Ada Mars Di Ruang Hati Parish

Ada Mars Di Ruang Hati Parish
Part 10


__ADS_3

Marsha memandang Parish dari balik kaca pembatas.


Dia merasa sangat menyesal. Seandainya saja dia langsung membawa Parish kedokter mungkin tidak akan terlambat seperti ini.


Parish terbaring disana belum sadarkan diri.


Suster yang berjaga keluar dari ruang tidur Parish. Marsha langsung memburunya didepan pintu.


"bagaimana keadaannya sus ?"


"pasien masih belum sadarkan diri, saya tidak punya kapasitas untuk menjelaskan kepada bapak karena itu kewenangan dokter. Saya permisi dulu, shift saya sudah selesai" kata suster itu pamit.


Marsha mengangguk.


Dia kembali ketempatnya tadi berdiri.


Ingin rasanya masuk kesana tapi dokter Steve melarang untuk mendekati Parish. Mereka hanya boleh melihat dari kaca.


"kamu harus cepat sembuh Rish... aku ingin melihat kamu tersenyum, tertawa riang dan ada di pertandingan" ucap Marsha lirih.


*


Suara bising terompet dan teriakan penonton terdengar riuh memecah suasana stadion kota RedRose.


Pertandingan Sepakbola Meteor melawan Bimasakti. Dimana Spanish sebagai penyerang kiri sekaligus kapten meteor. Dan Marsha sebagai penyerang kanan, berdiri sejajar agak jauh dari Spanish.


"kakaaaaaaaakkkkk kakaaaaaakkkk"


Marsha mencari asal suara itu. Suara itu cukup nyaring dan terdengar jelas sampai di lapangan tempat mereka berdiri.


Mata Marsha melihat kearah teriakan itu. Dia sangat terkejut melihat sosok yang berada di tempat VIP bersama deretan petinggi kedua kampus yang sedang bertanding.


Itu dia. Teriak Marsha dalam hati.


Dia melihat seseorang dari masa lalunya. Sosok yang menghilang dari kehidupannya. Tidak tahu nama, hanya mengenali wajah.


Apakah itu dia. Pikir Marsha seakan masih belum percaya.


Tapi hatinya yakin itu sosok yang dia cari. Itu gadis masa lalunya.


"kakak pasti bisa !" teriak gadis itu lagi.


Marsha melihat kearah Spanish. Tampak sang kapten meteor melambaikan tangan pada gadis itu.

__ADS_1


Apa dia adik Spanish. Pikir Marsha dalam hati.


Selama ini Marsha hanya mengenal Spanish sebagai teman satu fakultasnya dan kaptennya. Dia belum mengenal Spanish lebih jauh.


Walaupun bisa dibilang Spanish berteman dengannya. Tapi Marsha tetap menjaga jarak karena perbedaan kelas sosial yang menurut Marsha, dia bukanlah apa-apa dibanding teman-temannya yang lain.


Spanish ramah pada semua orang yang dia temui, dengan sikapnya itu dia dengan begitu mudah menjadi teman siapa saja.


Spanish anak seorang pengusaha kaya raya, tinggal di perumahan elit dan barang-barangnya pun branded. Sedangkan Marsha, dia bukanlah siapa-siapa. Semua yang dia punya adalah pemberian Tuan Shane Shannon yang sudah menganggap Marsha seperti anak sendiri. Karena itu di kampus Marsha memilih bersikap tertutup karena dia merasa dia berbeda dengan teman-temannya. Tapi tanpa dia sadari karena wajahnya, postur tubuhnya, kepintaran dan permainan yang bagus sebagai anggota team meteor, dia mendapat perhatian dari semua pihak terutama para cewek-cewek kampus.


Dan Spanish juga perhatian pada dia, bukan karena merasa tersaingi tapi karena Spanish baik pada semua orang. Spanish berteman dengannya. Spanish mengandalkannya.


Marsha tersenyum.


Dia mulai berpikir sejenak. Ada hal penting yang harus dia lakukan setelah pertandingan selesai.


Dia akan menjadi teman yang selalu ada untuk Spanish demi gadisnya.


Marsha yakin itu gadisnya, karena dari tadi hatinya terasa bergetar hebat.


Sudahlah, nanti saja dipikirkan. Sekarang konsentrasi pada pertandingan Mars. Ucapnya dalam hati.


Dia melihat di sebelah sana Spanish mengacungkan jempolnya. Tanda pada rekan se-team untuk fokus pada pertandingan.


Pertandingan dimulai.


Gadis yang berteriak tadi kembali duduk dan fokus menonton jalannya pertandingan.


Tanpa dia sadari, Marsha sesekali melirik kearahnya seraya tersenyum sebagai semangat dalam pertandingan kali ini.


Marsha sangat bersemangat dari biasanya.


*


Dokter Steve masuk dengan suster yang lain. Sepertinya suster yang dibawa dokter Steve adalah suster yang menggantikan shift suster yang tadi. Pikir Marsha.


Dokter Steve mengangguk pada Marsha sebagai bentuk sapaan. Marsha membalasnya dengan senyuman. Kemudian dokter masuk kedalam dan memeriksa Parish. Sesekali dia mengecek monitor. Suster yang tadi ikut masuk bersamanya pun mengecek infus sesuai instruksi dokter.


*


Tidak lama kemudian, dokter Steve keluar.


Dia menutup pintu rapat, lalu berhenti di depan pintu. Dia menghela nafas panjang dan menggelengkan kepalanya kuat.

__ADS_1


Marsha terus memandang.


Kemudian dokter menghampiri Marsha yang disadari atau tidak melihat cemas. Ada apa dengan Parish. Pikir Marsha dalam hati.


"kamu sudah lama disini Mars ?" tanya dokter Steve seraya memegang pundaknya.


"baru saja dok, Spanish masih mengantar Starla pulang" jawab Marsha.


"Mark ?" tanya dokter Steve lagi.


"kata Spanish, om Mark ada urusan di morningbay" jelas Marsha.


Dokter Steve mangut.


Kemudian dia berbalik melihat Parish dari balik kaca. Marsha bisa melihat ada gurat tidak mengerti pada raut wajah dokter Steve.


"kondisinya stabil, tidak ada masalah. Tapi kenapa dia tidak mau bangun. Seperti ada yang membebaninya untuk enggan kembali pada kita" ujar dokter Steve.


Marsha memandang dokter dengan penuh arti. Dia mencoba menangkap maksud dokter.


"aku yang pertama kali tau kondisinya sejak kecelakaan itu. Tentang memorynya.. dan aku tau kalo dia pasti akan drop begini kalo semua itu terasa berat. Dia sudah seperti putriku sendiri. Aku ingin putriku sadar, tapi aku tidak bisa berbuat apalagi kalo kondisi pasienlah yang tidak menginginkannya" jelas dokter Steve.


"tapi Parish bisa merasakan sekitarnya dok ?" tanya Marsha antusias.


"iya dia bisa merasakan sekitarnya. Tadinya dengan sehari aku membiarkan dia istirahat, dia akan bangun. Tapi aku salah, dia tidak bereaksi" dokter Steve menghela nafas panjang.


Dia frustasi, ini kasus baru baginya selama dia menjalani profesinya.


"biarkan kami masuk untuk Parish dok" ucap Marsha.


"iya, mulai hari ini kalian sudah boleh masuk. Mudah-mudahan kalian bisa memberikan dia motivasi untuk membuka matanya. Ajak dia bercerita tentang apa saja, agar memancing reaksinya" dokter Steve memandang Marsha.


Marsha mengangguk. Dia akan berusaha.


Dokter Steve menepuk pundak Marsha lalu pamit untuk memeriksa pasiennya yang lain. Tak lama suster yang tadi pun pamit menyusul dokter.


*


Marsha masuk kedalam ruang tempat Parish terbaring. Dia mengambil tempat duduk disisi kiri Parish dekat monitor.


"hai rose" ucap Marsha.


***

__ADS_1


__ADS_2