ABC ( AMARAH, BENCI, CINTA)

ABC ( AMARAH, BENCI, CINTA)
Part 49 Season 2


__ADS_3

🔪


🔪


🔪


🔪


🔪


Malam pun tiba...


Gladis baru saja pulang di antar oleh Cocky, sulit sekali Gladis untuk pulang karena Gerrald tampak manja tidak mau di tinggalkan oleh Gladis.


Gladis tersenyum geli, melihat pria kejam dan terkesan tidak punya hati membunuh korbannya, bertindak manja seperti anak kecil kepada dirinya sehingga terpaksa Gladis harus menunggu Gerrald tidur terlebih dahulu untuk bisa pulang.


"Terima kasih, Tuan Cocky."


"Sama-sama, Nona. Kalau begitu, saya pamit dulu."


Gladis menganggukkan kepalanya, Gladis pun melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah. Gladis tidak menyadari kalau dari tadi Ayah Al memperhatikan gerak-geriknya.


"Dari mana saja kamu? jam segini baru pulang?" seru Ayah Al yang berhasil menghentikan langkah Gladis.


"A---yah, Ayah belum tidur?" sahut Gladis terbata.


"Jangan mengalihkan pembicaraan, jawab pertanyaan Ayah."


"Gladis dari...dari...dari rumah teman, Yah."


"Teman? teman yang mana?"


Gladis menundukkan kepalanya...


"Ayah tidak nyangka kalau sekarang kamu sudah menjadi anak yang pembangkang dan pembohong. Apa selama ini Ayah dan Bunda sudah mengajarkanmu untuk berbohong!" bentak Ayah Al.


Tidak terasa airmata Gladis pun menetes...


"Ayah tahu kamu diam-diam ke rumah Gerrald kan? kamu tahu siapa dia? dia adalah Mr.G ketua Mafia GOD OF DEAD yang sangat berbahaya," tegas Ayah Al.


"Iya Yah, Gladis tahu."


"Terus kamu tahu, apa profesi dan tugas Ayah?"


Gladis kembali menundukkan kepalanya dengan deraian airmatanya.


"Yah, Gladis sangat mencintai Gerrald begitu pun dengan Gerrald. Apa Gladis salah kalau Gladis mencintainya?" seru Gladis dengan deraian airmatanya.


"Salah, sangat salah besar."


"Kenapa Yah? Gerrald tidak pernah mengganggu keluarga kita, tapi kenapa Ayah sangat membenci dia?"


"Dia seorang Mafia, Gladis. Kamu tahu dulu bagaimana menderitanya Bunda kamu dan keluarganya akibat ulah Mafia? sebaik-baiknya seorang Mafia, tetaplah mereka berbahaya!" bentak Ayah Al.


"Tapi Gerrald baik, Yah. Dia selalu lindungi Gladis," sahut Gladis sesegukkan.


"Iya, dia baik sama kamu tapi apa kamu pernah memikirkan bagaimana jadinya kalau dia berhadapan dengan Ayah yang notabene adalah seorang Polisi? apa dia akan tetap baik? sementara mereka itu adalah musuh Polisi."


Gladis kembali menundukkan kepalanya dengan sesegukkan, sedangkan Bunda Kiara yang berada di depan pintu kamarnya hanya bisa ikut menangis melihat puteri satu-satunya seperti itu.

__ADS_1


Bunda Kiara benar-benar dalam posisi yang serba salah, di satu sisi Bunda Kiara ingin puterinya bahagia tapi di sisi lain orang yang membuat puterinya bahagia adalah seorang Mafia.


Bunda Kiara tidak mau hidup puterinya hancur seperti dia dulu. Karena gara-gara yang namanya Mafia, keluarganya hancur dan dia harus mengalani trauma yang berkepanjangan.


"Pokoknya Ayah tidak mau tahu, kalau kamu terus-terus membangkang kepada Ayah, Ayah akan nikahkan kamu dengan Fikri."


Gladis menatap Ayahnya dengan tatapan marah...


"Gladis tidak mencintai Fikri, sampai kapan pun Gladis tidak mau menikah dengan Fikri."


"Ayah tidak butuh persetujuan dari kamu, Gladis. Ayah akan tetap menikahkan kamu dengan Fikri!" bentak Ayah Al.


"Ayah jahat."


Gladis berlari menuju kamarnya, sedangkan Ayah Al hanya mampu menghela napasnya. Sungguh Ayah Al merasa frustasi menghadapi puterinya yang tidak mau menuruti keinginannya.


***


Keesokkan harinya....


Bunda Kiara tidak bicara sedikit pun kepada Ayah Al, bagaimana pun Bunda Kiara merasa marah melihat Ayah Al membentak dan memarahi Gladis seperti itu.


Bunda Kiara bangkit dari duduknya...


"Bunda mau kemana?" tanya Ayah Al.


"Mau bangunin Gladis," seru Bunda Kiara dingin.


Bunda Kiara langsung menuju kamarnya Gladis. Bunda Kiara masuk ke dalam kamar karena pintu kamar Gladis tidak di kunci.


"Sayang bangun yuk, ini sudah siang apa kamu tidak ke kampus sekarang," seru Bunda Kiara lembut.


"Sayang bang----"


Ucapan Bunda Kiara terhenti saat menyingkap selimut yang menutup tubuh Gladis. Gladis tampak pucat dan tubuhnya pun panas.


"Astagfirullah, badan kamu panas banget sayang," seru Bunda Kiara panik.


Bunda Kiara segera berlari keluar...


"Ayah...Ayah..."


"Ada apa, Bun? kok teriak-teriak."


"Gladis demam, Yah. Badannya panas banget."


Ayah Al panik dan segera berlari ke dalam kamar Gladis.


"Gladis sayang, bangun Nak."


Ayah Al panik saat melihat kondisi puterinya lemah bahkan Gladis sama sekali tidak membuka matanya. Ayah Al segera mengangkat tubuh puterinya itu, dan segera membawanya ke rumah sakit.


Setelah mendapatkan penanganan, Gladis pun di rawat dan saat ini masih tertidur. Bunda Kiara dengan setia menjaga puterinya, ia sangat khawatir.


"Maafkan Ayah, Nak. Ayah sudah memarahi kamu tapi Ayah melakukan semua ini demi kebaikkan kita semua," batin Ayah Al dengan mengusap lembut kepala Gladis.


Ayah Al, mengusap pundak Bunda Kiara..


"Bun, Ayah harus ke kantor kalau ada apa-apa langsung hubungi Ayah."

__ADS_1


Bunda Kiara hanya menganggukkan kepalanya, Ayah Al mencium kening Bunda Kiara sebelum dirinya pergi meninggalkan ruangan itu, kemudian mencium kening puteri kesayangannya itu.


***


Di kantor Polisi...


Ayah Al memanggil Fadli dan Fikri untuk menemuinya.


"Saya memanggil kalian kesini, karena ada sesuatu yang harus saya sampaikan. Saat ini Gladis sedang sakit dan di rawat di rumah sakit, saya yakin Mr.G akan muncul untuk menemui Gladis. Jadi saya ingin, kalian mengerahkan anak buah kalian untuk menjaga ruangan rawat Gladis. Di saat Mr.G muncul, kalian tangkap dia karena kita sudah mendapatkan bukti-bukti kejahatan mereka," seru Ayah Al.


"Siap Pak Jenderal."


Saat ini Gladis masih belum sadarkan diri, sedangkan itu di mansion mewah milik Gerrald, Gerrald tampak kesal karena Gladis tidak mengangkat telepon darinya.


Tok..tok..tok..


"Masuk..."


"Maaf Tuan, ada kabar kurang baik," seru Cocky.


"Kabar apa?"


"Nona Gladis masuk rumah sakit, menurut kabar yang saya dapatkan, Nona Gladis mengalami demam."


"Apa! pantas saja telepon aku tidak di angkat-angkat."


"Dan sekarang di ruangan rawatnya Nona Gladis, sudah di jaga ketat oleh para Polisi."


Gerrald tampak mengerutkan keningnya...


"Di jaga ketat? memangnya kenapa harus dijaga ketat seperti itu?"


"Kemungkinan besar, mereka sudah tahu mengenai identitas Tuan dan mereka sengaja menjaga ruangan rawat Nona Gladis karena mereka yakin Tuan pasti akan datang dan mereka bisa dengan mudah menangkap Tuan."


"Brengsek, mereka selalu menyulitkanku. Oke kalau mereka maunya seperti itu, kesabaranku sudah habis jangan salahkan aku kalau aku akan bertindak kejam terhadap siapa pun yang mengusik dan menghalangi hubunganku dengan Gladis, meski itu Ayahnya sekali pun," seru Gerrald.


Cocky bergidik ngeri melihat raut wajah Gerrald yang sangat menakutkan seperti itu. Terakhir Cocky melihat Gerrald seperti itu saat Gisell meninggal dan saat ini Cocky tahu sosok Gerrald yang sebenarnya sudah muncul. Sedikit saja Cocky atau anak buahnya melakukan kesalahan, nyawa mereka yang akan menjadi taruhannya.


🔪


🔪


🔪


🔪


🔪


Jangan lupa


like


gift


vote n


komen


TERIMA KASIH

__ADS_1


LOVE YOU


__ADS_2