
🔪
🔪
🔪
🔪
🔪
Semua Polisi itu sudah ambruk dihajar oleh Gerrald, dan Gerrald pun segera menaiki motornya dan meninggalkan tempat itu. Mereka ingin mengejar Gerrald tapi ditahan oleh Fadli.
"Sudah biarkan saja dia pergi, kita butuh siasat untuk menangkap orang itu," seru Fadli.
Fadli pun segera menghampiri mobil Ayah Al yang dari tadi berada tidak jauh dari mereka dan memperhatikan gerak-gerik Gerrald.
"Bagaimana?" tanya Ayah Al.
"Menurut yang saya lihat, orang itu kelompok GOD OF DEAD."
"Apa? kamu yakin?" tanya Ayah Al tidak percaya.
"Sangat yakin, Komandan."
"Dan yang lebih mengejutkannya lagi, sepertinya orang itu ketuanya Komandan karena dari beladiri yang dia kuasai sangat bagus dan seorang anak buah tidak mungkin mempunyai keahlian beladiri yang mumpuni seperti itu."
"Jadi maksud kamu dia ketua GOD OF DEAD?"
"Iya Komandan."
"Sialan, apa maksud dia mendekati puteri saya."
"Dan sepertinya dia sedang menyamar dengan penampilan seperti itu. Saya harap Komandan lebih berhati-hati lagi dan jaga Gladis."
"Oke, terima kasih Fadli. Hari ini kamu bekerja sangat bagus, kalau begitu saya permisi dulu."
"Siap Komandan."
Ayah Al pun segera melajukan mobilnya menuju rumahnya. Selama dalam perjalanan, Ayah Al tampak kesal sampai-sampai dia harus mengepalkan tangannya melihat kelakuan puterinya itu.
Sesampainya dirumah...
"Gladis, dimana kamu?" teriak Ayah Al.
"Ayah ada apa? kenapa Ayah teriak-teriak?" tanya Bunda Kiara.
"Gladis mana?"
"Ada dikamarnya."
__ADS_1
Ayah Al pun langsung berlari menuju kamar Gladis dan Bunda Kiara pun mengikutinya. Ia takut kalau suaminya bertindak kasar kepada Gladis secara Bunda Kiara sudah melihat Ayah Al tampak emosi sekali.
Braaakkk...
Ayah Al membuka pintu kamar Gladis dengan kasar membuat Gladis yang sedang menerima telpon merasa terkejut begitu pun dengan Bunda Kiara.
"Kamu sedang menerima telpon dari siapa?" tanya Ayah Al.
"Dari teman Yah," sahut Gladis dengan hati-hati.
"Bohong, pasti kamu sedang menerima telpon dari pria itu kan? sini ponselnya," bentak Ayah Al sembari mengambil ponsel Gladis dengan paksa.
"Saya tahu ini kamu, tolong saya minta sama kamu tinggalkan Gladis dan jangan deketin Gladis lagi kalau kamu tidak mau berurusan dengan hukum," bentak Ayah Al dan menutup sambungan telponnya.
"Ayah apa-apaan sih?" seru Gladis dengan kesalnya.
"Ayah ingin, mulai besok dan seterusnya kamu jangan dekat-dekat dengan pria yang bernama Gerrald lagi," bentak Ayah Al.
"Ayah kenapa sih, kayanya ga suka banget sama Gerrald padahal Ayah sama sekali belum mengenal Gerrald."
"Ayah sudah mengenal dia, Ayah tahu siapa dia jadi Ayah sangat melarang kamu untuk dekat-dekat dengan dia," bentak Ayah Al.
"Tapi kenapa Yah?"
"Jangan banyak tanya pokoknya kamu harus jauhi dia, dia orang yang sangat berbahaya."
"Sayang, maafkan Ayah kamu ya," seru Bunda Kiara dengan membawa puteri kesayangannya itu ke dalam pelukkannya.
"Ayah kenapa sih Bunda? kenapa Ayah bentak-bentak Gladis seperti itu? memangnya salah ya kalau Gladis menyukai Gerrald," seru Gladis dengan menangis tersedu-sedu.
"Mungkin Ayah tidak mau kamu kenapa-napa, kan kamu juga baru kenal dengan Gerrald belum tahu siapa dia yang sebenarnya. Ayah mungkin khawatir, takutnya orang itu akan menyakiti kamu."
"Tapi Gerrald pria yang sangat baik Bun, kepada orang lain dia memang dingin dan terkesan bengis tapi kalau sama Gladis, dia lembut kok Bun, malahan dia selalu nolongin Gladis."
"Ya sudah jangan nangis lagi, nanti biar Bunda bicara sama Ayah."
Bunda Kiara berusaha menenangkan puteri kesayangannya itu, setelah Gladis tenang Bunda Kiara pun meninggalkan kamar Gladis dan menuju ruangan kerja sang suami.
"Yah, ada apa sebenarnya? kenapa tadi Ayah bentak-bentak Gladis? biasanya Ayah tidak pernah berbicara tinggi kepada Gladis."
"Soalnya Gladis sudah menjadi anak yang pembangkang Bun dan itu setelah Gladis mengenal Gerrald."
"Ayah, bukankah selama ini Gerrald yang sudah menolong Gladis berarti itu tandanya Gerrald anak yang baik," seru Bunda Kiara lembut.
"Bunda tidak tahu apa-apa, kalau Bu da tahu yang sebenarnya, Bunda juga tidak akan membiarkan Gladis dekat dengan Gerrald."
"Maksud Ayah apa?" tanya Bunda Kiara penasaran.
"Gerrald itu kelompok Mafia, Bun."
__ADS_1
"Apa? Ayah tahu darimana?"
"Fadli yang memberitahukan kepada Ayah, Bunda tahu kan bagaimana cara kerja Fadli dia tidak pernah meleset dalam mencari informasi. Bunda tahu Gerrald adalah ketua mafia GOD OF DEAD, mafia paling disegani di Benua Eropa."
Tubuh Bunda Kiara lemas, Ayah Al dengan sigap menopang tubuh istri tercintanya itu.
"Bagaimana mungkin dia bisa ada disini? dan apa tujuan dia mendekati Gladis puteri kita Yah?"
"Nah, itu yang saat ini masih diselidiki. Ayah yakin kalau Gerrald itu Mr.G yang sering disebut-sebut sebagai manusia berdarah dingin. Kemungkinan dia kesini untuk menuntut balas kepada THE BLOOD."
"Ya ampun, kenapa Gladis bisa sampai dekat dengan manusia kejam seperti Gerrald."
"Penyamaran dia sangat bagus Bun, di kampus dia menyamar menjadi anak culun untuk mengelabui Jovan."
"Bunda takut Yah, pokoknya Bunda tidak mau tahu Gladis tidak boleh dekat-dekat lagi dengan iblis itu."
"Bunda tenang saja selain Fikri, Ayah juga menugaskan Fadli untuk mengawasi Gladis."
Bunda Kiara tampak ketakutan saat mendengar siapa Gerrald yang sebenarnya. Bunda Kiara sangat benci sama yang namanya mafia dan Bunda Kiara tidak mau sampai berurusan lagi dengan mafia.
***
Sedangkan disebuah mantion mewah dan megah, Gerrald tampak meremas ponselnya setelah beberapa saat lalu sambungan telponnya terputus karena Ayah Al yang mematikannya secara sepihak.
"Jenderal Aliando Prayoga," gumam Gerrald.
🔪
🔪
🔪
🔪
🔪
Jangan lupa
like
gift
vote n
komen
TERIMA KASIH
LOVE YOU
__ADS_1