
Mark Mc. Milan mengajak Parish jalan-jalan di taman belakang rumah mereka. Menikmati pemandangan sekitar dari tepi kolam renang.
Parish pun bermanja pada ayahnya. Dia dari tadi tidak lepas menggandeng tangan ayahnya.
Mark berhenti di taman bunga mawar beraneka warna yang terdapat papan dengan tulisan 'ParishRose'.
Taman ini milik Parish, dia yang menata dan merawat bunga-bunganya. Dan tentu saja dengan bantuan Hazel, pekerja urusan luar rumah alias bagian taman dan halaman sekitarnya.
"kamu sama seperti ibumu, sangat menyukai mawar" ucap Mark.
Parish mengangguk. Ayahnya sudah berkali-kali bilang seperti itu, bahkan orang yang mengenal dirinya pun selalu bilang begitu.
Kata mereka, Parish mewarisi wajah dan sifat ibunya. Cantik, baik hati, ramah, selalu senyum, ceria, lemah lembut, dan anggun bersahaja.
Parish kadang berpikir, ibunya sempurna sekali. Dia tidak yakin memiliki hampir semua sifat ibu. Karena dia tidak bisa ingat bagaimana ibunya.
Dia melupakannya.
Kalau dia mengingat memory yang terlupa tentang ibunya, dia hanya bisa menangis sambil memandang foto ibunya.
"Parish biasa saja yah. Ibu terlalu sempurna. Orang-orang yang Parish temui selalu membanggakan ibu, tapi Parish saja lupa bagaimana ibu" ucap Parish sedih.
Mark memeluk putrinya. Air matanya juga menetes. Dia kembali teringat mendiang istrinya yang teramat dia cintai.
"kamu mau ingat ibu ?" tanya Mark.
Parish melepaskan pelukan ayahnya. Dia tidak mengerti maksudnya.
"pergilah ke tempat ibu, nikmati waktumu disana. Mudah-mudahan ingatanmu cepat pulih disana" ucap Mark.
"aku ke RedRose utara yah ?" tanya Parish meyakinkan dirinya. Karena setahunya ayah tidak betah berlama-lama disana. Mereka datang kesana hanya untuk mengunjungi makam ibu, istirahat sebentar dirumah lama terus pulang kesini lagi. Begitu terus saja setiap tahunnya.
Parish kadang merasa komplain tapi Spanish selalu bilang mereka harus mengerti tentang kesedihan ayah, terlalu banyak kenangan ibu disana.
"iya sayang, kalau kamu mau ayah akan persiapkan semuanya" ujar Mark.
"aku mau yah. Kapan kita pergi ?" tanyanya.
Mark menggeleng.
"ayah ada pekerjaan yang harus ayah urus. Kamu yang akan pergi ditemani auncle Tom dan aunty Lesly serta satu orang pengawal" kata Mark.
"pengawal ?! orang asing ? aku tidak mau" Parish memasang tampang cemberut.
Entah kenapa, dia selalu merasa tidak nyaman dengan pengawalan oleh orang yang tidak dikenalnya, setidaknya orang itu harus terbiasa say hello dengan dirinya terlebih dulu.
"tenang sayang.. ayah sudah pikir kamu pasti akan begitu. Tenang, kamu mengenalnya" Mark tersenyum.
"siapa yah ?" tanya Parish.
"nanti kamu akan tahu sayang" ucap Mark.
Hampir saja dia ingin bilang orangnya, untung Spanish sudah memberitahu dirinya untuk jangan bilang dulu kalau Marsha yang akan pergi dengan Parish. Biar jadi kejutan untuk Parish.
Mark berpikir tidak ada salahnya memberi kejutan pada Parish, toh nantinya mereka akan menjadi kakak dan adik. Supaya mereka lebih akrab lagi.
Karena dia melihat, akhir-akhir ini Marsha dan Parish sangat akrab.
"baiklah... yang penting bukan orang asing" tegas Parish.
"bukan sayang... sini peluk ayah" kata Mark seraya memeluk putri kesayangannya.
"Ayah sangat menyayangimu" ucap Mark Mc. Milan.
"kak Spanish yah, bagaimana ?" tanya Parish mendongkak melihat wajah Ayahnya.
"sedikit" ucap Mark Mc. Milan seraya tertawa.
Parish pun ikut tertawa bersama Ayahnya.
*
Sementara itu di kamar Spanish...
Spanish melihat ayahnya dan Parish di taman belakang melalui jendela kamarnya.
Dia tahu maksud ayahnya mengajak Parish jalan-jalan di taman.
Dan untungnya lagi, dia sudah meminta ayahnya untuk tidak memberitahu Parish kalau Marsha akan ikut bersama Parish.
Spanish khawatir, kalau Parish tahu dia tidak akan mau pergi karena tujuannya sekarang adalah menjauh dari Marsha.
Hanya saja Spanish tidak punya pilihan lain, Parish akan lebih aman pergi dengan Marsha dibanding yang lain. Karena dia sangat mengenal Marsha, Marsha akan menjaga Parish dengan baik sama seperti dirinya.
"maafkan kakak Rish... kakak merusak pertahananmu" ucap Spanish.
*
Auncle Tom sudah bersiap-siap disamping mobil keluarga Mc. Milan bersama istrinya. Mereka memakai baju dengan warna yang senada, merah marun.
Sementara Tobby dan Rome membantu memasukan barang-barang bawaan kedalam mobil.
Spanish dan Mark Mc. Milan menunggu Parish turun dari kamarnya di teras sambil melihat persiapan menginap selama seminggu Parish di RedRose utara.
Tidak lama, Parish keluar dengan didampingi Starla. Sebenarnya Starla ingin ikut, karena dia belum pernah sekalipun ke RedRose utara. Tapi karena jadwal perkuliahan yang padat, dia tidak bisa izin. Beda dengan Parish, karena alasan kesehatan maka ayahnya mengajukan cuti untuk putrinya. Dan siapa yang bisa menolak permintaan donatur terkaya se kota RedRose itu.
"kita tunggu satu orang lagi" ucap Mark pada mereka semua setelah Tobby dan Rome selesai memasukan barang kedalam bagasi mobil.
Mark melirik jam tangannya. Tidak biasanya anak itu datang terlambat. Gumamnya dalam hati.
"dia sudah dalam perjalanan kesini yah" sahut Spanish seakan tahu apa yang sedang dipikirkan ayahnya.
Mark Mc. Milan mengangguk.
Sebuah motor racing warna merah menyala masuk melewati pintu gerbang yang terbuka lebar. Semua mata tertuju pada pengemudi di balik helm warna hitam pekat itu.
"kak Marsha ?!" ucap Parish.
__ADS_1
Dia tidak percaya. Pengawal yang dimaksud ayahnya itu adalah Marsha. Parish sontak menggelengkan kepalanya. Dia terlihat pasrah.
Starla memandang Spanish, pantas saja Spanish tidak memberitahunya siapa pengawal yang akan ikut Parish. Starla geleng kepala. Sementara Spanish yang berada disebelahnya hanya tersenyum.
"tapi kak.." bisik Starla pada Spanish.
"hanya dia yang kupercaya. Aku tidak mungkin membiarkan adikku pergi tanpa aku. Hanya Marsha yang bisa menggantikan aku menjaga Parish" ucap Spanish ditelinga Starla.
Starla sangat setuju dengan pendapat Spanish. Tapi bagaimana dengan perasaan Parish. Perasaan yang akan dibuat mati secara perlahan itu akan kembali tumbuh subur dan bisa mekar merekah indah selama mereka disana.
"maaf aku terlambat" ucap Marsha setelah memarkir motornya di pelataran parkir yang juga merangkap garasi rumah Mc. Milan.
"tidak apa Mars. Bagaimana, sudah siap ? lebih baik kalian berangkat sekarang" ujar Mark.
Mereka pun berpamitan.
"seminggu ini aku akan merindukanmu" ucap Starla seraya memeluk sahabatnya.
"hey, kan ada aku" sergah Spanish.
Mark memukul belakang pundak Spanish.
"kamu juga akan berangkat ke Sunflower untuk pertemuan" katanya.
"iya.." Spanish manyun.
"aku pergi dulu ayah, kak Spanish" pamit Parish seraya memeluk ayahnya dan Spanish bergantian.
"kamu hati-hati. Jaga diri" ucap Mark seraya mencium kening putrinya.
"Marsha akan menjagamu dengan baik" ucap Spanish seraya mencium pipi adiknya.
"iya kak" balas Parish sedikit lemah tapi mau bagaimana, ayah dan kakaknya percaya pada Marsha.
"kalian jaga rumah" ucap auncle Tom pada Tobby dan Rome.
"baik ayah. Serahkan pada kami" kata mereka bersamaan.
Auncle Tom dan aunty Lesly pun memeluk kedua putranya.
"jaga adikku Mars" Spanish menghampiri Marsha.
"iya, percayakan padaku" Marsha tersenyum.
Mereka masuk kedalam mobil.
Sebenarnya auncle sudah bersiap untuk mengambil alih kemudi tapi Marsha menahannya. Sebagai yang lebih muda dari auncle, biarkan dia yang mengemudi. Kalau pun nanti dia merasa lelah, auncle boleh menggantikannya. Auncle Tom setuju.
Marsha duduk dikursi kemudi, auncle Tom disebelahnya, sementara Parish dan aunty Lesly dikursi belakang.
*
Mobil keluarga Mc. Milan melaju dengan kecepatan sedang menuju RedRose utara.
Kota yang memiliki kenangan indah untuk Marsha pada Rose alias Parish.
"tuan muda tahu kota RedRose utara ?" tanya auncle Tom.
Marsha gugup.
Dia janji pada mama Jade untuk tidak mengungkit tentang jati diri mereka pernah tinggal di RedRose utara karena itu bisa dimanfaatkan oleh orang jahat yang mengincar dirinya.
Tapi yang bertanya bukan orang jahat, melainkan orang kepercayaan keluarga Parish.
Hanya saja Marsha sudah berjanji untuk mengikuti perkataan mamanya. Untuk lebih berhati-hati. Batin Marsha.
"aku pernah kesini beberapa kali mengantar pesanan bunga auncle" jawab Marsha berbohong, pandangannya tetap fokus mengemudi.
"ooo begitu, pantas tuan muda hafal jalannya" sahut auncle Tom.
"maaf auncle, bisakah auncle memanggil Marsha saja ? aku risih mendengar panggilan itu" ucap Marsha.
"tapi nanti kamu akan menjadi tuan muda kami" balas auncle.
"iya, tapi tetap panggil aku Marsha saja. Aku mohon auncle" kata Marsha melihat sekilas auncle Tom.
"baiklah Marsha"
"terima kasih auncle"
Marsha mengintip sedikit dari kaca. Tampak Parish tertidur dipelukan aunty Lesly.
"tampaknya nona kita sudah lelah ya aunty ?" ujar Marsha.
"iya, nona Parish gampang tertidur kalau perjalanan jauh naik mobil. Dan lebih sukanya kalau tidurnya dipeluk begini" terang aunty Lesly.
"kalau di perjalanan yang biasanya memeluk Parish dalam keadaan tertidur siapa aunty ?" tanya Marsha untuk lebih mengakrabkan diri pada kedua orang kepercayaan Parish dan keluarganya ini.
"ya tergantung lagi maunya dengan siapa" jawab aunty Lesly.
"tapi lebih banyak pada tuan besar, kadang tuan muda Spanish dan nona Parish sering manja bersama. Nona Parish di pelukan ayahnya, sedangkan tuan muda Spanish di paha ayahnya. Jadi biasanya kami pergi, tuan besar mengambil tempat duduk ditengah. Tuan besar sangat menyayangi mereka berdua" jelas auncle seraya menoleh kebelakang melihat nonanya yang tertidur dalam pelukan istrinya.
Marsha mangut.
Dia juga sangat menyayangi Parish. Ungkap hatinya.
*
Sekitar hampir empat jam mengemudi yang diselingi singgah makan di rumah makan pinggir jalan serta membeli minuman dan makanan kecil di minimarket, akhirnya mereka sampai juga di rumah lama keluarga Mc. Milan kota RedRose utara.
Agar tidak menimbulkan kecurigaan auncle Tom dan aunty Lesly serta Parish yang sudah terbangun, Marsha berkali kali bertanya tentang arah tujuan mereka. Dengan sigap, auncle Tom menunjukan arahnya sampai mereka tiba di rumah ini.
Penjaga rumah membuka pintu gerbang.
Tiba-tiba Marsha merasa gugup. Dia pernah satu kali kesini, jangan sampai penjaga rumah mengenalinya. Ucapnya dalam hati. Tidak hentinya dia berdoa, jangan sampai merusak momentnya.
Mereka turun dari dalam mobil.
__ADS_1
"hai Frey, bagaimana kabarmu ?" tanya auncle Tom menyapa si pembuka pintu gerbang. Usianya hampir sama dengan Marsha dan Spanish.
"baik auncle.. tuan besar menghubungiku bahwa kalian sudah di perjalanan. Adikku Grey sedang bersih-bersih didalam" jelas yang dipanggil Frey itu.
"selamat sore nona Parish Mc. Milan" sapa Frey membungkuk hormat.
"sore kak Frey" balas Parish.
"selamat datang kembali di rumah lama" ujar Frey.
Parish hanya tersenyum.
Grey keluar dari dalam rumah dengan terburu-buru. Dia membungkuk hormat pada nonanya.
"sudah selesai kak Grey ?" tanya Parish.
"sudah nona, silahkan beristirahat" ucap Grey.
Tanpa menunggu lagi, Parish masuk kedalam dengan diikuti aunty Lesly.
Marsha hanya menatap Parish yang berlalu.
Auncle Tom menepuk pundaknya, seakan tahu apa yang sedang dipikirkan Marsha.
"mungkin nona kecapean" ujar auncle Tom.
auncle Tom lalu memperkenalkan Marsha kepada Frey dan Grey. Dia memperkenalkan Marsha sebagai putra nyonya Jade, calon anak tuan besar mereka dan sekaligus sahabat Spanish, tuan muda mereka.
Frey dan Grey membungkuk hormat. Marsha membalas mereka dengan tersenyum.
Marsha melihat sikap mereka biasa saja, berarti mereka tidak ada yang mengenalinya. Mudah-mudahan seperti itu.
*
Marsha merebahkan badannya di tempat tidur. Setelah tadi mandi, lalu mengirim pesan kepada mamanya, dia ingin beristirahat sebentar.
Baru saja dia memejamkan matanya, ponselnya berdering. Nama Kevin tertulis disana.
"iya kak"
"kamu sudah sampai ?" suara Kevin diseberang sana.
"iya kak, aku baru sampai sejam yang lalu" ucapnya seraya memijit pelipisnya.
"istirahatlah... aku akan mengawasi kamu dari jauh"
Marsha mengangguk mengerti. Suatu anggukan yang tidak dilihat Kevin diseberang sana.
Pasti mama Jade yang meminta Kevin untuk melakukannya. Dan pastinya, Kevin akan selalu mematuhi apapun perintah dari keluarga Shannon. Baginya amanat tuan Shane adalah suatu pegangan hidup.
"Mars, kamu masih mendengarku ?" suara Kevin.
"iya kak, terima kasih tapi aku mohon jangan sampai identitasku diketahui oleh mereka sampai ingatan Parish pulih"
"iya, kamu tenang saja. Aku tutup dulu"
"iya kak"
Telfon diseberang sudah dimatikan.
Marsha kembali ingin memejamkan matanya, tapi lagi-lagi tidak jadi.
Terdengar suara ketukan pintu.
"iya" ucap Marsha seraya membuka pintu.
Dia sedikit kaget, melihat sosok Parish berdiri didepan pintunya.
"makan malam sudah siap" kata Parish lalu beranjak pergi.
Belum sempat Marsha berkata, Parish sudah menghilang menuruni tangga.
Marsha hanya bisa menghela nafas.
Sabar, ada apa lagi ini ? ucapnya dalam hati.
Dia pun mengambil ponselnya lalu bergegas turun kelantai bawah, makan malam bersama Parish.
*
Makan malam terasa sunyi.
Baik Marsha dan Parish tidak ada yang memulai pembicaraan.
Auncle Tom dan aunty Lesly yang makan malam bersama mereka hanya saling pandang lalu saling mengangkat bahu.
Marsha duduk di kursi utama, tempat Mark Mc. Milan biasanya duduk untuk makan malam. Parish sendiri yang meminta Marsha untuk duduk disitu.
Parish sendiri duduk disisi sebelah kanan Marsha. Dan auncle Tom dan aunty Lesly disisi kiri Marsha.
"nona mau tambah sayurnya ?" tanya aunty Lesly.
Parish hanya menggeleng.
"kamu Mars ?" tanya auncle Tom.
Marsha juga bersikap sama, dia menggelengkan kepala lalu mengambil air minum. Dia meminumnya sampai habis.
Marsha merasa kesal dengan situasi seperti ini. Dan kenapa Parish seakan memancing kembali kejadian lalu, dimana dia mendiamkannya.
"aku duluan ke kamar auncle, aunty" kata Marsha. Dia tidak menyebut nama Parish.
Parish terhenyak. Dia kaget Marsha berlalu tanpa menyebut namanya bahkan tanpa melihat kearahnya. Dia merasa bersalah.
"nona ada masalah dengan Marsha ?" tanya aunty Lesly hati-hati.
Parish lagi-lagi hanya menggeleng. Dia tidak mungkin bilang yang sebenarnya tentang gejolak hatinya sekarang.
__ADS_1
***