
Parish berhenti diujung tangga.
Dia mengarahkan pandangan kesebelah kanannya. Koridor kamar tamu, dimana disitu letak kamar Marsha.
Ingin rasanya dia kesana tapi langkahnya seolah tertahan.
Parish menghela nafas, dia pun berbalik menuju koridor keluarga. Dimana terdapat kamarnya, kamar Spanish dan kamar ayah bersama mendiang ibunya.
Parish masuk kedalam kamarnya, dia mengunci pintu.
"maafkan aku kak Marsha" ucap Parish seraya menuju jendela.
Dia menyibak tirai jendela.
Matanya memandang langit yang dipenuhi gemerlap bintang. Lalu dia melihat sebuah bayangan di taman depan rumahnya.
Marsha duduk disana sendirian.
Parish bersyukur tadi dia hanya menyalakan lampu tidur. Sehingga kamarnya terlihat remang dan Marsha tidak akan melihatnya berdiri di jendela.
Entah apa yang sedang dipikirkan Marsha. Dia tampak mengacak rambutnya kasar.
"semoga nanti kak Marsha akan mengerti apa yang sekarang Parish lakukan kak" Parish bicara sendiri.
Dia melihat Marsha beranjak masuk kedalam rumah.
Parish mulai tenang. Dia khawatir Marsha akan sakit karena kedinginan terlalu lama diluar.
Seperti dirinya yang alergi dingin. Kakinya akan kaku begitu dingin menyerang. Mungkin karena itu, dia suka dipeluk.
Parish menuju tempat tidurnya dan berusaha untuk memejamkan matanya.
Ponselnya bergetar.
Dia sengaja untuk memberi mode silent pada ponsel apabila di jam tidurnya.
Nomor baru lewat aplikasi chat.
Parish membuka profil pengirimnya sebelum melihat isi pesannya. Yang biasa Parish lakukan apabila ada nomor baru yang masuk.
"kak Marsha ?!" desis Parish begitu melihat foto Marsha berdiri disamping motor racing merah menyalanya.
Marsha tampak seperti model iklan. Memakai kaus warna hitam yang ditutupi jaket kulit warna hitam favoritnya, mengenakan celana jeans, berdiri bersandar pada motornya. Menatap kamera dengan senyum datar tapi Parish suka. Parish tersenyum.
Sebuah pesan masuk lagi. Dia saja belum membaca pesan sebelumnya.
Parish menghela nafas panjang. Dia buka atau dia abaikan ? toh Marsha juga bisa lihat kalau pesannya belum terbaca.
Parish meletakan kembali ponselnya diatas laci samping tempat tidurnya.
Parish memejamkan matanya. Sekali lagi dia hanya bisa mengucap kata 'maaf' dalam hati.
Parish memilih untuk mengabaikan.
*
Marsha melihat layar ponselnya.
Pesan yang dia kirim belum dibaca.
Apa Parish sudah tidur ? pikirnya.
Dia semakin kacau, dia berharap dengan berada disini akan membuat dia semakin dekat dengan Parish tapi kenyataannya mereka menjauh, lebih tepatnya Parish menjauh darinya.
Marsha mematikan lampu kamarnya. Dia mencoba untuk tidur. Semoga saja besok semuanya berubah.
*
Matahari bersinar menerobos tirai kamar Parish. Dia melihat jam dimeja, jam enam pagi.
Lalu dia teringat pesan Marsha semalam yang diabaikannya.
Dengan segera dia meraih ponselnya diatas laci samping tempat tidur.
Parish...
kamu sudah tidur ?
maaf, kalau aku ada salah sama kamu 😔
Parish tersentuh. Seharusnya dia yang meminta maaf. Dan gambar smiley murung membuat dia tambah bersalah.
Parish menulis...
maaf kak, Parish yang seharusnya minta maaf 🙏🏻
Parish melihat pesannya cuma terdapat satu centang. Itu artinya ponsel Marsha tidak aktif.
Baiklah, sebaiknya aku mandi. Pikir Parish seraya beranjak ke kamar mandi. Tapi sebelumnya dia mematikan ponsel dan mengisi dayanya.
*
Marsha mengeliat.
Matahari pagi masuk kedalam kamarnya. Semalam dia lupa menutup tirai jendela.
Marsha meraih ponselnya yang ternyata mati. Marsha mengambil kabel charge-nya. Lalu menyalakannya lagi.
Kebiasaan paginya, selalu mengecek ponsel terlebih dulu.
Ada satu pesan yang membuat hatinya berdecak senang.
Pasti Parish. Serunya dalam hati.
Benar, itu balasan pesan yang dia tunggu.
Setelah membaca pesan itu, Marsha membalas pesan Parish.
Marsha menulis..
tapi kenapa sikapmu berubah ?
Pesannya mendapat centang satu. Marsha memberanikan diri menelfon tapi telfonnya tidak tersambung.
"mungkin sedang di charge" ucap Marsha seraya meletakan ponselnya diatas tempat tidur lalu menuju kamar mandi.
*
Suasana pagi yang masih canggung antara Parish dan Marsha.
Lagi-lagi auncle Tom dan aunty Lesly hanya saling pandang dan mengangkat bahu.
"jadi pagi ini kemana tujuan kita ?" seru auncle Tom mencoba mencerahkan suasana.
"aku mau ke makam ibu tapi sebelumnya mau petik bunga di taman 'syRishRose' dulu" jawab Parish.
"dimana ?" Marsha bertanya.
"ditaman belakang, taman milik ibu" jawab Parish.
Marsha mengangguk.
Parish hati-hati memetik mawar ditaman ibunya. Sementara Marsha melihat papan yang tertulis disana.
__ADS_1
"syRishRose" baca Marsha.
"itu gabungan nama ibu dan aku. Chrissy dan Parish. Rose itu karena kami sama-sama suka mawar" jelas Parish tapi pandangannya tetap fokus memetik bunga.
Dari sehabis sarapan, Marsha mengikutinya ketaman.
Marsha mengangguk mengerti. Dia teringat buku sketsa Parish yang dia ambil, gambar taman bunga mawar dengan tulisan 'rose' disudut kanan bawahnya. Sampai Marsha menyangka itu nama gadisnya.
"taman teras kakak juga indah" ucap Parish, dia memandang Marsha.
Marsha balas memandang.
Dia memang sengaja membuat taman itu sesuai dengan sketsa Rose. Toko bunga mama Jade juga dia buat sesuai sketsa Rose hanya saja Parish tidak menyadarinya karena dia melupakan sketsanya.
"terima kasih.. aku hanya terinspirasi dari sosok gadis masa kecilku" jawab Marsha.
"ooo siapa ?" tanya Parish penasaran.
"aku tidak tahu, mungkin dia juga tidak mengenalku" jawab Marsha. Ada kesedihan yang mendalam.
Bagaimana tidak, orang yang dia maksud adalah sosok didepannya.
"yang di foto itu ?" Parish bertanya lagi.
"iya" jawab Marsha singkat.
Parish mangut. Ternyata gadis itu punya kesan yang mendalam di hati Marsha.
*
Mereka memasuki area pemakaman.
Parish melupakan tentang ibunya tapi dia tidak melupakan letak makam ibunya.
Marsha dan auncle Tom serta aunty Lesly mengikutinya dari belakang.
Parish meletakan seikat rangkaian bunga mawar beraneka warna dan menyebar kelopak-kelopak bunga mawar merah diatas makam ibunya. Air matanya menetes kala dia tengah berdoa untuk ibunya.
"kita tunggu di mobil saja" bisik auncle Tom pada aunty Lesly.
Aunty Lesly mengangguk. Marsha hendak mengikuti mereka tapi auncle Tom menahannya.
"kamu disini saja, temani nona Parish" katanya.
Marsha mengangguk.
Dia tetap berdiri menunggu Parish yang memandangi makam Chrissy Mc. Milan dengan berurai air mata.
"aku lupa seperti apa keseharian ibu padaku. Aku hanya menerka dari sketsa harianku. Bertahun-tahun ayah dan kakak menyimpan kenangan itu agar aku tidak sakit, agar rasa sengatan listrik itu tidak membunuhku" Parish terisak.
"apa hanya kenangan tentang ibumu yang mau kamu ingat ?" tanya Marsha.
Parish mendongkak keatas.
Dia tidak mengerti maksud Marsha.
Perlahan Marsha duduk disebelahnya, merapikan kelopak bunga mawar diatas makam.
Marsha memandang Parish lekat.
"anak lelaki yang hadir dalam kilatan saat terapi dengan dokter Steve itu" jelas Marsha hati-hati.
Parish teringat.
Iya, anak lelaki itu. Yang muncul dua kali dalam kilatan memorynya. Siapa dia ?
"ayo kita berkeliling" Marsha berdiri membuyarkan lamunan Parish. Dia mengulurkan tangannya pada Parish.
Parish memandang Marsha sebentar lalu meraih uluran tangan itu.
Marsha berjalan lebih dulu karena jalan setapak makam hanya ukuran satu orang. Parish mengikuti dibelakang Marsha dengan tangan yang masih saling mengenggam erat. Seakan Marsha tidak mau melepaskannya.
"kak Marsha..." ucap Parish pelan.
Marsha berhenti lalu memandang kearah Parish.
"maafkan Parish kak" ucap Parish menunduk.
"lihat aku kalau kamu mau bilang sesuatu" pinta Marsha, dia ingin memandang Parish lekat.
Parish mengangkat wajahnya. Dia memandang Marsha dan permintaan maaf itu kembali terucap.
"tapi janji ini untuk yang terakhir kali" sahut Marsha.
Parish mengangguk.
"aku benci kamu bersikap begitu. Rasanya mau gila" jelas Marsha.
Parish tidak percaya. Seorang Marsha berkata seperti itu. Selama ini dia pikir dengan bersikap acuh, Marsha hanya akan balas mengacuhkannya. Tidak pernah terfikir olehnya kalau Marsha akan merasakan sedalam itu.
"kita lupakan saja. Mulai sekarang, kamu jangan bersikap aneh lagi" Marsha tersenyum.
"iya kak"
Marsha lalu berbalik dan melanjutkan melangkah menuju pintu keluar area pemakaman.
"kak, lepas.. nanti auncle Tom dan aunty Lesly melihat. Mereka berpikir tidak-tidak tentang kita"
Marsha mengangguk mengerti. Dia melepaskan genggaman tangannya, padahal hatinya tidak ingin.
*
Mobil keluarga Mc. Milan berhenti di sekolah seni. Tampaknya masih suasana belajar.
Marsha melihat ke arah toko boss Harry & boss Alice. Mudah-mudahan saja kedua bossnya itu segera membaca pesan yang dia kirim.
Marsha kembali melihat ponselnya. Tanda centang dua berwarna biru. Pesannya sudah dibaca. Dia melihat keterangan bossnya sedang mengetik.
Balasan boss Harry..
Nyonya Jade sudah memberitahu kami tentang maksud kedatanganmu. Kamu tenang, semua akan baik-baik saja.
Marsha lega. Ternyata mamanya sudah mengantisipasi semuanya. Lama-lama mamanya seperti mendiang Tuan Shane, mengantisipasi segala situasi. Marsha tersenyum.
"kita masuk sekarang nona ?" tanya auncle Tom.
Parish menggeleng, dia tidak merasakan apa-apa. Kilatan memory itu juga belum terlintas.
"aku mau beli minum untuk kita" Marsha turun dari mobil.
Dia menuju toko boss Harry.
Parish memandang Marsha masuk kedalam toko. Tiba-tiba kilatan itu muncul.
Dia masuk kedalam toko. Membeli air mineral, lalu ada beberapa tisu dan anak lelaki itu.
Anak lelaki itu ada disana. Desis Parish dalam hati.
Parish turun dari mobil, dia mengikuti Marsha masuk kedalam toko.
Marsha yang sedang memilih makanan kecil sedikit kaget melihat Parish berada di belakangnya.
Parish melihat minuman dalam freezer, tangannya meraih sebotol air mineral ukuran sedang lalu berjalan menuju ketempat tisu. Dia mengambil tisu basah dan kering.
__ADS_1
Marsha terus melihat, Parish mengambil barang-barang yang sering dia beli ditoko seperti dulu.
Boss Harry dan boss Alice terus memperhatikan dari meja kasir.
Lalu moment yang Marsha tidak sangka, Parish menyerahkan barang belanjaannya pada Marsha.
Marsha mengambilnya sambil menatapnya. Persis waktu lalu.
"semua ini ada dalam kilatan memoryku" ucap Parish.
Tiba-tiba Parish merasa pusing dan kehilangan kesadarannya.
Barang-barang yang ada didalam pegangan Marsha berhamburan jatuh kelantai.
Tangannya dengan sigap menangkap tubuh Parish. Boss Alice dan boss Harry membantunya.
"bawa dia masuk Mars..." ajak boss Alice.
"tidak usah boss, kami akan membawanya kerumah sakit" Marsha mengangkat tubuh Parish dengan buru-buru keluar dari toko.
Auncle Tom dan aunty Lesly yang berada dalam mobil terkejut. Mereka segera turun dan membantu Marsha.
"kenapa nona Parish ?"
"dia teringat sesuatu lalu pingsan" jawab Marsha.
aunty Lesly membuka pintu mobil. Marsha masuk kedalam bersama Parish yang masih belum sadarkan diri.
Dengan bergegas auncle Tom mengambil alih kemudi dengan aunty Lesly disebelahnya.
Mereka segera melaju kerumah sakit RedRose utara dimana dokter Steve sudah memberikan nomor rekan dokternya disana.
*
Sesampainya dirumah sakit RedRose utara ....
"kami mencari dokter Neil" teriak Marsha.
"dokter Neil libur praktek hari ini" kata perawat bagian IGD dengan buru-buru melakukan penanganan sesuai prosedur pada Parish.
"maaf pak, kalian tunggu diluar. Kami akan menangani pasien" ujar suster yang lain seraya menutup pintu.
"aku sudah menelfon dokter Steve untuk memberitahu dokter Neil" kata auncle Tom.
Marsha mengangguk Tapi dia belum bisa tenang sampai mereka mengizinkan dirinya bertemu Parish.
Selang beberapa lama...
Seorang dokter berperawakan tinggi dan atletis dengan terburu-buru melewati mereka masuk kedalam ruang IGD.
Marsha yang terduduk dilantai segera berdiri. Mungkinkah itu dokter Neil ? pikirnya.
Tak lama dokter tadi keluar.
Marsha, auncle Tom dan aunty Lesly menghampiri dokter.
"aku dokter Neil. Kalian keluarga pasien ?" tanyanya.
"iya dok, kami perwakilan orang tuanya" ujar aunty Lesly.
Dokter Neil mengangguk.
"pasien sudah mulai stabil. Kalau dia sudah sadar, kalian boleh membawanya pulang. Dia mengalami shock karena ingatannya. Tapi tidak apa, dalam kasusnya itu bagus untuk perkembangannya. Aku akan konsultasi lagi pada dokter Steve. Kalau ada apa-apa kalian bawa saja langsung kesini" jelas dokter Neil.
Mereka bertiga mengangguk mengerti.
Syukurlah tidak ada yang perlu di khawatirkan. Dia sudah hampir kayak orang yang kehilangan akal. Membawa tubuh Parish dalam gendongannya sambil berteriak. Marsha menghela nafas.
"terima kasih Mars.." ucap aunty Lesly mengenggam tangan Marsha.
"tidak tahu kenapa, aunty merasa kalau kamu bisa membantu nona melewati semua ini. Nona akan baik-baik saja ada kamu untuk dia" lanjut aunty Lesly lagi.
Marsha hanya tersenyum. Meskipun dia tidak mengerti maksud pembicaraan aunty Lesly.
Ponsel Marsha berdering. Dari Kevin.
Marsha izin menerima telfon dan menjauh dari auncle Tom dan aunty Lesly.
"iya kak"
"bagaimana sudah keadaannya ?" tanya Kevin.
"kondisinya sudah stabil kak, kata dokter kami boleh membawanya pulang kalau dia sudah sadar"
" syukurlah.. orangku bilang, kamu sangat panik Mars"
"iya kak, aku sangat mengkhawatirkannya"
"apa yang bisa aku bantu ?" tanya Kevin.
"aku masih memikirkannya kak, nanti aku menghubungi kakak lagi"
"iya, hubungi aku terus"
"baik kak, terima kasih"
"sama-sama bro... aku tutup dulu" Begitulah kalimat penutup Kevin. Dan telfonpun terputus.
*
Marsha menunggu Parish bangun. Dia tidak mau beranjak dari samping tempat tidur.
"Mars, makanlah dulu. Biar aunty yang menjaga nona Parish"
Marsha menggeleng.
"aku belum lapar aunty" katanya.
"baiklah, makanannya aunty taruh diatas meja" ucap aunty Lesly.
Marsha mengangguk.
Auncle Tom dan aunty Lesly duduk di sofa. Auncle Tom baru saja menerima telfon dari tuan besarnya. Dia melaporkan kondisi Parish agar tuan besarnya tidak khawatir.
Marsha meraih ponselnya. Dia melihat panggilan Spanish.
"ya Nish" jawab Marsha.
"bagaimana keadaannya Mars ?" tanya Spanish khawatir.
"seperti yang aku tulis di pesan. Tinggal tunggu dia sadar dan kami bisa pulang. Kamu jangan khawatir. Bagaimana pamerannya ?" ucap Marsha sambil melihat Parish yang tertidur karena pengaruh obat.
"aku masih menyelesaikan konsepnya. Sesuai dengan yang kita buat lalu, aku akan buat sesuai keinginan kita" balas Spanish.
"aku mengerti, nanti kirimkan aku filenya di email. Aku bantu kamu untuk selesaikan konsepnya"
"serahkan semuanya padaku. Kamu jaga adikku dengan baik"
"baiklah, aku akan lakukan tanggung jawabku" ujar Marsha.
Spanish menutup telfonnya. Marsha kembali memandang Parish, dia berharap Parish segera bangun.
"cepatlah bangun Rish.. aku mohon" ucap Marsha pelan.
__ADS_1
***