
🔪
🔪
🔪
🔪
🔪
Dua tahun kemudian....
Sudah dua tahun Gladis tinggal di Inggris, ia bekerja di sebuah restoran cepat saji. Gladis sudah lulus kuliah dua bulan yang lalu, Bunda Kiara hanya datang seorang diri untuk menghadiri wisuda Gladis karena Ayah Al sedang dalam keadaan sakit.
Semenjak Gladis pergi, Ayah Al selalu di hantui rasa bersalah yang teramat besar terhadap anaknya. Apalagi sudah dua tahun ini, Gladis tidak mau bertemu bahkan mendengar suaranya pun, Gladis enggan.
Gladis sebenarnya sudah memaafkan Ayah Al sejak satu tahun yang lalu, tapi Gladis belum siap saja bertemu dengan Ayahnya itu. Mendengar Ayahnya sakit, hati Gladis sangat terluka tapi ego Gladis masih tinggi dan dia belum ada niat untuk pulang ke Indonesia.
Satu tahun pertama, merupakan tahun paling sulit untuk Gladis. Gladis sama sekali tidak bisa konsentrasi, bayangan Gerrald selalu mengikuti Gladis dan Gladis pun selalu berhalusinasi tentang Gerrald.
Tapi untuk tahun ke dua, kehidupannya agak sedikit membaik. Walau pun bayangan Gerrald selalu ada dimana-mana, tapi Gladis sudah tidak ambil pusing.
Siang ini Gladis baru saja pulang dari restoran, bukan sebagai karyawan tapi Gladis memutuskan untuk berhenti. Setelah di pikir-pikir, Gladis akan kembali ke Indonesia untuk melihat keadaan Ayahnya.
Gladis berjalan kaki karena di Negara orang, lebih enak berjalan kaki di bandingkan naik kendaraan lagipula jarak restoran ke apartemennya tidak terlalu jauh.
"Aku pasti akan merindukan Negara ini," gumam Gladis dengan senyumannya.
Di saat Gladis sedang berjalan, tiba-tiba terlihat bayangan Gerrald berdiri di hadapannya dengan merentangkan kedua tangannya. Awalnya Gladis menghentikan langkahnya, tapi setelah tahu itu hanya halusinasinya saja, Gladis pun melanjutkan kembali langkahnya dengan penuh keyakinan san benar saja di saat Gladis melewati bayangaan itu, bayangannya langsung menghilang.
Gladis menghela napasnya dan mengembangkan senyumannya. Setelah beberapa langkah berjalan, Gladis kembali melihat bayangan Gerrald sedang berdiri dengan gagahnya dan terlihat lebih tampan.
"Kamu tampan sekali, Ge. Tapi sayang, itu hanya halusinasiku saja," batin Gladis.
Gladis pun mempercepat langkahnya, dia tidak mau sampai berhalusinasi terus mengenai keberadaan Gerrald. Sungguh Gladis seperti orang gila yang selalu memikirkan pria yang sudah lama menghilang.
Gladis berjalan dengan menundukkan kepalanya, hingga sampai akhirnya Gladis sampai di hadapan yang di sangka hanya halusinasinya saja. Kening Gladis menubruk dada bidang milik orang itu.
Seketika Gladis mendongakkan kepalanya, dan pria yang di sangka halusinasi ternyata benar-benar nyata. Gladis mengulurkan tangannya dan mencoba menyentuh wajah Gerrald, dan itu benar-benar nyata.
"Apa ini nyata," seru Gladis dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
Gerrald tersenyum dan menarik tubuh Gladis dalam pelukkannya. Gladis sudah tidak bisa menahan airmatanya lagi, ia menangis sejadi-jadinya.
"Terima kasih sudah menungguku," seru Gerrald.
"Hiks..hiks..hiks.."
Gerrald semakin mengeratkan pelukkannya, sungguh Gerrald bisa merasakan bagaimana perasaan Gladis selama ini. Wanitanya begitu tangguh dan kuat.
Gerrald melepaskan pelukkannya, ia menatap wajah cantik wanita yang sangat dia cintai itu. Satu tetes airmata jatuh dari mata Gerrald, baru pertama kali ini Gerrald meneteskan airmatanya.
"Aku sangat merindukanmu, terima kasih sudah setia menungguku," seru Gerrald.
Gladis tidak bisa berkata-kata lagi, hanya airmata yang bisa dia tunjukkan. Gerrald kembali memeluk Gladis dan menciumi pucuk kepala Gladis.
__ADS_1
Setelah saling menumpahkan kerinduan satu sama lain, Gladis pun mengajak Gerrald ke apartemennya.
"Ayo masuk," ajak Gladis.
Gerrald melihat satu koper sudah siap disana.
"Kamu mau kemana?"
"Aku akan kembali ke Indonesia, Ge. Ayah aku sedang sakit, selama dua tahun ini aku sudah mengabaikannya aku sangat merasa bersalah."
"Kamu jangan membenci Ayah kamu, tidak ada yang salah dengannya, beliau hanya ingin melindungi anaknya. Sebagai seorang Polisi sudah sepantasnya beliau memberantas kejahatan, apalagi aku yang sudah banyak melakukan kejahatan."
Gladis menganggukkan kepalanya...
"Apa kamu akan ikut denganku?" tanya Gladis penuh harap.
"Iya, aku akan menemanimu. Walaupun nantinya aku akan di tangkap, itu tidak masalah. Sudah bisa bertemu denganmu saja, aku sudah sangat bahagia."
Gladis kembali menghambur ke pelukkan Gerrald.
***
Gerrald dan Darra tiba di Indonesia, saat ini mereka sedang dalam perjalanan menuju rumah orangtua Gladis. Selama dalam perjalanan, Gladis memegang erat tangan Gerrald seakan dia takut kehilangan Gerrald untuk kedua kalinya.
Gerrald tahu kalau wanitanya itu sedang gugup dan cemas.
"Jangan takut, aku tidak akan kenapa-napa."
"Aku sangat takut, Ge. Aku ga mau berpisah lagi denganmu."
Gerrald mengusap kepala Gladis dengan penuh kasih sayang sembari tersenyum. Hingga tidak lama kemudian, taksi yang mereka tumpangi itu sampai di depan rumah yang sampai saat ini tidak pernah berubah.
"Gladis..."
"Bunda..."
Gladis berlari memeluk Bundanya itu, tangis keduanya pecah. Hingga akhirnya Bunda Kiara tersadar kalau Gladis tidak sendirian, Bunda Kiara menatap dalam ke arah Gerrald membuat Gerrald menundukkan kepalanya.
"Apa kamu, Gerrald?" tanya Bunda Kiara.
"Iya Nyonya."
Bunda Kiara tersenyum dan tanpa di duga memeluk lelaki tampan itu.
"Maafkan kesalahan kami, Nak. Kami sudah memisahkan kalian berdua."
"Tidak, Nyonya. Nyonya tidak perlu minta maaf karena setiap orangtua pasti menginginkan yang terbaik untuk puterinya."
Bunda Kiara melepaskan pelukkannya dan mengusap pipi Gerrald.
"Terima kasih sudah kembali, terima kasih sudah mengembalikan senyum Gladis."
Gerrald tersenyum...
"Ayo kita masuk, Ayah kamu pasti sangat senang dengan kedatangan kalian."
__ADS_1
Ketiganya pun masuk dan Bunda Kiarabawa keduanya ke taman belakang. Disana terlihat Ayah Al duduk di kursi taman dengan tatapannya menerawang jauh ke depan sana.
Mata Gladis tampak berkaca-kaca, perlahan Gladis mendekati Ayah Al.
"Ayah..."
Ayah Al menoleh dan langsung berdiri menatap sendu puteri yang sangat dia rindukan.
"Gladis..."
Gladis langsung menghambur ke pelukan Ayah Al, tangis keduanya pecah.
"Maafkan Ayah, Nak."
"Gladis juga minta maaf karena selama ini sudah membenci Ayah."
"Tidak Nak, kamu pantas membenci Ayah."
Ayah Al pun melepaskan pelukkannya dan melihat ke belakang, di sana ada Bunda Kiara dan Gerrald sedang menatapnya.
Pandangan Ayah Al dan Gerrald bertemu, mereka saling menyelami perasaan masing-masing. Tanpa di duga, Ayah Al merentangkan kedua tangannya ke arah Gerrald.
"Dasar calon menantu kurang ajar, kamu datang kesini hanya untuk berdiri di situ? sini peluk calon mertuamu," seru Ayah Al.
Gerrald menoleh ke arah Bunda Kiara, ia tersenyum dan mengusap pundak Gerrald. Kemudian Gerrald pun menoleh ke arah Gladis, ia tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
Gerrald melangkah dan mendekati Ayah Al, Ayah Al memeluk Gerrald dengan deraian airmata.
"Kamu, sungguh pria hebat dan kuat. Saya percaya kalau kamu bisa menjaga dan membahagiakan puteri saya."
Ayah Al melepaskan pelukkannya...
"Kalau kamu berani meninggalkan puteri saya, saya tidak akan segan-segan untuk membunuh kamu."
Semuanya akhirnya tertawa bersama, tidak ada lagi adu jotos dan adu tembak. Mereka semua menikmati kebersamaannya sebagai sebuah keluarga bahagia.
🔪
🔪
🔪
🔪
🔪
Jangan lupa
like
gift
vote n
komen
__ADS_1
TERIMA KASIH
LOVE YOU