
🔪
🔪
🔪
🔪
🔪
Gladis melepaskan pelukkannya, Gerrald menangkup kedua pipi Gladis.
"Lihat aku, apa kamu percaya sama aku?" seru Gerrald.
Gladis tampak ragu-ragu, Gerrald tahu kalau saat ini Gladis masih syok dan kemungkinan besar Gladis merasa takut kepadanya.
"Jangan takut, aku tidak akan menyakitimu. Cintaku tulus bahkan kalau kamu menginginkannya, aku akan berikan nyawaku untukmu," seru Gerrald lembut.
Gladis kembali meneteskan airmatanya, entah kenapa Gladis merasa sangat takut kepada Gerrald. Setelah apa yang dia lihat tadi membuat Gladis merasa tidak percaya kepada Gerrald.
"Jangan nangis, aku memang seorang pembunuh tapi aku akan membunuh orang yang berani mengusik hidupku dan orang-orang yang aku sayang," seru Gerrald dengan mengusap airmata Gladis dengan ibu jarinya.
Gladis memalingkan wajahnya ke arah luar jendela, Gerrald mengerti perasaan Gladis yang terlihat sangat syok dan ketakutan melihat aksinya tadi.
Gerrald dengan cepat melajukan mobilnya, selama dalam perjalanan Gladis tampak bungkam tidak ada satu kata pun yang keluar dari bibir tipisnya itu.
Hingga tidak lama kemudian, mobil Gerrald pun memasuki mansion mewahnya. Gerrald keluar dari mobilnya dan dengan cepat menuju pintu satunya lagi.
"Ayo turun."
"Aku mau pulang," lirih Gladis.
"Iya, nanti aku antar kamu pulang. Sekarang aku mau mandi dulu dan ganti baju."
Gladis mendongakkan kepalanya, menatap wajah tampan Gerrald yang saat ini sedang tersenyum kepadanya. Gerrald mengulurkan tangannya dan dengan ragu-ragu, Gladis pun menerima uluran tangan Gerrald.
Gerrald membawa Gladis ke lantai atas, dimana letak kamarnya berada.
"Ayo masuk."
Perlahan Gladis pun masuk ke dalam kamar Gerrald dengan menundukkan kepalanya.
"Kamu duduk dulu disini, aku mau mandi dulu."
Gladis duduk di sebuah sofa, kemudian Gladis melihat setiap sudut kamar Gerrald. Betapa terkejutnya Gladis melihat seisi kamar Gerrald yang penuh dengan berbagai macam senjata.
Gladis mendongakkan kepalanya, di langit-langit kamar di pasang sekat kaca yang di dalamnya tergantung berbagai senjata laras panjang dan itu membuat tubuh Gladis kembali bergetar.
Gladis bangkit dari duduknya dan mencoba keluar dari kamar Gerrald, tapi tiba-tiba tubuhnya menubruk sebuah kaca berbentuk kotak dan isinya adalah berbagai macam jari manusia yang di awetkan.
Gladis merosot ke lantai, kakinya begitu lemas. Gladis terduduk di sudut ruangan dengan memeluk kedua kakinya sembari menangis.
"Ayah, tolong Gladis. Aku sangat takut," gumam Gladis.
Tidak lama kemudian, Gerrald keluar dari kamar mandi dengan penampilan yang sudah rapi. Gerrald mencari keberadaan Gladis, Gerrald sangat terkejut melihat Gladis yang meringkuk di sudut ruangan dengan memeluk kedua kakinya.
"Gladis..."
"Lepaskan aku Ge, aku ingin pulang aku takut!! teriak Gladis dengan deraian airmata.
"Gladis, tenang..."
__ADS_1
"Jangan sentuh aku, pokoknya aku mau pulang!!" teriak Gladis dengan histeris.
Gerrald kembali menarik tubuh Gladis dan memeluknya dengan erat, walaupun Gladis berontak tapi Gerrald tidak mau melepaskan wanita yang saat ini sedang merasa ketakutan.
"Lepaskan aku Ge, lepaskan!!" teriak Gladis.
"Please aku mohon kamu jangan begini, aku mencintai kamu Gladis."
"Kamu penjahat, kamu pembunuh, kamu psikofat, aku ga mau, aku takut."
Gladis kembali histeris dan berusaha melepaskan diri dari Gerrald. Gerrald tidak bisa menahan Gladis lagi, dia tidak mau membuat wanita yang dia cintai trauma dan merasa takut kepada dirinya.
Merasa pelukkan Gerrald melemah, Gladis langsung berlari dan meninggalkan mansion mewah milik Gerrald. Dengan cepat Gladis menghentikan taxi dan pergi, sedangkan Gerrald hanya mampu melihat Gladis dari jendela kamarnya.
"Aku tidak akan melepaskan kamu, Gladis," gumam Gerrald.
Entah kenapa hatinya begitu sakit melihat wanita yang dia cintai ketakutan seperti itu.
Gladis menangis selama dalam perjalanan, dia tidak menyangka akan jatuh cinta kepada pria pembunuh dan psikofat seperti Gerrald. Wajah tampan Gerrald sangat berbanding terbalik dengan kelakuannya yang sangat mengerikkan.
Sesampainya di rumah, Gladis langsung berlari ke rumahnya. Dia tidak tahu kalau Fikri juga baru saja keluar dari rumah Gladis, Fikri mencari keberadaan Gladis karena dia tidak menemukan Gladis di kampus.
Mereka bertabrakan, untung dengan sigap Fikri menangkap tubuh Gladis.
"Kamu kenapa, Gladis?" tanya Fikri.
Gladis hanya menangis sembari menundukkan kepalanya. Fikri yang merasa kasihan, akhirnya membawa Gladis ke dalam pelukkannya. Tidak ada penolakkan dari Gladis, Gladis menangis di pelukkan Fikri.
Tidak lama kemudian, Gladis melepaskan pelukkannya.
"Maaf..." lirih Gladis.
Gladis terdiam, bibirnya ingin sekali mengatakan yang sebenarnya tapi hatinya mengatakan untuk tidak melakukan itu.
"Tidak, aku tidak apa-apa. Kalau begitu aku ke kamar dulu."
Gladis pun langsung berlari menuju kamarnya yang berada di lantai dua. Gladis kembali menumpahkan semua tangisannya.
"Kenapa kamu bohongi aku, Ge. Apa maksud dari semua ini? apa kamu juga ingin menyelidiki siapa keluarga aku," gumam Gladis.
***
Sementara itu di kediaman Jovan...
Istri dari Crisht menangis histeris melihat jasad suaminya yang tiba-tiba ada di depan rumah dengan kondisi yang sangat mengenaskan.
Jovan mengepalkan tangannya...
"Brengsek, awas kamu Mr.G akan aku cari kamu sampai ke ujung dunia pun," gumam Jovan dengan meneteskan airmata.
Malam pun tiba...
Saat makan malam, Gladis terlihat tidak bersemangat dan itu membuat Ayah Al dan Bunda Kiara merasa khawatir. Apalagi mata Gladis terlihat sembab seperti habis menangis.
Setelah selesai makan, Gladis langsung menuju kamarnya tapi Ayah Al menghentikan langkahnya.
"Gladis, sini Ayah mau bicara sebentar."
Gladis pun mendekat dengan ragu-ragu dan duduk di samping Bunda Kiara.
"Kamu kenapa?"
__ADS_1
"Gladis tidak apa-apa kok, Yah."
"Jangan bohong."
"Serius, Gladis tidak apa-apa."
"Lihat Ayah."
Gladis tetap menundukkan kepalanya, dia tidak berani menatap Ayahnya karena kalau sampai Gladis menatap mata Ayah Al, Gladis tidak bisa berbohong lagi.
"Gladis, lihat Ayah!!" tegas Ayah Al.
Perlahan Gladis menatap mata tajam milik Ayahnya.
"Apa yang sedang kamu sembunyikan dari Ayah?"
"Ti--tidak ada, Yah."
"Jangan coba-coba bohongi Ayah, Ayah tahu kamu sedang menyembunyikan sesuatu. Jangan sampai Ayah cari tahu sendiri dan kamu akan menyesal."
"Tidak Yah, tidak ada apa-apa."
"Ayah, jangan tekan Gladis seperti itu," seru Bunda Kiara.
"Ayah tidak menekannya, Bun. Ayah cuma ingin tahu dia kenapa? pasti ini semua ada sangkut pautnya dengan pria itu, kan?" seru Ayah Al.
"Maaf, Gladis ke kamar dulu."
Gladis langsung berlari ke kamarnya...
"Gladis, tunggu!!" teriak Ayah Al.
"Sudahlah Yah, kenapa Ayah suka sekali memarahi Gladis sih? lama-lama, Bunda juga kesal sama Ayah," kesal Bunda Kiara.
Bunda Kiara pun bangkit dari duduknya dan meninggalkan Ayah Al sendirian.
"Kalian tidak mengerti bagaimana khawatirnya aku, orangtua mana yang tidak khawatir kalau puteri kesayangannya saat ini dekat dengan ketua Mafia paling kejam se-Benua Eropa itu," gumam Ayah Al.
🔪
🔪
🔪
🔪
🔪
Jangan lupa
like
gift
vote n
komen
TERIMA KASIH
LOVE YOU
__ADS_1