
🔪
🔪
🔪
🔪
🔪
Satu minggu sudah Gerrald tidak terlihat batang hidungnya dan itu membuat Gladis semakin dilanda kekhawatiran.
"Sebenarnya Gerrald kemana sih? sepertinya aku harus tanya ke bagian Admin," gumam Gladis.
Gladis pun pergi ke ruangan Admin untuk menanyakan perihal Gerrald.
Tok..tok..tok..
"Masuk..."
"Permisi Bu..."
"Iya, silakan duduk."
"Terima kasih."
"Ada yang bisa saya bantu?"
"Hmm...begini Bu, saya mau menanyakan mengenai Gerrald Alexander Crush kenapa dia sudah satu minggu ini tidak masuk? apa dia sakit?" tanya Gladis.
"Oh..tunggu sebentar ya, saya cek dulu."
"Ah iya, Bu."
Tidak lama kemudian..
"Maaf, Gerrald sudah tidak kuliah lagi disini dia sudah keluar satu minggu yang lalu."
"Apa!! tapi kenapa ya Bu, dia sampai keluar?"
"Kalau masalah itu saya kurang tahu."
"Ya sudah terima kasih ya Bu, kalau begitu saya permisi dulu."
Gladis pun meninggalkan ruangan Admin dengan perasaan sedih dan kecewa.
"Kenapa Gerrald tidak memberi tahuku kalau dia keluar dari kampus," gumam Gladis.
Gladis tampak berpikir sejenak..
"Sepertinya aku harus ke rumahnya, aku harus tanya langsung kenapa dia keluar dari kampus dan tidak memberiku kabar sama sekali," gumam Gladis.
Gladis tampak celingukkan, dia tidak mau sampai ketahuan sama Fikri maupun Fadli karena saat ini dia akan pergi ke rumah Gerrald.
Susah payah Gladis sampai di parkiran, ternyata disana Fadli sedang duduk sembari mengotak-ngatik ponselnya.
"Ah sial, kenapa Kak Fadli ada disana sih."
Tidak lama kemudian, ponsel Fadli berbunyi. Fadli beranjak dari duduknya dan sedikit menjauh dari tempat itu. Gladis tidak menyia-nyiakan kesempatan ini, ia langsung berlari menuju gerbang dan dengan cepat menghentikan taxi.
Tiga puluh menit pun berlalu, disaat Gladis ingin turun sebuah mobil mewah yang Gladis tahu mobil milik Gerrald pun keluar. Disaat mobil Gerrald melewati taxi yang ditumpangi Gladis, benar saja Gerrald berada di dalam sana.
"Pak, tolong ikuti mobil itu!!" seru Gladis.
"Baik Nona."
Taxi itu pun putar balik dan langsung mengikuti mobil Gerrald.
"Mau kemana dia?" gumam Gladis.
__ADS_1
Gladis terus saja mengikuti mobil Gerrald, hingga akhirnya mobil Gerrald berhenti di sebuah rumah tidak terlalu besar tapi lebih tepatnya seperti sebuah gudang.
Lokasinya sangat jauh dari mana-mana, dan terlihat sangat sepi. Gladis melihat Gerrald turun dari mobilnya dengan dikawal oleh beberapa orang tinggi besar.
"Ini Pak uangnya."
"Yakin Nona mau turun? ini tempatnya sepi loh Nona," seru sopir taxi yang merasa khawatir.
"Tidak apa-apa Pak, terima kasih Pak."
Gladis pun langsung turun, Gladis tampak ragu-ragu antara menghampiri gudang itu atau tidak, tapi kalau tidak kesana Gladis merasa sangat penasaran dengan apa yang sedang Gerrald lakukan.
***
Sementara itu, di dalam gudang yang merupakan markas untuk mengeksekusi korbannya, Gerrald tampak berjongkok menghampiri seseorang yang terlihat sudah tidak berdaya dengan wajah penuh luka.
"Selamat datang Tuan Christ."
"Mr.G..."
"Iya, aku Mr.G...sudah cukup aku membiarkan kamu dan keluargamu hidup bebas dengan kebahagiaan kalian, sekarang giliran aku yang bahagia," seru Gerrald.
"Jangan sentuh keluargaku, mereka tidak ada sangkut pautnya dengan kejahatanku, bunuh saja aku dan setelah itu jangan ganggu keluargaku biarkan mereka hidup," sahut Christ.
"Hahaha....apa kamu takut keluargamu saya hancurkan?" tanya Gerrald dengan tawanya.
"Iya."
"Terus dulu kamu menghancurkan masa depan adikku, apa kamu memikirkan keluarga dia? apa kamu memikirkan bagaimana perasaan keluargaku saat itu!!" bentak Gerrald.
Ya, orang itu adalah Christ Will Blood. Selama satu minggu ini, Gerrald mengikuti pergerakkan Christ. Ternyata tidak mudah untuk menangkap sang ketua mafia THE BLOOD itu, tapi tidak ada yang tidak mungkin untuk Gerrald.
Disaat lengah, Christ dengan mudahnya ditangkap oleh anak buah Gerrald. Gladis mulai mendekat setelah mendengar teriakkan Gerrald, Gladis mendekat ke arah pintu dan mencoba mengintip kondisi di dalam dari balik celah pintu yang sedikit terbuka.
"Kamu dan teman-temanmu memperkosa adikku tanpa belas kasihan, sehingga membuat dia trauma dan stres hingga akhirnya dia memilih bunuh diri. Kalian benar-benar biadab dan brengsek berani mengusik keluargaku dan sekarang kalian semua harus menerima akibatnya!!" teriak Gerrald sembari menusukkan pisau kecilnya ke telapak tangan Christ.
"Aaaaaaarrrrrgggghhhh....."
"Aku pastikan kamu dan keluarga kamu akan menerima akibatnya!!"
Bugghh...
Bugghh..
Bugghh..
Gerrald menghajar Christ dengan membabi buta, dia sangat marah kepada Christ karena gara-gara dia, adik yang sangat dia sayangi harus pergi dengan cara bunuh diri.
Setelah dirasa Christ sudah tidak berdaya, saatnya sentuhan terakhir Gerrald mengeluarkan KOOKI pisau kecil yang selama ini menjadi sahabat terbaik Gerrald.
"Selamat tinggal Christ Wild Blood," gumam Gerrald.
Jlleeebbbb...
Gerrald menancabkan pisau kecil itu tepat di jantung Christ, darahnya sedikit muncrat ke baju dan wajah Gerrald.
Kaki Gladis lemas, dia mundur satu langkah tapi pintu itu terbuka karena anak buah Gerrald berniat akan menyeret mayat Christ.
Gerrald terbelalak melihat kedatangan Gladis.
"Gladis..."
Gladis segera berlari meninggalkan tempat itu, airmatanya terus saja mengalir.
"Kejar dia!!" teriak Gerrald.
Anak buah Gerrald pun dengan cepat mengejar Gladis.
"Ah sial..."
__ADS_1
Gerrald mengusap wajahnya dengan kasar...
"Ternyata apa yang Ayah ucapkan benar, Gerrald bukan orang baik-baik," batin Gladis dengan terus berlari.
Di tengah jalan, Gladis melihat sebuah mobil dan Gladis berusaha menghentikan mobil itu.
"Mas, tolongin saya!! saya ikut sampai depan," seru Gladis dengan bibir yang bergetar menahan takut.
Mobil itu berhenti dan orang yang ada di dalam mobil pun tampak menganggukkan kepalanya. Gladis dengan cepat masuk ke dalam mobil, napasnya tampak memburu, Gladis tidak tahu kalau mobil yang dia tumpangi itu merupakan anak buah Gerrald.
Baru saja beberapa menit berjalan, mobil itu berhenti dan seseorang masuk ke dalam mobil itu menggantikan sang sopir.
"Gerrald..." lirih Gladis dengan mata yang berkaca-kaca.
Gladis ingin membuka pintu mobil itu tapi dengan cepat Gerrald menguncinya.
"Turunkan aku Ge, aku ga mau sama kamu," seru Gladis.
"Hei, dengarkan aku dulu."
Gerrald ingin menyentuh wajah Gladis tapi Gladis menepis tangan Gerrald.
"Jangan sentuh aku, kamu pembunuh ternyata yang dikatakan Ayah benar kalau kamu itu penjahat!!" bentak Gladis histeris.
"Gladis aku mohon dengarkan aku dulu."
"Jangan sentuh aku, pergi!!"
"Gladis..."
"Aku mohon jangan sakiti aku, lepaskan aku!!" teriak Gladis histeris.
Tapi dengan sekali tarikkan, Gerrald menarik Gladis dan memeluk kekasihnya itu. Gladis terus saja berontak dan memukul Gerrald tapi Gerrald tidak melepaskan Gladis.
"Maafkan aku sayang, maaf."
"Lepaskan aku Ge, aku mohon."
"Tidak Gladis, aku memang penjahat tapi cintaku padamu tulus aku tidak akan menyakitimu."
"Ga mau, lepaskan aku Ge. Aku takut..."
"Jangan takut sayang, aku masih Gerrald yang dulu. Please, jangan takut sama aku."
Butuh waktu cukup lama untuk Gerrald menenangkan Gladis, hingga akhirnya Gladis pun merasa tenang di pelukkan Gerrald.
"Maafkan aku, maaf...maaf..."
🔪
🔪
🔪
🔪
🔪
Jangan lupa
like
gift
vote n
komen
TERIMA KASIH
__ADS_1
LOVE YOU