ABC ( AMARAH, BENCI, CINTA)

ABC ( AMARAH, BENCI, CINTA)
Part 38 Season 2


__ADS_3

🔪


🔪


🔪


🔪


🔪


Gerrald mengajak Gladis jalan-jalan ke sebuah Mall. Gladis tampak sangat senang, bahkan senyumannya pun tidak pernah luntur dari wajah cantiknya membuat Gerrald menyunggingkan senyumannya.


Gerrald tak pernah melepaskan genggaman tangan Gladis, bahkan banyak mata-mata pria menatap lapar ke arah Gladis walaupun Gerrald sudah ada disampingnya.


"Astaga Kooki, bagaimana kalau kamu congkel semua mata-mata menyebalkan itu," gumam Gerrald.


"Apa? kamu ngomong apa Ge?" tanya Gladis.


"Ah, tidak apa-apa."


"Ge, kita nonton yuk kayanya filmnya bagus tuh," ajak Gladis dengan menarik tangan Gerrald.


Gerrald tidak bisa menolak, dia hanya bisa mengikuti apa yang diinginkan oleh wanitanya. Cinta memang sungguh luar biasa bisa membuat orang yang keras dan kejam menjadi penurut.


Gladis dan Gerrald masuk ke dalam bioskop, Gerrald hanya mengikutinya saja. Tidak lama kemudian, filmnya pun diputar dan Gladis langsung bersembunyi dilengan Gerrald.


"Kenapa? kok sembunyi?"


"Kok itu filmnya kaya gitu sih? kirain film romantis nyatanya film psikofat," keluh Gladis.


"Ga apa-apa, seru filmnya."


"Seru apanya, yang ada serem tahu. Keluar aja yuk, aku ga mau lihat filmnya," ajak Gladis.


"Di film hanya akting dan bohongan, bahkan aku melakukannya dengan asli Gladis," batin Gerrald.


"Ayo pergi, kenapa malah bengong."


"Ah iya."


Akhirnya Gerrald pun menuruti kemauan wanitanya itu. Saat ini mereka berdua sedang makan disebuah restoran cepat saji.


"Sayang, aku boleh tanya?" seru Gerrald.


"Mau tanya apa?"


"Kalau seandainya aku seorang psikofat seperti di film tadi, apa kamu akan tetap menerimaku?"


Gladis menatap Gerrald...


"Jangan ngaco deh, aku ga mau mempunyai kekasih psikofat dan seorang mafia karena Ayah dan Bundaku mempunyai pengalaman buruk dengan mafia, sudah pasti mereka tidak akan membiarkan aku menjalin hubungan dengan seseorang yang berhubungan dengan mafia," sahut Gladis.


"Pengalaman buruk?" tanya Gerrald.


"Iya, dulu keluarga Bunda dibantai habis oleh kelompok mafia hanya tinggal tersisa Bunda sama Oma, makannya Bunda memiliki trauma tersendiri kalau mendengar kata mafia," sahut Gladis dengan polosnya dia lupa pesan kedua orangtuanya yang tidak boleh menceritakan masalah keluarganya kepada siapa pun.


"Kelompok mafia, kalau boleh tahu apa nama kelompok mafia itu?" tanya Gerrald mencoba mengorek informasi.


"Kalau ga salah namanya THE BLOOD."


Gerrald tampak sedikit kaget tapi dia tidak menunjukkannya kepada Gladis.


"Oh jadi THE BLOOD juga sudah membantai keluarga Gladis yang mengakibatkan Bundanya Gladis trauma, hebat juga mereka. CUKUP MENARIK," batin Gerrald dengan senyumannya.

__ADS_1


***


Sementara itu sore pun tiba...


Ayah Al dan Fikri pun datang...


"Bun, Gladis mana?" tanya Ayah Al.


"Gladis belum pulang."


"Belum pulang, memangnya dia kemana?"


"Tadi ada temannya yang jemput."


"Maaf, temannya yang mana tante?" tanya Fikri.


"Namanya Gerrald."


"Apa? tante, om, Fikri pulang dulu ya Fikri lupa ada janji dengan teman."


"Ya sudah, kamu hati-hati dijalan."


"Iya om."


Fikri pun segera masuk ke dalam mobilnya dan berniat mencari Gladis.


"Kenapa Gladis bisa pergi dengan Gerrald, kalau Gerrald sampai berbuat jahat bagaimana? Gladis kan baru kenal sama Gerrald," gumam Fikri.


Sementara itu, Ayah Al duduk di ruang kerjanya dan Bunda Kiara pun membawakan kopi untuk Ayah Al.


"Ini kopinya Yah."


"Terima kasih."


"Kenapa Bunda tiba-tiba bertanya seperti itu?"


"Tidak apa-apa, Bunda cuma takut kalau Gladis menolak secara zaman sekarang mana ada anak yang mau dijodoh-jodohin."


"Pokoknya Gladis harus nurut sama Ayah, Ayah itu sudah mencarikan calon yang terbaik untuk Gladis. Fikri itu adalah anak yang baik, pinter, tampan, dan yang jelas bisa menjaga Gladis."


Bunda Kiara tidak bisa berkata apa-apa lagi, ia paling takut kalau sudah melihat suaminya itu marah.


"Oh iya, kenapa Bunda ngizinin Gladus pergi dengan anak itu?"


"Biarinlah Yah, Gladis kan tidak punya teman biarkan Gladis bersosialisasi dengan temannya."


"Tapi tidak dengan anak itu Bun."


"Loh, memangnya kenapa Yah?"


"Gladis itu baru saja kenal dengan anak itu, dia belum tahu apa dia orang baik atau sebaliknya. Ayah takut anak itu punya niat jahat sama Gladis dan yang lebih membuat Ayah khawatir, takutnya anak itu masih punya hubungan dengan Jovan."


"Ah Ayah jangan ngaco deh, jangan buat Bunda menjadi takut."


"Makannya Bun, jangan izinin lagi Gladis pergi dengan anak itu kecuali dengan Fikri. Entah kenapa Ayah merasa kalau anak itu terlalu berbahaya untuk Gladis."


"Iya Yah."


***


"Ge, sudah sore pulang yuk," ajak Gladis.


"Ya sudah."

__ADS_1


Gerrald segera menggenggam tangan Gladis dan berjalan beriringan. Gladis begitu sangat bahagia, untuk pertama kalinya Gladis merasakan kebahagiaan. Walaupun Gerrald pria misterius tapi tidak sedikit pun membuat Gladis takut.


"Ge, kamu masih mau menyamar kalau ke kampus?" tanya Gladis disela-sela perjalanannya.


"Heem, kenapa memangnya? kamu malu punya pacar culun?"


"Bukan begitu, untuk apa aku malu kalau pada kenyataannya kamu bukan pria culun. Aku cuma merasa gimana gitu, melihat kamu selalu dibully dan lebih parahnya lagi kamu selalu dipukulin tapi yang membuat aku kesel kamu tidak pernah melawan padahal aslinya kamu jago beladiri."


"Kalau aku melawan, mereka akan curiga sama aku."


"Memangnya untuk apa sih kamu menyamar seperti itu?" tanya Gladis penasaran.


"Kamu tidak perlu tahu, pokoknya aku punya alasan tersendiri kenapa aku melakukan itu semua dan aku harap kamu jangan pernah menanyakan itu lagi, ngerti?"


Gladis menganggukkan kepalanya, Gerrald tersenyum dan mengusap kepala Gladis. Untuk pertama kalinya Gerrald murah senyum kepada wanita, karena sudah sejak kecil senyuman Gerrald seakan menghilang dari diri Gerrald.


Bahkan saat Gerrald berhubungan dengan wanita untuk pertama kalinya pun, Gerrald tidak pernah menampilkan senyumannya sehingga membuat wanita itu jenuh dan memutuskan untuk meninggalkan Gerrald.


Berbeda halnya dengan Gladis, wanita cantik nan ceria itu mampu mengubah sang macan tangguh dan kejam menjadi kucing manis yang penurut.


Tidak lama kemudian mobil Gerrald pun sampai di depan rumah Gladis, Ayah Gerrald yang memang sedang menunggu Gladis tampak bangkit dari duduknya saat melihat sebuah mobil berhenti dan Gladis keluar dari dalam mobil itu.


"Sampai ketemu besok di kampus," seru Gerrald.


"Iya, terima kasih sudah mengajak aku jalan-jalan."


Gladis pun melambaikan tangannya dan mobil Gerrald pun melaju, tapi disaat Gerrald melajukan mobilnya, Gerrald sempat melihat ke arah Ayah Al dan menatapnya dengan tatapan dingin.


"Darimana saja kamu Gladis?" tanya Ayah Al dingin.


"Gladis habis jalan-jalan Yah."


"Ayah peringatkan sama kamu, jangan pernah kamu pergi lagi dengan anak itu kecuali dengan Fikri."


"Ayah apa-apaan sih?" kesal Gladis.


Gladis melangkahkan kakinya meninggalkan Ayah Al yang saat ini sedang menatap tajam kearah puterinya itu.


"Kalau kamu berani pergi lagi dengan anak itu, Ayah akan mengirim kamu lagi ke Inggris," acam Ayah Al.


Gladis menghentikan langkahnya dan menatap Ayahnya. Dengan perasaan kesal, Gladis langsung berlari menuju kamarnya meninggalkan Ayahnya.


🔪


🔪


🔪


🔪


🔪


Jangan lupa


Like


gift


vote n


komen


TERIMA KASIH

__ADS_1


LOVE YOU


__ADS_2