ABC ( AMARAH, BENCI, CINTA)

ABC ( AMARAH, BENCI, CINTA)
Part 29 Season 2


__ADS_3

🔪


🔪


🔪


🔪


🔪


Gladis memasuki sebuah Mall, dia tampak sangat bahagia akhirnya setelah sekian lama belajar dan belajar sekarang bisa jalan-jalan.


Gladis tampak melakukan semua hal yang dia inginkan, dari mulai belanja pakaian, mampir ke toko buku, sampai nonton bioskop semuanya dia lakukan seorang diri tapi meskipun tanpa di dampingi orang tersayang, Gladis masih tetap ceria dan bahagia.


Hingga waktu pun berjalan dengan cepat, tidak terasa saking asyiknya waktu sudah menunjukkan pukul tujuh malam. Gladis menghentikan kegiatannya karena ponselnya tiba-tiba berbunyi.


📞"Hallo Yah!!"


📞"........"


📞"Iya, ini Gladis baru saja mau pulang."


📞"......."


📞"Ya sudah, Gladis pulang sekarang."


Gladis pun segera mematikan ponselnya dan dengan cepat menuju parkiran untuk mengambil mobilnya.


Gladis mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang, hingga akhirnya saat melewati jalan sepi samar-samar Gladis melihat seseorang yang berlari ke arah mobilnya dengan kaki yang pincang karena sebelah kakinya tampak hilang.


Bruukkkk....


Orang paruh baya itu menabrak bagian depan mobil Gladis dengan wajah yang sudah tidak terlihat jelas karena sudah penuh dengan darah.


"To---long sa---ya," lirih pria paruh baya itu.


Seketika tubuh Gladis bergetar, melihat pemandangan yang mengerikan itu. Dari belakang pria itu datang seseorang dengan pakaian serba hitam tidak lupa membawa pistol ditangannya.


Orang itu memakai penutup wajah dan hanya matanya saja yang terlihat, sebelum orang itu menembak pria paruh baya itu, matanya bertatapan langsung dengan mata Gladis.


Sesaat mata itu saling bertubrukan, Gladis hanya bisa terdiam mematung suara jantungnya sudah tidak beraturan, tubuhnya lemas dan bergetar hebat, airmatanya pun sudah mengalir dipipi mulusnya.


Doooorrrrr....doooorrrr...


Dua kali tembakan peluruh itu menembus kepala pria paruh baya itu, darahnya muncrat ke kaca depan mobil Gladis. Gladis menutup matanya dan menutup mulutnya, perasaan takut menghampirinya.


Cukup lama Gladis menutup matanya hingga dia pun segera membuka matanya dan ternyata orang itu sudah pergi tanpa jejak sedikit pun. Dengan tangan yang bergetar, Gladis mengambil ponselnya dan menghubungi sang Ayah.


"Ha---hallo, Ay--ah to--long Gladis."


Tiga puluh menit kemudian, Ayah Al dan Fikri pun datang. Betapa terkejutnya Ayah Al dan Fikri melihat seseorang bersimbah darah di depan mobil Gladis dengan kaki sebelahnya lagi hilang bahkan mobil puterinya itu juga berlumuran dengan darah.


"Fikri, hubungi kantor suruh beberapa orang kesini," seru Ayah Al.


"Baik Pak."


Fikri pun segera menghubungi kantor dan Ayah Al segera membuka pintu mobil Gladis.


"Sayang, kamu tidak apa-apa?" tanya Ayah Al.


Gladis tidak bisa bicara, dia masih sangat syok dengan kejadian barusan. Ayah Al mendekap tubuh sang puteri yang saat ini bergetar hebat karena ketakutan.


"Ayah, Gladis takut," lirih Gladis.


"Tenang ada Ayah disini."


Tidak lama kemudian, rombongan polisi pun datang dan memeriksa jasad pria paruh baya itu dan membawanya ke rumah sakit untuk di otopsi.


"Izin, Jenderal kami akan membawa jasad orang ini ke rumah sakit untuk di otopsi."

__ADS_1


"Baiklah...sayang, kamu pulang diantar oleh Fikri, biar Ayah yang bawa mobil kamu soalnya mobil kamu harus dibawa ke kantor polisi dulu untuk dijadikan barang bukti," seru Ayah Al.


Gladis hanya mengangguk lemah..


"Fikri, tolong bawa Gladis pulang."


"Siap Jenderal....ayo Gladis, aku antar kamu pulang," seru Fikri.


Gladis pun segera masuk ke dalam mobil Fikri, selama dalam perjalanan Gladis tidak berbicara sedikit pun, dia hanya mampu meremas kedua tangannya dengan tubuh yang masih bergetar.


Fikri tahu kalau saat ini Gladis sedang ketakutan, hingga akhirnya Fikri menghetikan mobilnya disebuah mini market. Fikri langsung keluar tanpa berbicara terlebih dahulu kepada Gladis.


Tidak lama kemudian Fikri keluar dengan membawa beberapa botol minuman.


"Ini minumlah," seru Fikri dengan menyodorkan sebotol air mineral kepada Gladis.


Dengan tangan yang masih bergetar, Gladis mengambil minuman itu dan meminumnya sampai tersisa setengah.


"Terima kasih."


"Sama-sama."


Sesaat Fikri membiarkan mobilnya terdiam di parkiran mini market untuk menenangkan Gladis. Cukup lama mereka saling diam satu sama lain.


"Apa bisa kita pulang sekarang," seru Gladis.


"Kamu sudah merasa baikkan?"


Gladis menganggukkan kepalanya, Fikri pun mulai melajukan mobilnya. Sesampainya di rumah Gladis, Gladis langsung keluar dari dalam mobil Fikri dan masuk ke dalam rumahnya tanpa berkata sedikit pun kepada Fikri. Fikri memahami keadaan Gladis yang saat ini mungkin masih syok dengan kejadian barusan.


Sementara itu di sebuah Mansion mewah milik Gerrald, Gerrald duduk di ruangan kerjanya otaknya mulai mengingat kejadian barusan. Ya orang yang tadi menembak pria paruh baya itu adalah Gerrald.


"Gadis itu, kenapa dia ada disana," gumam Gerrald.


Gerrald tampak mengetuk-ketuk jarinya diatas meja kerjanya.


"Jangan sampai dia tahu siapa aku sebenarnya, aku tidak mau membuat dia takut dan menjauhiku," batin Gerrald.


Keesokkan hari...


Gladis sudah siap untuk berangkat kuliah...


"Pagi semuanya!!" sapa Gladis.


"Pagi juga sayang."


"Kamu sudah siap kuliah? kalau kamu belum siap, tidak apa-apa jangan dulu masuk," seru Ayah Al.


"Tidak Yah, Gladis sudah siap kok."


"Ya sudah, kamu sarapan dulu ya jangan sampai di hari pertama kuliah, kamu kelaparan," seru Bunda Kiara.


"Iya Bunda."


Tiba-tiba seseorang datang...


"Selamat pagi Jenderal, Bu, Gladis," sapa Fikri.


"Pagj Fikri, mari kita sarapan bersama-sama," ajak Ayah Al.


"Tidak Jenderal, saya sudah sarapan kalau begitu saya tunggu diluar saja, permisi."


Fikri pun memilih menunggu diluar...


"Loh, Ayah yang nyuruh Fikri kesini?" tanya Gladis.


"Iya, kan Ayah sudah bilang kalau Fikri itu akan menjadi bodyguard kamu selama di kampus."


"Ayah, Gladis bisa pergi sendiri kalau Gladis berangkat bareng dengan Fikri terus dia ngikutin Gladis kemana pun Gladis pergi, Gladis ga nyaman Yah," protes Gladis.

__ADS_1


"Sayang, Ayah cuma tidak mau sampai terjadi kenapa-napa sama kamu."


"Iya tapi ga segitunya juga kali Yah, Gladis ga nyaman."


"Pokoknya tidak ada protes-protes, Ayah melakukan semua ini karena tidak mau kamu kenapa-napa, lagipula Fikri disana juga sama kuliah kaya kamu jadi tidak akan ada yang curiga kalau Fikri seorang polisi."


"Ck...Ayah selalu seperti ini. Ya sudah kalau begitu, Gladis berangkat dulu, Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam."


Gladis berangkat setelah sebelumnya dia mencium punggung tangan Ayah dan Bundanya.


"Ayo kita berangkat sekarang," ajak Gladis.


Fikri pun yang sedang mengotak-ngatik ponselnya langsung sigap berdiri, sedangkan Gladis langsung masuk ke dalam mobil Fikri.


"Fikri, aku harap selama di kampus kamu jangan ikutin aku terus, aku ga nyaman anggap saja kita ga saling kenal."


"Tapi----"


"Ga ada tapi-tapian, pokoknya aku maunya kamu jangan ikutin aku terus, aku ga bakalan bilang kok sama Ayah tenang saja."


Fikri hanya bisa diam saja, posisi Fikri sangat serba salah disatu sisi dia harus mengikuti apa perintah atasannya tapi disisi lain dia juga tidak mau sampai membuat Gladis merasa tidak nyaman.


"Baiklah."


Akhirnya Fikri terpaksa harus mengikuti keinginan Gladis walaupun pada kenyataannya dia harus selalu memantau Gladis meski harus dari jarak jauh sekalipun.


Sesampainya di kampus, Gladis tampak celingukkan disaat dirasa semua Mahasiswa agak sedikit lengah, dia pun keluar dari mobil Fikri.


Baru saja beberapa langkah, ada salah satu Mahasiswa yang berlari dengan kencangnya dan tidak sengaja menabrak Gladis membuat Gladis oleng dan hendak jatuh, Fikri dengan sigap ingin menolong Gladis tapi seseorang terlebih dahulu menangkap tubuh Gladis.


Sesaat mata Gladis dan orang itu saling pandang satu sama lain.


"Perasaan aku kenal dengan mata ini, tapi dimana?" batin Gladis.


"Kamu ga apa-apa Gladis?" tanya Fikri.


Gladis membenarkan posisinya begitu juga dengan orang yang menolong Gladis tampak menatap tajam kearah Fikri.


"Aku ga apa-apa kok, terima kasih ya," seru Gladis.


Gladis pun melangkahkan kakinya meninggalkan Fikri dan orang itu. Sedangkan Fikri dan orang itu tampak saling tatap, menyelidiki satu sama lain.


Orang itu yang ternyata Gerrald langsung meninggalkan Fikri, tidak lupa ujung bibirnya tampak sedikit terangkat.


"Kenapa aku merasakan kalau orang itu bukan orang sembarangan," batin Fikri.


Dengan pikirannya, Fikri pun akhirnya masuk dan dengan cepat menyusul Gladis.


🔪


🔪


🔪


🔪


🔪


Jangan lupa


like


gift


vote n


komen

__ADS_1


TERIMA KASIH


LOVE YOU


__ADS_2