
🔪
🔪
🔪
🔪
🔪
Malam pun tiba...
Gerrald dan anak buahnya sudah bersiap-siap, malam ini mereka akan menyerang markas Jovan. Kesabaran Gerrald sudah habis, kali ini Jovan dan anak buahnya harus dia bantai tanpa sisa.
Seperti biasa Gerrald memakai jaket kulit yang di lapisi anti peluru, sarung tangan, dan topi. Tidak lupa senjata lengkap dengan stok peluru yang sangat banyak sudah Gerrald siapkan.
Rombongan Gerrald pun langsung melesat menuju markas Jovan. Wajah Gerrald sangat mengerikkan, hingga tidak lama kemudian mereka pun sampai di markas Jovan.
"Serang mereka," seru Gerrald.
Anak buah Gerrald tanpa rasa takut langsung mengarahkan senjata laras panjangnya kepada anak buah Jovan.
Anak buah Jovan yang merasa tidak siap dengan serangan mendadak itu, membuat mereka tumbang. Gerrad menuju pintu masuk dan dengan sekali tendangan pintu itu langsung roboh membuat semua yang ada di dalam terkejut.
Anak buah Gerrald kembali mengarahkan senjatanya dan menembak semua anak buah Jovan dengan membabi buta membuat Jovan merasa sedikit takut.
"Jovan, keluar kamu!" teriak Gerrald dengan suara yang menggelegar.
Lantai rumah yang awalnya putih bersih berubah merah dengan ceceran darah dimana-mana.
Jovan bersembunyi di sebuah kamar, karena dia tahu anak buahnya sudah tewas hanya tinggal beberapa saja dan itu membuat Jovan was-was. Jovan kembali menyiapkan senjata untuk melindungi dirinya.
Gerrald dengan cepat naik ke lantai dua mencari keberadaan Jovan. Satu persatu pintu kamar dia tendang tapi Gerrald tidak menemukkan keberadaan Jovan. Hingga akhirnya, tersisa satu pintu yang tampak terkunci dari dalam.
Amarah Gerrald sudah memuncak, Gerrald kembali menendang pintu itu. Jovan terkejut, anak buahnya yang hanya tinggal lima orang segera melindungi Jovan dengan menjadi tameng untuk Jovan.
"Mau lari kemana kamu, Jovan."
Dooorrrr....
Salah satu anak buah Jovan menembak Gerrald dan Gerrald hanya tersenyum. Karena saat ini Gerrald memekai jaket anti peluru.
"Singkirkan tikus keci pengganggu itu dan sisanya dia untukku," seru Gerrald.
Anak buah Gerrald langsung menghabisi semua anak buah Jovan sehingga tinggal tersisa Jovan yang saat ini tampak gemetar dengan keringat memenuhi wajah Jovan.
"Kenapa? kamu takut?"
"Gerrald, ampuni aku. Aku janji akan pergi dari sini dan tidak akan menampakan wajahku lagi di hadapan kamu," seru Jovan memohon.
"Hahaha....setelah kamu membunuh Cocky, dengan mudahnya kamu memohon ampun."
Gerrald mengarahkan senjatanya kepada Jovan membuat Jovan semakin ketakutan. Gerrald tersenyum penuh kemenangan...
Dor..dor..dor...
Dengan amarah yang memuncak, Gerrald memberondong tubuh Jovan dengan pulurunya.
Craanngg...
Jovan menabrak kaca jendela hingga pecah dan Jovan langsung terlempar dari lantai dua terjun ke lantai dasar.
***
Sementara itu di rumah sakit, Fadli dan Fikri menemui Ayah Al.
"Pak Jenderal, barusan saya mendapat info dari intel kita katanya markas Jovan di serang oleh GOD OF DEAD dan semuanya tewas tanpa tersisa termasuk Jovan," seru Fadli dengan suara pelan karena takut Gladis terbangun dan mendengar pembicaraan mereka.
"Kita harus musnahkan kelompok mereka malam ini juga, kalian atur strategi dan arahkan semua anggota untuk mengepung rumah Gerrald. Jangan sampai lengah, anak buah Gerrad banyak dan sangat terlatih," seru Ayah Al.
"Siap Pak Jenderal."
__ADS_1
Fadli dan Fikri pun pergi untuk siap-siap menyerang markas Gerrald.
"Bunda, Ayah pergi dulu jaga Gladis jangan sampai dia tahu masalah ini."
"Ayah hati-hati."
Ayah Al pun segera pergi dan menarik semua pengawalan yang berada di depan pintu ruangan rawat Gladis. Bunda Kiara masuk ke dalam kamar mandi, Gladis membuka matanya dan meneteskan airmata.
Gladis tidak tidur, dan dia mendengar semua pembicaraan Ayahnya dan kedua polisi itu.
"Tidak, aku tidak akan biarkan Ayah menangakap Gerrald," gumam Gladis.
Gladis mencabut selang infus dan dengan cepat mengganti pakaiannya.
"Gladis, kamu mau kemana sayang?" tanya Bunda Kiara kaget.
"Gladis harus ke rumah Gerrald, Gladis ga mau sampai Ayah menangkap Gerrald."
"Jangan sayang, terlalu berbahaya."
"Bun, Gladis mohon biarkan Gladis pergi."
"Tidak sayang, itu sangat berbahaya."
Gladis tidak mendengarkan ucapan Bunda Kiara, dia langsung berlari keluar.
"Gladis tunggu, jangan pergi!" teriak Bunda Kiara.
Bunda Kiara mengejar Gladis tapi sayang Gladis lebih cepat dan langsungasuk ke dalam taksi.
***
Semua anggota kepolisian di kerahkan, saat ini mereka sudah sampai di depan rumah Gerrald. Gerrald baru saja sampai, dan saat ini sedang merebahkan tubuhnya di atas sofa.
"Tuan, maaf rumah ini sudah di kepung oleh pihak kepolisian," seru salah satu anak buah Gerrald.
"Apa! kurang ajar. Siapkan senjata, tembak saja siapa pun yang berani masuk ke dalam rumah ini."
Gerrald melihat dari balik jendela, dan saat ini di bawah sudah mulai terjadi adu tembak antara anak buahnya dan pihak kepolisian.
Adu tembak itu berjalan cukup lama, baik dari pihak Gerrald mau pun dari pihak kepolisian sama-sama sudah banyak korban.
"Tuan, lebih baik sekarang Tuan pergi dari sini biar kami yang mencoba mengalihkan perhatian polisi-polisi itu," seru anak buah Gerrald.
"Tidak, aku tidak akan meninggalkan kalian semua. Kalau nasib kita harus mati, maka kita akan mati sama-sama," sahut Gerrald.
"Tidak Tuan, Tuan harus segera pergi. Kalau Tuan ikut mati bersama kami, Tuan tidak akan bisa membalaskan dendam Tuan dan ingat Tuan, ada Nona Gladis yang sedang menunggu Tuan."
Di saat nama Gladis di sebut, Gerrald langsung lemah.
"Serahkan semuanya kepada kami, Tuan cepat pergi dari sini lewat jalan rahasia tadi saya sudah menyiapkan mobil di ujung jalan sana."
Gerrald tampak ragu, dia tidak mau meninggalkan para anak buahnya.
Dooorr...dooorrrr...dooorrrr....
"Cepat Tuan pergi dari sini!"
Akhirnya dengan perasaan ragu-ragu, Gerrald pun pergi dari tempat itu. Gerrald segera berlari dan setelah sampai di ujung jalan, Gerrald segera masuk ke dalam mobilnya.
Namun sayang, Fikri mengetahuinya...
"Pak Jenderal, Gerrald melarikan diri!" teriak Fikri.
"Ayo kita kejar dia, Fadli kamu tetap di sini dan sebagian ikut saya."
"Siap Pak Jenderal."
Ayah Al, Fikri, dan sebagian anggotanya mengejar mobil Gerrald bersamaan dengan taksi yang di tumpangi Gladis sampai.
"Itu kan mobil Gerrald, Pak tolong ikuti mobil itu."
__ADS_1
"Baik Nona."
"Gerrald berhenti!" teriak Ayah Al dari dalam mobil.
Gerrald tidak memperdulikan teriakan Ayah dari wanita yang dia cintai itu. Hingga akhirnya Ayah Al menembak ban mobil Gerrald, mobil Gerrald oleng dan berhenti tepat jembatan.
Ayah Al dan yang lainnya turun dari mobil dengan menodongkan pistol ke arah mobil Gerrald. Tidak lama kemudian, Gerrald keluar dengan mengangkat kedua tangannya tanda menyerah.
"Menyerahlah Gerrald," seru Ayah Al.
Netra Ayah Al dan Gerrald bertemu, mereka sama-sama melayangkan tatapan membunuh. Gerrald melirik pistolnya yang jatuh dan dengan cepat Gerrald mengambilnya.
Saat ini Ayah Al dan Gerrald berhadapan satu sama lain dengan pistol di tangan masing-masing.
"Turunkan senjatamu, Gerrald. Atau kami akan menembakmu!" teriak Fikri.
Gerrald tampak tersenyum, dia sama sekali tidak takut dengan ancaman siapa pun. Taksi yang di tumpangi Gladis pun sampai, dan betapa terkejutnya Gladis saat menyaksikan adegan itu.
"Ayah, Gerrald hentikan!" teriak Gladis.
"Gladis," seru Gerrald dan Ayah Al bersamaan.
Gerrald melangkahkan kaki hendak menghampiri Gladis tapi Ayah Al berpikiran kalau Gerrald akan menyerangnya.
Dooorrr...doorrr...dooorrr...
Tiga peluru menembus tubuh Gerrald, tubuh Gerrald terhunyung ke belakang dan....
Byuuuurrrrr....
Gerrald jatuh dari jembatan ke dalam sungai yang airnya sangat deras.
"Gerrraaaaaaallllldddd.....!" teriak Gladis.
Gladis berlari ke pinggir jembatan mencari kebeeadaan Gerrald tapi sayang, airnya begitu deras dan tubuh Gerrald sama sekali sudah tidak terlihat.
"Gerraaaalllddd....." teriak Gladis dengan deraian airmata.
Gladis tampak menangis histeris, Fikri berusaha mendekap tubuh Gladis tapi Gladis terus saja memberontak dengan terus berteriak memanggil nama Gerrald.
Sementara Ayah Al tampak lemah, pistolnya jatuh ke jalan. Bukan ini yang Ayah Al inginkan, Ayah Al hanya ingin menangkap Gerrald tapi pergerakkan yang Gerrald lakukan membuat Ayah Al spontan menarik pelatuk pisyolnya.
"Gerraaaalllddd..."
"Sudah Gladis," seru Fikri menenangkan.
Gladis terus saja histeris hingga akhirnya jatuh tak sadarkan diri.
🔪
🔪
🔪
🔪
🔪
Jangan lupa
like
gift
vote n
komen
TERIMA KASIH
LOVE YOU
__ADS_1