
πͺ
πͺ
πͺ
πͺ
πͺ
Keesokkan harinya...
Gladis berangkat ke kampus dengan perasaan yang tak menentu, entah kenapa perasaannya sangat tidak enak. Gerrald memang seorang pembunuh, tapi ada rasa tidak rela di dalam hatinya kalau Gerrald sampai ketahuan apalagi sampai tertangkap oleh Ayahnya.
Tidak seperti biasanya, Gladis langsung masuk ke dalam mobil Fikri tanpa harus berseteru dulu dengan Ayahnya.
"Kamu tidak apa-apa kan, Dis?" tanya Fikri.
"Tidak, aku baik-baik saja."
Tanpa Fikri sadari, ternyata Gerrald mengikuti mobilnya. Gerrald ingin memastikan kalau wanita yang dia cintai dalam keadaan baik-baik saja.
Sesampainya di kampus, Gladis turun dari mobil. Ia celingukkan mencari keberadaan seseorang.
"Kok aku merasa, ada yang ngawasin aku," gumam Gladis.
"Kenapa, Dis?"
"Ga apa-apa, aku duluan."
Gladis pun dengan cepat melangkahkan kakinya menuju kelas. Gladis merasa ada yang aneh, lorong yang menuju kelasnya tumben sepi banget biasanya di sepanjang koridor banyak Mahasiswa yang duduk-duduk.
Gladis mempercepat langkahnya, tapi baru saja beberapa langkah seseorang membekap mulut Gladis menggunakan sapu tangan yang sudah di berikan obat bius.
Seketika Gladis tak sadarkan diri dan kedua orang itu langsung membawa Gladis lewat jalan belakang. Sedangkan Gerrald, setelah memastikan gadisnya sampai di kampus dia pun memilih untuk pergi.
***
Satu jam pun berlalu, Gladis mulai membuka matanya. Tangan dan kakinya sudah dalam keadaan terikat membuat Gladis panik sekaligus takut.
"Aku ada dimana?" gumam Gladis.
Gladis saat ini berada di sebuah kamar yang tampak mewah.
Ceklek...
Pintu kamar itu terbuka membuat Gladis menoleh dan beringsut ke ujung ranjang dengan susah payah karena kaki dan tangannya terikat.
"Apakabar cantik."
"Jovan, kenapa kamu lakuin semua ini?" tanya Gladis panik.
"Tenang cantik, aku tidak akan menyakitimu selama kamu mau bekerjasama denganku dan menuruti semua keinginanku," sahut Jovan.
Jovan mendekat ke arah Gladis dan mengusap wajah cantik Gladis.
"Jangan sentuh aku!!" bentak Gladis.
"Wow, galak sekali tapi aku suka dengan wanita galak sepertimu."
__ADS_1
"Apa maumu?"
"Mauku cuma satu, membuat Mr.G dan Jenderal Aliando Prayoga datang kesini."
Gladis membelalakan matanya mendengar nama Ayahnya di sebut.
"Darimana kamu tahu Ayahku?"
"Hahaha...."
Jovan tampak tertawa mendengar pertanyaan Gladis. Semenjak Ayahnya meninggal dengan kondisi yang mengenaskan, Jovan mencari tahu tentang semuanya. Ternyata Polisi yang selama ini dicari Jovan dan Papanya merupakan Ayah dari gadis cantik yang selama ini selalu menolaknya.
Jovan mencengkram wajah Gladis, matanya menatap tajam menusuk mata Gladis.
"Ternyata kamu adalah anak dari Polisi yang sudah membunuh Om dan sepupu aku di masalalu. Orangtua kamu harus mempertanggung jawabkan perbuatannya. Dan satu lagi, ternyata si culun itu adalah Mr.G. Hebat banget dia menyembunyikan identitasnya dan kamu juga ikut menutupinya."
"Mr.G? maksud kamu siapa?" tanya Gladis tidak mengerti dengan ucapan Jovan.
"Jangan pura-pura tidak tahu kamu, Mr.G adalah ketua Mafia GOD OF DEAD yang paling di takuti se-Benua Eropa. Tidak ada yang tahu bagaimama wajah Mr.G, tapi sekarang dia muncul dan menyamar menjadi orang culun yang selama ini dekat denganmu, Gladis."
"Ge--Gerrald..."
"Ya, Gerrald adalah Mr.G yang selama ini sudah membunuh para Mahasiswa di kampus."
Gladis membelalakkan matanya dan menggelengkan kepalanya.
"Tidak...itu tidak mungkin!!" teriak Gladis dengan deraian airmata.
"Kenapa tidak mungkin? coba kamu ingat-ingat, pertama dia masuk kampus, dia selalu dapat bullyan dari para Mahasiswa lain. Kiko orang pertama yang membully dia, dan keesokkan harinya berakhir mati dengan tragis. Coba kamu lihat dia, setelah kita berurusan dengan si culun temanku hampir mati kalau ga ada polisi yang bantuin hanya jarinya saja yang hilang, terakhir kamu ingat waktu aku menghentikan kamu dan si culun di jalan, dia pura-pura mengalah tapi pada kenyataannya malamnya semua anak buahku mati dengan sangat mengenaskan. Itu sudah membuktikan kalau si culun itu Mr.G."
Gladis tampak berpikir, benar juga yang dikatakan Jovan bahkan Gladis pernah melihat berbagai macam jari manusia di kamarnya.
Gladis menggelengkan kepalanya dengan deraian airmata.
"Aku akan memancing Mr.G supaya datang kesini, aku yakin dia akan datang kalau melihat kamu ada disini begitu pun dengan Jenderal Aliando Prayoga, sambil menyelam minum air," seru Jovan dengan senyumannya.
"Jangan macam-macam dengan Ayahku!!" teriak Gladis.
"Lebih baik sekarang kamu istirahat, biar nanti tidak syok kalau melihat orang-orang yang kamu sayangi mati."
Gladis menggelengkan kepalanya, airmatanya mengalir dengan derasnya.
Jovan keluar dari kamar itu dan dia mulai mengirimkan foto Gladis kepada Gerrald dan Ayah Al.
***
Ting...
Satu pesan masuk ke dalam ponsel Gerrald membuyarkan lamunan Gerrald. Kening Gerrald berkerut saat melihat nomor baru yang mengirimkan gambar kepadanya.
Setelah di tekan, Gerrald tampak terkejut melihat foto Gladis yang sedang terikat.
"Sial, Jovan kamu sudah mulai berani main-main denganku rupanya."
Gerrald mengeraskan rahangnya dan segera pergi. Gerrald hanya membawa KOOKI dan satu pistol, setelah itu Gerrald segera memakai jaket kulitnya, sarung tangan, dan juga topi.
Berbeda halnya dengan Gerrald, Ayah Al yang sama-sama mendapatkan kiriman foto Gladis merasa panik dan khawatir. Ayah Al takut kalau Jovan akan nekad dan melukai puteri satu-satunya itu.
Ayah Al segera menghubungi Fadli dan Fikri untuk menyusun rencana menyelamatkan puterinya.
__ADS_1
Gerrald segera melajukan mobilnya, dia datang sendirian tanpa di temani oleh anak buahnya. Tidak ada kata takut sedikit pun dalam diri Gerrald, justru yang Gerrald takutkan Gladis akan semakin membencinya kalau sampai saat ini Gerrald membunuh Jovan.
Mobil Gerrald sampai di depan rumah Jovan, bukan rumah yang Jovan tinggali dengan orangtuanya melainkan rumah bekas Pram dulu.
Gerrald memasuki rumah itu dengan santainya membuat semua anak buah Jovan langsung menodongkan senjatanya ke arah Gerrald. Gerrald sama sekali tidak gentar, justru saat ini Gerrald tampak menyunggingkan senyumannya.
"Dimana Bos kalian? cepat panggil dia," seru Gerrald.
Salah satu anak buah Jovan berlari masuk ke dalam rumah untuk memberitahukan tentang kedatangan Gerrald.
"Wow, hebat juga ya kamu datang kesini sendirian, apa kamu tidak merasa takut kalau peluru itu menembus tubuhmu?" cibir Jovan menghampiri Gerrald.
"Cihh...kalau kamu berpikir semua peluru itu akan menakutiku, kamu salah besar karena pada kenyataannya aku sama sekali tidak takut dengan kalian. Kalian hanyalah lalat pengganggu yang harus segera dimusnahkan," sahut Gerrald.
"Ikat dia," perintah Jovan.
Anak buah Jovan langsung mengikat Gerrald, tidak ada perlawanan dari Gerrald justru Gerrald terlihat santai dan tersenyum sinis ke arah Jovan.
Jovan menyuruh anak buahnya membawa Gerrald ke kamar yang sama dengan Gladis.
Ceklek...
Anak buah Jovan menghempaskan tubuh Gerrald sehingga membuat Gerrald tersungkur ke lantai.
"Gerrald..." lirih Gladis.
Gerrald hanya tersenyum ke arah Gladis...
"Silakan kalian melepas rindu terlebih dahulu karena setelah itu, aku akan membunuhmu dengan tanganku sendiri, Mr.G. Kamu sudah membunuh Papaku dan nyawa harus di bayar dengan nyawa," seru Jovan.
Lagi-lagi Gerrald hanya menyunggingkan senyumannya. Jovan dan anak buahnya pun keluar dari kamar itu dan tidak lupa mengunci pintunya.
Hai guys, mampir dong di karya terbarukuππ karyaku ikutan loba nih, mohon dukungannya ya πππ€π€
πͺ
πͺ
πͺ
πͺ
πͺ
Jangan lupa
like
gift
vote n
komen
TERIMA KASIH
LOVE YOU
__ADS_1