ABC ( AMARAH, BENCI, CINTA)

ABC ( AMARAH, BENCI, CINTA)
Part 37 Season 2


__ADS_3

🔪


🔪


🔪


🔪


🔪


Fikri segera menginjak gas dengan cepat dan menaikkan satu alisnya saat melihat dua pria mabuk yang menghentikan mobilnya.


"Minggir kalian," seru Fikri dari balik kaca jendela mobilnya.


"Tolong teman kami, dia saat ini sedang sekarat," sahut salah satu pria dengan bahasa orang mabuk.


Fikri tampak mengerutkan keningnya, dia melihat wajah pucat keduanya dan sepertinya mereka tidak bohong. Akhirnya Fikri turun dan tidak lupa mengambil pistolnya untuk berjaga-jaga takut ini hanya sebuah jebakkan.


"Dimana teman kalian?" tanya Fikri.


"Disebelah sana."


Kemudian Fikri pun mengikuti kedua pria mabuk itu dan benar saja salah satu teman mereka sudah terkapar tak sadarkan diri dengan bersimbah darah.


Mata Fikri terbelalak saat melihat kondisi mengenaskan pria itu. Dengan cepat Fikri membawanya ke rumah sakit, sedangkan kedua pria mabuk itu juga dibawa Fikri ke kantor Polisi untuk dimintai keterangan.


***


Keesokkan harinya...


Gladis masih bergelung di dalam selimutnya karena hari ini kuliah libur jadi dia ingin menghabiskan waktu untuk tidur.


"Gladis kemana Bun?" tanya Ayah Al.


"Masih tidur kayanya, maklum sekarang kan libur kuliah."


"Hari ini Ayah mau ke kantor dulu, semalam Fikri menghubungi Ayah kalau sepulang dari sini dia menemukan seseorang yang tidak sadarkan diri dengan luka yang mengenaskan, semua jari tangannya menghilang."


"Apa? ya ampun serem banget Yah, qpa mungkin kelompok mafia muncul lagi."


"Bisa jadi Bun, soalnya kan Ayah pernah bilang kalau ada kemungkinan kelompok mafia GOD OF DEAD muncul disini."


"Aku jadi khawatir Yah, takut kejadian dulu terulang lagi," seru Bunda Kiara dengan wajah cemasnya.


Ayah Al memeluk Bunda Kiara...


"Bunda jangan khawatir, ada Ayah yang akan melindungi kalian walaupun nyawa Ayah yang akan menjadi taruhannya, Ayah tidak akan membiarkan kalian terluka."


"Bunda takut, soalnya keluarga Blood masih berkeliaran Ayah. Pasti mereka akan menuntut balas kepada keluarga kita atas kematian Pram dan Frans. Apalagi Jovan sekarang satu kampus sama Gladis, Bunda takut Jovan tahu kalau Gladis anak kita dan Jovan berbuat macam-macam kepada Gladis."


"Sssttt...Bunda tenang ya, ada Fikri yang akan menjaga Gladis maka dari itu Ayah menjodohkan Fikri dengan Gladis supaya Gladis ada yang jaga dan melindungi jika Ayah tidak ada."


Bunda Kiara tampak mengeratkan pelukkannya kepada Ayah Al. Perasaannya sunggu tidak enak entah apa yang akan terjadi kepada keluarganya yang jelas Bunda Kiara merasa sangat was-was.


"Kalau begitu Ayah pergi dulu, apa Bunda mau ke kantor?"


"Tidak Yah, hari ini biar Pak Kirna yang menghandle semuanya."


"Ya sudah, Ayah pergi dulu. Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam."


Sementara itu Gladis merentangkan kedua tangannya, dia baru saja bangun dan melihat jam yang menempel di dinding kamarnya.


"Ya ampun sudah pukul sembilan."


Gladis langsung bangun dan mandi, setelah itu Gladis turun ke bawah dilihatnya Bunda Kiara sedang menonton tv sendirian.


"Pagi menjelang siang, Bunda," sapa Gladis sembari mencium pipi Bunda Kiara.

__ADS_1


"Hai sayang, anak gadis jam segini baru bangun."


"Maaf Bunda, kan tadi malam Gladis pulangnya larut malam jadi Gladis merasa capek."


"Oh ya ngomong-ngomong soal malam, sebenarnya kamu darimana? kami semua sampai khawatir sama kamu, dan kami lihat dari cctv kamu pergi dengan seorang pria, siapa pria itu?" tanya Bunda Kiara.


"Dia Gerrald Bun, teman Gladis yang waktu itu Gladis ceritain yang nolongin Gladis dari Jovan."


"Oh, tapi kenapa kamu bisa pergi dengannya dan meninggalkan kami semua tanpa bicara dan izin terlebih dahulu? Ayah kamu sampai marah-marah loh Nak," seru Bunda Kiara dengan mengusap lembut kepala puteri kesayangannya itu.


"Maaf Bunda, Gladis tidak bisa menerima perjodohan itu," seru Gladis dengan menundukkan kepalanya.


"Kenapa? Fikri anak yang baik dan dia juga berasal dari keluarga yang baik-baik."


"Karena-----karena----"


Gladis tampak sulit sekali bicara, dia sangat takut kalau Bundanya marah.


"Karena apa? bicara sama Bunda. Hmm..coba Bunda tebak, apa ini semua gara-gara pria yang bernama Gerrald?" tanya Bunda Kiara dengan senyumannya.


Gladis menatap mata Bundanya yang sangat teduh dan menenangkan, Gladis memang tidak bisa menyembunyikan rahasia dari Bundanya kecuali sama Ayahnya. Gladis sangat takut kepada Ayah Al karena Ayah Al orang yang sangat tegas dan ucapannya tidak bisa dibantah.


"Bicaralah, Bunda tidak akan marah."


"Iya Bunda, Gladis mencintai pria lain dan itu adalah Gerrald," sahut Gladis dengan menundukkan kepalanya.


"Siapa dia? siapa orangtuanya? apa orangtuanya seorang Pengusaha juga seperti Bunda? kali aja Bunda kenal," seru Bunda Kiara.


Gladis menggelengkan kepalanya...


"Gladis ga tahu Bun, tapi yang jelas Gerrald bilang kalau orangtuanya sudah meninggal dan dia juga punya adik perempuan tapi adiknya juga sudah meninggal."


"Astaga kasihan juga dia."


Gladis langsung teringat pesan Gerrald kalau jangan sampai ada yang tahu siapa dia sebenarnya.


"Sebenarnya aku juga penasaran sama Gerrald, sebenarnya dia siapa? bahkan rumahnya sangat mewah dan megah, banyak pengawal dimana-mana, aku yakin kalau Gerrald bukan orang sembarangan," batin Gladis.


"Ih..Bunda apaan sih."


Tiba-tiba ponsel Gladis berbunyi dan tertera nama Gerrald disana, wajah Gladis langsung cerah membuat Bunda Kiara mengerutkan keningnya. Dengan cepat Gladis mengangkat telponya.


📞"Hallo..."


📞"Aku sudah berada didepan rumah kamu."


📞"Hah..."


Gladis langsung berlari ke arah jendela dan benar saja mobil Gerrald sudah ada disana.


📞"Aku tunggu sepuluh menit, kalau kamu tidak keluar terpaksa aku akan masuk ke rumahmu dan melamar kamu."


📞"Apa? aku segera keluar."


Gladis memutuskan sambungan telponnya dan segera berlari menuju kamarnya untuk mengganti pakaiannya.


Bunda Kiara merasa penasaran, dia pun mengintip dari balik jendela. Kebetulan kaca mobil Gerrald terbuka, Bunda Kiara mengerutkan keningnya.


"Bunda, Gladis pergi dulu ya."


"Apa itu yang namanya Gerrald?"


"Iya Bunda."


"Kamu hati-hati jangan pulang malam."


"Siap Bunda, kalau gitu Gladis pergi dulu ya. Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam."

__ADS_1


Dengan senangnya Gladis langsung meninggalkan rumah dan menuju mobil Gerrald.


"Mau kemana kita?" tanya Gladis.


"Jalan-jalan."


"Yeayyy...let's go," seru Gladis dengan semangatnya.


Gerrald hanya tersenyum dan mengacak-ngacak rambut Gladis dengan gemasnya.


***


Sementara itu di kantor Polisi, Ayah Al dan Fikri sedang berada di sebuah ruangan bersama kedua pria mabuk yang tadi malam menghentikan mobil Fikri.


"Coba ceritakan apa yang sudah terjadi tadi malam?" tanya Ayah Al.


Kedua pria itu tampak gemetar mendengar suara Ayah Al yang sangat menakutkan.


"Jawab," bentak Ayah Al.


"Ta--tadi ma--lam kami se--dang mi--num, tiba-tiba a--da seo--rang pria da--tang meng--hajar kami dan lang--sung memotong jari Jeko," sahut salah satu pria itu dengan terbata-bata.


"Bagaimana ciri-ciri orang itu?" tanya Ayah Al lagi.


"Orangnya tinggi, putih, kalau wajahnya kita tidak tahu karena dia memakai penutup wajah."


"Siapa orangnya?" gumam Ayah Al.


"Yang jelas, pasti orang itu seorang psikopat soalnya dari cara dia melukai korbannya sungguh tidak biasa dan diluar akal sehat, Pak," seru Fikri.


"Sepertinya ini ada hubungannya dengan pembunuhan seorang pengusaha yang dulu Gladis temukan, bahkan sebelah kakinya menghilang dan pihak kita juga tidak menemukannya," sahut Ayah Al.


"Bisa jadi Pak."


"Ah, sial pasti ini perbuatan THE BLOOD," batin Ayah Al.


***


Disisi lain, disebuah restoran teman-teman Jovan mengajak Jovan untuk bertemu. Mereka langsung menemui Jovan saat tahu salah satu teman mereka masuk rumah sakit.


"Bos, si Jeko masuk rumah sakit katanya sih semua jarinya hilang."


"Apa? siapa yang sudah melakukan semua itu?" bentak Jovan.


"Kami tidak tahu Bos, bahkan kami tidak bisa melihat Jeko karena ruangan rawatnya dijaga oleh beberapa Polisi."


"GOD OF DEATH, pasti ini kerjaan mereka," gumam Jovan.


🔪


🔪


🔪


🔪


🔪


Jangan lupa


like


gift


vote n


komen


TERIMA KASIH

__ADS_1


LOVE YOU


__ADS_2