Ada Mars Di Ruang Hati Parish

Ada Mars Di Ruang Hati Parish
Part 25


__ADS_3

Spanish datang kerumah sakit dengan langkah gontai. Dia tidak menemukan Marsha.


Auncle Tom duduk disebelah Spanish, dia menepuk pundak Spanish.


"nihil auncle, aku tidak menemukannya" kata Spanish lemah.


"Kevin ?" tanya auncle Tom.


Spanish menggelengkan kepalanya, "tadi aku sudah kesana, Kevin tetap diam"


"bagaimana ini tuan, apa yang harus kita lakukan ?" tanya auncle Tom ikut bingung.


Spanish menghela nafas.


"kak Marsha pasti masih ada disini, dia tidak akan pergi jauh. Selama ini dia selalu ada bersama Parish kan, walaupun dalam bentuk sahabat kamu" kata Starla menghampiri mereka.


"bagaimana Parish ?" tanya Spanish.


Starla menggeleng. Spanish mengerti artinya.


"aku tahu caranya" Starla tersenyum, dia terpikir sesuatu.


Starla mengajak Spanish dan auncle Tom masuk keruang perawatan Parish. Entah kenapa, dia merasa seperti ada yang mengawasi mereka.


"ada apa Star ?" tanya Spanish.


"aku merasa kak Marsha tidak meninggalkan Parish begitu saja, sangat tidak mungkin. Bisa jadi dia sudah menempatkan orangnya untuk mengawasi kita" bisik Starla.


Semua mengangguk mengerti. Mereka setuju dengan Starla.


"trus rencananya apa ?" bisik Spanish.


"ini sedikit berbahaya kalau om Mark sampai tahu tapi dengan begini aku pastikan kak Marsha akan datang, bukankah Parish kelemahannya ?" Starla mengedipkan matanya.


Auncle Tom dan aunty Lesly mendengarkan dengan seksama.


"aku masih belum mengerti yang" kata Spanish.


Starla melambai tangannya agar Spanish, auncle Tom dan aunty Lesly mendekat. Dia memberitahu rencananya pelan-pelan dan berbisik.


"aunty yakin pasti berhasil" aunty Lesly lalu menceritakan bagaimana khawatirnya Marsha saat Parish jahil meninggalkan kamar diam-diam. Marsha memeluk Parish erat, tidak mau Parish kemana-mana.


"demi Parish" Spanish meletakan telapak tangannya dibawah, lalu tangan Starla, aunty Lesly dan auncle Tom. Mereka menghempaskan tangan mereka ke udara.


Starla menghampiri Parish, dia mengusap wajah sahabatnya yang memucat itu.


"kamu harus kuat melawan sakitnya Rish... kak Marsha akan segera datang" ucapnya.


Spanish menepuk pundak Starla.


*


Spanish menemui dokter Steve. Dia menceritakan semuanya. Dokter Steve tampak kecewa dengan sikap Mark, sahabatnya. Sekarang setelah obat dan perawatan tidak memberi pengaruh apa-apa, Marsha adalah satu-satunya harapan mereka. Marsha bisa jadi semangat Parish untuk merespon.


"kamu tenang saja, aku akan meminta bantuan dokter Neil untuk bekerjasama bahwa Parish dalam kondisi yang buruk. Dan kita merahasiakan ini dari ayahmu agar dia tidak mengacaukannya" jelas dokter Steve


"terima kasih om dokter, kami tidak tahu bagaimana kami tanpa om dokter. Om dokter selalu memantau keadaan Parish" ucap Spanish.


"hey, dia juga putriku" dokter Steve menepuk pundak Spanish.


Spanish mengangguk, "terima kasih om dokter"


Maafkan kakak Rish. Ucap Spanish dalam hati.


Sebenarnya kondisi Parish stabil hanya saja dia tidak merespon sekitarnya. Marsha tahu hal itu. Karena itu mereka membuat berita buruk, agar Marsha datang menemui Parish. Dengan begitu, mungkin saja Parish akan merespon pada Marsha.


*


Marsha kaget, dia tidak bisa berkata apa-apa. Bibirnya kelu, tubuhnya terasa lemah dan seketika tidak berdaya.


Anak buahnya memberi tahu kalau kondisi Parish kritis, kehidupannya hanya bergantung pada alat yang terpasang di monitor.


"jangan tinggalkan aku lagi Rish... jangan, aku mohon" ucap Marsha terisak.


Kevin masuk kedalam ruangan Marsha. Dia sudah mendengar laporan dari rumah sakit. Dia mengkhawatirkan keadaan Marsha sekarang.


Dugaannya benar, Marsha duduk menutup mukanya dengan menopang lutut dibawah jendela. Dia tampak menyembunyikan perasaan sedihnya.


Kevin mendekat, dia melonggarkan dasi Marsha agar adiknya itu merasa lega untuk menangis. Kevin memeluk Marsha, tangis Marsha pun pecah seperti anak kecil.


"menangislah Mars" Kevin mengusap belakang adiknya.


"aku mau kesana kak" isak Marsha.


"kita akan kesana" tegas Kevin.


"tapi kak, kita terikat perjanjian dengan mama Jade" Marsha melepaskan pelukan kakaknya.


"aku yakin nyonya Jade akan mengerti ini. Kita akan menghadapinya bersama" ujar Kevin.


Marsha mengangguk. Dia menghela nafas lega, saatnya menemui Parish dan menghadapi situasi bertemu om Mark Mc. Milan.


Kevin bangkit dan menarik tangan Marsha untuk berdiri. Dia merangkul Marsha dan berjalan bersama keluar dari kantor. Mereka akan menemui Parish di rumah sakit.


*


Langkah Marsha terhenti jauh dari pintu kamar perawatan Parish. Tampak disana Spanish duduk di kursi bersama auncle Tom. Wajah Spanish tampak sedih.


"Parish...." ucap Marsha lirih.


Kevin menguatkannya untuk mendekat.


"Marsha ?!" Spanish dan auncle Tom beranjak berdiri.


"bagaimana keadaan Parish ?" tanya Marsha.


Spanish menggeleng, "temui dia, sekali saja.. selanjutnya terserah kamu. Aku sudah tidak tahu lagi, aku mau adikku" Spanish memeluk auncle Tom.


"masuklah" ujar Kevin.


Marsha membuka pintu. Aunty Lesly dan Starla tampak terkejut. Mereka memberi ruang untuk Marsha mendekat pada Parish. Mereka keluar.

__ADS_1


Marsha memegang tangan Parish. Suara monitor sangat mengganggunya, seakan itu sebagai hitungan detik kebersamaannya dengan Parish.


"Rish... ini aku. Aku anak lelaki yang merusak kenanganmu dengan ibumu. Aku merasa bersalah... seandainya saja aku menuruti saja mau Maxim, kamu tidak akan seperti ini" Marsha terisak.


"seandainya saja aku tahu diri, siapa aku.. kamu tidak akan dalam bahaya seperti ini" Marsha menutup matanya. Dia tertunduk disebelah Parish.


Marsha merasakan jari Parish bergerak, dia melihat monitornya. Garis zigzag itu semakin panjang, tidak lemah seperti tadi. Marsha tersenyum.


"Rish, sekali lagi Rish... aku disini" Marsha memegang pipi Parish lembut.


Jari Parish kembali bergerak. Tapi Parish belum membuka matanya.


"kamu tidak perlu terlalu mengingat Rish.. aku yang akan mengingatkanmu, aku akan menceritakan semua padamu. Semuanya, kamu bangun ya.. aku tidak akan kemana-mana lagi" Marsha berbisik lembut.


Jari Parish kembali bergerak.


"kamu tunggu ya, aku panggil dokter" Marsha hendak melepaskan tangan Parish tapi Parish menggenggam tangannya kuat.


"kamu tidak ingin aku pergi ?" Marsha merasa Parish makin mengeratkan genggamannya.


"aku disini, aku disini" Marsha mencium punggung tangan Parish. Dia membelai rambut Parish lembut, seakan ingin menegaskan kehadirannya pada Parish.


Marsha menekan tombol emergency yang terletak di dinding dekat monitor. Dia berharap semoga dokter cepat memeriksa keadaan Parish.


Dokter Neil dan dokter Steve masuk diikuti yang lainnya.


"tadi dia menggerakan jarinya, dan sekarang dia memegang erat tanganku" jelas Marsha memperlihatkan tangan Parish berada diatas tangannya.


Spanish dan yang lainnya saling pandang. Rencana mereka berhasil. Parish merespon.


Dokter Neil pun langsung memeriksa Parish karena ini adalah wilayah kerjanya.


"ada perkembangan, tapi dia masih harus diberi rangsangan lagi. Ajak dia bercerita, semua yang dia suka, semua yang terjadi sama dia.. karena kamu yang bisa buat dia merespon, aku mohon demi pasien... terus temani dia. Dia sangat membutuhkan itu" jelas dokter Neil setelah memeriksa kondisi Parish.


Marsha mendengarkan penjelasan dokter Neil dengan cermat. Tapi dia tidak bisa, bagaimana pun dia tidak boleh berada disini. Om Mark akan marah besar karena dia sudah melarangnya. Mama Jade juga akan kecewa, karena dia telah melanggar janji. Marsha bingung.


"aku permisi dulu" pamit dokter Neil lalu keluar dari ruangan.


"Mars, bantu kami untuk buat Parish sadar. Dia mau kamu" ujar dokter Steve.


"tapi dok, om Mark akan sangat marah kalau aku berada disini" ucap Marsha.


"itu jadi urusanku" sergah Spanish.


Marsha dan Spanish saling pandang.


"aku akan pulang ke kota. Tampaknya dokter Neil sudah mempelajari kondisi Parish, aku percaya dia bisa menangani Parish dengan baik disini" kata dokter Steve memecah kebisuan Marsha dan Spanish.


"baiklah om dokter, terima kasih banyak" ucap Spanish.


Mereka menyalami dokter Steve.


Starla mendekati Spanish, "aku juga harus pulang Nish, aku harus menyelesaikan tugasku" katanya.


Spanish terdiam. Starla sudah lama disini menemaninya dan merawat adiknya. Dia masih punya tanggung jawab perkuliahan yang harus dia urus. Tapi kalau dia mengantarkan Starla pulang, siapa yang akan melindungi Marsha agar dapat leluasa menemui Parish.


Spanish berpikir.


Marsha mengangguk, dia hendak beranjak berdiri tapi tidak bisa. Parish menahan tangannya.


Semua memperhatikannya, sebegitu beratkah Parish untuk melepaskan Marsha ? sampai hanya untuk sebentar saja, dia enggan mengizinkan.


"baiklah Rish, kakak tidak akan membawa Marsha kemana-mana" sahut Spanish.


"kamu pergi saja, antar dia pulang. Aku akan menjaga mereka berdua dari ayahmu" sahut Kevin.


Spanish memandang Kevin.


Bagaimana dia bisa tahu. Pikirnya.


"terima kasih, auncle Tom dan aunty Lesly akan tetap ada disini. Mereka akan membantu menjaga Parish saat Marsha tidak ada" kata Spanish.


Kevin mengangguk.


*


Marsha baru saja selesai membaca buku cerita untuk Parish. Entah kenapa dia ingin melakukannya, padahal yang ditemaninya ini bukan seumuran Venus yang akan tertidur oleh cerita dongeng.


Dan tangan Marsha masih dalam genggaman Parish.


"Mars, kamu makan dulu" kata aunty Lesly, dia baru saja datang dari makan malam bersama auncle Tom.


"iya aunty terima kasih banyak" Marsha mengangguk.


Dia perlahan melepas tangannya, rupanya pegangan itu meregang.


Mungkin saja Parish tertidur. Pikir Marsha.


Tapi apa bedanya, mereka hanya melihat Parish terbaring menutup matanya dengan berbagai macam kabel dari monitor.


Marsha beranjak dari duduknya, dia pindah ke sofa. Dia lalu mengambil makanannya dan mulai menikmati makan malamnya sambil memandangi Parish.


Tiba-tiba bunyi monitor semakin kencang dan tidak beraturan. Garis-garisnya juga mulai naik turun.


Mereka tersentak. Ada apa, Parish kenapa ?


Auncle Tom segera berlari keluar kamar memanggil dokter. Marsha melepaskan makanannya lalu beranjak kembali ketempatnya tadi. Dia meraih tangan Parish. Aunty Lesly gelisah.


"aku disini" ucap Marsha lembut, tangannya membelai rambut Parish.


Entah apa yang sedang terjadi, bunyi monitor perlahan melambat dan garis yang tertera pun kembali beraturan.


Aunty Lesly terisak.


Sebegitu takutnya nona Parish kalau Marsha akan meninggalkannya. Sampai-sampai keadaannya memburuk hanya karena tidak merasakan kehadiran Marsha.


Aunty Lesly menghapus air matanya. Dia mengambil makanan Marsha diatas meja. Lalu hendak menyuapi Marsha.


Marsha memandang aunty Lesly.


"makanlah.. dengan tanganmu begitu, kamu tidak akan bisa makan sendiri" ucap aunty Lesly menahan tangisnya.

__ADS_1


"terima kasih aunty, terima kasih" ucap Marsha.


Tidak lama auncle Tom datang bersama dokter Neil. Dokter Neil langsung mengecek kondisi Parish. Tidak ada yang mengkhawatirkannya, kondisinya masih stabil.


Mereka juga sedikit heran kenapa aunty Lesly menyuapi Marsha.


"begitu Marsha memegang tangannya, semua kembali normal. Tadi tidak beraturan dok" jelas aunty Lesly.


Dokter Neil menggelengkan kepalanya, dia menghela nafasnya. Selama perjalanan kariernya, kasus seperti ini baru pertama kali terjadi. Tidak ada yang perlu di khawatirkan pada diri pasien. Tapi entah kenapa, pasien menolak merespon sekitarnya. Dia hanya bisa melihat kemungkinan, bisa saja Parish masih berjalan-jalan dengan ingatannya dan masih enggan kembali pada kenyataan.


Dokter Neil menepuk pundak Marsha, dia tidak bisa berkata apa-apa lagi. Dia melihat sekilas auncle Tom dan aunty Lesly lalu keluar dari ruang perawatan.


Auncle Tom tersenyum lalu mengangguk pada aunty Lesly. Seakan dia memberitahu istrinya untuk menyuapi Marsha lagi.


Aunty Lesly mengangguk, dia melanjutkan menyuapi Marsha yang masih terus memandang Parish penuh arti.


*


Di alam bawah sadar Parish ...


"ibu, Parish mau disini selamanya dengan ibu" katanya seraya merebahkan kepalanya di pangkuan wanita cantik berbaju putih panjang bak seorang ratu. Wajah teduhnya memancarkan cahaya kecantikan alami.


"tapi kamu harus pulang sayang, tempatmu belum disini" kata Chrissy Mc. Milan membelai sayang kepala putrinya.


"tapi Parish mau disini" Parish merajuk.


"ayahmu bagaimana, kakakmu ? mereka pasti kesepian tanpa kamu" ujar Chrissy lagi.


"ayah ada tante Jade yang menemani, kakak ada Starla.. aku yakin mereka tidak apa kalau aku tinggal" balas Parish.


Chrissy geleng kepala, "Marsha ?!"


Parish terdiam, dia melihat ibunya dengan sedih.


"apa kamu tidak ingin bertemu dia, kamu tidak ingin dia tahu perasaanmu selama ini ?"


"biarkan saja bu, dia juga tidak bilang sama Parish dari awal" Parish manyun.


"dia punya alasan untuk itu sayang, ibu rasa tidak adil kalau kamu hanya tahu perasaannya tapi dia tidak tahu bagaimana perasaan kamu" jelas Chrissy.


"Starla saja yang kasih tahu" jawab Parish sekenanya.


Chrissy geleng kepala, "Starla yang suka sama Marsha ?!" katanya.


"aku..." jawab Parish seraya memegang liontinnya.


"pulanglah sayang, ibu senang bisa bertemu kamu lagi" kata Chrissy Mc. Milan. Dia memeluk putrinya.


"ibu akan merindukanmu, dan akan menunggu kalian disini" katanya.


"Parish sayang ibu" ucap Parish terisak.


Parish seketika merasa damai, tenang, dan begitu nyaman. Lalu awan putih menyelimuti mereka, seluruh tempat itu yang tadinya sebuah taman bunga mawar yang indah dengan kastil ditengahnya berubah menjadi hamparan awan putih. Parish melihat sekitarnya, ibunya tidak lagi memeluknya. Ibunya menghilang bersama awan putih. Parish sendirian. Dia lalu melihat ada sebelah tangan yang terulur padanya, tangan yang sangat dikenalnya. Tangan yang memeluknya di taman rumah sakit, tangan yang membuatkan sup wortel favoritnya, tangan yang mengusap kepalanya saat sakitnya datang dan tangan yang menggenggam erat saat berjalan keluar area pemakaman setelah mengunjungi ibunya.


Parish meraih tangan itu, menggenggamnya erat seakan tidak mau melepaskannya lagi. Parish melayang dan hilang.


*


Parish menggerakan kelopak matanya. Dia merasa sakit disekitar pelipisnya. Lalu perlahan dia membuka matanya.


Pandangannya menangkap seseorang yang tengah tertidur disisi tempat tidurnya. Anehnya Parish yang memegang tangannya bukan cowok itu.


Parish tersenyum, ingin rasanya dia membangunkannya tapi dia tidak tega.


Parish memandang jauh ke sofa, tampak auncle Tom tidur dalam posisi duduk sementara aunty Lesly tertidur dalam posisi menyandarkan kepalanya pada pinggiran sofa serta kakinya di atas pangkuan suaminya.


Romantis sekali. Ucap Parish dalam hati.


Parish mencoba menggerakan badannya, terasa kaku. Entah sudah berapa lama dia tidak menggerakannya serasa susah untuk digerakan, apalagi dengan adanya kabel-kabel disekitar dada dan tangan dan mulutnya. Parish tidak mengerti, apa kegunaannya.


"kak..." ucap Parish pelan.


Marsha tidak meresponnya, sepertinya suaranya tidak terdengar. Parish lalu membuka penutup mulutnya.


"kak Marsha..." Parish menggerakan tangannya.


Marsha terbangun, dia memandang Parish tidak percaya. Mata Parish terbuka, dan sekarang bukan hanya jarinya yang bergerak tapi juga tangannya.


"Parish, kamu sudah sadar ?" Marsha memegang kedua pipi Parish dengan kedua tangannya.


"kakak baik-baik saja ?" ucap Parish.


"aku akan selalu baik-baik saja kalo ada kamu" jawab Marsha yang dibalas dengan senyum manis Parish.


"kak... Parish lapar" ucap Parish manyun.


"sabar ya, kita tanya dokter dulu. Boleh ya" bujuk Marsha.


Parish mengangguk, "jangan lama" katanya.


Marsha mengangguk. Dia mendekati auncle Tom dan aunty Lesly. Dengan pelan, dia membangunkannya.


"iya Mars, ada apa ?" tanya auncle Tom seraya meluruskan badannya.


Aunty Lesly juga itu terbangun.


"nona kalian sudah bangun, aku ketemu dokter dulu" ucap Marsha seraya memamerkan senyumnya.


Mereka tersenyum bahagia. Mereka melihat Parish tersenyum kearah mereka.


"syukurlah nona sudah bangun" ucap aunty Lesly seraya beranjak mendekati Parish.


Auncle Tom juga mendekat. Marsha pun keluar dari ruangan.


"aunty, ibu cantik ya. Sangat cantik, lembut dan menenangkan" Parish memegang tangan aunty Lesly.


Aunty Lesly mengangguk, "iya sama seperti nona, semua dalam diri nyonya besar ada pada nona" puji aunty Lesly.


Parish menggeleng, "ibu lebih semuanya, aku mau seperti ibu" Parish tersenyum seraya memeluk aunty Lesly.


Aunty Lesly membelai rambut nonanya dengan lembut.

__ADS_1


***


__ADS_2