari Kiara mengartikan kalau Kiara menerima ajakannya.


Al : " Ya sudah,selamat malam and have a nice dream."


Kiara : " Have a nice dream to."


Kiara senyum-senyum sendiri dan memeluk Ponselnya didadanya,tidak tahu kenapa jantungnya selalu seperti itu berdetak tak karuan.

__ADS_1


Begitu pun dengan Al yang berguling-guling kegirangan diatas kasurnya,ini adalah peningkatan buat Al karena Kiara sudah mau mengobrol dengannya walaupun cuma lewat pesan di Ponsel.


***


Keesokan harinya..


Al sudah siap-siap tinggal menunggu Kiara keluar dari rumahnya.


"Ada apa nih,tumben pagi-pagi sudah senyum-senyum sambil lihat rumah seberang?Papah jadi curiga nih," ledek Papah Hendra.


"Apaan sih Pah."


"Mah,kayanya anak kita sedang jatuh cinta deh," seru Papah Hendra.


"Alhamdulillah,sama siapa Pah?" tanya Mamah Ayu dengan antusiasnya.


"Tuh sama wanita di rumah seberang."


"Papah apa-apaan sih,siapa juga yang jatuh cinta," sahut Al.


"Kamu pacaran Al sama Kiara?" tanya Mamah Ayu.


"Ini lagi,enggak Al ga pacaran kok sama Kiara."


Mamah dan Papah Al menatap Al dengan penuh arti.


"Ya maksudnya sekarang belum pacaran,ga tahu kalau kedepannya," ucap Al dengan menggaruk tengkuk kepalanya.


"Dasar."


Tiba-tiba Kiara pun keluar dari rumahnya..


"Pagi cantik," sapa Mamah Ayu.


"Pagi Tante."


"Kamu mau pergi sama Al?" tanya Mamah Ayu.


Kiara melirik kearah Al supaya Al yang menjawabnya.


"Kita mau latihan Boxing Mah,kebetulan tempat latihannya sama."


"Oh gitu ya,ya sudah kalian hati-hati jangan cepat-cepat pulang kalian jalan-jalan dulu biar makin akrab gitu," ucap Mamah Ayu dengan menaik turunkan alisnya.


Kiara mengerutkan keningnya,Al yang mengetahui maksud dari ucapan Mamahnya itu langsung mendorong Mamahnya pelan.


"Ok sudah ya Mah,kita berangkat dulu Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam."


Selama dalam perjalanan tidak ada pembicaraan sama sekali,mereka berdua tampak canggung dan tidak tahu apa yang harus dibicarakan.


Hingga akhirnya mereka sampai ditempat latihan,Al dan Kiara cepat-cepat mengganti pakaiannya.




Sebelum memulai latihan Boxing,Kiara biasa melakukan pemanasan terlebih dahulu.Al yang baru selesai mengganti pakaiannya,sempat tertegun melihat Kiara yang sangat cantik itu.


Kiara yang sedang memainkan besi-besi itu tidak menyadari kalau Al sudah berada dibelakang Kiara,Al memegang tangan Kiara dari belakang sehingga Kiara sempat kaget.


"Bukan begitu caranya,tapi seperti ini kalau kamu salah memainkannya tangan kamu bisa terkilir dan itu sangat bahaya," ucap Al dengan terus membenarkan posisi tangan Kiara.


Sementara Kiara hanya bisa menatap Al,wajah mereka berdua saat ini sangat dekat hanya beberapa centi saja membuat Kiara gugup dan salah tingkah.


Al yang menyadari Kiara menatapnya membalas tatapan Kiara dan akhirnya saat ini mereka malah saling pandang tanpa melakukan apa-apa.


Hingga akhirnya ada seseorang yang tidak sengaja menjatuhkan besi dan membuat Al dan Kiara tersadar dari lamunan mereka masing-masing.


Al langsung melepaskan tangannya dan pergi kebelakang dengan menggaruk-garuk tengkuk lehernya.


"Kamu lanjutkan dulu aku mau ketoilet sebentar," seru Al.


Kiara menganggukan kepalanya karena merasa malu juga.


Didalam toilet,Al tampak membasuh wajahnya berulang-ulang didepan wastafell dan melihat kearah cermin besar yang ada disana.


"Ada apa denganku,astaga Kiara benar-benar sudah membuat aku gila," gumam Al.


Al kembali membasuh wajahnya untuk menghilangkan kegugupannya.


πŸ”ͺ


πŸ”ͺ


πŸ”ͺ


πŸ”ͺ


πŸ”ͺ


Ayo dong mana dukungannya,,jangan lupa ya sehabis membaca selalu tinggalkan jejak like,komen,dan vote sebanyak-banyaknyaπŸ™πŸ™πŸ˜˜πŸ˜˜


Jangan lupa


like


vote n


komen


TERIMA KASIH

__ADS_1


LOVE YOUπŸ’•πŸ’•πŸ’•


__ADS_2