
🔪
🔪
🔪
🔪
🔪
Gerrald menghampiri Gladis, kebetulan hanya tangan Gerrald saja yang di ikat.
"Kamu tidak apa-apa 'kan?" tanya Gerrald.
Gladis menggelengkan kepalanya dengan airmata yang mulai menetes kembali.
"Please, jangan nangis. Kamu jangan takut, kamu percaya kan kalau aku akan menolongmu?"
Gladis menganggukkan kepalanya...
"Bisa kamu ambilkan KOOKI di saku jaketku?"
"KOOKI?"
"Iya, pisau kecil kesayanganku."
Dengan tangan bergetar dan masih terikat, Gladis mengambil pisau yang Gerrald maksud dari dalam sakut jaket kulitnya. Susah payah Gladis mengambilnya, hingga akhirnya Gladis pun berhasil mengambilnya.
Gerakkan Gerrald sangat cepat, dan dengan mudah Gerrald bisa membuka ikatan di tangannya.
"Dasar bodoh, dia mengikatku kaya gini sama saja membiarkanku lolos dari sini," gumam Gerrald.
Kemudian, Gerrald pun melepaskan ikatan pada tangan dan kaki Gladis.
"Kamu tidak apa-apa 'kan?"
Tiba-tiba tanpa di duga, Gladis langsung memeluk Gerrald membuat Gerrald terkejut.
"Maafkan aku Ge, aku tahu kamu adalah ketua Mafia tapi seberapa kuat pun aku ingin melupakan dan menjauhimu tetap saja aku tidak bisa, aku mencintaimu Ge," ucap Gladis dengan deraian airmata.
Sebuah senyuman terbit di bibir Gerrald, Gerrald pun akhirnya membalas pelukkan Gladis dan mengusap punggung wanita cantik itu.
"Aku juga sangat mencintaimu, Gladis."
Gerrald melepaskan pelukkannya, di usapnya airmata yang mengalir di pipi mulus Gladis.
"Kamu tidak takut lagi 'kan, kepadaku?"
"Aku akan mencoba untuk tidak takut."
"Ayo, sekarang kita harus pergi dari sini."
Gerrald menggenggam tangan Gladis untuk mengikutinya. Tidak lupa, Gerrald mengeluarkan pistol yang dia bawa dan itu membuat Gladis menghentikan langkahnya.
"Kenapa?"
Gladis terdiam...
"Kamu harus percaya sama aku, dan kamu harus belajar menjadi wanita yang kuat karena kekasihmu ini adalah adalah seorang Mafia," seru Gerrald dengan mengedipkan sebelah matanya.
Gladis menganggukkan kepalanya, tiba-tiba ada suara langkah kaki yang mendekat membuat Gerrald segera menarik Gladis untuk bersembunyi di balik pintu.
Ceklek...
Anak buah Jovan masuk dan terkejut melihat ruangan sudah kosong. Gerrald dengan cepat memukul anak buah Jovan, sementara genggaman tangan Gerrald tidak pernah dia lepaskan.
__ADS_1
Mendengar ada kegaduhan, para anak buah Jovan yang lainnya segera masuk. Akhirnya perkelahian pun terjadi, tapi Gerrald masih bisa mengatasinya walaupun hanya dengan satu tangan karena tangan satunya lagi menggenggam tangan Gladis.
Gladis hanya mampu menutup matanya melihat aksi Gerrald, tapi satu kata yang Gladis ingin ucapkan yaitu hebat. Ya, Gerrald sangat hebat dalam bertarung. Setelah semuanya di lumpuhkan, Gerrald menarik Gladis untuk keluar dari kamar itu.
Satu persatu anak buah Jovan menghadang Gerrald dan Gladis tapi Gerrald masih bisa mengatasinya. Hingga akhirnya Gerrald sampai di sebuah pintu yang di yakini terhubung keluar.
"Cepat kamu masuk kesana dan pergi dari tempat ini," seru Gerrald.
"Tapi kamu bagaimana, Ge?"
"Jangan pikirkan aku, aku tidak akan kenapa-napa."
"Tapi Ge..."
Dor...dor..dor..
Gerrald menembak anak buah Jovan yang mulai mendekat dan suara tembakkan itu membuat Jovan yang sedang bersantai langsung bangkit dan keluar dari kamarnya.
"Cepat Gladis, waktu kita tidak banyak," seru Gerrald.
Gladis menatap Gerrald dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
"Percaya sama aku, aku akan baik-baik saja," seru Gerrald dengan senyumannya.
Gladis pun terpaksa mengikuti perintah Gerrald dan segera berlari masuk ke dalam pintu itu. Sedangkan Gerrald mencoba mengalahkan anak buah Jovan yang makin lama makin banyak.
Si saat Gerrald ingin menembak lagi, ternyata peluru di dalam pistolnya sudah habis.
"Ah sial..."
"Menyerahlah Mr.G, kali ini kamu sudah tidak bisa kabur lagi," seru anak buah Jovan yang sudah menodongkan pistolnya ke arah Gerrald.
Jovan segera berlari dan mendekat...
"Kurang ajar, kamu berani kabur dari sini."
"Nyawamu kali ini sudah berada di ujung tanduk, hebat sekali kan aku bisa menangkap dan membunuh ketua Mafia paling di takuti se-Benua Eropa itu," seru Jovan dengan tawanya.
Gerrald tidak diam saja, saat ini dia sedang memutar otaknya dan mencari celah untuk dia melarikan diri.
Sementara itu di luar, Gladis berlari menyelamatkan diri bersamaan dengan datangnya rombongan Polisi.
"Gladis..."
"Ayah..."
Gladis segera menghambur kepelukkan Ayah Al.
"Kamu tidak apa-apa kan, Nak?"
"Gladis baik-baik saja, Yah."
"Ya sudah, kamu tunggu di dalam mobil. Ayo semuanya kita kepung rumah ini," seru Ayah Al.
Semuanya pun bergegas merangsak masuk ke dalam rumah Jovan membuat anak buah Jovan merasa terkejut dan segera berlari ke dalam rumah.
"Bos, di depan ada Polisi. Rumah ini sudah di kepung," seru salah satu anak buah Jovan.
"Ah sial..."
Gerrald memanfaatkan kelengahan Jovan dan langsung menendang jendela yang ada di sampingnya. Dengan gerakkan yang sangat cepat, Gerrald meloncat dari jendela itu.
"Ah, semuanya jadi kacau seperti ini. Ayo semuanya kita kabur."
Jovan segera melarikan diri melalui jalan yang sebelumnya di lewati oleh Gladis, sementara anak buahnya sudah banyak yang tumbang terkena tembakkan para Polisi.
__ADS_1
"Ya Alloh, semoga Gerrald selamat dan berhasil kabur jangan sampai anak buah Ayah menemukannya," gumam Gladis cemas.
Gerrald yang berhasil lompat dari jendela, ketahuan oleh salah satu anak buah Ayah Al.
Dooorrrr....
Peluru berhasil menembus bahu Gerrald membuat Gerrald meringis kesakitan tapi tidak Gerrald rasakan, dengan cepat Gerrald berlari dan masuk ke dalam mobilnya. Gerrald segera melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.
Fadli dan kawan-kawannya berhasil membekuk anak buah Jovan, walaupun sebagian besar anak buah dan Jovan berhasil melarikan diri.
"Jovan berhasil melarikan diri, Pak Jenderal," seru Fadli.
"Kurang ajar, oke kalian urus semuanya saya akan membawa Gladis pulang."
"Siap Pak Jenderal."
Ayah Al masuk ke dalam mobilnya...
"Jovan tidak melukai kamu kan, Sayang?"
"Tidak Yah."
Ayah Al pun segera melajukan mobilnya menuju rumah mereka. Sedangkan Gerrald, sudah tampak pucat dia memaksakan diri untuk terus mengemudikan mobilnya.
Sedangkan Darah sudah terus mengalir dari bahunya. Gerrald segera menancap gas lebih kencang lagi, sehingga Gerrald pun sampai di mansion mewahnya.
Di saat keluar dari mobil, Gerrald sudah tidak bisa menahan diri lagi. Gerrald tersungkur jatuh ke tanah dan tidak sadarkan diri, anak buah Gerrald langsung membawa Gerrald ke dalam rumah dan memanggil Dokter pribadi Gerrald.
Gerrald memang mempunyai Dokter bedah pribadi, dia sadar kalau profesi dirinya itu sangat berbahaya dan pasti bakalan terkena luka kapan saja.
Dokter bedah yang bernama Heru itu, akhirnya berhasil mengeluarkan peluru yang bersarang di bahu Gerrald. Dr.Heru segera memasang infus dan membiarkan Gerrald istirahat.
"Nanti kalau Gerrald sudah sadar, tolong berikan obat ini kepadanya."
"Baik Dokter."
"Kalau begitu, saya permisi dulu."
***
Sesampainya di rumah, Gladis langsung menuju kamarnya. Perasaan Gladis sangat tidak tenang, Gladis sangat khawatir dengan keadaan Gerrald.
"Semoga Gerrald baik-baik saja," gumam Gladis.
Gladis sangat khawatir dengan keadaan Gerrald.
🔪
🔪
🔪
🔪
🔪
Jangan lupa
like
gift
vote n
komen
__ADS_1
TERIMA KASIH
LOVE YOU