Ada Mars Di Ruang Hati Parish

Ada Mars Di Ruang Hati Parish
Part 39


__ADS_3

Dalam perjalanan menuju rumah Mc. Milan ...


Parish duduk di kursi belakang bersama Aarsya. Spanish duduk di sebelah Marsha yang fokus mengemudi. Bocah 5 tahun yang duduk disebelah Parish memandang keluar jendela. Dia tampak menikmati pemandangan malamnya.


"Aarsya nanti bisa pilih, tidur dengan tante Parish, om Spanish atau dengan kak Venus. Kak Venus itu adik kami, dia bisa jadi teman Aarsya nantinya" jelas Parish lembut.


Aarsya mengangguk pelan, "iya tante, kata mama, Aarsya harus nurut dan jangan nakal. Besok Aarsya akan ketemu mama lagi di rumah sakit tapi tetap tidurnya belum bisa sama mama" ucapnya dengan terbata-bata.


"anak pintar, iya sayang... kalau Aarsya perlu apa-apa jangan ragu untuk bilang ya. Nanti kami semua akan bantu Aarsya" jelas Spanish.


"iya om Spanish, tenang om.. Aarsya kan jagoan !" serunya.


Spanish mengusap kepalanya Aarsya.


Parish memeluk Aarsya dengan sayang.


Marsha memandangi mereka sekilas dari spion.


"dia sudah mulai akrab dengan kamu sayang" kata Marsha.


"iya, adik aku sudah cocok jadi ibu" sahut Spanish.


"aku akan berusaha menjadi yang terbaik untuk kalian semua" ucap Parish seraya tersenyum.


"love youuuu" sahut Marsha dengan aksen yang dibuat-buat.


"love you too" balas Parish memamerkan senyum manisnya.


"huhhhhh ingat, disini ada anak kecil. Jangan lebay !" sergah Spanish.


"hmmm bilang saja kakak iri" Parish menjulurkan lidahnya.


Spanish membalas hal yang sama pada adiknya.


*


Semua berkumpul diruang keluarga.


Spanish meminta izin sekaligus memberitahu ayah Mark kalau Aarsya akan menginap dirumah mereka selama Sasya menemani Aaron di rumah sakit.


Venus juga tampak senang, karena dia punya teman yang tidak beda jauh umurnya di dalam rumah. Yang katanya bisa dia ajak main setiap saat.


Semua tertawa maklum.


Karena selama ini, Venus keluar rumah hanya untuk sekolah dan eskul saja. Selebihnya dia habiskan di rumah bersama keluarga.


Keluarga dengan banyak orang dewasa.


"kamu tidur sama aku ya ?" ujar Venus pada Aarsya.


"eits, Aarsya tidur sama kakak" sahut Spanish.


"ihhhh Aarsya tidurnya sama aku" balas Parish.


Marsha yang tahu kalau Parish dan Spanish menggoda Venus juga ikut bilang kalau Aarsya akan dia bawa ke rumah Shannon untuk menemaninya. Sontak saja Venus langsung memandang mama Jade minta bantuan.


"mama tidak bisa bilang apa-apa sayang, semua terserah Aarsya" sahut mama Jade.


"Aarsya sama aku kan ya" Parish mengenggam tangan Aarsya.


"Aarsya tidur dengan kak Venus saja, tadi tante Parish dan om Spanish sudah bilang begitu" jawab Aarsya polos.


"kakaaaaaaakkkk kalian menggodaku" Venus cemberut.


Semua tertawa.


Ayah Mark memeluk Venus dengan sayang, "maafkan kakak-kakakmu boss kecil" katanya.


"mereka selalu begitu yah" kata Venus merajuk.


"ya sudah.. besok kak Parish mau beli es cream, kayaknya jatah Aarsya dobel" Parish melirik kearah Venus.


"ayaaaahhhh" Venus memandang ayah Mark.


"sayang..." tegur ayah Mark memandang Parish.


Parish tersenyum senang, "kalau dalam waktu 5 menit dia tidak memelukku, aku tdk akan berubah pikiran" katanya.


Venus berlari kecil menghampiri Parish dan memeluknya, "aku sayang kakak cantik" katanya.


"demi es cream ?" tanya Parish.


"tidak, demi hatiku" kata Venus.


"manis sekali...." Parish memeluk Venus erat.


"ehem !" Marsha menyikut lengan Parish.


"iya iya, kamu juga manis" sahut Parish melirik Marsha.


Marsha yang duduk disebelah Parish memeluk Parish yang sementara memeluk Venus.


Semua hanya tersenyum, geleng-geleng kepala melihatnya.


Marsha bersikap manja seperti Venus, padahal selama ini Marsha jarang memperlihatkan sisi itu pada siapapun. Marsha membangun kesan dingin pada orang lain.


Bahkan waktu Parish di culik, dia memperlihatkan sisi rapuhnya didepan keluarganya.


Hal itu membuat ayah Mark dan Spanish sangat yakin kalau Marsha sangat mencintai Parish.


*


Parish mengantar Marsha menuju motornya.


Setelah mereka menidurkan Aarsya di kamar Venus, Marsha pamit pulang.


"kamu istirahat ya, aku tidak mau kamu capek" kata Marsha.


Parish mengangguk, "iya sayang, kamu juga fokus bawa motornya" katanya.


"iya sayangku" ucap Marsha seraya mencium kening Parish.


Parish tersenyum lalu mencium pipi Marsha.


Marsha meraih helmnya, memakainya lalu memegang pipi Parish "aku pulang dulu sayang" pamitnya.


"iya sayang" Parish tersenyum.


Motor Marsha melaju keluar dari gerbang yang di buka oleh Rome.


Parish melambaikan tangan pada Rome yang sedang menutup gerbang setelah Marsha keluar, Rome membalasnya dengan membungkuk hormat.


Parish tersenyum lalu masuk kedalam rumah.


*


Kondisi Aaron belum menunjukan kemajuan yang berarti. Sudah tiga hari dia dirawat dirumah sakit. Dan sudah dua hari Sasya menemaninya dirumah sakit.


Tiap hari Spanish, Starla, Marsha dan Parish datang membawa Aarsya untuk menemani Sasya dan menjemputnya menjelang jam 10 malam untuk kembali kerumah Mc. Milan.


Venus dan Aarsya sudah tampak akrab bak kakak adik.


"kamu makan dulu Sya" ujar Parish menyerahkan kotak makanan pada Sasya.


"terima kasih Rish, Aarsya kamu makan sama mama yuk" ajak Sasya.


"maaf ma, tadi Aarsya sudah makan siang dengan kak Venus sambil menunggu tante Parish datang" jawab Aarsya.


"ooo baiklah" sahut Sasya.


"maaf ya Sya, tadi Venus memaksa minta ditemani makan jadinya Aarsya tidak bisa makan bareng kamu" sahut Parish.


"tidak apa Rish, maaf ya kalau aku merepotkan kamu dan keluargamu" ucap Sasya.


"jangan bicara begitu Sya, kami semua tidak ada yang merasa direpotkan. Semua sayang pada Aarsya" jelas Parish.


"dia dari tadi cerita tentang Venus terus, sepertinya mereka berteman baik" kata Sasya sambil menikmati makanannya.


"iya, Venus sangat senang punya teman main. Maaf ya Sya, kalau pagi aku ke kampus terpaksa menitipkan Aarsya pada aunty Lesly dirumah"


"iya tidak apa Rish, aku mengerti" Sasya tersenyum.


*


Tuan Carter dan nyonya Nichole terkejut melihat keberadaan Sasya di rumah sakit.


Spanish menghampiri tuan Carter dan mengajaknya berbicara agak jauh dari mereka.


Nyonya Nichole mendekat pada Sasya, dia memegang pipi


Sasya "ini kamu ?" tanyanya tidak percaya.


Sasya mengangguk.


"sudah lama sekali sejak kejadian itu, kita tidak pernah bertemu. Maafkan aku, maafkan Aaron, maafkan keluarga kami" isak nyonya Nichole.


Sasya memeluk nyonya Nichole, "maafkan keluargaku juga tante, aku tidak bisa berbuat apa-apa" ucap Sasya.


"kami salah, Aaron memang pantas menerima hukumannya" sahut nyonya Nichole.


"maafkan aku, sebagai ayah aku ikut bertanggung jawab" tuan Carter menghampiri mereka. Dia memeluk Sasya begitu gadis itu melepaskan pelukannya dari nyonya Nichole.


Tampaknya kedua orang tua Aaron menyayangi Sasya. Parish sangat penasaran dengan itu.


"sayang, kenapa mereka begitu dekat ?" bisik Parish pada Marsha.


"nanti aku cerita sayang" balas Marsha sambil berbisik.


"mana dia ?" tanya Tuan Carter pada Sasya seraya melepaskan pelukannya.


Sasya menunjuk Aarsya yang tidur di sofa. Jelang sore, Aarsya tidur siang dan sampai sekarang belum bangun. Mereka juga tidak tega membangunkannya.

__ADS_1


Nyonya Nichole menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Dia tampak terkejut "dia sudah besar, kamu merawat dia dengan baik Sya" mata nyonya Nichole berkaca-kaca.


"iya tante, karena dia buah hatiku. Cintaku bersama Aaron. Hartaku yang paling berharga" ucap Sasya.


"sekarang apa kamu sudah siap memberitahu Aaron ?" tanya tuan Carter.


"iya om, maafkan aku karena meminta kalian untuk merahasiakan ini" ujar Sasya.


"kedua orang tuamu bagaimana ? apa mereka setuju dengan ini ?" tanya nyonya Nichole.


Sasya memandang Marsha seakan meminta bantuan untuk menjelaskan.


"Sasya keluar dari rumah itu begitu aku dan Parish memberitahunya tentang kondisi Aaron" sahut Marsha.


"apa ?" tuan Carter tidak percaya.


"mereka masih belum menerima kalau aku masih mencintai Aaron, semoga nanti mereka akan mengerti" ucap Sasya lirih.


Kedua orang tua Aaron memeluk Sasya. Mereka bertiga menangis. Marsha, Spanish, Starla dan parish pun ikut terharu melihat moment itu.


Tiba-tiba mereka mendengar bunyi kuat dan tidak beraturan dari alat dalam kamar perawatan yang hanya dibatasi dinding kaca dari ruang tamu dalam ruangan inap Aaron. Dengan segera Spanish dan Marsha masuk kedalam disusul yang lainnya.


Aaron kejang-kejang, Spanish menekan tombol darurat. Semua tampak khawatir.


"permisi, boleh keluar sebentar. Kami akan memeriksa pasien" dokter masuk dengan beberapa perawat.


Mereka pun kembali keruang tamu untuk membiarkan dokter memeriksa Aaron.


Sasya tampak gelisah, Parish menenangkannya.


Aarsya yang terbangun dari tidurnya memeluk mamanya, dia kaget melihat semua orang panik. Dia juga tampak asing dengan dua orang yang dari tadi melihat kearahnya.


"jagoan om kenapa ?" tanya Spanish menyadari perubahan raut wajah Aarsya.


"kenapa om, ada apa dengan orang itu ?" Aarsya menunjuk kearah Aaron yang sedang ditangani dokter.


"tidak apa sayang, dia akan baik-baik saja" ucap Spanish.


Sasya memperbaiki posisi duduknya. Dia meminta Aarsya untuk berdiri dengan posisi menghadapnya.


"sayang, kamu ingin bertemu papa ?" tanyanya pada Aarsya.


Aarsya mengangguk, "kata mama, Papa Aarsya pergi jauh" katanya.


"iya, tapi papa Aarsya mencari kita" jawab Sasya.


"jangan biarkan papa menunggu ma" ucap Aarsya dengan polosnya.


Sasya menangis, "iya sayang, maafkan mama membuat papa dan kamu menunggu"


"mana papa ma ?" tanya Aarsya.


Sasya menunjuk kearah Aaron, "dia papa kamu, dia yang selama ini Aarsya nanti" katanya.


"papaaaaaa" Aarsya berlari menuju kearah Aaron tapi Marsha menangkapnya.


"papa Aarsya masih ditangani dokter, kita tunggu dulu ya sayang" kata Marsha.


Aarsya mengangguk lalu memeluk Marsha. Dari awal mereka datang, mamanya cuma memberitahu kalau ada temannya yang sakit dan mamanya harus merawatnya. Dan Aarsya yang masih kecil percaya dengan cerita itu.


Kedua orang tua Aaron menghampiri Aarsya. Mereka begitu merindukan cucu mereka, "Aarsya, ini kakek dan nenek" kata tuan Carter.


Aarsya melihat pada mamanya, Sasya mengangguk. Bocah 5 tahun itu pun melepaskan pelukannnya pada Marsha dan memeluk kakek dan neneknya bersamaan.


Lagi-lagi Parish mengusap air matanya karena terharu. Marsha yang berada disebelahnya mengusap punggungnya. Dia juga ikut terharu.


Selama ini, Marsha dan Spanish menjaga Sasya dari pemberitaan media karena Sasya salah satu anggota club mereka. Dan sebagai anak pemilik club, menjaga privasi Sasya sebagai korban. Dari sejak itu mereka bertiga menjadi sahabat. Mereka berdua selalu ada di masa sulit Sasya mengandung Aarsya. Dan begitu bayi tampan itu lahir, mereka berdua menganggap Aarsya seperti anak sendiri.


Kini Sasya sudah mantap dengan keputusan hatinya untuk kembali memberi kesempatan pada Aaron bertanggung jawab pada dirinya dan anak mereka. Sebagai sahabat, Spanish dan Marsha mendukung keputusan Sasya.


*


Parish bersandar pada dada Marsha, dia tampak lega sekarang. Jelang hari pernikahan mereka, orang-orang disekitar mereka juga ikut merasakan bahagianya.


Parish terus mengingat raut wajah bahagia Sasya sewaktu mendengar masa kritis Aaron sudah lewat. Aaron akan segera sadar, tinggal menunggu waktunya saja.


Sasya membisikan sesuatu pada Parish, Kalau dia akan meraih bahagianya. Dia tidak akan melepaskannya lagi.


Hal yang sama diminta Sasya pada Parish, kelak apapun yang terjadi, Parish hanya fokus pada Marsha saja. Jangan melepaskan kebahagiaannya karena itu sama dengan kehancuran bagi diri kita sendiri.


Parish mengangguk.


"sayang, kamu belum cerita kenapa orang tua Aaron sudah sedekat itu dengan Sasya" Parish memandang Marsha.


"Sasya itu terlalu menunjukan kalau dia menyukai Aaron sampai dia menemui Aaron dirumahnya. Dia membawakan makanan, memasak disana, sehingga orang tua Aaron mengenalnya. Dan mereka menyukainya karena seperti mempunyai putri dalam rumah. Aaron itu anak tunggal" jelas Marsha.


Parish mengangguk mengerti.


"sayang, lusa kita akan berangkat ke RedRose Utara. Kak Kevin sudah ikut mengatur semuanya bersama Kenzo EO. Tapi.. kamu akan sedikit kecewa sekarang sayang" ujar Marsha.


"ada apa ?" Parish memperbaiki posisi duduknya.


"baiklah, tidak apa. Kita hanya harus menunggu sampai besok" Parish tersenyum.


Marsha mengangguk, "ada lagi yang mau kamu lakukan ?" tanyanya.


Parish menggeleng, "tidak ada, aku hanya perlu mempersiapkan diri agar tidak gugup"


"kamu sudah sering bermain piano di depan umum, masih bisa gugup ?" tanya Marsha.


"itu kan dulu sayang, aku lupa bagaimana rasanya" sergah Parish.


"iya sayang, kamu tenang saja. Aku akan berusaha selalu ada untuk kamu" kata Marsha seraya mengusap kepala Parish.


"iya sayang, terima kasih" ucap Parish seraya mengusap pipi Marsha.


"trus kamu sudah terpikir honeymoon dimana ?" tanya Marsha.


"bukannya kita akan ke SakuraCity ? ada pameran disana" Parish balas tanya karena Spanish sudah pernah kasih tahu kalau selepas menikah, dia dan Marsha akan langsung ke SakuraCity untuk pekerjaan. Spanish minta maaf untuk itu, karena dirinya sudah terlanjur setuju dengan jadwalnya.


"bukan... iya, kita ke SakuraCity. Itu sayang, yang itu..." Marsha tampak gugup. Mukanya merah karena malu.


"apa sayang, kamu kenapa ?" tanya Parish tidak mengerti.


"itu sayang, kalau habis menikah.. malamnya itu...." Marsha menaikan alisnya dengan gerakan tambahan memonyongkan mulutnya.


"astaga sayang, kamu kepikiran itu" Parish menepuk jidatnya.


Marsha tersipu malu.


"malam pertama kita di kamar kamu di Restbarr" ucap Parish akhirnya.


Marsha kaget, dia sebenarnya ingin hal yang sama. Dia ingin kamar pengantin mereka di kamarnya di Restbarr bukan kamar Parish dirumah Mc. Milan.


"kamu serius, kamar pengantin kita di Restbarr ?!" Marsha tidak percaya.


"iya sayang, aku tahu kamu punya banyak kenangan dikamar itu tentang memorymu sama aku dari awal ketemu. Kamu sudah banyak ikut mauku, sekarang aku akan mengikuti maumu" jelas Parish.


"terima kasih sayang, terima kasih" ucap Marsha seraya memeluk Parish erat.


Parish membalas pelukan Marsha seraya berbisik, "terima kasih sudah mencintaiku dan tidak pernah menyerah"


"terima kasih sudah menerimaku" Marsha mengeratkan pelukannya.


Parish tersenyum.


*


Mereka semua bersiap masuk kedalam bis Mc. Milan Company. Mereka sengaja memilih menggunakan beberapa bis, supaya bisa memuat banyak orang. Termasuk para pekerja rumah Mc. Milan, karyawan Mc. Milan Company, karyawan Toko bunga mama Jade serta rekan team Marsha di Mc. Milan Otomotif.


"Rome, Tobby, Alex dan Hazel.. kalian bawa mobil" perintah ayah Mark.


"baik tuan besar" koor mereka.


Parish masuk kedalam bis yang berisi keluarga inti dan Auncle Tom dan aunty Lesly.


Parish duduk bersandar pada Marsha yang duduk disebelahnya, "tunggu ! kayaknya ada yang belum datang" dia teringat sesuatu.


Semua saling pandang.


Ayah Mark dan mama Jade duduk di bangku depan. Auncle Tom dan aunty Lesly di bangku seberangnya. Sedang Spanish dan Starla berseberangan dengan Venus. Lalu Marsha dan Parish dibelakang.


"kita sudah lengkap. Minny dan Megan ikut mobil. Siapa lagi ?" ujar Spanish.


"karyawan kakak sudah naik semua di bis ?" tanya Parish.


"iya, aku rasa demikian. Kenapa ?" Spanish balik tanya.


"Kesya !" koor Marsha dan Spanish.


Dengan segera Spanish mengambil ponselnya. Dia berusaha menghubungi sekretarisnya itu. Mereka sengaja mengharuskan Kesya untuk ikut mereka karena mereka ingin itu menjadi kejutan bagi Kevin yang tampaknya menaruh rasa sejak pertemuan pertamanya.


"key, kamu dimana ?" tanya Spanish.


"maaf tuan, aku sedikit terlambat. Aku lupa mengurus sesuatu tapi tenang, semua sudah beres" kata Kesya.


"trus kamu sudah dimana ? kalau kamu mau, bisa ikut mobil. Kami semua naik bis. Aku akan meminta mereka menunggu" kata Spanish.


"iya tuan, aku ikut mobil saja" sahut Kesya.


"baiklah, kami duluan ya. Kamu hati-hati"


"iya tuan, saya mengerti"


Spanish menutup telfonnya. Dia membuka jendela dan memanggil Alex untuk masuk kedalam bis.


"iya tuan muda" Alex datang menghampiri.


"kamu tunggu Kesya, dia sedang dalam perjalanan kesini. Kalian sama-sama berangkat dan ingat, jaga dia baik-baik. Jangan sampai lecet atau kamu akan menghadapi Kevin" Spanish mengingatkan.


"iya tuan muda, tenang" sahut Alex lalu melangkah keluar dari bis.

__ADS_1


"memangnya apa hubungan Kesya dengan Kevin ?" tanya mama Jade.


"hmmm mom seperti tidak mengerti saja, ya hubungan spesial mom" sahut ayah Mark menimpali.


"kayaknya mama tahu ini kerjaannya siapa, menyebarkan kebahagiaan kepada semua orang" mama Jade menoleh kearah Parish.


"mudah-mudahan mereka berjodoh ma" ujar Parish mengedipkan mata.


"Aamiin.. mama berharap juga sayang" balas mama Jade.


"kamu bahagia sekali dengan rencana ini sayang" bisik Marsha.


"iya sayang, karena aku menyayangi kak Kevin dan keluarganya sama seperti kamu. Mereka sangat berarti untuk kamu, aku ingin menjadi bagian dari mereka" jelas Parish sedikit berbisik.


"terima kasih sayangku, kamu sangat berarti untuk aku demi apapun didunia ini" ucap Marsha.


"kamu sekarang sudah mulai manis merayu ya, dulu kamu dingin kayak es cream" goda Parish.


"ya itu karena aku tidak tahu bagaimana lagi untuk menarik perhatianmu. Tapi kalau aku tahu kamu punya rasa yang sama, mungkin aku tidak akan menunggu lama untuk mencari cari dekati kamu" balas Marsha.


Parish tersenyum, dia memegang pipi Marsha dan mengusapnya lembut "aku bahagia punya kamu" ucapnya.


"terima kasih, aku janji akan selalu membahagiakan kamu" ucap Marsha seraya mengusap punggung tangan Parish yang berada di pipinya.


"dengan es cream ?" goda Parish.


"iya, tapi jangan banyak-banyak. Aku tidak mau kamu sakit" ucap Marsha.


"terima kasih sayang" Parish tersenyum.


*


Akhirnya sampai juga di RedRose Utara.


Bis keluarga inti langsung menuju rumah Mc. Milan. Sementara bis pekerja Mc. Milan Company dan sanak saudara menuju hotel Mc. Milan di kota RedRose Utara yang sudah di kosongkan dari orang luar yang ingin menginap karena akan digunakan untuk tempat istirahat para tamu undangan.


"dia tidur ya Mars" kata Spanish melihat Marsha belum beranjak dari duduknya karena Parish tertidur bersandar di lengannya.


"iya Nish, aku tidak tega bangunkan" sahut Marsha.


"ya sudah gendong saja kak" sahut Starla.


Marsha melepas tangannya dengan perlahan lalu menggendong Parish ala bridal turun dari bis, masuk dalam rumah langsung menuju kamar Parish.


Tampak kamar Parish mulai di dekorasi layaknya kamar pengantin.


"bukannya kami sudah sepakat kamar pengantinnya di Restbarr" pikir Marsha seraya melihat seluruh ruangan.


Marsha memilih untuk mengesampingkan itu dulu, dia membaringkan Parish di tempat tidur.


Marsha mengusap pipi Parish lalu mengecup keningnya, setelah itu beranjak keluar kamar dan menutup pintu. Di tangga dia bertemu auncle Tom yang membawa koper Parish.


"maaf auncle, aku baru saja mau mengambilnya" Marsha meraih koper Parish.


"tidak apa Mars, kamu sudah menggendong nona" ucap auncle Tom menepuk pundak Marsha.


Marsha tersipu malu lalu kembali kekamar Parish untuk memasukan kopernya.


Rupanya Parish terbangun, dia duduk bersila diatas tempat tidurnya.


"kamu terbangun sayang, maaf aku tidak hati-hati membaringkanmu" ucap Marsha seraya menyandarkan koper didepan lemari pakaian.


"mereka sudah persiapan menghias kamar ini sayang" Parish melihat sekelilingnya.


"iya, aku juga kaget begitu masuk tadi" Marsha duduk di tepi tempat tidur Parish.


"aku akan bicara pada bro Kenzo" Parish meraih ponselnya. Dia menghubungi Kenzo EO.


Parish berbicara sambil memandang Marsha. Tak lama dia menutup panggilannya.


"bro Kenzo bilang, kamar pengantin kita ada 2. Yang di Restbarr juga akan dihias sayang" jelas Parish.


Marsha tersenyum.


"sayang, apa kamu akan menginap disana ?" tanya Parish lirih.


Marsha menatap Parish, "kenapa sayang ?"


"aku tidak ingin jauh dari kamu sampai hari pernikahan kita. Kamu tinggal disini saja" pinta Parish.


"tapi sayang, kita dilarang bertemu dulu sebelum hari pernikahan kita. Tidak lama sayang, tinggal beberapa hari lagi. Aku akan sering menghubungimu" Marsha mengusap pipi Parish.


Parish mengangguk.


"aku pergi dulu, kamu baik-baik disini. Aku akan bersama kak Kevin disana, kamu jangan khawatir" kata Marsha.


"iya sayang" Parish memeluk Marsha erat.


Ingin rasanya Marsha memenuhi keinginan Parish tapi peraturan pernikahan yang telah disepakati bersama kedua orang tua mereka, bahwa mereka akan dipisahkan dulu jelang pernikahan agar mereka bisa saling menenangkan diri sampai hari pernikahan tiba.


*


Parish membuka matanya, pagi ini dia akan melakukan perawatan jelang pernikahan bersama mama Jade, Starla serta Kesya.


Dia meraih ponselnya di meja dekat tempat tidur. Ada pesan dari Marsha. Mulai hari ini sampai 3 hari kedepan mereka tidak akan bertemu.


Pagi sayangku.. hari ini kita akan perawatan bersama tapi tidak di izinkan bertemu. Huh aku rindu, tapi kak Kevin terus mengawasiku. Videocall juga dilarang 😔


Parish terlihat kecewa, mereka akan berada di tempat yang sama tapi tidak boleh bertemu.


Parish mengetik pesan membalas pesan Marsha.


Pagi juga sayangku...


Aku juga rindu.. tapi mama mengawasi aku, malah pengawalku bertambah. Ada Starla dan Kesya juga 😔


Tampak Marsha sedang mengetik. Parish menunggu.


Kamu siap2 ya, nanti aku cari cara bagaimana kita ketemu sebentar saja. Boleh ya..


Parish tersenyum.


Iya sayang, aku mandi dulu. Bye ❤


Marsha membalas


Iya sayang.. ❤


*


Mereka melakukan perawatan di Salon dan Spa hotel Mc. Milan. Dan ruangan mereka terpisah ujung koridor.


"pokoknya kalian tidak boleh ketemu, setelah ini kita pulang" kata mama Jade.


"maaaaa.. sebentar saja" rajuk Parish.


"nanti saja Rish, kalau sudah sah kan rindunya terobati tiap saat" balas Starla.


"bintang-bintang, kamu sahabatku atau bukan ? aku lagi rindu" Parish manyun.


"sabar nona, nanti juga nona ketemu Marsha setelah 3 hari" sahut Kesya.


"Kesyaaaaaa" Parish semakin galau, mereka bertiga menggodanya.


Mama Jade, Starla dan Kesya tertawa kecil melihat ekspresi kesal Parish. Padahal mereka hanya menggodanya, setelah ini akan ada kejutan untuk parish.


Tak lama, ponsel Parish berdering. Kevin mengirimkan sebuah foto. Tampak Marsha sedang tertidur menikmati pijat refleksi oleh terapis pria bersama Kevin dan Spanish.


Aku tahu kamu pasti rindu.. tahan dulu rindunya adik iparku, calon suamimu aman dengan aku.


Begitu bunyi pesan setelah foto.


Parish menghela nafas panjang, baiklah semuanya menjauhkan dia dari Marsha jelang pernikahan. Parish cemberut.


*


Parish terbangun, dia tertidur di kamar khusus untuk istirahat setelah terapi yang hanya berlaku untuk pemilik hotel dan keluarga.


"kamu sudah bangun, ganti baju trus pulang. Mama dan yang lain duluan. Kamu akan pulang bersama auncle, cepatlah" kata mama Jade.


Parish mengangguk. Dengan langkah malas, dia menuju ruang ganti.


"sayang..." Parish berlari memeluk Marsha.


Dia kaget begitu mendapati Marsha ada dalam kamar setelah dia keluar dari ruang ganti.


"aku merindukanmu" ucap Marsha memeluk Parish erat.


Parish mengangguk.


"mereka bilang, akan menunggu kita dirumah" kata Marsha.


"ternyata mereka baik pada kita" Parish tersenyum.


"kita pulang yuk, nanti kita lepas rindu dirumah" ajak Marsha.


Parish mengangguk. Mereka keluar dari kamar dengan berpegangan tangan.


Sebelum sampai rumah, mereka singgah sebentar beli es cream coklat favorit Parish. Marsha tahu betul cara memanjakan kekasihnya.


"terima kasih sayang, aku makan disini ya" pinta Parish.


"kita bawa pulang saja sayang, aku tidak mau mereka marah karena kita terlalu lama di luar. Kamu tahu sendiri mama terlalu khawatir sama kita" jelas Marsha sambil mengusap kepala Parish.


"baiklah, aku menurut sama kamu tapiiiii kita beli banyak ya untuk dibagi-bagi" Parish memamerkan senyum manisnya.


"iya sayang, apapun maumu" Marsha memegang pipi Parish lembut.


Setelah mendapatkan tambahan pesanan mereka, Marsha melajukan mobil Kevin pulang kerumah Mc. Milan.


***

__ADS_1


__ADS_2