ABC ( AMARAH, BENCI, CINTA)

ABC ( AMARAH, BENCI, CINTA)
Part 36 Season 2


__ADS_3

🔪


🔪


🔪


🔪


🔪


Gerrald memutar tubuh Gladis supaya menghadap ke arahnya.


"Maaf, tadi aku kesal karena kamu mau dijodohkan sama laki-laki itu," seru Gerrald.


"Kesal kenapa?" tanya Gladis.


Gerrald menarik tangan Gladis dan membawanya masuk ke dalam mansion mewahnya itu.


Gladis tampak melongo melihat isi mansion yang super mewah dan megah. Gerrald membawa Gladis ke ruangan kerjanya.


"Kamu tinggal sendiri disini Ge? orangtua kamu kemana?" tanya Gladis.


"Orangtuaku sudah meninggal, dan aku juga punya satu adik perempuan tapi dia juga sudah meninggal," sahut Gerrald.


Gerrald berdiri di depan jendela menatap ke arah luar, perlahan Gladis mendekati Gerrald.


"Maaf, aku tidak tahu kalau orangtua dan adik kamu sudah meninggal."


"Tidak apa-apa. Dis, kamu tahu semenjak pertemuan pertama kita di pesawat, aku sudah jatuh cinta sama kamu. Kamu adalah wanita yang sudah berhasil mengalihkan duniaku."


Gladis tampak terdiam dengan ucapan Gerrald, sebenarnya Gladis juga merasa hal yang sama dengan Gerrald.


Gerrald menggenggam kedua tangan Gladis dan menciumnya.


"Maukah kamu menjadi wanitaku?" seru Gerrald.


Gladis terdiam dengan ucapan Gerrald, sedangkan Gerrald tampak menatap Gladis tajam dan menunggu jawaban dari Gladis.


"Iya, aku mau."


Gerrald tersenyum dan langsung memeluk Gladis.


"Aku janji akan membuatmu bahagia, tidak ada yang boleh menyakiti wanitaku, mulai sekarang dan seterusnya kamu adalah milikku dan hanya milikku," seru Gerrald.


Gladis tersenyum dan mulai membalas pelukkan Gerrald.


Sementara itu di restoran, semuanya tampak kelabakkan mencari Gladis.


"Pak, kita bisa lihat di cctv," seru Fikri.


Semuanya pun minta pihak restoran untuk memperlihatkan cctv dibagian yang mengarah ke toilet. Betapa terkejutnya Ayah Al dan Bunda Kiara saat melihat puterinya pergi dengan seorang pria.


"Siapa pria itu?" seru Ayah Al.


"Wajahnya tidak jelas, Pak," sahut Fikri.


"Mana ponselnya tidak aktif, ya Alloh Bunda khawatir banget Yah, takut Gladis kenapa-napa," seru Bunda Kiara cemas.


"Sudah Bunda jangan khawatir, Ayah dan Fikri akan mencari Gladis, sekarang lebih baik kita pulang dulu," ajak Ayah Al.


Mereka pun memutuskan untuk pulang dan Ayah Al pun meminta bantuan kepada para anak buahnya untuk membantu mencari keberadaan Gladis.

__ADS_1


***


"Ge, sudah malam aku harus pulang Ayah sama Bunda pasti khawatir," seru Gladis yang saat ini sedang menyandarkan kepalanya di pundak Gerrald.


"Ya sudah, aku antar kamu pulang."


Gerrald memakai jaket kulitnya dan mengambil kunci mobilnya, tidak lupa Gerrald pun memakaikan jaket ke tubuh Gladis. Setelah itu Gerrald menggandeng tangan Gladis menuju mobilnya.


Selama dalam perjalanan, Gerrald dan Gladis tampak tertawa sampai-sampai Gladis tertegun melihat Gerrald yang tertawa membuat kadar ketampanan Gerrald bertambah beberapa kali lipat.


"Kenapa kamu lihatin aku kaya gitu?" tanya Gerrald.


"Kalau kamu ketawa kamu tambah tampan tahu, makannya jangan cemberut mulu sekali-kali tertawa biar awet muda dan ga gampang tua," sahut Gladis.


"Dasar..."


Gerrald mengacak-ngacak rambut Gladis gemas, Gladis memang wanita yang ceria, cerewet, dan bawel.


Tidak lama kemudian, mobil Gerrald pun sampai di depan rumah Gladis. Di teras rumah terlihat Ayah Al yang masih sibuk menelpon anak buahnya sedangkan Fikri melihat mobil Gerrald dan bangkit dari duduknya.


"Dis, ingat apa yang aku katakan tadi jangan ada yang tahu tentang identitas aku yang sebenarnya termasuk Fikri, karena bisa-bisa kamu dalam bahaya dan aku ga mau wanitaku terluka sedikit pun dan terlibat dalam masalahku," seru Gerrald.


"Tapi aku juga ga mau kamu dalam bahaya, Ge."


Gerrald mengusap pipi Gladis...


"Kamu tidak usah khawatir sayang, aku tidak akan kenapa-napa, kamu tidak lihat apa anak buahku banyak."


"Ya sudah aku turun dulu, kamu hati-hati ya."


Gerrald mencium kening Gladis lama sekali seolah-olah itu menandakan kalau Gerrald benar-benar mencintai Gladis. Walaupun merek baru saja bertemu beberapa hari ini tapi cinta Gerrald kepada Gladis tidak main-main.


"Gladis, kamu darimana saja?" tanya Fikri dengan dingin.


"Bukan urusan kamu."


Gladis langsung melangkahkan kakinya meninggalkan Fikri tapi Fikri menahan lengan Gladis.


"Tunggu Gladis."


"Apaan sih?" Gladis menghempaskan tangan Fikri.


"Itu jaket siapa? terus barusan yang nganterin kamu siapa?" tanya Fikri.


"Apa urusannya sama kamu? kok kamu jadi banyak nanya seperti ini sih," kesal Gladis.


Ayah Al yang baru saja selesai menelpon menoleh dan melihat Fikri sedang bicara dengan Gladis.


"Astaga Gladis, kamu darimana saja?" tanya Ayah Al.


"Maaf Ayah, besok Gladis jelaskan sekarang Gladis mau istirahat dulu capek."


Gladis pun langsung meninggalkan Fikri dan Ayah Al.


"Gladis, ya ampun sayang kamu darimana saja Bunda itu khawatir banget sama kamu," seru Bunda Kiara cemas.


"Bunda, Gladis ceritanya besok saja ya sekarang Gladis capek mau istirahat dulu," sahut Gladis yang langsung meninggalkan Bunda Kiara menuju kamarnya.


"Pak, tadi Gladis diantar sama seorang pria tapi saya tidak sempat lihat siapa pria tadi soalnya dia keburu pergi," seru Fikri.


"Ya sudah, biar besok saja saya tanya sama Gladis sekarang sudah larut malam sebaiknya kamu pulang, terima kasih ya sudah mau membantu saya," seru Ayah Al dengan menepuk pundak Fikri.

__ADS_1


"Sama-sama Pak, itu sudah menjadi bagian dari tugas saya jadi Bapak tidak usah sungkan kepada saya, apalagi itu menyangkut Gladis saya akan selalu siap kapanpun."


"Saya memang tidak salah memilih calon buat Gladis kamu begitu bertanggung jawab, kalau diluar kantor jangan panggil Pak, Om saja."


"Baik Pak, eh Om. Kalau begitu saya permisi dulu."


"Iya, kamu hati-hati."


Fikri pun masuk ke dalam mobilnya dan segera meninggalkan rumah Gladis. Sementara itu, disaat Gerrald sedang melajukan mobilnya, Gerrald melihat beberapa orang sedang pesta minuman beralkohol disebuah pinggir jalan yang sepi.


Awalnya Gerrald tampak acuh, tapi sekilas dia melihat salah satu wajah temannya Jovan. Gerrald langsung menghentikan mobilnya, senyuman di wajah tampannya mulai terbit.


Gerrald mulai mengeluarkan pisau kecil kesayangannya yang diberi nama kooky.


"Kooky, malam ini kita akan bersenang-senang lagi," gumam Gerrald dengan senyumannya.


Gerrald memasang sarung tangan dan menutup wajahnya dengan penutup wajah yang biasa dia pakai. Dengan semangat Gerrald turun dari mobilnya dan menghampiri ketiganya.


Gerrald berdiri di hadapan ketiga orang yang sudah sangat mabuk bahkan kalau Gerrald menyentuhnya pun ketiga orang itu langsung tumbang.


"Wah, siapa yang datang. Hai apa kamu ingin bergabung dengan kami? apa kamu tidak punya uang untuk membeli minuman?" ledek teman Jovan dengan gaya bicara orang mabuk.


Gerrald menyunggingkan senyumannya, tanpa banyak basa-basi, Gerrald langsung menghajar pria mabuk itu, tanpa aba-aba Gerrald memotong semua jari-jari teman Jovan itu.


"Aaaaaaaarrrrrrgggghhhhh....." teriaknya.


"Rasakan, jari-jari ini kemarin sudah berani menyentuh tubuhku," gumam Gerrald.


"Tolong hentikaaaaann sakiiiiiitttt."


Sedangkan kedua temannya itu langsung kabur, mereka meminta bantuan. Gerrald menyadari kalau ada mobil yang hendak mendekat karena dia bisa lihat dari samar-samar lampu jauh sebuah mobil.


"Sial...kamu beruntung kali ini selamat," seru Gerrald.


Dengan cepat Gerrald masuk ke dalam mobilnya dan langsung menancapkan gasnya. Kedua pria yang mabuk itu tampak berdiri sempoyongan di tengah jalan mencoba menghetikan mobil yang lewat.


Sebuah mobil berhenti tepat dihadapan kedua pria mabuk itu dan menatap tajam kearah keduanya.


🔪


🔪


🔪


🔪


🔪


Jangan lupa


like


gift


vote n


komen


TERIMA KASIH


LOVE YOU

__ADS_1


__ADS_2