
🔪
🔪
🔪
🔪
🔪
Keesokkan harinya...
"Sayang, Fadli akan mengawal kamu ke kampus," seru Ayah Al.
Gladis langsung menghentikkan makannya..
"Kenapa ga sekalian satu kantor Polisi suruh ngawal Gladis, Yah!!"
"Kamu jangan kurang ajar sama Ayah, Ayah melakukan semua ini demi kebaikan kamu."
"Kebaikkan yang seperti apa? Gladis ga suka di kawal seperti ini Yah, Gladis ingin hidup bebas seperti anak-anak yang lain!!" sentak Gladis.
"Sudah berani kamu bentak-bentak Ayah, Gladis!! ternyata anak itu memang sudah memberikan efek yang tidak baik untukmu."
"Jangan bawa-bawa Gerrald, dia tidak tahu apa-apa, Ayah!!" bentak Gladis sembari bangkit dari duduknya.
"Duduk!!" bentak Ayah Al.
Gladis hanya diam menatap kesal kepada Ayahnya.
"Ayah bilang duduk!!" bentaknya lagi.
Gladis tersentak dengan bentakkan Ayahnya, seumur-umur baru kali ini Gladis mendapat bentakkan dari Ayahnya.
Gladis pun duduk dengan airmata yang terus berjatuhan dari matanya. Sementara Bunda Kiara hanya bisa diam dan menundukkan kepalanya, Bunda Kiara sangat takut melihat wajah dan mata suaminya yang sudah memerah menandakkan kalau sang suami sangat marah.
"Pokoknya tidak ada bantahan lagi, mulai sekarang kamu harus berangkat dan pulang dengan fikri. Ayah tidak mau dengar kamu dekat-dekat lagi dengan orang itu," seru Ayah Al.
Ayah Al pun beranjak dari duduknya dan langsung pergi tanpa pamit kepada Bunda Kiara.
Gladis semakin terisak, Bunda Kiara pun perlahan mendekat ke arah Gladis dan memeluk puteri satu-satunya itu.
"Maafkan Ayah kamu sayang."
Gladis terdiam, dia hanya terisak dipelukkan Bundanya. Setelah puas menangis, Gladis pun melepaskan pelukkannya.
"Gladis berangkat ke kampus dulu, Bunda."
"Kamu hati-hati ya."
Gladis hanya menganggukkan kepalanya, diluar Fikri sudah menunggu disamping mobilnya. Melihat Gladis keluar, Fikri dengan cepat membukakan pintu mobil untuk Gladis.
Tanpa bicara apapun, Gladis langsung masuk ke dalam mobil Fikri. Selama dalam perjalanan tidak ada pembicaraan diantara keduanya. Sesampainya di kampus, Gladis langsung pergi mendahului Fikri.
Gladis tampak celingukkan mencari keberadaan Gerrald.
"Dia kemana kok tumben belum datang, biasanya jam segini dia sudah ada disini," gumam Gladis.
Gladis pun duduk di kursinya, tapi sampai selesai mata kuliah pun Gerrald sama sekali tidak kelihatan batang hidungnya.
"Kok dia ga masuk? apa dia sakit?" gumam Gladis.
__ADS_1
Gladis pun menghubungi nomor Gerrald tapi lagi-lagi nomornya tidak aktif.
"Kemana sih dia."
"Gladis, ayo kita pulang!!" ajak Fikri.
Gladis menoleh dengan tatapan malasnya dan tanpa banyak bicara, Gladis pun mendahului Fikri membuat Fikri harus ekstra sabar menghadapi Gladis.
"Hallo cantik, mau kemana buru-buru sekali," goda Jovan dengan menghalangi jalan Gladis.
"Minggir, jangan halangi jalan aku," ketus Gladis.
"Wow, judes banget sih jangan judes-judes nanti cantiknya hilang lo," seru Jovan sembari mencolek dagu Gladis.
"Jangan pegang-pegang!!" bentak Gladis.
Jovan mencengkram lengan Gladis membuat Gladis meringis kesakitan.
"Jangan sok jual mahal, kenapa kamu lebih memilih si cupu itu dibandingkan denganku? padahal aku jauh lebih segala-galanya dibandingkan si cupu itu."
"Kamu orang jahat dan aku tidak suka sama kamu," seru Gladis.
"Lepaskan Gladis!!" teriak Fikri.
Jovan melepaskan cengkramannya dan menoleh ke arah Fikri. Jovan dan ketiga temannya tampak tertawa meremehkan.
"Ini satu lagi anak kucing, mau sok jadi pahlawan," ledek Jovan.
"Jangan ganggu Gladis atau kalian akan tahu akibatnya," seru Fikri.
"Hahaha...kamu berani mengancamku? ternyata punya nyali juga kamu, hajar dia!!" seru Jovan.
Ketiga teman Jovan langsung menyerang Fikri tapi dengan sigap Fikri meladeni mereka. Jovan ingin memanfaatkan situasi dengan mbawa Gladis tapi seseorang datang dan memukul Jovan.
"Kurang ajar, siapa lagi kamu?" sahut Jovan sembari mengusap pipinya yang tadi terkena pukulan.
"Ayo Gladis kita pulang."
Gladis pun menganggukkan kepalanya dan mengikuti orang itu yang ternyata dia adalah Fadli.
"Tunggu!!"
Fadli dan Gladis menghentikan langkahnya dan membalikkan tubuhnya..
"Ada apa lagi?" tanya Fadli dengan santainya.
Jovan ingin melayangkan pukulannya tapi Fadli dengan sigap menangkap tangan Jovan. Fadli mendekat dan membisikkan sesuatu kepada Jovan.
"Jangan macam-macam, saya tahu kamu anaknya Christ Wild Blood dan sebentar lagi saya akan membongkar kejahatan kalian. Mafia harus dimusnahkan dari dunia ini termasuk THE BLOOD," bisik Fadli dengan menghempaskan tangan Jovan.
"Ayo Gladis kita pulang," ajak Fadli.
"Sialan, kenapa orang itu tahu identitasku?" gumam Jovan.
Fadli dan Gladis menunggu di parkiran, mereka menunggu kedatangan Fikri. Tidak lama kemudian, Fikri pun datang dengan napas yang ngos-ngosan.
"Kamu tidak apa-apa, Fik?" tanya Fadli.
"Tidak Pak."
"Ya sudah, kamu antar Gladis pulang saya masih ada urusan."
__ADS_1
"Baik Pak."
Gladis pun masuk ke dalam mobil Fikri, selama dalam perjalanan Gladis terus saja memikirkan Gerrald.
"Dia kemana? kok ga ada kabar," batin Gladis.
***
Sementara itu di Rumah Sakit...
Kiki dan Dani dirawat dalam satu ruangan, supaya gampang untuk menjaganya. Tidak lupa penjagaan ruangan itu sangat ketat.
"Apa kalian tahu siapa yang sudah melakukan ini?" tanya Ayah Al.
"Tidak Pak Jenderal, waktu itu kondisi ruangan sangat gelap saya tidak bisa melihat wajah orang itu," sahut Kiki.
"Sulit sekali mencari identitas Mr.G," seru Ayah Al.
"Dia terlalu pintar, Pak Jenderal. Bahkan kita yang sudah menyamar pun, dia bisa tahu. Kita harus berhati-hati lagi Pak Jenderal," seru Kiki.
Ceklek...
"Selamat siang, Pak Jenderal!!" seru Fadli dengan memberikan hormat.
"Selamat siang, bagaimana Fadli apa ada kabar baru?" tanya Ayah Al.
"Barusan Jovan berusaha mengganggu Gladis lagi, Pak. Tapi tenang saja, saya sudah memberikan syok terapi kepada Jovan."
"Bagus."
"Oh iya Pak Jenderal, disaat orang itu memotong jari kelingking saya, saya sempat melihat kalau di tangan sebelah kiri orang itu ada sebuah tato bergambar sayap," seru Dani.
"Bagus Dani, itu menjadi pertanda buat kita mengungkap siapa sebenarnya Mr.G? apakah dugaan kita benar, kalau Mr.G itu adalah Gerrald," sahut Fadli.
"Terus tadi bagaimana di kampus, apa Gerrald mendekati Gladis?" tanya Ayah Al.
"Justru itu Pak, saya sama sekali tidak melihat Gerrald. Apa mungkin Gerrald tidak masuk ya," sahut Fadli.
"Kita harus hati-hati, GOD OF DEAD lebih licin dan cerdas daripada THE BLOOD, kita tidak tahu apa yang akan mereka lakukan karena pergerakan mereka sama sekali tidak terbaca," seru Ayah Al.
🔪
🔪
🔪
🔪
🔪
Jangan lupa
like
gift
vote n
komen
TERIMA KASIH
__ADS_1
LOVE YOU