
Jade dan Venus disambut khawatir oleh Mark Mc. Milan dan keluarganya. Mereka melihat berita kejadian kerusuhan di televisi.
Tadi mereka kaget, begitu Marsha menerima telfon lalu tanpa bicara langsung berlari keluar rumah.
Sekarang mereka tahu kenapa, karena Jade tadi sempat pamit untuk bertemu klien bunganya di Restbarr 'The SHA'. Tadinya Mark mau mengantar tapi klien yang dikatakan Jade mengirim mobil untuk menjemput mereka.
Parish melihat sekeliling, Marsha tidak ada.
"kak Marsha mana tante ?" tanya Parish.
"dia masih ada urusan. Nanti juga pulang" kata Jade.
"urusan apa ? kenapa dia tidak meminta bantuanku" tanya Spanish.
"tante tidak tahu, tadi dia mengantar kami pulang terus pergi lagi"
Entah kenapa, Spanish merasa tidak puas dengan jawaban tante Jade. Ada yang Marsha sembunyikan. Pikirnya.
Mereka membawa Jade Shannon dan Venus masuk kedalam. Untung saja tadi saat Venus terbangun di mobil, Jade sudah meminta dia untuk tidak bicara apa-apa pada keluarga Mc. Milan. Dan anak kecil itu sangat menurut pada mama dan kakaknya.
"ma, kak Marsha akan melawan penjahat sendirian ?" tanya Venus dalam kamar saat Jade berusaha menidurkannya.
"tidak sayang, kak Marsha akan dibantu oleh kak Kevin. Kita bantu doa ya sayang" ucap Jade.
Venus mengangguk.
*
Sementara di rumah sakit ...
Marsha masih menerima laporan via telfon dari anak buah Kevin. Sejak malam ini, dia mengambil alih perintah sebagai wakil Kevin.
"Mars, kamu yakin dengan yang kamu lakukan ?" tanya Kevin.
Didalam ruangan hanya ada mereka berdua, dua orang anak buah berjaga diluar ruangan serta beberapa orang berjaga diluar rumah sakit.
Boss Hary dan boss Alice sudah pulang, untuk sementara mereka menginap di apartemen Kevin. Demi keamanan mereka.
"aku yakin, aku akan melawan Maxim"
"tapi kamu sudah lama meninggalkan dunia ini Mars" ujar Kevin khawatir.
"aku tahu kak, tapi aku masih ingat pengalamanku mengikuti kemanapun tuan Shane pergi untuk berbisnis" sahut Marsha.
Kevin mangut, bisa dibilang Marsha gampang belajar. Dulu Marsha yang banyak tahu tentang seluk beluk bisnis tuan Shane, dia banyak belajar pada Marsha. Hanya saja saat tuan Shane memutuskan untuk pindah, dia serahkan bisnisnya padanya karena Marsha akan ikut pindah bersamanya.
Ponsel Kevin yang berada ditangan Marsha berdering. Dari salah satu anak buah Kevin.
"iya" Marsha menjawabnya.
"boss Marsha, kami menemukannya"
"dimana dia ?"
"dia berada diarena balapan dipuncak RedRose utara"
"baik terus awasi, aku akan kesana"
"aku akan menyuruh anak buahku untuk berjaga, mengawasi kamu. Kamu hati-hati" ujar Kevin.
"terima kasih kak. Aku pergi dulu" Marsha mengembalikan ponsel Kevin.
*
Marsha melajukan mobil Kevin menuju puncak dimana tempat arena balapan liar milik Maxim. Dia harus segera membuat perhitungan dengan Maxim.
Mobil yang Marsha kemudikan berhenti tepat didepan tempat duduk Maxim. Maxim langsung berdiri marah. Dia berkali-kali mengumpat. Beberapa anak buahnya mengepung mobil Kevin.
Marsha turun dan menatap tajam pada Maxim.
Anehnya Maxim hanya tersenyum sinis.
Anak buahnya dengan sigap ingin maju menahan Marsha tapi Maxim mengibaskan tangannya agar anak buahnya melepaskan buruan emasnya itu.
"kamu datang juga kesini, aku pikir aku perlu memancingmu sekali lagi dengan menculik gadis mawarmu" katanya.
"jangan bawa-bawa dia, ini masalah kita" Marsha marah.
"bagaimana rasanya dilupakan Mars ?"
Marsha memicingkan matanya.
Bagaimana Maxim bisa tahu tentang ingatan Parish.
"kamu heran ?" tanya Maxim seraya berjalan mengelilingi Marsha.
"aku mengawasi toko boss Hary dan Restbarr. Aku berharap aku bisa menemukanmu dengan petunjuk dua tempat itu karena entah kenapa, data tentang kamu lenyap di file kota ini. Aku hampir putus asa, sampai akhirnya anak buahku bilang kalau mereka melihat empat orang datang ke toko mencari tahu tentang bocah laki-laki yang dulu bekerja di toko. Dan kamu sudah bisa tebak, apa yang selanjutnya aku lakukan ?! aku mencari tahu mereka. Dan aku menemukan Parish Mc. Milan, gadis itu. Ternyata kamu ada didekatnya tapi dia tidak mengenalimu. Kasian sekali, apa itu karena perbuatanku juga ? karena kecelakaan itu ?" Maxim terus menekan Marsha.
Marsha hanya bisa menahan emosinya.
"aku sudah menempatkan anak buahku disana. Tinggal mereka yang belum aku usik" Maxim tertawa.
"jangan lakukan apapun pada mereka, masalahmu ada padaku !!!!!" bentak Marsha.
"iyaaaa, tapi aku orangnya licik Mars. Kamu lupa, aku dulu berhasil karena aku licik menjadikan kelemahanmu sebagai kekuatanku. Dan sepertinya aku akan memakainya lagi" katanya.
"apa maumu ?" tanya Marsha.
"aku suka, kamu cerdas Mars" Maxim menepuk pipi Marsha, "besok aku akan mengadakan balapan terbesar dikota ini, dan tentu saja aku tidak mau rugi. Aku ingin keuntungan yang sangat besar"
"aku akan menuruti maumu asal lepaskan semua orang-orang yang dekat denganku. Biarkan mereka pulang ke RedRose City"
"tidak bisa Mars, aku akan menjadikan mereka sandera sampai keinginanku tercapai"
"kamu licik Maxim !!"
"itulah aku" Maxim tertawa.
*
Sementara itu ...
__ADS_1
Pintu gerbang rumah keluarga Mc. Milan ditabrak mobil truk. Frey dan Grey yang berada di pos jaga kaget dan mendekati sumber suara.
Mereka langsung di serang begitu membuka pintu dan beberapa orang entah muncul dari mana ikut membantu menyelamatkan mereka.
"tahan pintunya, jaga diluar. Kalau ada apa-apa kalian langsung bertindak saja" teriak salah seorang dari mereka dengan perban dilengannya.
Dia menghampiri Frey dan Grey yang lemah karena kewalahan menghadapi serangan beberapa orang tadi, "dimana nyonya Jade ?" tanyanya.
"Kevin !!" teriak Jade berlari keluar rumah.
Tampak keluarga Mc. Milan menyusul di belakangnya. Tampaknya mereka shock dengan apa yang terjadi.
Auncle Tom mendekati Frey dan Grey, tampak orang-orang yang tidak dikenal itu merawat luka mereka dengan baik.
Siapa mereka ? pikir auncle Tom.
"maaf nyonya, dia sudah mengetahui tempat ini. Sebaiknya kalian semua pergi sekarang juga" kata Kevin.
"ada apa ini ? mereka siapa ?" tanya Mark.
"mereka, anak buah pelaku kecelakaan nyonya Mc. Milan" kata Kevin hati-hati.
Mark, Spanish dan Parish kaget.
"bukannya dia di penjara ? bagaimana dia bisa bebas ?" tanya Spanish.
"aku tidak tahu, mungkin saja dia masih memakai koneksi orang tuanya" sahut Kevin.
"untuk apa dia mengincar kami ?" kata Mark.
Belum sempat Kevin menjawab, Jade Shannon menarik bajunya, "mana Marsha ? Kevin... jawab aku mana Marsha ?!!!" dia panik.
Kevin tertunduk, "maafkan saya nyonya Jade, Marsha ada ditempat Maxim sekarang. Tapi anak buahku ada bersamanya, mengawasinya dari jauh. Dimobilku yang dia pakai sudah terpasang alat penyadap. Aku tahu kalian dalam bahaya dari alat itu. Nyonya tenang saja, aku bersama Marsha"
"tidak Vin, aku tidak akan pergi tanpa Marsha" Jade geleng kepala.
"tapi nyonya dan kalian semua harus pergi, bawa Parish jauh dari sini" ujar Kevin memandang Parish.
"aku ?!" Parish tidak mengerti.
"jelaskan pada kami apa maksud semua ini" Spanish menatap tajam pada Kevin.
"aku tidak punya waktu bercerita, intinya Maxim mengincar Parish untuk membuat Marsha mengikuti kemauannya. Karena Parish adalah kelemahan Marsha. Dulu dia menggunakan Parish juga untuk menekan Marsha sampai kecelakaan itu terjadi. Sekarang dia berniat untuk menculik Parish agar Marsha mau menjadi kaki kanan dia dalam bisnis ilegalnya" jelas Kevin.
"Marsha adalah anak laki-laki yang kamu cari" Jade memegang pipi Parish. Dia sudah tidak sanggup untuk menyimpan rahasia ini lagi. Parish harus tahu.
"apa ?!" Parish kaget, dia hampir tidak bisa menyeimbangkan badannya. Untung Starla ada dibelakangnya, Starla menahannya.
"kita masuk kedalam, aku mau mendengar ceritanya didalam" kata Mark Mc. Milan.
"kalau kalian masih disini, akan membahayakan Marsha" sahut Kevin.
"Kevin, biarkan aku menjelaskan sebentar saja. Agar mereka mengerti. Aku tahu, Marsha tidak ingin membuat semua khawatir. Selama kami baik-baik saja, Maxim tidak akan berbuat apa-apa pada Marsha" ucap Jade.
Kevin menurut keinginan Jade. Setelah memberi perintah pada anak buahnya untuk berjaga, Kevin menyusul mereka masuk kedalam rumah.
*
Puncak RedRose Utara ...
Maxim salah, Marsha yakin kalau Kevin pasti dengan gerakan cepat bisa mengatasi anak buah Maxim dan menjaga keluarganya dan keluarga Mc. Milan khususnya Parish.
Untung saja, Mobil Kevin sudah dipasangi alat penyadap sehingga apa yang mereka bicarakan terhubung pada Kevin.
"kenapa ? kamu gagal ?" Marsha membalas tersenyum sinis.
Maxim geram, dia meninju perut Marsha.
Marsha meringis kesakitan tapi berusaha bangkit untuk membalas Maxim.
Anak buah Maxim maju untuk membantu bossnya tapi entah muncul dari mana, orang-orang berpakaian hitam datang mengelilingi tempat Maxim. Mereka berjaga menahan pergerakan anak buah Maxim. Mereka bala bantuan yang dikirim Kevin untuk melindungi Marsha.
Marsha tersenyum melihat Maxim mundur selangkah karena kaget melihat dia kalah jumlah darinya.
"kenapa ? kamu takut ? kamu bilang aku cerdas kan ?! mana mungkin aku datang kesini sendiri, mereka bersamaku" Marsha membalas meninju Maxim
Tidak ada yang membantu, ini adalah peperangan antara Marsha dan Maxim. Mereka yang akan menyelesaikannya.
*
Dirumah Mc. Milan ...
Kevin gelisah, dia tidak tenang mendengar bunyi pukulan melalui earphone ditelinganya.
Sementara Jade masih menceritakan semua tentang Marsha pada Parish dan keluarganya, tentang siapa itu Maxim dan kecelakaan Parish yang menewaskan Chrissy Mc. Milan.
Kevin beranjak berdiri, "aku harus pergi, aku mendengar suara orang berkelahi. Aku khawatir pada Marsha" katanya.
"selamatkan adikmu Vin, tolong" Jade memburu Kevin, dia mengenggam tangan Kevin.
"pasti nyonya, aku akan selalu menjaga nyonya, Marsha dan Venus. Aku akan melindungi kalian seperti janjiku pada tuan Shane" ucap Kevin.
Dia hendak beranjak, Spanish menghentikan langkahnya.
"aku ikut, Marsha sahabatku. Aku ingin membantunya"
"maaf, ini terlalu berbahaya untuk kamu" Kevin menolak.
"Jangan pergi Nish... Kevin dan Marsha bisa menangani ini. Kita tunggu dirumah saja" cegah Jade.
"ayah.... setidaknya kali ini saja" kata Spanish seraya memandang ayahnya.
Mark Mc. Milan mengangguk, "pergilah, bawa Marsha pulang" katanya.
Kevin dan Spanish bergegas pergi.
Parish memegang liontin hati mawar merahnya, sekarang dia tahu siapa yang memberinya. Bukan dari ibunya seperti yang dia sangka selama ini tapi dari anak laki-laki di toko depan sekolah seni. Anak laki-laki yang selalu bersamanya di taman sekolah saat dia sedang membuat sketsa, anak laki-laki yang selalu ramah melayaninya ketika membeli sesuatu di toko dan anak laki-laki yang sekarang dia cari. Anak laki-laki itu... Marsha.
Parish menutup matanya, air matanya menetes. Starla yang berada disampingnya merangkul sahabatnya itu.
Starla tahu apa yang dirasakan Parish. Cerita cinta mereka, seperti yang Parish mau. Berjalan sesuai prosesnya. Dari dulu sampai sekarang Marsha menjaga cintanya untuk Parish, tapi dia tidak tahu kalau Rosenya ini juga memendam cinta yang sama walaupun bukan dalam ingatan yang sama.
__ADS_1
Mereka sudah tahu perasaan Marsha, apa dia harus memberi tahu mereka tentang perasaan Parish pada Marsha.
Lalu bagaimana dengan pernikahan kedua orang tua mereka ? pikiran Starla mulai mencari celah untuk kisah Parish tapi dia masih ragu untuk menyimpulkan.
Parish memegang kepalanya, ada rasa sakit yang teramat sangat. Dia tidak dapat menahannya tapi suaranya tertahan untuk berteriak, bergerak pun tidak bisa. Kaku.
"Rish, kamu kenapa ?" Starla menguncang tubuh Parish.
Semua mata tertuju pada keadaan Parish.
Dokter Steve mendekati Parish, dia menyuruh auncle Tom untuk mengambil tas peralatannya di kamar.
"tenang Rish, kamu tenang.. semua akan baik-baik saja" ucap dokter Steve sambil memeriksa Parish.
"sayang, dengar ayah sayangku" teriak Mark.
Tak lama, Parish jatuh tidak sadarkan diri dalam pelukan Starla.
"bawa kerumah sakit" seru dokter Steve.
Dengan bergegas Mark mengangkat tubuh putrinya. Mereka akan membawa Parish ke rumah sakit.
"mama..." Venus datang menghampiri Jade.
"kita ikut bawa kak Parish kerumah sakit sayang" Jade meraih tangan Venus lalu bergegas masuk kedalam mobil dimana didalamnya ada auncle Tom dan aunty Lesly.
Mark sudah pergi membawa Parish naik mobil lain bersama dokter Steve dan Starla.
"kak Parish kenapa ma ?" tanya Venus dalam mobil yang melaju.
"kak Parish sakit sayang, kita berdoa semoga kak Parish baik-baik saja" ucap Jade mengusap rambut Venus.
"Aamiin" ucap Venus diikuti auncle Tom dan aunty Lesly.
*
Puncak RedRose Utara ...
Perkelahian antara Marsha dan Maxim seru. Tidak ada yang mengalah, walaupun kedua sudah tampak kelelahan tapi mereka tetap melanjutkan pergumulan mereka.
"Mars, hentikan ! biarkan polisi yang mengurus dia" teriak Kevin yang datang bersama pasukan kepolisian yang menutup akses Maxim dan orang-orangnya untuk kabur.
Marsha menoleh kearah suara Kevin. Dia menghentakan tangan melepaskan ujung kaus Maxim. Tadinya dia bersiap akan memukul Maxim lagi.
Spanish menarik Marsha berdiri. Dia menahan lengan Marsha.
"saudara Maximiliano, saudara diduga terlibat aksi pembakaran rumah di kawasan Lime, kerusuhan di Restbarr 'The SHA', pengrusakan rumah dan penganiayaan penjaga rumah keluarga Mc. Milan dan sekarang pemukulan terhadap saudara Marsha" jelas kepala Polisi.
"tapi dia yang memukulku duluan pak" bantah Maxim.
"saudara jelaskan di kantor Polisi. Bawa mereka semua, jangan ada yang tersisa" teriak kepala Polisi kepada bawahannya. Dia menyerahkan Maxim pada salah satu bawahannya untuk di bawa masuk kedalam mobil patroli.
Para polisi mengamankan seluruh anak buah Maxim dan menyita barang bukti kendaraan mereka beserta kendaraan balap yang tersimpan di garasi.
"terima kasih atas bantuan anda tuan Kevin. Kiranya anda dan saudara Marsha bisa datang ke kantor Polisi untuk dimintai keterangan BAP" kepala Polisi itu menjabat tangan Kevin.
"siap pak ! saya dan adik saya akan datang ke kantor bapak. Terima kasih banyak pak" kata Kevin.
"kami permisi" kata kepala polisi.
Kevin, Marsha dan Spanish mengangguk
Ponsel Spanish berdering. Dari Starla.
"iya yang.. ada apa ?" tanya Spanish
"bagaimana kak Marsha ?"
"Marsha baik-baik saja, hanya memar akibat perkelahian" jawab Spanish seraya memeriksa wajah Marsha dengan pandangannya.
"kalian kerumah sakit sekarang, Parish masuk ICU" kata Starla.
"apa ?!!!! iya kami segera kesana" Spanish menutup telfonnya.
"ada apa Nish ?" tanya Marsha khawatir.
"Rosemu berada di ICU sekarang" Spanish menepuk pundak Marsha.
"kamu.. bagaimana kamu bisa..." Marsha gagap.
"nyonya Jade sudah menceritakan semuanya. Mereka menunggumu Mars, Rose menunggumu" ujar Kevin.
"bawa aku ketemu Parish Nish, bawa aku ketemu Rose" Marsha memandang Spanish.
Mereka bertiga masuk mobil Kevin yang lain, untuk segera menuju rumah sakit.
Rose, tunggu aku. Ucap Marsha dalam hati.
*
Parish terbaring lemah di ICU.
Semua tampak khawatir menunggu di luar ruangan. Mereka tidak diizinkan masuk. Didalam sana, dokter Neil dan dokter Steve berusaha untuk menolong Parish.
Mereka berdua bilang kalau kondisi Parish saat ini lemah. Dia tidak mampu menahan kilatan ingatan yang terus menerus masuk. Kilatan itu menjelma jadi sakit kepala untuk Parish. Ingatan yang terus menerus masuk, artinya sakit kepala yang terus menerus.
"Marsha..." Jade memeluk Marsha, begitu juga Venus.
"aku tidak apa-apa ma" ucap Marsha. Padahal dia merasakan sakit disekitar perut dan area wajahnya.
Tiba-tiba, pandangannya kabur dan Marsha tidak sadarkan diri.
"Marsha, bangun sayang" Jade menepuk pipi anaknya.
"kakak....." Venus menangis.
Kevin memanggil suster, dia berlari keruang jaga. Dengan segera mereka datang.
"permisi bu, kami akan menangani pasien" Mereka menaikan tubuh Marsha keatas brankar dorong lalu menuju ruang IGD.
Kevin, Jade, Venus dan Spanish menyusulnya.
__ADS_1
***