
🔪
🔪
🔪
🔪
🔪
Gerrald berada di kampus itu karena dia ingin mencari seseorang bukannya ingin kuliah, tapi Gerrald tidak menyangka kalau gadis yang dia sukai itu kuliah disana juga.
Bukannya itu suatu kebetulan, selain dia akan mendapatkan yang dia cari selama ini, Gerrald juga bisa bertemu dengan gadis pujaan hatinya setiap hari.
Gerrald merubah penampilannya dengan berpenampilan sangat culun, memakai kacamata dan pipinya juga dia tempeli tompel bohong-bohongan. Gerrald tidak mau ada orang yang mengenalinya karena memang pada dasarnya tujuan Gerrald pergi ke kampus bukan karena ingin kuliah melainkan untuk balas dendam kepada seseorang.
Gerrald berjalan menyusuri setiap lorong, semua mata mahasiswa menatapnya dengan tatapan aneh dan lucu.
"Sial, ingin rasanya aku tembak satu persatu mata yang menatapku dengan tatapan aneh seperti itu," batin Gerrald.
Brrruuukkk....
Gerrald tersungkur ke lantai karena ada seseorang yang sengaja menjegal kakinya membuat Gerrald menjadi bahan tawaan dari semua mahasiswa.
"Kamu anak baru ya disini?" tanya seorang pria yang bernama Kiko itu.
Gerrald langsung berdiri dan menatap tajam kearah Kiko.
"Apa? mau melawan, sini kalau berani dasar culun," cibir Kiko.
Semua mahasiswa yang ada disana tampak tertawa meremehkan kepada Gerrald, sedangkan Gerrald sudah mengepalkan tangannya dan sudut bibirnya sudah terangkat sedikit.
Gerrald berusaha mati-matian untuk menahan emosinya, dia sadar kalau saat ini dia sedang menyamar kalau dia sampai terpancing emosi bukan Kiko saja yang akan mati tapi semua orang yang sudah menertawakannya pun akan ikut mati.
Gerrald pun memilih untuk pergi dan meninggalkan semuanya.
"Hahaha...dasar culun, mana berani dia melawanku," teriak Kiko dengan tawanya.
Sedangkan Gerrald terlihat mengangkat sudut bibirnya, senyuman misteriusnya sungguh sangat menakutkan.
Gerrald masuk ke dalam kelas yang ternyata sama dengan Gladis. Tatapan Gerrald langsung kepada Gladis yang sedang duduk sendirian sembari membaca buku.
"Wah, ada anak culun masuk kelas kita," seru salah satu mahasiswa dengan lantangnya membuat semuanya menoleh ke arah pintu tak terkecuali Gladis.
Tiga orang mahasiswa menghampiri Gerrald dan memutari tubuh Gerrald dengan tatapan meremehkan.
"Hai, anak culun ngapain kamu masuk sini ruangan ini bukan untuk anak culun sepertimu," seru salah satu mahasiswa.
"Iya, pantesnya kamu masuk SLB bukan disini," sambung yang satunya lagi.
Gladis yang melihat itu langsung menghampiri mereka.
"Hai, apa-apaan kalian memangnya kalian pikir, kalian itu lebih baik daripada dia? jangan suka merendahkan orang lain, omongan kalian itu lebih besar daripada otak kalian, jadi sebelum kalian menghina orang lain ngaca dulu, apa kalian sudah lebih hebat daripada dia," bentak Gladis.
Tanpa menunggu, akhirnya Gladis menarik tangan Gerrald membuat Gerrald tersentak dan melihat tangannya yang sedang di genggam oleh tangan Gladis.
Sebuah senyuman terbit diwajah tampan Gerrald meskipun cuma samar.
__ADS_1
"Kamu duduk sama aku saja," seru Gladis dengan senyumannya.
Gerrald menganggukkan kepalanya...
"Kenalkan nama aku Gladis," seru Gladis dengan mengulurkan tangannya.
"Gerrald."
"Kamu anak baru juga disini?" tanya Gladis.
"Iya."
Gladis tersenyum sangat cantik kepada Gerrald membuat Gerrald terpaku sesaat melihat kecantikan Gladis.
Mata pelajaran pun selesai, Gladis bersiap-siap untuk pulang dan ternyata Fikri sudah berada di depan pintu menunggu Gladis. Fikri dan Gladis tidak satu kelas, Fikri ambil jurusan hukum sedangkan Gladis ambil jurusan ekonomi.
Gladis dan Gerrald berjalan beriringan membuat Fikri memicingkan matanya begitu juga Gerrald menatap tajam ke arah Fikri. Tanpa mereka sadari, kedua pria tampan itu sedang saling menyelidiki satu sama lain.
"Dis, yuk kita pulang!!" ajak Fikri.
"Ge, aku pulang duluan ya sampai jumpa besok," seru Gladis dengan melambaikan tangannya.
Gerrald hanya mengangkat tangannya dan sedikit menyunggingkan senyuman.
"Fikri, aku sudah bilang jangan ikutin aku, kamu cukup tunggu aku di dalam mobil jangan samperin aku ke kelas," kesal Gladis.
"Tapi Gladis aku hanya mengikuti perintah Jenderal, aku tidak boleh sampai lengah apalagi sampai kecolongan," sahut Fikri.
"Ya ampun Fikri, ini kampus banyak orang disini tidak mungkin ada yang jahatin aku."
"Ck..nyebelin banget sih kamu."
Gladis langsung masuk ke dalam mobil Fikri, sedangkan dari kejauhan Gerrald tampak memperhatikan keduanya.
"Selidiki siapa orang itu?" seru Gerrald yang berbicara melalui earphone yang dia pakai ditelinganya.
Gerrald pun menaiki motornya, dia sengaja memakai motor untuk menyempurnakan penyamarannya.
Tidak membilutuhkan waktu lama, Gerrald pun sampai di Mansion mewah miliknya. Semua pengawal dan pelayan membungkukkan tubuhnya menyambut kedatangan bos mereka.
Gerrald segera masuk ke dalam kamarnya dan melepas semua atribut yang dia pakai. Ponsel Gerrald tiba-tiba berbunyi dan dengan cepat Gerrald mengangkatnya.
Seseorang di seberang sana sedang berbicara, entah apa yang dibicarakan olehnya yang jelas itu membuat Gerrald menyunggingkan senyumannya. Gerrald memutuskan sambungan telponnya, dia segera meraih jaket kulit miliknya.
Sang sopir sudah siap menunggu, Gerrald masuk ke dalam mobilnya dan menyuruh sopirnya melajukan mobilnya ke suatu tempat.
***
"Uhuk..uhuk..."
Gladis yang sedang minum jus buatan Bundanya sampai tersedak saat melihat berita di tv.
"Kamu kenapa sayang? kalau minum itu pelan-pelan," seru Bunda Kiara.
"Bunda, itu kan orang yang tadi malam dibunuh di depan mata Gladis, ternyata dia seorang pengusaha," seru Gladis terkejut.
"Itu Pak Singgih sayang, rekan bisnis Bunda."
__ADS_1
"Hah...serem tahu Bunda, dia di tembak di depan mata Gladis dan orang yang menembak itu tidak ada sedikit pun rasa takut saat Gladis disana, biasanya kan kalau penjahat itu ada yang memergoki, dia langsung pergi karena takut dilaporkan ke polisi, nah ini bukannya lari malah sengaja menembak kepala orang itu mana kakinya sudah ga ada sebelah Bunda, pasti ini yang bunuh seorang psikopat," seru Gladis dengan bergidik ngeri.
Bunda Kiara tampak memikirkan apa yang diucapkan oleh Gladis.
"Cara membunuh orang ini sama persis dengan Frans dulu, apa mungkin Mafia kembali hidup?" batin Bunda Kiara yang mulai merasakan cemas akan keselamatan keluarganya.
***
Sedangkan dirumah pria yang bernama Sutomo yang menyuruh Gerrald untuk membunuh Singgih tampak bersorak gembira karena dendamnya akhirnya sudah terlampiaskan.
"Mampus kamu singgih," gumam Sutomo.
"Tuan, maaf ini ada kiriman paket untuk Tuan."
"Dari siapa?"
"Mr.G"
Sutomo tampak menyunggingkan senyumannya, dia tahu kalau Mr.G itu tidak lain dan tidak bukan adalah Gerrald.
"Kamu boleh keluar."
"Baik Tuan."
Sutomo pun mulai membuka kardus itu, seketika wajahnya pucat dan dia langsung berlari ke kamar mandi dan memuntahkan semua isi perutnya.
Ternyata isi kardus itu berisi potongan kaki Singgih yang Gerrald kirimkan kepada Sutomo sebagai bukti.
Malam pun tiba...
Disebuah markas yang gelap dan pengap, Gerral tampak sedang duduk di kursi dengan senyumannya. Saat ini Gerrald memegang pisau belati kesayangannya yang penuh dengan darah.
Gerrald tampak mengendus-ngendus belatinya itu, Gerrald sangat suka dengan harum darah. Malam ini Gerrald baru saja selesai mengeksekusi korbannya, sungguh pria tampan yang sangat mengerikkan.
🔪
🔪
🔪
🔪
🔪
Jangan lupa
like
gift
vote n
komen
TERIMA KASIH
LOVE YOU
__ADS_1