ABC ( AMARAH, BENCI, CINTA)

ABC ( AMARAH, BENCI, CINTA)
Part 40 Season 2


__ADS_3

🔪


🔪


🔪


🔪


🔪


Sesampainya di kampus, semua mata tertuju kepada Gerrald dan Gladis. Mereka tak habis pikir, wanita secantik Gladis mau dengan Gerrald yang culun.


"Ayo kita masuk," ajak Gerrald dengan menggandeng tangan Gladis.


Fikri yang baru saja sampai dan melihat kelakuan Gerrald dan Gladis hanya mendengus kesal. Tiba-tiba langkah mereka terhenti karena ada yang menghalangi jalan mereka.


"Gladis, kok kamu mau sih jalan sama si cupu ini, apa hebatnya sih dia? mendingan kamu jalan sama aku," seru Jovan.


Gladis langsung bersembunyi dibelakang punggung Gerrald.


"Minggir, jangan menghalangi jalan kita," seru Gerrald dingin.


"Apa? jadi kamu sudah berani menyuruhku untuk pergi, memangnya kamu pikir kamu siapa?" seru Jovan dengan menepuk pundak Gerrald tapi dengan cepat Gerrald menepisnya.


Gerrald paling tidak suka orang asing menyentuh tubuhnya, seperti yang kita lihat Gerrald memang diam saja saat dibully dan dipukuli tapi pada akhirnya orang yang melakukan itu harus tewas dengan sangat mengenaskan.


"Wow, sekarang kamu sudah berani ya melawanku."


Gerrald kembali menggenggam tangan Gladis dan membawanya untuk pergi tapi batu saja beberapa langkah, Jovan menarik tangan Gladis dan dengan sekali sentakkan Gladis sudah berada dalam pelukkan Jovan.


"Lepaskan aku," seru Gladis yang terus memberontak.


Gerrald tampak mengepalkan tangannya..


"Kenapa? memangnya kamu berani melawanku," cibir Jovan yang membuat teman-teman Jovan tertawa.


Bughhh....


Tanpa aba-aba, Gerrald memukul wajah Jovan sehingga hidungnya berdarah dan Jovan terjungkal ke belakang.


"Kurang ajar, berani sekali kamu memukul bos kami."


Kedua teman Jovan pun maju hendak menyerang Gerrald, tapi dengan mudahnya Gerrald mengatasi keduanya. Bahkan saat ini keduanya sudah babak belur dengan luka-luka diwajahnya.


"Jangan pernah sentuh milikku apalagi sampai melukainya, aku tidak akan membiarkan siapapun menyentuhnya," ucap Gerrald.


Gerrald menarik tangan Gladis dan membawanya pergi dari sana.


"Sial...ternyata dia jago juga," gumam Jovan.


Sedangkan Fikri yang memperhatikan mereka dari kejauhan, hanya bisa bertanya-tanya dalam hatinya.


"Sebenarnya siapa Gerrald?" batin Fikri.


Gerrald tampak emosi, dia masih bisa diam kalau dia dibully dan dipukuli tapi Gerrald tidak terima kalau melihat wanitanya diperlakukan kasar oleh orang lain.


"Ge, kamu tidak apa-apa? bagaimana kalau mereka tahu kamu yang sebenarnya?" seru Gladis dengan cemasnya.


"Tidak usah khawatir, mereka tidak akan pernah tahu siapa aku. Dan satu lagi, aku paling tidak suka kalau milikku disentuh oleh orang lain," sahut Gerrald.


Gladis tersenyum dengan wajah yang memerah. Sementara itu, Ayah Al tampak sangat emosi setelah mendengar kabar dari Fikri kalau tadi Gladis memilih berangkat dengan pria itu dibanding dengan Fikri.


"Ini semua gara-gara pria yang bernama Gerrald itu, semenjak Gladis mengenalnya Gladis menjadi anak yang pembangkang," gumam Ayah Al.

__ADS_1


Tok..tok..tok..


"Masuk."


"Siap Komandan, ada yang bisa saya bantu?" seru salah satu anak buah Ayah Al.


"Fadli, kamu dan yang lainnya tolong cari tahu siapa orang ini," seru Ayah Al dengan memberikan foto Gerrald kepada anak buahnya.


"Siap Komandan."


"Jangan sampai ada orang yang tahu, karena menurut feeling saya orang itu berbahaya."


"Siap Komandan laksanakan."


"Kamu boleh pergi."


"Siap."


"Gerrald, pasti kamu bukan orang sembarangan dari auranya saja aku sudah tahu dia orangnya kaya gimana," gumam Ayah Al.


***


Waktu pulang pun tiba...


Fikri sudah menunggu Gladis di depan pintu kelasnya.


"Ngapain kamu disini?" ketus Gladis.


"Kita pulanglah."


"Gladis pulang sama aku," seru Gerrald.


Fikri menatap tajam ke arah Gerrald, tiba-tiba Fikri mendorong Gerrald dan memojokkannya ke dinding membuat Gladis kaget. Sedangkan Gerrald tampak santai-santai saja.


"Sebenarnya siapa kamu? apa tujuan kamu mendekati Gladis? jawab," bentak Fikri.


"Lepaskan tangan kotormu dari tubuhku, aku paling tidak suka ada orang yang menyentuh tubuhku sembarangan," seru Gerrald dingin.


"Aku pastikan akan mencari tahu siapa kamu sebenarnya?"


"Jangan buang-buang waktumu karena usahamu tidak akan membuahkan hasil, lebih baik kamu urus diri kamu sendiri karena aku tidak akan memaafkan orang yang sudah berani mengusik hidupku."


Gerrald menghempaskan tangan Fikri dan menarik tangan Gladis kemudian membawanya pergi.


"Sial, siapa sebenarnya dia?" gumam Fikri.


Gladis pulang dengan Gerrald tapi tidak lama kemudian, beberapa motor menghadang motor Gerrald.


"Brengsek, mau ngapain sih mereka buang-buang waktu saja," batin Gerrald.


"Mereka siapa Ge?" tanya Gladis merasa khawatir.


"Kamu tenang saja, mereka hanya sekumpulan tikus yang hanya membuang-buang waktu ku saja, kamu tunggu disini biar aku urus tikus-tikus tolol itu."


Gerrald turun dari atas motornya sedangkan Gladis berdiri disamping motor Gerrald.


"Serahkan wanita itu, maka kamu akan selamat," seru salah satu orang yang sepertinya merupakan ketua dari kelompok itu.


Gerrald menyunggingkan ujung bibirnya, tersenyum remeh kepada orang-orang yang berjejer siap menghantam Gerrald kapan saja.


Gerrald menelisik satu persatu orang yang berjejer dihdapannya itu, hingga ekor matanya sekilas menangkap sebuah lencana yang dipakai salah satu orang itu dibalik jaket kulitnya.


"Oh, rupanya mereka Polisi, apa mereka suruhannya si Fikri atau justru suruhannya Ayahnya Gladis?" batin Gerrald.

__ADS_1


Ya, ternyata orang-orang yang menghalangi jalan Gerrald adalah Polisi dibawah pimpinan Fadli. Fadli merupakan pasukan khusus, Fadli bisa tahu identitas seseorang hanya dari gerak-geriknya.


"Kalau aku tidak mau menyerahkan Gladis, apa yang akan kalian lakukan?" tanya Gerrald dengan santainya.


"Berarti kamu sudah siap menyerahkan diri kamu sendiri, beri orang itu sedikit pelajaran," sahut Fadli.


Anak buah Fadli pun langsung menyerang Gerrald dan dengan senang hati Gerrald meladeninya tanpa kendala yang berarti. Sedangkan Fadli hanya memperhatikan gerak-gerik Gerrald dan cara Gerrald berkelahi.


Begitu juga dengan orang yang sedang memperhatikan mereka dari jarak yang lumayan jauh. Orang itu adalah Ayah Al, dan tidak lama kemudian mobil Fikri pun datang.


"Loh, itu kan Pak Fadli. Kok mereka bisa berurusan dengan Gerrald," gumam Fikri.


Tidak lama kemudian ponsel Fikri berbunyi dan tertera nama Ayah Al disana, dengan cepat Fikri langsung mengangkatnya.


📞"Hallo Om!!"


📞"Fikri, saya ada ujung sebelah kanan mobil kamu."


Fikri tampak celingukkan dan menemukan sebuah mobil yang sangat Fikri kenal.


📞"Iya Om, saya bisa melihatnya."


📞"Kamu bawa Gladis pulang, kalau dia tidak mau paksa saja."


📞"Baik Om."


Ayah Al pun memutuskan sambungan telponnya, Fikri turun dari mobilnya dan langsung membawa Gladis pulang.


"Fikri apa-apaan sih lepasin," seru Gladis.


"Ayo pulang, Om Al menyuruhku untuk membawa kamu pulang."


"Tapi itu Gerrald bagaimana? kamu tolongin dia dulu."


"Tidak apa-apa, aku yakin si Gerrald bisa menanganinya."


Fikri memaksa Gladis masuk ke dalam mobilnya, walaupun Gladis memberontak tapi apalah daya tenaga Fikri lebih kuat apalagi dia seorang Polisi fisiknya tidak diragukan lagi.


Gerrald melihat ke arah mobil Fikri yang membawa paksa Gladis, tapi sayang kelengahan Gerrald itu menjadi kesempatan para Polisi untuk melumpuhkan Gerrald.


Gerrald tampak terkena pukulan, tapi bukannya menyerah Gerrald malah semakin bringas dan langsung membalas pukulannya satu persatu, sedangkan Fadli langsung terbelalak melihat aksi bela diri dan trik bela diri yang saat ini Gerrald praktekkan.


"GOD OF DEAD," gumam Fadli.


🔪


🔪


🔪


🔪


🔪


Jangan lupa


like


gift


vote n


komen

__ADS_1


TERIMA KASIH


LOVE YOU


__ADS_2