
Di dalam pagoda penekan iblis, Xiao Chen yang sebelumnya tidak sadarkan mulai siuman. Dengan tatapan yang masih kosong, Xiao Chen heran kenapa dia bisa berada di dalam Pagoda penekan Iblis.
“kenapa aku bisa berada disini ?” gumam Xiao Chen heran.
Tiba-tiba Lao Xue bersuara.
“Kau sudah sadar” ucap Lao Xue.
Xiao Chen menatap Lao Xue dengan wajah heran.
“Lao Xue, kenapa aku bisa masuk kesini, padahal saat sebelumnya aku tidak masuk ke dalam sini” kata Xiao Chen yang bertanya-tanya.
“Oh itu, mudah saja, aku memaksa dirimu untuk masuk” ucap Lao Xue santai.
“Kok bisa ?” tanya Xiao Chen yang heran.
“Hahaha, itu semua karena bantuan Roh pagoda, dia bangun sebentar dan memindahkan ke dalam sini” kata Lao Xue menjelaskan.
“Terus dimana Roh Pagoda sekarang” tanya Xiao Chen lagi.
“Dia kembali memulihkan diri” jawab Lao Xue.
Mendengar jawaban dari Lao Xue, Xiao Chen terlihat kecewa. Padahal dia ingin bertemu dan ada banyak hal yang ingin dia tanyakan.
Melihat kekecewaan Xiao Chen, Lao Xue hanya menatap Xiao Chen penuh pengertian.
“Sudahlah nak, akan ada waktunya untuk bertemu dia. Sekarang kau hanya perlu melakukan sesuatu pada mayat monster ini” kata Lao Xue sambil menunjukan Mayat Falcon merah berapi.
Xiao Chen melihat Mayat Falcon merah berapi, dia sedikit terkejut kenapa Mayat Falcon merah berapi diambil juga oleh Lao Xue.
“Apa yang harus aku lakukan dengan ini ?” tanya Xiao Chen bingung.
“Sebenarnya Falcon merah berapi ini mengandung jejak darah Phoenix, kau bisa menggunakan esensi darah falcon merah berapi untuk menembus ke alam pemurnian darah” ucap Lao Xue memberitahu.
“Jejak darah Phoenix ? maksudnya gimana ?” tanya Xiao Chen dengan wajah yang terkejut.
“Aku akan membantumu untuk memurnikan seluruh darah Falcon merah berapi ini hingga hanya menyisakan esensi dari Phoenix” ucap Lao Xue dengan nada serius.
“Walaupun nanti itu hanya menghasilkan beberapa tetes saja, tapi dengan mentransplantasikan ke dalam tubuhmu, seiring berjalan waktu semua darahmu akan berubah menjadi darah Phoenix” Lanjut Lao Xue berbicara.
Xiao Chen benar-benar bersemangat, padahal baru saja dia menembus ke alam pemurnian Daging, sekarang dia sudah bisa menembus ke alam pemurnian darah.
__ADS_1
Maka setelah ini, hanya perlu satu alam rahasia lagi yang akan dia terobos, yaitu alam pemurnian Sumsum atau yang dikenal sebagai pencucian sumsum.
“Jadi kapan kita mulai ?” tanya Xiao Chen semangat.
“Dalam beberapa hari lagi kita akan mulai, proses transplantasi ini akan memakan waktu, dan kau sekarang dalam seleksi, jadi lebih baik kau menyelesaikan proses seleksi, setelah itu kita akan memulai transplantasi” kata Lao Xue.
“Baiklah, kalau begitu akan menunggu” angguk Xiao Chen paham.
“Pergilah, sepertinya sekarang adalah hari terakhir seleksi kedua” kata Lao Xue mengingatkan.
“Apa!!! ini hari terakhir” seru Xiao Chen terkejut.
Xiao Chen akhirnya sadar bahwa selama ini dia tidak sadarkan diri lebih dari sehari.
“Lao Xue, kenapa kau tidak mengatakan bahwa aku tidak sadarkan dari sehari” ucap Xiao Chen dengan sedikit merengut.
“Kalau begitu aku keluar dulu” ucap Xiao Chen sambil keluar dari dalam pagoda penekan iblis.
Saat Xiao Chen keluar, dia melihat lokasi pertarungan dirinya dan Falcon merah berapi.
“Ternyata dampak pertarungan itu cukup besar juga” gumam Xiao Chen.
Xiao Chen segera berlari keluar menuju kota, karena hari ini adalah hari terakhir perburuan, sedangkan untuk monster yang akan dijadikan sebagai bahan bukti penilaian, Xiao Chen terpaksa curang, dan dari awal dia sudah meniatkan untuk curang.
Soal apakah dia akan ketahuan atau tidak, Xiao Chen sudah menyiapkan alasan yang paling logis jika dicurigai curang.
…
Xiao Chen akhirnya tiba di kota Baiyun.
Saat dia tiba, di lapangan sudah ramai dengan para warga dan peserta seleksi kedua. Masing-masing dari mereka penuh dengan berbagai ekspresi.
Ada yang penuh percaya diri, ada yang ragu, dan ada pula yang penuh penyesalan. Xiao Chen melihat para peserta, kemudian dia menyadari bahwa sebagian peserta yang hadir tidak sebanyak saat seleksi tes kedua dimulai.
“Hm, sepertinya ada banyak kejadian yang terjadi di tes kedua ini” Pikir Xiao Chen menebak.
Xiao Chen kemudian bergabung dengan para peserta lain, mereka semua menunggu munculnya pengawas dari tanah suci untuk mengakhiri tes kedua.
Waktu berlalu hingga akhirnya mencapai siang hari. Saat tepat siang hari, pengawas dari tanah suci muncul.
“Selamat karena kalian semua kini telah kembali dalam keadaan hidup. Sekarang penilaian akan dimulai sesuai nomor terendah”
__ADS_1
Pengawas dari tanah suci kemudian membuat gerakan khusus.
“keluarkan token yang aku berikan pada kalian, nomor yang kalian miliki disitu, akan menjadi nomor antrian” kata Pengawas dari tanah suci memberitahu.
Xiao Chen kemudian mengeluarkan token yang mereka punya. Masing-masing dari token kini sudah memiliki angka.
“Nomor 111” gumam Xiao Chen.
“Nomor satu silahkan maju” ucap Pengawas dari tanah suci memulai penilaian.
Orang yang memiliki nomor urutan satu akhirnya maju, dia maju dengan sedikit gugup. Berdiri tepat di hadapan petugas penilaian, nomor urutan satu langsung mengeluarkan bukit hasil buruan dirinya.
Petugas penilaian mulai menghitung berapa jumlah nilai yang didapatkan nomor urut satu.
“Nomor urut satu, mendapatkan Nilai 12 Point” teriak Petugas penilaian.
“Lanjut nomor berikutnya” kata Petugas Penilaian.
Penilaian terus berlanjut. Pengawas dari tanah suci hanya berdiri diam mengawasi jalannya penilaian.
Tiba-tiba dia memperhatikan Xiao Chen yang berada di dalam peserta yang berkumpul.
“OH! dia masih hidup” seru Pengawas tanah suci kaget.
Pengawas dari tanah suci tidak menyangka bahwa Xiao Chen yang dia kiri bakal tersingkir malah bisa bertahan hinggi tes kedua selesai.
“Menarik, sepertinya anak ini ada sesuatu” gumam Pengawas dari tanah suci sedikit curiga.
“Tapi tidak masalah jika dia curang, di tes ketiga semuanya akan ketahuan” ucap Pengawas tanah suci dengan mulut melengkung naik.
Karena penasaran, dia mencoba memindai XIao Chen, tapi hasilnya sama saja seperti saat pertama kali dia memindai Xiao Chen.
“Benar saja, dia tidak mungkin memiliki fisik khusus” angguk Pengawas tanah suci sambil mengalihkan pandangannya ke peserta lain.
Penilaian terus berlangsung. Para warga yang melihat penuh tatapan antusias. Terutama ketika sosok yang mereka kenali berhasil mendapatkan nilai bagus.
“Nomor urut 73” kata Petugas penilaian.
Saat nomor 73 dipanggil, warga yang menyaksikan menjadi antusias.
“Lihat, bukankah itu adalah Jiang Kuang”
__ADS_1
“Benar, itu Jiang Kuang, kali ini pasti dia yang akan mendapatkan nilai tertinggi”
Para warga sangat bersemangat menantikan pencapaian Jiang Kuang. Sayangnya Jiang kuang sendiri bersikap acuh tak acuh atas antusias para warga kepadanya.