
Marsha meraih jemari Parish.
Perlahan dia membelai wajah gadis pujaan hatinya itu. Sudah sangat lama Marsha ingin melakukan ini. Lama sekali, semenjak dia tahu kalau gadis yang dia cari selama ini benar adalah Parish.
Parish adalah Rose-nya.
"kamu harus bangun Rose... aku membutuhkanmu" ucap Marsha mempererat genggaman tangannya.
"kamu ingat, dulu kamu sering belanja di toko depan sekolah seni RedRose bagian utara. Aku pelayan toko itu... aku, anak lelaki yang tidak tahu diri itu. Yang diam-diam mencuri pandang padamu" lanjut Marsha.
Marsha mencium kedua tangan Parish.
"maafkan aku.. gara-gara aku, kamu jadi begini"
Pertahanan Marsha runtuh.
Air matanya jatuh.
Seorang Marsha yang selalu kuat, tenang dan dingin.. kini terlihat rapuh, kacau dan emosional.
Marsha mengeluarkan seluruh ungkapan rasa dalam hatinya.
*
RedRose bagian utara ...
Marsha di tarik paksa keluar dari dalam kelas oleh Maximiliano dan teman-temannya.
Marsha mencoba tenang karena tidak ingin mendapatkan hukuman lagi dari guru konseling.
Boss Hary dan Tuan Shane sudah mengingatkannya agar fokus pada pelajaran, bukan hal yang lain.
Teman-teman sekelasnya tidak bisa berbuat apa-apa untuk membantunya. Bahkan seluruh siswa sekolah ini hanya melihat mereka.
Tidak ada yang berani dengan Maximiliano dan ganknya.
Maximiliano anak pejabat di kota ini. Karena kedudukan ayahnya, Maximiliano merasa bebas berbuat semaunya pada orang lain.
"aku ingin kamu dipihakku Mars" katanya geram seraya menarik kasar kerah baju seragam Marsha.
"aku tidak mau melakukan apapun perintahmu. Urus saja urusanmu, jangan libatkan aku !!" Marsha menatap Maximiliano tajam.
Maximiliano melihat tidak ada ketakutan pada diri Marsha. Dia tidak berhasil mengintimidasinya. Membuatnya frustasi. Dia mengaruk kepalanya kasar.
"aaaahhhh kamu mau uang, kamu butuh berapa bilang !!!!" katanya memaksa.
"aku tidak mau" Marsha beranjak pergi.
"aku akan menyakiti gadis sekolah seni itu !!!" teriak Maximiliano.
Langkah Marsha terhenti. Bagaimana Maximiliano tahu tentang gadis itu.
Marsha berbalik, dia mendorong Maximiliano ketembok. Teman-temannya terkejut, tapi mereka takut melihat Marsha. Ada kemarahan yang terbaca pada kedua tatap mata Marsha.
"jangan pernah ganggu dia !! atau kamu akan sangat menyesal pernah berurusan denganku !!!" Marsha memperingatkan.
Maximiliano menepis tangan Marsha. Dia mendorong tangan Marsha, dia mencoba tenang dan baik-baik saja.
"ikuti mauku, aku akan melepaskannya" Maximiliano mengajukan syarat.
Marsha terdiam, dia bisa saja menolak tapi dia khawatir ancaman Maximiliano jadi kenyataan.
Gadis yang tidak ada hubungannya dengan masalah mereka jadi ikut terbawa.
"baik, tapi jangan pernah mendekati gadis itu" ucap Marsha akhirnya.
"baik, aku janji ! tengah malam nanti temui aku di sirkuit. Jangan terlambat" ucap Maximiliano menepuk pipi Marsha dengan telunjuknya.
Marsha hanya tersenyum sinis.
Setidaknya, gadis itu aman sekarang. Selama dia menuruti Maximiliano, maka dia tidak akan menyakitinya.
*
Marsha gelisah di parkiran Restbarr.
Hari ini pengunjungnya ramai, Marsha tidak bisa meninggalkan pekerjaannya.
Jam sudah hampir menunjukan pukul setengah dua belas malam. Dia harus segera bersiap menuju ke sirkuit, kalau tidak dia akan sangat terlambat.
Jarak Restbarr dan sirkuit balap ilegal milik Maximiliano sangat jauh.
"Mars, ada apa ?" tanya salah satu keamanan Restbarr menghampirinya.
"aku ada janji dengan teman bang, tapi aku tidak bisa pergi sekarang"
"hmmm urusan penting ?" selidik bang Neo, keamanan itu.
Marsha mengangguk.
Iya ini penting, karena menyangkut keselamatan gadisnya.
"pergilah, biar bang Neo yang melanjutkan pekerjaanmu" katanya menepuk pundak Marsha.
"tidak apa bang ?" tanya Marsha.
"sudah.. nanti abang yang akan laporan sama Tuan Shane" katanya meyakinkan.
"baik bang, terima kasih banyak" Ucap Marsha seraya bergegas menuju motor butut modifikasinya.
Marsha tahu dan mengerti tentang mesin motor dan mobil dengan berbagai modifikasinya. Itu yang membuat dia sangat mendapat perhatian di kalangan pembalap ilegal seperti Maximiliano.
__ADS_1
Maximiliano ingin memenangkan taruhan balap, dia memanfaatkan Marsha. Tapi Marsha tidak bisa menolak karena gadisnya terancam.
*
Marsha tiba di sirkuit lima belas menit lewat dari perjanjian.
Dia melihat Maximiliano menatapnya geram.
"kamu terlambat !" katanya seraya menarik baju Marsha.
Marsha mendorongnya.
"maaf, Restbarr sedang rame" hanya itu yang bisa Marsha ucapkan.
"aku sudah kehilangan tiga puluh juta. Dia kalah !" tunjuknya pada salah satu anak buahnya.
Marsha hanya menaikan alisnya.
Apa perdulinya, bukan urusannya.
"kamu harus mengembalikan uangku berkali lipat untuk menebus keterlambatanmu !!" Maximiliano memandang sinis.
Marsha teringat ancaman Maximiliano.
Dia akhirnya menurut saja.
*
Tuan Shane memukul meja kerjanya dengan keras.
Dia terlihat sangat marah.
Salah satu kepercayaannya telah melanggar larangannya. Dia tidak percaya orang itu adalah Marsha, yang sudah dianggapnya seperti anak sendiri.
"aku sudah bilang ! urus saja sekolahmu. Jangan bermain dengan bahaya. Tapi apa.. kejadian semalam buat aku marah Mars"
Marsha tertunduk.
Dia tahu dia salah. Tuan Shane memang bekerja di dunia malam yang sering terlibat masalah tapi dia tidak mau melibatkan Marsha didalamnya.
Dia tidak mau Marsha terlibat di dunia hitam seperti dirinya. Dia ingin Marsha mendapat yang lebih baik, karena dia melihat Marsha punya tekad bekerja keras seperti dirinya diusia seperti itu.
"maafkan aku Tuan, aku tidak punya pilihan" ucap Marsha.
Tuan Shane mendekat.
"kenapa ? ada banyak pilihan Mars, aku sudah bilang aku yang akan melindungimu. Kenapa kamu masih saja terlibat dengan berandalan itu. Mereka itu kriminal yang berseragam SMA !!" bentak Tuan Shane tepat di wajah Marsha.
"karena Max mengancam akan melukai temanku" sahut Marsha.
Tuan Shane melihat Marsha tajam.
"siapa ?"
"aku hanya mengenalnya bersekolah di sekolah seni. Kami bertemu di toko boss Hary"
Tuan Shane mengangguk mengerti.
"mulai besok aku akan mengawasi anak itu, agar dia aman. Tapi jauhi berandalan itu Mars, aku mendidikmu bukan untuk jadi berandalan tapi agar kamu sukses di bidang lain, bukan di duniaku sekarang ini" ujar Tuan Shane.
Marsha mengerti.
"maaf tuan, aku tidak akan mengulanginya lagi" ucap Marsha.
"sekarang kamu pergilah bekerja di toko, tapi ingat ! datang kerumahku sore hari untuk makan malam bersama. Istriku merindukan si kakak"
Marsha memandang Tuan Shane tidak mengerti. Ibu angkatnya merindukannya, dia biasa mendengarnya tapi 'si kakak' Marsha baru ini mendengarnya.
"kamu akan punya adik Mars" ucap Tuan Shane tersenyum.
Marsha senang, Tuan Shane akan mempunyai anak. Dia akan punya adik, meskipun bukan sekandung.
"aku akan segera menemui mama, aku tidak akan terlambat. Permisi tuan" Marsha pamit.
Marsha memenuhi janjinya.
Dia datang sekitar jam lima ke kediaman tuan Shane. Nyonya Jade langsung berlari kecil memeluk Marsha yang sudah dianggapnya sebagai putra pertama dikeluarganya. Sama seperti suaminya, nyonya Jade juga sangat menyayangi Marsha. Dia sedikit kecewa karena Marsha berkali-kali menolak untuk tinggal bersama mereka dirumah ini.
"bagaimana kabarmu ?" tanya nyonya Jade.
"baik nyonya, maaf. Mama.." Marsha segera meralat ucapannya.
Dari pertama bertemu, nyonya Jade tidak suka kalau Marsha memanggilnya sama seperti kepada suaminya.
Dia menganggap Marsha sebagai anak pertamanya, dia meminta dipanggil dengan sebutan mama.
Nyonya Jade tersenyum seraya menggandeng tangan Marsha duduk di sofa sambil menunggu suaminya datang dan mereka makan malam bersama seperti sebuah keluarga.
*
Maximiliano tidak terima Marsha keluar dari pekerjaannya sebagai teknisi untuk motor balapnya. Dia masih butuh Marsha agar dapat mengumpulkan uang lebih banyak dalam beberapa pertandingan balap ilegalnya.
Pengetahuan Marsha tentang mesin, bisa membuat motor balapnya terlihat berbeda dan kencang dalam sekali tarikan gas. Marsha benar-benar terbaik untuk seorang mekanik.
"aku sudah bilang, jangan membuatku marah Mars !" katanya.
"aku sudah mengikuti kemauanmu. Kita impas" kata Marsha.
"kita lihat, apa kau bisa menghentikanku. Gadismu akan pergi ke perlombaan hari ini. Apa kamu tidak ingin melihatnya ?!" Maximiliano segera naik keatas motornya yang sudah di modifikasi Marsha segalanya.
Marsha tidak bisa mencegah Maximiliano.
__ADS_1
Dengan segera Marsha menyusulnya.
*
"Motor Max melaju kencang kearah mobilmu, dan terjadilah peristiwa itu. Aku ada disana, aku mengikuti Max" Marsha menghela nafas.
Dia melihat tidak ada reaksi dari Parish. Gadis itu masih terbaring.
"aku membuka pintu mobilmu, aku melihat keadaan kalian sangat parah. Aku berupaya mencari pertolongan untuk membantumu dan ibumu keluar dari mobil" lanjut Marsha lagi.
*
Dengan bantuan orang-orang disekitar lokasi kecelakaan, Marsha membawa gadis itu dan ibunya kerumah sakit.
Marsha membawa tas yang dikenakan gadisnya.
Langkah Marsha terhenti. Kedua korban masuk kedalam ruang ICU. Marsha tidak diizinkan masuk.
Marsha pun duduk dibangku tunggu rumah sakit. Dia melihat para dokter dan suster keluar masuk ruangan ICU dengan terburu-buru.
Ada apa. Semoga semuanya baik-baik saja. Doanya.
Tanpa sengaja, dia melihat kedalam tas yang dibawanya. Ada beberapa buku sketsa disana. Marsha meraih salah satunya.
Dia membuka perlahan lembarannya, ada gambar rumah minimalis desain klasik eropa yang diterasnya dipenuhi oleh tatanan bunga mawar beraneka warna. Rupanya gadis itu sangat suka bunga mawar.
Dia melihat disudut kanan bawah lukisan tertulis 'Rose'. Marsha mengusap tulisan itu. Dia meyakini itu nama gadisnya.
"Mars, tuan Shane memanggilmu"
Marsha mendongkak.
Bodyguard tuan Shane datang menghampirinya.
"tapi temanku..." Marsha menolak.
"sebentar lagi keluarganya akan datang. Kami sudah mengurusnya" kata salah satunya.
Marsha mengangguk.
*
"aku terpaksa pulang dan lupa menitipkan tasmu. Asal kamu tau, aku memang tidak berniat untuk mengembalikannya karena aku ingin memilikinya" Marsha membelai rambut Parish.
"terima kasih sudah melukis aku diam-diam. Aku senang Rose, sangat senang" tangan Marsha turun mengusap pipi Parish.
*
Marsha duduk tertunduk diruang keluarga tuan Shane Shannon. Pikirannya masih tertuju pada keadaan gadisnya dirumah sakit.
Nyonya Jade duduk di kursi lain menemaninya. Sesekali nyonya Jade memperbaiki posisi duduknya agar nyaman. Maklum kondisinya yang sedang hamil, membuatnya sedikit tidak leluasa.
"Semua sudah siap. Besok kita akan pindah" tuan Shane berjalan menuruni tangga.
"kamu ikut ya Mars" ajak nyonya Jade.
Marsha memandang mereka.
"kamu akan ikut dengan kami ke RedRose city. Setelah kejadian ini dan Maximiliano masuk penjara, aku tidak yakin untuk meninggalkan kamu disini. Besok kita berangkat. Bersiap-siaplah" sahut tuan Shane tanpa mendengar sepatah kata dari Marsha.
Marsha hanya bisa menurut. Karena kedua orang ini sudah sangat baik padanya.
"aku pulang dulu untuk siap-siap tuan, Ma" pamit Marsha.
*
Marsha mengendap-endap masuk kedalam ruang perawatan gadisnya.
Tadi dia keruang ICU. Kata suster jaga, pasien sudah dipindahkan keruang perawatan.
Marsha ingin menemui Rose. Dia ingin pamitan.
Dan mungkin entah kapan bisa bertemu lagi.
Ada sesak dalam dada Marsha tapi dia harus pergi.
"rose.." panggilnya dari sisi tempat tidur gadis itu.
Tapi tidak ada sahutan, matanya masih terpejam.
"aku akan pergi. Tapi aku janji, aku akan kembali" ucap Marsha.
Dia membuka selimut yang menutupi Rose, meraih jemarinya lalu menyelipkan sesuatu didalam telapak tangan Rose.
"ini sebagai kenangan untukmu. Agar nanti aku bisa segera mengenalimu" ucap Marsha lirih.
Dia pun mundur mendekati pintu. Matanya terus memandang Rose.
Dia akan pergi, harus pergi.
Untuk meraih masa depan yang lebih baik lagi. Setelah dia merasa mampu, dia akan kembali untuk mencari Rose.
Seperti yang boss Hary bilang tempo hari.
'setelah dewasa, mari jadikan itu cinta'
Ya Marsha berjanji akan selalu menjaga hatinya.
Untuk Rose.
***
__ADS_1