
Xiao Chen akhirnya paham apa yang dimaksud oleh Xu Xiaoyao.
“Murid sudah mengerti, bahwa kejahatan tidak selalu terlihat dari siapa itu berasal, kejahatan bisa datang pada siapa saja jika mereka kehilangan hati mereka” ucap Xiao Chen dengan ekspresi mengerti.
Xu Xiaoyao sedikit tercengang dengan pemahaman Xiao Chen, tapi Xu Xiaoyao sendiri tidak terlalu ambil pusing dengan apa yang dikatakan Xiao Chen, karena bagi Xu Xiaoyao saat ini, apa yang dilakukannya cuma membodohi Xiao Chen agar kesan seorang guru tidak hilang.
Baik teknik tempur ataupun kultivasi, Xu Xiaoyao tidak memiliki sama sekali, jadi dia hanya bisa berusaha memperdaya Xiao Chen dengan retrorika kata-kata yang berasal dari novel yang pernah dia baca.
“Bagus, kau paham sedikit tentang apa yang guru maksud. Pedang di dalam terang terlihat dengan jelas, tapi racun yang tersembunyi di minuman sulit untuk diketahui, seperti itulah kebenaran di dunia ini. Mungkin kau bisa waspada pada musuhmu, tapi kau akan lengah pada orang-orang yang kau percayai”
“Kau mulai sekarang jangan pernah mempercayai siapapun sepenuhnya, bahkan kepada guru kau harus tetap waspada. Karena hati adalah hal yang mengerikan, apalagi hati seorang wanita cantik. Hati mereka bisa jauh lebih mematikan daripada racun”
Xu Xiaoyao terus berbicara dengan lugas tentang hal-hal yang perlu diwaspadai Xiao Chen di dunia luar.
“Dan kau tidak bisa lemah kepada musuhmu, menjadi lemah terhadap musuh sama saja kau kejam terhadap dirimu sendiri. Jika kau memiliki musuh, pastikan kau membunuhnya dengan sempurna, karena banyak hal di dunia ini yang diluar perkiraan. Seperti teknik reinkarnasi, kau berpikir telah membunuh musuhmu, tapi siapa sangka dia bisa terlahir kembali dengan teknik reinkarnasi. Saat dia terlahir kembali dia memulai jalan balas dendam terhadapmu, mendekati dirimu hingga kau lengah, saat itu terjadi kau mungkin sudah mati dengan penyesalan”
__ADS_1
Xu Xiaoyao berbicara penuh dengan wajah serius, layaknya seorang guru yang mengajari muridnya.
Xiao Chen sendiri mendengarkan dengan seksama penuh perhatian, semua yang dikatakan oleh Xu Xiaoyao dia dengar dan ingat baik-baik. Dalam benak Xiao Chen, semua perkataan Xu Xiaoyao seperti sebuah kitab suci yang dibacakan.
Seakan setiap kata dan kalimat adalah hal yang akan mungkin akan dialami di masa depan. Karena hal itulah, Xiao Chen dengan serius mendengarkan setiap perkataan Xu Xiaoyao.
“Xiao Chen, menjadi baik tidak salah, tapi tidak semua orang di dunia ini bisa kau baikin. Ada kalanya kau harus tegas dan kejam dalam mengambil keputusan. Tidak selamanya kau bisa bertindak menjadi pahlawan bagi setiap orang. Semua orang memiliki takdirnya masing-masing, hidup dan mati mereka tidak tergantung pada dirimu. jadi setelah beberapa hari ini, kau akan pergi berpetualang untuk memenuhi takdirmu sendiri”
Xu Xiaoyao dengan mata tajam menatap Xiao Chen yang mendengarkan dengan seksama.
“Bagus, sekarang kau bisa berlatih lagi, guru akan pergi sebentar” ucap Xu Xiaoyao dengan berbalik arah dan kemudian menghilang.
Xiao Chen menatap kosong ke tempat Xu Xiaoyao berdiri sebelumnya.
“Guru benar, aku tidak bisa percaya pada siapapun dengan mudah” ucap Xiao Chen sambil berdiri.
__ADS_1
Xiao Chen yang sudah memahami kebenaran dari apa yang dikatakan Xu Xiaoyao akhirnya mulai berlatih lagi.
…
Di ruangan laboratorium, Xu Xiaoyao duduk di meja yang sudah ada tumpukan kertas kosong.
“Mungkin sudah saatnya aku memberikan beberapa buku teknik dasar dalam berkelahi” ucap Xu Xiaoyao sambil berpikir.
Xu Xiaoyao mulai berpikir tentang teknik apa saja yang akan diserahkan nanti pada Xu Xiaoyao.
“Pada dasarnya, teknik tangan terdiri dari tinju, cakaran, tusukan, tangkapan dan tangkisan. sedangkan teknik kaki hanya berupa tendangan yang memiliki lintasan arah yang berbeda-beda. Ada juga penggunaan siku, lutut, dan beberapa tungkai tubuh manusia” gumam Xu Xiaoyao yang mulai menganalisa.
Xu Xiaoyao mulai berpikir dengan raut wajah yang menegang, sambil memainkan pena.
“Baiklah, sepertinya aku hanya bisa memberikan teknik dasar, tinju, tendangan dan bantingan sebagai dasar Xiao Chen” gumam Xu Xiaoyao dengan wajah serius.
__ADS_1
Kemudian, Xu Xiaoyao mulai menulis dan menggambarkan ilustrasi sederhana dari tiap teknik yang akan dia serahkan pada Xiao Chen.