
🔪
🔪
🔪
🔪
🔪
Fikri segera mengangkat tubuh Gladis dan segera membawanya ke rumah sakit. Bunda Kiara tampak histeris melihat keadaan puteri satu-satunya itu, sedangkan Ayah Al hanya bisa terdiam dengan menundukkan kepalanya.
"Sayang, bangun jangan buat Bunda khawatir."
Bunda Kiara memegang tangan Gladis dengan deraian airmata.
Ayah Al tidak berani masuk ke dalam, ia hanya duduk di kursi tunggu di depan ruangan rawat Gladis.
"Lapor Pak Jenderal."
"Iya, ada kabar apa?"
"Maaf Pak Jenderal, kami sudah mencari keberadaan Gerrald tapi kami tidak menemukannya bahkan kami sudah mencari ke ujung sungai itu tapi kami tidak menemukannya."
Ayah Al mengusap wajahnya kasar...
"Ya sudah, kalian bisa pulang. Terima kasih atas kerja kerasnya untuk hari ini."
"Siap Pak Jenderal, sama-sama."
Ayah Al, Bunda Kiara, dan Fikri duduk bersama menunggu Gladis sadar. Mereka bertiga tidak ada yang berniat untuk bicara, ketiganya larut dengan pikiran mereka masing-masing.
"Ge..Gerrald, jangan pergi jangan tinggalkan aku," seru Gladis dengan mata yang masih terpejam.
"Sayang, bangun sayang ini Bunda."
Gladis langsung terduduk dan menagis histeris memanggil-manggil nama Gerrald, Bunda Kiara langsung memeluk puteri kesayangannya itu.
"Gladis ingin bertemu dengan Gerrald, Bunda. Gerrald baik-baik saja kan?" seru Gladis dengan histerisnya.
"Kamu tenang dulu sayang, jangan seperti ini."
Bunda Kiara terus saja memeluk Gladis dengan deraian airmata. Gladis melihat ke arah Ayah dan Fikri.
"Ayah jahat, kalian semua jahat. Gerrald memang seorang Mafia, tapi dia tidak pernah mengganggu kita kenapa kalian sejahat itu melakukan semua ini. Gladis benci sama Ayah, Gladis benci!" teriak Gladis histeris.
Ayah Al hanya mampu menundukkan kepalany, begitu pun dengan Fikri yang sudah tidak bisa berkata apa-apa lagi.
"Pergi kalian dari sini pergi!" teriak Gladis.
Ayah Al masih terdiam membuat Gladis semakin geram. Gladis mencabut selang infusnya dan berlaribke arah Ayah Al. Gladis memukul tubuh Ayah Al dengan membabi buta dengan deraian airmata.
"Kembalikan Gerrald, Ayah. Kenapa Ayah begitu jahat!" teriak Gladis dengan histeris.
__ADS_1
Bunda Kiara hanya bisa menutup mulutnya dengan deraian airmata, ia tidak menyangka kalau Gladis akan sehancur itu.
Gladis terus saja memukul dada Ayah Al, san Ayah Al tidak berkutik sama sekali. Hatinya begitu sakit, puteri kesayangannya sekarang sangat membencinya.
"Kembalikan Gerrald, Ayah."
Saking lelahnya dan emosi yang tidak bisa dia kuasai akhirnya Gladis kembali pingsan. Ayah Al sangat panik, baru kali ini Ayah Al meneteskan airmatanya melihat keadaan sang puteri tercinta.
***
Satu minggu sudah, semenjak kejadian itu...
Semenjak keluar dari rumah sakit, Gladis menjadi murung, tidak mau makan, bahkan Gladis tidak keluar-keluar dari kamar membuat Bunda Kiara merasa khawatir dan Ayah Al merasa sangat bersalah.
Saat ini Ayah Al dan Bunda Kiara sedang duduk-duduk di ruang keluarga, mereka berdua hanya bisa melamun dengan pemikiran mereka masing-masing.
Tap...tap...tap...
Bunda Kiara dan Ayah Al menoleh dan betapa terkejutnya mereka melihat Gladis yang turun dengan menggeret koper di tangannya.
"Sayang, kamu mau kemana? kenapa kamu bawa koper segala?" tanya Bunda Kiara kaget.
"Bunda, Gladis akan kembali ke Inggris."
"Apa? tapi kenapa? kamu tega mau meninggalkan Bunda," seru Bunda Kiara dengan airmata yang sudah mulai menetes.
"Gladis mau menenangkan diri dulu, percuma Gladis tetap di sini itu hanya akan membuat Gladis semakin teringat kepada Gerrald. Mudah-mudahan dengan Gladis pergi dari sini, Gladis bisa melupakan Gerrald."
"Gladis pergi dulu, Bunda."
Gladis pun menggeret kopernya tanpa melihat ke arah Ayahnya dan itu membuat Ayah Al merasakan sakit yang luar biasa.
"Gladis, biar Ayah antarkan kamu ke Bandara," seru Ayah Al memberanikan diri.
"Tidak usah."
Gladis melangkahkan kakinya meninggalkan rumah itu dan masuk ke dalam taksi yang sudah dia pesan. Bunda dan Ayahnya hanya bisa pasrah melihat kepergian puteri mereka karena bagaimana pun mereka yang sudah membuat Gladis seperti itu.
Selama dalam perjalanan, Gladis tampak melamun hingga tanpa sadar taksi yang dia tumpangi melewati jembatan tempatbdimana Gladia melihat wajah Gerrald untuk terakhir kalinya.
Tiba-tiba Gladis melihat Gerrald berdiri di pinggir jalan dengan melambaikan tangannya kepada Gladis.
"Ge...Gerrald."
Gladis menajamkan pandangannya dan ternyata Gladis hanya berhalusinasi karena bayangan Gerrald ternyata menghilang. Airmata Gladis kembali menetes, sungguh Gladis tidak bisa melupakan sosok Gerrald sampai kapan pun.
Gladis sampai di Bandara, dia segera masuk ke dalam pesawat dan duduk dengan santainya. Tapi tiba-tiba Gladis di kagetkan dengan kehadiran Gerrald yang duduk di sampingnya.
"Gerrald..." gumam Gladis.
Perlahan Gladis mengulurkan tangannya dan memegang pipi Gerrald.
"Maaf Nona, anda kenapa?" tanya pria yang duduk di samping Gladis.
__ADS_1
Gladis tersentak, ternyata yang dia pegang adalah seorang Bapak-bapak.
"Astaga, maafkan saya Pak."
"Tidak apa-apa."
Gladis memalingkan wajahnya ke jendela, tanpa terasa lagi-lagi airmatanya kembali menetes.
Setelah melakukan perjalanan yang lumaya panjang, Gladis pun sampai di sebuah Apartemen. Gladis lebih memilih tinggal di Apartemen di bandingkan tinggal bersama Oma dan Opanya.
Gladis tidak mau menyusahkan mereka dan membuat mereka ikut memikirkan keadaan Gladis. Gladis merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur, kemudian Gladis memejamkan matanya.
Gladis merasa ada sebuah tangan mengelus pipi Gladis.
"Jangan bersedih, kamu harus lanjutkan kehidupanmu dan harus terbiasa hidup tanpaku."
Gladis membuka matanya dan memperhatikan setiap sudut Apartemen itu. Gladis merasakan sangat sakit karena lagi-lagi Gladis berhalusinansi.
Gladis kembali menjalani kehidupannya di Inggris. Gladis tidak menyangka kalau dia sama sekali tidak bisa melupakan Gerrald.
Bayangan Gerrald selalu hadir kapan pun dan dimana pun. Gladis memutuskan untuk mencari pekerjaan sembari kuliah, dia ingin menyibukkan dirinya supaya tidak teringat lagi dengan sosok Gerrald.
Gladis ingat ucapan Fadli, kalau Gerrald sama sekali tidak di temukan. Bahkan Fadli sudah bertanya kepada setiap orang yang berada di daerah sana, dan mereka tidak pernah menemukan sosok yang ceritakan oleh Fadli.
Air sungai yang begitu deras tidak mungkin bisa menyelamatkan Gerrald apalagi Gerrald dalam kondisi terkena tembakkan.
Lagi-lagi Gladis harus meneteskan airmatanya..
"Semoga kamu selamat, aku sangat merindukanmu, Ge."
🔪
🔪
🔪
🔪
🔪
Jangan lupa
like
gift
vote n
komen
TERIMA KASIH
LOVE YOU
__ADS_1