ABC ( AMARAH, BENCI, CINTA)

ABC ( AMARAH, BENCI, CINTA)
Part 50 season 2


__ADS_3

🔪


🔪


🔪


🔪


🔪


Gerrald, Cocky, dan dua anak buahnya segera melesat ke rumah sakit tempat Gladis di rawat. Gerrald tidak bisa diam saja sementara wanitanya saat ini sedang terbaring lemah di rumah sakit.


Seaampainya di rumah sakit, Gerrald dan Cocky menunggu di dalam mobil sedangkan dua anak buahnya masuk untuk melihat keadaan ruangan.


Tiga puluh menit berlalu, kedua anak buah Gerrald pun kembali.


"Aman Tuan, ruangan Nona Gladis tidak di jaga oleh Fadli dan Fikri melainkan beberapa Polisi yang kemungkinan tidak akan mengenali, Tuan."


"Baiklah, terima kasih. Cocky, kamu tunggu aku di pintu samping rumah sakit kalau satu jam aku tidak kembali, kamu hubungi anak buah kita," seru Gerrald.


"Siap, Tuan. Tuan hati-hati."


Gerrald mengganti pakaiannya menjadi seseorang yang bertugas membawakan makanan ke setiap ruangan. Tidak lupa Gerrald memakai topi dan kacamata untuk mengelabui para Polisi itu.


"Maaf Pak, saya mau mengantar makanan untuk pasien," seru Gerrald.


Para Polisi itu menatap tajam ke arah Gerrald, hingga akhirnya mereka pun mengizinkan Gerrald masuk.


Di lihatnya Bunda Kiara sedang menunggu anaknya dengan tatapan sedihnya. Di rasa ada yang membuka pintu, Bunda Kiara menoleh dan memperhatikan Gerrald dari ujung kaki hingga ujung kepala.


"Nyonya, saya mau mengantarkan makanan untuk pasien," seru Gerrald.


Bunda Kiara masih tetap memperhatikan Gerrald membuat Gerrald salah tingkah. Perlahan Bunda Kiara mendekat ke arah Gerrald, di bukanya topi dan kacamata Gerrald membuat Gerrald terkejut.


"Saya tahu kamu Gerrald."


"Saya hanya ingin menjenguk Gladis."


Bunda Kiara tersenyum dan menganggukkan kepalanya.


"Temuilah Gladis, biar saya jaga-jaga di pintu takutnya Ayahnya Gladis datang."


Gerrald tampak menganggukkan kepalanya...


Perlahan Gerrald mendekati Gladis...


"Sayang, ini aku Gerrald. Bangunlah jangan buat aku khawatir."


Ajaibnya, Gladis langsung membuka matanya dan menatap wajah tampan itu.


"Ge..."


"Iya sayang, ini aku Gerrald."


Gladis tersenyum, tangannya terulur memegang pipi Gerrald dan tanpa terasa airmatanya menetes.


"Hei, kok nangis? jangan nangis, aku ada disini. Sekarang kamu makan ya, aku suapin."


Gladis menganggukkan kepalanya...


Bunda Kiara memperhatikan interaksi Gladis dengan Gerrald. Ada perasaan haru di hati Bunda Kiara, Gerrald yang merupakan ketua Mafia paling di takuti di Benua Eropa itu terlihat sangat lembut memperlakukan anaknya.


Bunda Kiara bisa memastikan dari sorot mata Gerrald, dia memang sangat mencintai puterinya itu. Berbeda dengan Frans dulu, dia hanya terobsesi kepada Kiara bukannya mencintai Kiara.

__ADS_1


Gladis tampak senang dan makan bubur dengan lahapnya.


Sementara itu....


Semenjak mobil Gerrald memasuki rumah sakit, dari kejauhan seseorang sedang memperhatikannya. Di saat Gerrald hanya turun sendirian, kesempatan dia untuk menghabisi orang-orang yang merupakan orang terdekat Gerrald.


Orang itu adalah Jovan, dengan cepat Jovan dan anak buahnya menyerang mobil Gerrald yang di dalamnya hanya ada Cocky dan dua anak buahnya.


Cocky menyadari itu, Cocky segera memerintahkan anak buahnya untuk melajukan mobilnya. Dia tidak mau sampai membuat kerusuhan di dekat rumah sakit.


Aksi kejar-kejaran mobil pun terjadi, hingga akhirnya di sebuah jalan yang lumayan sepi, Jovan berhasil menembak ban mobil Gerrald sehingga mobilnya langsung hilang kendali dan terlempar ke samping.


Jovan dan anak buahnya langsung menghampiri mobil Gerrald dengan senjata di tangan mereka masing-masing. Tapi betapa terkejutnya Jovan saat melihat tidak ada siap-siapa di dalam mobil itu.


"Ah sial, pintar sekali mereka. Cari mereka, aku yakin mereka masih di sekitaran sini," kesal Jovan.


"Baik Tuan."


Anak buah Jovan langsung mencari keberadaan ketiganya. Sedangkan Cocky dan dua anak buahnya yang berhasil keluar dari mobil sebelum mobil itu menghantam bahu jalan.


Cocky dan anak buah Gerrald memang sangat cekatan, mereka bertiga loncat dari mobil tanpa sepengetahuan Jovan. Saat ini mereka berlari dengan kaki yang sama-sama terluka akibat mereka loncat dari mobil.


"Kurang ajar, kenapa Jovan bisa sampai tahu keberadaan kita," seru Cocky.


Mereka berlari ke daerah pinggiran dekat hutan.


"Kita istirahat dulu disini," seru Cocky.


Mereka duduk di balik pohon dengan keringat yang sudah bercucuran.


Dooorrrrr....


Satu anak buah Cocky tewas di tempat, Cocky langsung mengarahkan pistolnya begitu pun dengan anak buah Cocky yang sama mengarahkan pistolnya.


Adu tembak pun tak terhindarkan lagi, anak buah Jovan begitu sangat banyak membuat Cocky yang hanya berdua merasa kewalahan.


"Iya, cepat hubungi markas."


Baru saja anak buahnya mengeluarkan ponsel, tiba-tiba...


Doooorrrr....


Dia tumbang, mendapat tembakkan tepat di kepalanya.


"Ah...sial," guman Cocky.


Cocky segera berlari, dia terus saja berlari dengan satu kakinya pincang. Jovan dan anak buahnya tidak menyerah, mereka mengejar Cocky.


Doooorrrr....


Satu tembakkan mengenai kaki Cocky. "Aaarrrgghh...."


Cocky tersungkur, dia meringis kesakitan...


"Hahaha...mau lari kemana lagi kamu. Kamu adalah orang kepercayaan Mr.G, sepertinya akan menarik kalau kamu mati. Pasti Mr.G akan murka dan datang sendiri ke markasku setelah itu aku bisa membunuhnya juga," seru Jovan dengan tawanya yang sangat menggelegar.


"Sampai kapan pun kamu bukan tandingannya Mr.G, Bos kami terlalu kuat untuk kamu lawan jadi aku yakin bukan Mr.G yang akan mati tapi kamu," seru Cocky dengan seringainya.


"Kurang ajar, mau mati saja kamu berani meremehkanku!" bentak Jovan.


Buugghh...


Jovan menendang Cocky hingga tersungkur, tapi Cocky masih bisa tersenyum membuat Jovan hilang kesabaran.

__ADS_1


"Matilah kamu...."


Doorrr...dooorrr...dorrr...


Tiga peluru menembus jantung dan kepala Cocky, Cocky tewas di tempat.


***


"Sayang, maaf aku harus pergi."


"Kok pergi sih, Ge?" seru Gladis dengan tatapan tidak rela.


"Nanti, aku ke sini lagi. Sekarang aku harus pergi dulu."


"Janji ya, kamu harus datang lagi kesini."


"Iya."


Gerrald mencium kening Gladis, setelah itu memakai topi dan kacamatanya.


"Nyonya, terima kasih sudah mengizinkan saya bertemu dengan Gladis."


Bunda Kiara hanya menganggukkan kepalanya dan tersenyum. Gerrald segera keluar dan pergi dari tempat itu menuju pintu belakang.


Sebenarnya sejak tadi, entah kenapa perasaannya tidak enak. Berkali-kali Gerrald menghunungi Cocky tapi tidak di angkat.


"Sial...kemana dia?" gumam Gerrald.


Hingga akhirnya Gerrald sampai di samping rumah sakit, mobilnya sudah tidak ada di sana.


"Pasti ada yang tidak beres ini."


Gerrald dengan cepat menghentikan taksi dan segera pulang ke mansionnya. Sesampainya di mansionnya, Gerrald di buat terkejut dengan pemandangan di hadapannya.


Tiga mayat terbaring di sana dengan luka tembak. Perlahan Gerrald mendekat ke arah jasad Cocky, dia menatap tidak percaya dengan semua ini. Tangannya bergetar memegang tubuh Cocky yang sudah kaku tak bernyawa itu.


Bagaimana tidak, Cocky sudah menemani Gerrald semenjak Gerrald masih kecil. Cocky rela tidak menikah-menikah hanya untuk mengabdikan dirinya menjaga dan menemani Gerrald.


"Aaaaaaarrrrrrrggggghhhh......."


Gerrald berteriak dengan mengepalkan tangannya, matanya sangat merah menahan emosi bahkan urat-urat tangannya sudah terlihat.


"Awas kamu Jovan, akan aku habisi kamu dan semuanya tanpa sisa," geram Gerrald.


🔪


🔪


🔪


🔪


🔪


Jangan lupa


like


gift


vote n


komen

__ADS_1


TERIMA KASIH


LOVE YOU


__ADS_2