
Parish mengeliat. Perlahan dia membuka matanya. Ada rasa sakit disekitar pelipisnya, dia memijit daerah sekitar itu dengan ibu jarinya.
Aunty Lesly melihat nonanya sudah bangun segera menghampiri.
"syukurlah nona sudah bangun. Nona mau minum ?" tanya aunty Lesly.
Parish mengangguk.
Dengan segera aunty Lesly mengambil botol minum diatas meja dekat tempat tidur. Parish meminumnya lewat sedotan.
"Parish kenapa aunty ?" tanya Parish.
"nona mengalami shock karena ingatan nona yang perlahan kembali"
"jadi kita lama disini ? aku tidak mau lama dirumah sakit aunty" Parish merajuk.
"tidak nona, kita akan pulang begitu nona bangun. Dokter Neil bilang begitu" jelas aunty Lesly.
"dokter Neil ?!"
"itu dokter yang direkomendasikan oleh dokter Steve"
"ooo.. trus auncle mana ?" tanya Parish.
"auncle pulang sebentar" jawab aunty Lesly.
Dia kemudian berpikir sejenak. Marsha mana ya ? carinya dalam hati.
"Marsha ?!" goda aunty Lesly, sepertinya dia tahu apa yang dipikirkan nonanya.
Parish jadi salah tingkah. Sebenarnya dia mencari, cuma dia tidak punya kalimat yang tepat agar aunty tidak menyadari perasaannya.
"Marsha masih tidur, lebih tepatnya dia barusan tidur" aunty Lesly menunjuk sofa tamu.
Parish mengintip sedikit.
Cowok itu tertidur disana dengan kaki yang melewati batas sofa. Sangat tampan, puji Parish dalam hati.
"dia semalaman begadang menunggu nona bangun" ucap aunty Lesly.
Tiba-tiba Parish terpikir sesuatu.
"aunty, boleh aku minta peralatan mengambar ?" katanya.
"baiklah, aunty akan telfon auncle untuk membawanya" aunty Lesly tersenyum.
"terima kasih aunty" Parish senyum-senyum sendiri, dia sedang terpikir sesuatu.
*
Parish membuat sketsa Marsha yang sedang tidur pulas. Tampak sangat lelah tapi masih ganteng, tidak berkurang sedikit pun.
Parish hampir menyelesaikan sketsanya saat Marsha mulai mengeliat, terbangun dari tidurnya.
Dengan cepat Parish membereskan alat gambar kedalam laci, dia pura-pura tidur.
Marsha membuka matanya pelan.
Pandangannya langsung tertuju pada Parish.
Dia mendekatinya lalu meraih kursi disamping tempat tidur.
"selamat pagi Parish..." ucap Marsha, dia bicara sendiri.
Marsha lalu memperbaiki selimut Parish sebelum beranjak ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Parish membuka matanya. Dia terpikir untuk jahil. Sambil senyum-senyum sendiri, dia mengendap keluar kamar.
Diluar, Parish bertemu dengan auncle Tom dan aunty Lesly. Dia meletakan telunjuknya dimulut. Auncle Tom dan aunty Lesly mengangguk mengerti.
Marsha keluar dari kamar mandi.
Dia kaget Parish tidak berada di tempat tidurnya. Dengan bergegas di keluar kamar. Di pintu, dia bertemu auncle Tom dan aunty Lesly.
"ada apa Mars ?" tanya aunty Lesly.
"Parish tidak ada dikamar aunty" ujar Marsha.
Raut wajah aunty Lesly berubah.
"jadi nona kemana ?" aunty balas bertanya.
"aku akan mencarinya" Marsha berlari sepanjang koridor mencari Parish.
Sementara itu disudut koridor. Parish menutup mulutnya, agar dia tidak menimbulkan suara. Auncle Tom yang berada disampingnya hanya geleng kepala.
"kasian Marsha non" ucap auncle Tom.
"maaf auncle, ayo kita masuk" ajak Parish.
*
Marsha mencari diseluruh penjuru rumah sakit. Tapi dia belum menemukannya.
Ada pesan masuk. Marsha segera membuka pesannya.
Dari Parish..
kak Marsha kemana ?
Tulisan pesan Parish disertai dengan foto, dia ada diatas tempat tidurnya.
Marsha segera berlari menuju kamar perawatan Parish.
Dia menerobos masuk dan segera memeluk Parish. Dia tidak perduli kehadiran auncle Tom dan aunty Lesly ada disana.
"kamu dari mana ? aku takut sekali" katanya.
"aku tidak kemana-mana" jawab Parish.
"kamu yakin ?" Marsha memicingkan matanya. Dia tidak percaya tadi salah lihat.
Parish tersenyum. Dia menangkup wajah tampan Marsha dengan kedua tangannya.
"maaf kak, tadi aku jalan-jalan diluar" Parish memamerkan deretan gigi putihnya.
"lain kali kamu bilang aku dulu" balas Marsha.
"iya kak, sudah.. jangan marah, nanti gantengnya hilang" Parish mencoba bercanda.
"aku tidak mau kayak begitu lagi. Aku takut" ucap Marsha manyun.
Parish hanya bisa menahan ketawa. Muka Marsha lucu manyun begitu. Kayaknya baru kali ini dia melihat Marsha begitu. Dan cowok didepannya itu terang-terangan bilang kalau dia takut didepan auncle Tom dan aunty Lesly. Parish geleng-geleng kepala, bukan Marsha yang biasanya dia lihat secara diam-diam.
"iya kak maaf.... kita pulang yuk" ajak Parish.
Marsha mengangguk.
*
__ADS_1
Parish merebahkan diri di kasurnya.
Akhirnya bisa pulang kerumah. Ungkap hatinya.
Dia meraih ponselnya. Dia rindu si bintang-bintang.
Dengan segera dia melakukan panggilan Video.
"hai Rishhhhh" seru suara diseberang.
"huh pelan bintang-bintang, yang kurang itu ingatanku bukan pendengaranku !" gerutu Parish.
Starla hanya tertawa. Dia sekarang berada di koridor kampus. Tampak dia duduk di bangku depan kelas.
"iya maaf.. aku senang kamu baik-baik saja. Spanish bilang tentang kondisi kamu. Aku mau kesitu, Spanish bilang tidak perlu disitu ada kak Marsha" jelas Starla.
"sssttt !! jangan keras-keras sebut namanya, nanti fansnya dengar" ujar Parish meletakan telunjuk dibibir.
Starla memberi gerakan sedang mengunci mulut.
"iya tidak apa. Trus bagaimana keadaan disitu ?" tanya Parish.
Starla pun menceritakan kesehariannya di kampus tanpa Parish. Sepi katanya.
"tenanglah... aku akan cepat pulang" kata Parish.
"iya, trus... ada yang mau kamu ceritakan ?!" pancing Starla.
"ya ya ya... aku tahu kamu pasti penasaran" Parish tertawa.
"aku telfon saja ya, takut ada yang nguping" Parish tertawa.
"oke, aku mengerti"
Parish pun mematikan panggilannya dan menggantinya dengan panggilan suara.
Dia lalu menceritakan semua kejadian selama disini pada Starla. Dia mengungkapkan perlakuan Marsha kepadanya.
"Rish... kak Marsha kayaknya suka, aku kok merasa begitu ya" ujar Starla.
"aku merasakannya Star, tapi kan dia tidak bilang secara langsung. Hanya kode-kode begitu"
"ya ampun... itu bukan kode lagi, dia sudah bilang sampai mengabaikan kehadiran auncle dan aunty, masih kamu bilang kode ?! Cuma kamu saja yang nggak mau peka" Starla kesal, seandainya Parish ada didekatnya mungkin dia sudah mencubit pinggang sahabatnya itu.
"jadi aku harus bagaimana ?"
"ya ikuti prosesnya, sesuai yang kamu mau kan ?!"
"tapi... pernikahan ayah ?" Parish menerawang jauh.
Tidak ada suara. Starla memilih untuk tidak menjawab, karena dia sendiri bingung mau memberi solusi seperti apa.
"star.. kamu masih mendengarku ?" tanya Parish.
"iya Rish... maaf, aku belum tau" ucap Starla pelan.
"aku mengerti... sudahlah tidak usah dipikirkan. Aku mandi dulu ya" pamit Parish.
"iya bye Parish"
"bye Starla"
Telfon di tutup. Parish meletakan ponselnya lalu beranjak ke kamar mandi.
*
Setelah mandi, Parish menyelesaikan gambar Marsha yang sedang tidur di sofa tadi. Marsha begitu tampan. Gumam Parish dalam hati.
Dia memandang ulang hasil gambarnya.
Tadi awal dia memulai, ada rasa kaku begitu hendak menggoreskan penanya. Tapi setelah dia berusaha untuk kuat dan melawan rasa sakitnya, dia bisa.
Aneh dia rasa. Tangannya kalau untuk menulis lancar dengan sendirinya tapi untuk membuat sketsa, dia harus merasakan rasa ngilu yang menjalar diseluruh jemari tangannya.
Parish tidak mengerti tapi berusaha untuk tidak terlalu memikirkannya. Karena akan membuat kepalanya terasa sakit.
Ponsel Parish berdering. Panggilan video dari ayahnya.
"halo ayah...." seru Parish gembira.
Tampak terlihat ayah sedang berada di kantor.
"halo sayangku... bagaimana keadaanmu ?" tanya ayahnya sambil melonggarkan dasinya.
"Parish merasa lebih baik yah, ayah dimana ?" tanya Parish merasa asing dengan ruangan ayahnya. Bukan kantor ayah di RedRose city.
"ayah masih di hotel kita di laTulip City sayang. Ayah masih harus berkeliling beberapa minggu ini" jelas ayahnya.
"ayah jaga kesehatan.. jangan terlalu capek" Parish cemberut.
"iya sayang, ada Alex yang membantu ayah" Mark Mc. Milan tersenyum.
"Maaf tuan besar, Mr. Keneth sudah datang" ujar suara seseorang setelah tadi Parish mendengar ketukan pintu.
"iya, kamu siapkan semua berkasnya di ruang meeting. Aku akan kesana" jawab Mark Mc. Milan.
"kak Alex yah ?" tanya Parish.
Mark mengangguk seraya mengarahkan kamera kearah Alex.
"Parish mau bicara !" Parish pura-pura marah.
Ponsel Mark kini berada ditangan Alex.
"iya nona" jawab Alex sopan.
"kamu jaga ayah dengan baik, awas kalau ayah cape, telat makan... kamu akan aku hukum, di ikat di pohon sambil di kitik-kitik" Parish memperlihatkan wajah galaknya.
Raut wajah Alex berubah. Kitikan itu kelemahannya. Dan semua yang tinggal dirumah keluarga Mc. Milan tahu itu.
Dulu Spanish, Tobby, dan Rome bermain menangkapnya dan menahan tangan dan kakinya. Lalu the boss, siapa lagi kalau bukan si putri kesayangan Mark Mc. Milan mengelitik pinggangnya sampai dia menangis dan pipis dicelana.
Tuan besar datang menyuruh mereka melepaskan Alex lalu menghukum mereka berempat membersihkan kolam renang dan taman bunga.
Alex merasa diatas angin waktu itu karena tuan besar tidak membeda-bedakan dirinya dengan yang lain. Mereka seperti keluarga.
"sayang.... jangan menggoda Alex" Mark muncul dibelakang Alex.
Parish terkekeh. Dia menjulurkan lidah pada Alex.
"tapi aku serius kak, jaga pola makan ayah" Parish kembali bersikap biasa.
"iya nona siap laksanakan" balas Alex.
"ayah rapat dulu sayang, miss you" Mark melambaikan tangannya.
"miss you too" Parish membalas lambaian tangan ayahnya. Videocall dimatikan.
*
__ADS_1
Parish keluar dari kamarnya, dia ingin melihat pemandangan di taman dan kembali mengasah kemampuan yang baru dia coba lagi setelah sekian lama.
Didepan pintu dia bertemu dengan aunty Lesly, sepertinya aunty Lesly ingin kekamarnya.
"ada apa aunty ?" tanya Parish.
"ikut aunty" aunty Lesly menarik tangannya. Mereka menuju ke dapur.
Tampak disana, auncle Tom duduk manis menikmati kopinya sambil memperhatikan Marsha masak.
Cowok itu tampak begitu ahli di dapur.
Parish meletakan telunjuk di bibirnya pada auncle Tom yang menoleh kearahnya. Parish juga melakukan hal yang sama pada aunty Lesly.
Dia lalu duduk manis di sofa yang agak jauh dan terhalang punggung auncle Tom dan posisi aunty Lesly berdiri. Parish kembali membuat sketsa.
Aunty Lesly dari tadi memperhatikan tingkah nonanya. Nonanya sudah mulai lancar lagi menggambar seperti sebelum kecelakaan itu. Aunty memandang suaminya, mereka berdua bersyukur dengan perkembangan nonanya.
Marsha merasa dari tadi ada yang memperhatikannya. Tapi dia hanya melihat auncle Tom dan aunty Lesly, dia tidak melihat ada yang lain.
Marsha tidak tahu, Parish menarik dirinya tepat di belakang aunty Lesly yang berdiri di depan sofanya agak jauh dari auncle Tom.
"Parish belum turun juga, apa dia masih istirahat aunty ?" tanya Marsha, setahunya aunty tadi pergi mengecek nonanya karena Marsha mengambil alih dapurnya.
"aunty tidak tahu Mars, tidak ada jawaban" bohong aunty Lesly.
Parish hanya tertawa tanpa suara, aunty Lesly pintar akting. Sama seperti dirumah sakit, waktu auncle Tom takut ketahuan, aunty Lesly menyanggupi permintaannya untuk akting di depan Marsha.
"sedikit lagi supnya matang, semoga dia suka" Marsha tersenyum penuh harap.
"nona pasti suka, baunya saja enak begini" puji auncle Tom.
Parish menarik baju aunty Lesly, agar aunty Lesly melihat kearahnya.
"dia masak apa ?" bisiknya pada aunty Lesly.
"Marsha buat sup wortel favorit nona" aunty Lesly mengedipkan matanya.
Parish membentuk huruf O dimulutnya. Marsha masak untuk dia ?! sungguh bahagia, kenapa seperti mimpi yang jadi kenyataan untuknya. Perlakuan Marsha membuat dia terbuai.
"Parish ?!" Teriak Marsha dari arah dapur.
"ow ow ... ketahuan !" komen auncle Tom.
Aunty Lesly menggeser sedikit badannya agar Parish dapat terlihat jelas oleh Marsha.
Parish tersenyum seraya menyembunyikan buku sketsanya di balik punggungnya.
Parish tersenyum lebar pada Marsha.
"habisnya, aku datang... kakak cuek" Parish cemberut. Dia berusaha mengalihkan pembicaraan.
Auncle Tom dan aunty Lesly melongo heran, nonanya memanipulasi keadaan. Mereka geleng kepala.
Dan apa yang terjadi, Marsha minta maaf.
"maaf, aku tidak tahu kamu datang. Jangan marah ya" katanya.
Parish tersenyum senang. Kenapa Marsha jadi luluh begitu terhadapnya. Pikirnya heran tapi senang.
"sekarang kamu duduk disini, coba supnya sedikit. Selebihnya untuk nanti makan malam"
Parish duduk di meja makan setelah kursinya ditarik oleh Marsha.
Parish mengambil sesendok sup dan menikmati rasanya. Marsha duduk disebelahnya, menunggu komentar.
"bagaimana ?" tanyanya.
Parish mengerutkan wajahnya. Raut wajah Marsha berubah, begitu juga auncle Tom dan aunty Lesly. Mereka harap-harap cemas menunggu komentar.
Aunty Lesly langsung mengutuk dirinya, kenapa tadi dia tidak memberikan Marsha resepnya yang sudah familiar dilidah nona Parish. Marsha memakai resepnya sendiri, katanya itu resep neneknya.
"enak" Parish sumringah.
Mereka semua bernafas lega setelah mendengar komentar Parish.
Marsha hanya berharap tadi seleranya pas dilidah Parish, karena dia sudah membuat sup wortel itu sama persis dengan buatan neneknya.
"beneran ?!" Marsha masih tidak percaya.
"iya kak, sup buatan kakak enak" Parish lalu menghabiskan yang tersisa di mangkok.
"Baiklah, aku ketaman dulu. Bye semua" Parish mengambil peralatan menggambarnya di sofa lalu setengah berlari ke halaman belakang"
Marsha menangkap sekilas barang bawaan Parish. Buku sketsa dan satu set pena gambar. Apa Parish sudah bisa melukis lagi ?! Marsha bertanya-tanya dalam hati.
"aunty, auncle.. apa Parish..." belum sempat Marsha melanjutkan kata-katanya, aunty Lesly menyambung.
"iya sejak terbangun dirumah sakit, nona sudah mulai membuat sketsa" jawab aunty Lesly.
Marsha tersenyum senang. Dia ingin segera menyusul Parish ketaman dan melihatnya membuat sketsa. Tapi sebelumnya, dia mau mencuci mangkok yang tadi dipakai Parish. Marsha hendak membawa mangkok ke wastafel tapi aunty Lesly mencegahnya.
"biar aunty saja, kamu temani nona" kata aunty Lesly.
"terima kasih aunty" Marsha senang. Dia segera menyusul Parish menuju halaman belakang.
*
"aku merasa senang melihat nona Parish bahagia seperti itu" ucap aunty Lesly setelah Marsha menyusul Parish.
"iya nona menemukan keceriaannya" balas auncle Tom.
Aunty Lesly menuju wastafel. Dia mencuci mangkok bekas nonanya tadi. Sesekali dia memandang kosong.
Auncle Tom sangat mengerti istrinya, ada yang sedang dia pikirkannya.
"kenapa ? apa yang kamu pikirkan ?" tanya auncle Tom.
"mungkinkah mereka bisa jadi kekasih ? aku melihat mereka saling menyayangi dan saling melengkapi" ujar aunty Lesly.
"aku merasa itu tidak mungkin, orang tua mereka akan menikah" sahut auncle Tom.
Aunty Lesly menghela nafas panjang. Auncle Tom memegang bahu istrinya.
"sudahlah, jangan dipikirkan. Selama kita disini, kita biarkan saja mereka seperti itu. Mereka bisa saling menjaga. Aku percaya Marsha anak baik" ujar auncle Tom.
Aunty Lesly mengangguk.
"kamu senang ? kamu sangat menyayangi nona Parish seperti putrimu sendiri" Auncle Tom memeluk istrinya dari belakang.
"iya, tuan Mark dan mendiang nyonya menganggap kita sebagai keluarga. Mereka mempekerjakan kita tapi mereka memperlakukan kita layaknya keluarga. Aku bahagia jadi bagian keluarga ini" terang aunty Lesly.
"iya aku juga. Kita buat saja Parish bahagia, selama kita disini. Apapun yang terjadi nanti, kita harus hadapi" tanya auncle Tom.
"iya Tom" ucap aunty Lesly.
Kedua suami istri itu saling tersenyum. Mereka tahu kalau mereka sudah melangkah jauh dari pekerjaan mereka yaitu mendekatkan Marsha dan Parish tapi disisi lain, kebahagiaan Parish sangat penting untuk mereka saat ini. Apalagi mereka melihat senyuman bahagia itu ada karena Marsha. Hanya mereka tidak bisa untuk lebih, karena mereka akan menjadi saudara. Kalau saja tidak, mereka bisa menjadi kekasih yang bahagia. Pikir auncle Tom dan aunty Lesly.
Belum pernah Parish sebahagia begini semenjak ibunya meninggal. Dan mereka sangat merindukan Parish yang dulu.
__ADS_1
***