
🔪
🔪
🔪
🔪
🔪
Malam pun tiba...
Perasaan Gladis sangat tidak tenang, akhirnya dia memutuskan untuk menghubungi Gerrald.
📞"Hallo...."
📞"Hallo, apa ini dengan Nona Gladis?"
📞"Iya, ini siapa ya? ini benar kan nomornya Gerrald?"
📞"Benar Nona, saya Cocky Asistennya Tuan Gerrald. Saat ini Tuan Gerrald masih belum sadarkan diri, tadi Tuan Gerrald terkena tembakan."
📞"Apa!! Tuan Cocky, tolong jaga Gerrald mungkin aku besok akan kesana. Kalau ada apa-apa tolong cepat hubungi saya."
📞"Baik Nona."
Gladis pun menutup sambungan teleponnya.
"Mudah-mudahan, Gerrald baik-baik saja."
Malam ini Gladis sungguh tidak bisa tidur, hatinya sangat gelisah dan tidak tenang. Gladis ingin cepat-cepat besok dan pergi ke rumah Gerrald untuk melihat keadaannya.
***
Keesokkan harinya...
"Bun, Yah, Gladis berangkat dulu ya."
"Loh, kamu ga sarapan dulu sayang?" tanya Bunda Kiara.
"Nanti saja di kampus."
"Ya sudah, Ayah telepon dulu Fikri."
"Jangan Yah."
"Kenapa?"
"Gladis naik taksi saja, kalau begitu Gladis berangkat dulu. Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
Tiba-tiba Ayah Al mengirimkan pesan kepada Fadli untuk mengikuti puterinya itu. Ayah Al merasa curiga karena puterinya tidak mau menatap wajahnya saat bicara tadi, itu tandanya Gladis sedang berbohong.
Dengan cepat, Gladis memasuki taksi yang sebelumnya sudah dia pesan. Tanpa sepengetahuan Gladis, Fadli sudah mengikutinya.
Tidak membutuhkan waktu lama, taksi yang Gladis tumpangi sudah sampai di mansion Gerrald. Gladis dengan cepat keluar dari taksi dan masuk ke dalam mansion mewah itu.
Anak buah Gerrald memang sudah mengenal siapa Gladis, sehingga mereka tampak hormat kepada Gladis. Sedangkan Fadli yang berada sedikit jauh dari mansion Gerrald tampak mengerutkan keningnya.
"Gladis masuk ke dalam rumah siapa? dan sepertinya penjagaan di rumah itu sangat ketat, apa itu rumah Gerrald?" gumam Fadli.
Seorang anak buah Gerrald merasa curiga dengan mobil yang di kendarai Fadli dan Fadli menyadarinya. Karena takut ketahuan, akhirnya Fadli memilih untuk pergi.
Gladis segera berlari menuju kamar Gerrald, di saat Gladis masuk ternyata Gerrald sudah siuman dan saat ini tampak menyandarkan tubuhnya di kepala ranjang.
__ADS_1
"Ge..."
"Gladis..."
Gladis segera menghampiri Gerrald dan Gerrald merentangkan satu tangannya. Gladis langsung menghambur ke pelukkan Gerrald.
"Kamu terluka, Ge."
"Ini luka kecil, tidak akan membuat aku mati."
"Sudah tahu terluka kaya gini, masih saja bercanda. Kamu tahu semalam aku ga bisa tidur mikiran keadaan kamu, apalagi Tuan Cocky bilang kalau kamu belum sadarkan diri, aku sampai bolos kuliah ini," kesal Gladis dengan meneteskan airmatanya.
"Hei, kok nangis? aku tidak apa-apa, luka ini ga ada apa-apanya buat aku."
"Aku khawatir tahu, takut kamu kenapa-napa."
Gerrald kembali menarik tubuh Gladis ke dalam pelukkannya.
"Kamu tidak usah mengkhawatirkanku karena aku sudah kebal dengan semua ini. Coba kamu lihat tubuh aku," seru Gerrald.
Gladis memperhatikan tubuh Gerrald, saat ini Gerrald memang telanjang dada karena luka di bahunya. Gladis menutup mulutnya saat melihat tubuh Gerrald.
Ternyata tubuh putih itu di penuhi dengan tato yang terukir indah dan Gladis baru menyadarinya.
"Kenapa kamu kaget?"
Gladis menganggukkan kepalanya...
"Kamu tahu ga, apa fungsi tato ini?"
Gladis menggelengkan kepalanya...
"Coba kamu perhatikan dengan seksama, apa ada yang salah dalam tubuhku?"
Kemudian Gladis mencoba memperhatikan tubuh Gerrald lebih seksama lagi. Gladis kembali terkejut dan menutup mulutnya, ternyata di balik lukisan indah itu banyak sekali luka dan bekas jahitan.
"Iya, tato ini untuk menutupi semua luka-luka yang ada di tubuhku."
Gladis melihat ke arah tangan kiri Gerrald yang tampak ada sebuah tato berbentuk sayap tapi sayap itu hanya sebelah.
"Itu tato apa? kok sayapnya cuma sebelah?" tanya Gladis.
"Sayap ini di umpamakan aku, saat ini aku hanya hidup sendiri tanpa orangtua dan adikku. Aku sudah tidak bisa terbang lagi karena sayap sebelah lagi sudah hancur dan menghilang."
"Ge, apa aku boleh bertanya?"
"Kamu mau tanya apa?"
"Tapi kamu harus jawab jujur jangan ada yang kamu tutup-tutupi dari aku."
"Iya, aku akan berusaha jujur sama kamu."
Gladis membenarkan posisinya, saat ini Gladis sama seperti Gerrald menyandarkan punggungnya ke kepala ranjang dengan kaki yang selonjoran.
"Kenapa kamu menjadi seorang pembunuh?"
"Karena keadaan."
"Maksudnya?"
"Aku tidak suka, orang-orang yang aku sayangi menderita. Gisel adalah adikku satu-satunya, Christ yang merupakan Ayah dari Jovan sudah menculik dan memperkosa Gisel sehingga membuat Gisel stres dan trauma. Gisel memilih untuk bunuh diri karena dia merasa sudah tidak ada gunanya lagi hidup."
Gladis menatap ke arah Gerrald, terlihat sekali ada kesedihan yang mendalam di mata Gerrald.
"Maka dari itu aku sengaja pindah ke sini karena ingin membalaskan dendamku kepada Ayahnya Jovan dan teman-temannya. Aku menyamar jadi orang cupu supaya merek tidak mengenaliku."
__ADS_1
"Apa Mahasiswa dan orang-orang yang selama ini mati dengan mengenaskan adalah ulah kamu?"
"Iya, itu perbuatannku."
"Ge, apa kamu tahu kalau selama ini Ayahku sedang menyelidiki tentangmu dan kelompokmu?"
"Iya, aku tahu."
"Kenapa kamu tidak pergi? aku tidak mau sampai Ayah menangkapmu."
Gerrald menatap ke arah Gladis...
"Kamu adalah alasan aku untuk tetap berada disini, aku memang seorang pembunuh dan dosaku sudah terlalu banyak. Aku sudah lelah hidup sendirian, aku ingin merasakan di sayangi oleh seseorang dan aku juga ingin ada seseorang yang selalu berada di sampingku sampai menua nanti."
Gladis tahu kalau selama ini Gerrald merasa kesepian, Gerrald melampiaskan kesedihannya dengan melakukan hal yang mengerikan.
Gladis memeluk Gerrald...
"Aku mohon, tetaplah berada di samping aku. Jangan jauhi aku," seru Gerrald.
"Aku janji, apa pun yang terjadi aku tidak akan meninggalkanmu," sahut Gladis.
Gerrald melepaskan pelukkannya, di tatapnya wajah cantik Gladis. Tangan Gerrald mengusap lembut wajah Gladis, perlahan Gerrald mendekatkan wajahnya membuat Gladis memejamkan matanya.
Kedua bibir itu menempel satu sama lain, Gerrald benar-benar tidak mau kehilangan Gladis. Gerrald tidak peduli walaupun nanti akhirnya Ayah Al menangkap dan membunuhnya.
Gerrald meleaskan pungutannya, kedua kening mereka saling menempel dengan napas yang memburu.
"Aku sangat mencintaimu, Gladis."
***
Sementara itu, Fadli segera menuju rumah Ayah Al. Saat ini Fadli dan Ayah Al sedang duduk di teras rumah.
"Bagaimana? apa yang kamu temukan?" tanya Ayah Al.
"Pak Jenderal, Gladis pergi ke sebuah rumah mewah dan megah, saya tidak tahu itu rumah siapa? tapi perasaan saya mengatakan kalau rumah itu milik Gerrald soalnya penjagaannya sangat ketat tapi anehnya Gladis bisa masuk dengan mudahnya."
"Apa! jadi sekarang Gladis sudah mulai berbohong dan tidak menuruti perintahku," seru Ayah Al.
"Kamu awasi terus rumah itu."
"Siap, Pak Jenderal."
Ayah Al mengeraskan rahangnya, puterinya satu-satunya ternyata sudah berani berbohong dan menyembunyikan identitas Gerrald.
🔪
🔪
🔪
🔪
🔪
Jangan lupa
like
gift
vote n
komen
__ADS_1
TERIMA KASIH
LOVE YOU