
🔪
🔪
🔪
🔪
🔪
Malam ini Gladis tidak mau makan malam, Gladis masih marah kepada Ayahnya.
"Bagaimana Bun?"
"Gladis masih ga mau makan, Yah."
"Ya sudah, biar Ayah yang bicara sama Gladis."
Ayah Al pun menuju kamar Gladis, saat ini Gladis sedang tiduran dengan wajah yang cemberut.
Tok..tok..tok..
"Sayang, Ayah masuk ya," seru Ayah Al.
Ceklek...
Ayah Al pun masuk, dan dilihatnya Gladis sedang tiduran dengan membelakangi pintu. Perlahan Ayah Al mendekat dan duduk disisi ranjang.
"Sayang, kamu kenapa kok ga mau makan? ayo makan dulu nanti kamu sakit loh."
"Gladis ga lapar," ketus Gladis.
"Sayang, kamu marah ya sama Ayah? Ayah melakukan semua itu demi kebaikan kamu, Ayah tidak mau kamu sembarangan berteman dengan siapa saja takutnya kamu dalam bahaya."
"Yah, Gerrald itu orang yang baik buktinya saja dia selalu nolongin Gladis."
"Kamu itu belum sebulan pulang kesini dan kamu baru saja kenal sama dia, kamu belum tahu siapa dia sebenarnya bisa saja kan dia bersikap kaya gitu karena ingin cari perhatian apa jangan-jangan dia adalah mata-mata untuk mengorek keluarga kita."
"Ga mungkin Yah, aku percaya kalau Gerrald ga mungkin mengkhianati Gladis."
"Pokoknya Ayah tidak mau tahu, kamu jangan dekat-dekat dengan dia, Ayah punya firasat kalau anak itu berbahaya buat kamu dan keluarga kita," tegas Ayah Al.
Gladis tidak menjawab lagi, dia hanya menangis dengan posisi tetap membelakangi Ayahnya. Ayah Al tidak mau bicara lagi dia langsung keluar dari kamar Gladis.
***
Keesokkan harinya...
Gladis menuruni tangga dengan menggunakan kacamata hitam, matanya bengkak karena semalaman menangis.
"Sayang, kenapa kamu pakai kacamata hitam kaya gitu?" tanya Bunda Kiara.
"Tidak apa-apa Bun, ya sudah Gladis berangkat ke kampus dulu."
"Sarapan dulu sayang."
"Tidak Bun, Gladis langsung berangkat saja."
"Duduk..." tegas Ayah Al.
Gladis menghentikan langkahnya...
__ADS_1
"Ayah bilang, duduk..."
Dengan menghentak-hentakkan kakinya, Gladis pun langsung duduk karena merasa takut dengan bentakkan Ayahnya. Gladis tampak tidak bersemangat karena dia masih marah kepada Ayahnya.
"Sayang, kok cemberut kaya gitu sih?" tanya Bunda Kiara.
"Gladis sudah kenyang."
Gladis pun bangkit dari duduknya dan langsung pergi, ternyata Ayah Al pun mengikutinya dari belakang. Gladis langsung masuk ke dalam mobil Fikri yang dari tadi sudah menunggu.
"Fikri..."
"Iya Om."
"Kalau kamu lihat Gladis bareng dengan pria yang bernama Gerrald, kamu laporkan sama Om."
"Baik Om."
Gladis hanya bisa mendengus kesal di dalam mobil Fikri. Selama dalam perjalanan Gladis tampak mengalihkan pandangannya keluar jendela.
"Kemarin kamu pergi sama Gerrald?" tanya Fikri.
"Iya."
"Kenapa kamu tidak bilang dulu sama aku, aku kan bisa ikut jagain kamu."
Gladis menatap tajam kearah Fikri.
"Memangnya kamu siapanya aku? kenapa aku mesti bilang dulu sama kamu?" kesal Gladis.
"Kamu itu tanggung jawab aku Gladis, Om Al sudah mempercayakan aku untuk menjaga kamu."
"Kamu sama Ayah benar-benar menyebalkan, aku itu sudah dewasa tidak perlu pengawalan lagi," ketus Gladis.
"Aku yakin, Gerrald orang baik dan Gerrald tidak mungkin menyakiti aku."
"Kamu terlalu polos, makannya kamu gampang sekali dibodohi oleh pria," sentak Fikri.
Gladis terkejut mendengar Fikri berbicara dengan nada tinggi.
"Hentikan mobilnya."
"Tidak, aku tidak akan menghentikan mobilnya."
"Hentikan atau aku loncat," sentak Gladis.
"Gladis jangan nekad, jangan bertindak yang macam-macam."
Gladis sudah memegang pintu mobil dan siap-siap untuk loncat.
"Aku loncat sekarang."
Fikri terkejut karena Gladis benar-benar akan melakukannya. Dengan terpaksa Fikri pun menghentikan mobilnya, Gladis langsung keluar dan Fikri pun ikur keluar.
"Gladis, maafkan aku jangan seperti ini ayo masuk lagi ke dalam mobil," bujuk Fikri.
"Tidak."
Gladis langsung melangkahkan kakinya tai Fikri menahan lengannya.
"Lepaskan aku."
__ADS_1
"Gladis disini ga bakalan ada taxi lewat."
"Ga mau, lepasin."
"Gladis, kenapa sih kamu susah sekali dibilangin aku bisa laporkan kamu kepada Om Al kalau kamu kaya gini terus," bentak Fikri.
"Laporkan saja, aku tidak takut."
Gladis kembali melangkahkan kakinya tapu lagi-lagi Fikri menahannya.
"Pokoknya sekarang kamu harus masuk kedalam mobil, terlalu bahaya kalau kamu sendirian dijalan."
"Enggak, lepasin."
Fikri menarik lengan Gladis dengan setengah memaksa, bukan apa-apa Fikri hanya khawatir saja Gladis celaka kalau sendirian dijalan. Tapi disaat Fikri sedang menarik lengan Gladis, sebuah motor datang dan berhenti tepat dihadapan keduanya.
"Gerrald."
"Lepaskan," seru Gerrald.
"Siapa kamu? kamu hanya orang asing, Gladis itu menjadi tanggung jawabku jadi jangan coba-coba mendekati Gladis lagi," seru Fikri.
Gerrald tersenyum dibalik helm full facenya..
"Bukankah kamu juga orang asing? jangan sok-sokan jadi pahlawan kalau pada kenyataannya menjaga Gladis pun kamu ga becus."
Dengan sekali hentakkan, Gladis sudah bisa ditarik oleh Gerrald. Gerrald memakaikan helm kepada Gladis.
"Ayo naik."
Tanpa menunggu lagi, Gladis langsung naik ke atas motor Gerrald. Gerrald mulai menancapkan gasnya dan melajukan motornya meninggalkan Fikri.
"Ah..sial," kesal Fikri sembari kakinya menendang bab mobilnya.
Fikri pun masuk kedalam mobilnya dengan perasaan kesal, sedangkan Gerrald tampak tersenyum penuh kemenangan. Satu tangan Gerrald menarik tangan Gladis supaya memeluk perutnya.
Awalnya Gladis terkejut tapi lama-kelamaan Gladis pun merasa nyaman dengan Gerrald.
"Dasar Polisi tidak berguna, kamu itu bagiku hanya seekor tikus yang sekali jitak langsung mati, jadi jangan coba-coba mengganggu milikku atau melukai milikku," batin Gerrald dengan senyumannya.
Gerrald melajukan motornya dengan kecepatan sedang, membuat Gladis tersenyum.
🔪
🔪
🔪
🔪
🔪
Jangan lupa
like
gift
vote n
komen
__ADS_1
TERIMA KASIH
LOVE YOU