Ada Mars Di Ruang Hati Parish

Ada Mars Di Ruang Hati Parish
Part 26


__ADS_3

Mark Mc. Milan membatalkan seluruh pertemuan pentingnya. Putrinya sudah sadar, itu kabar yang sangat membahagiakan untuknya saat ini.


Setelah pertengkarannya dengan Spanish, Mark berusaha untuk tidak datang kerumah sakit karena dia tahu Spanish masih sangat marah padanya.


Mark menyibukan diri dengan pekerjaannya. Dia bahkan belum menghubungi Jade untuk membicarakan tentang kelanjutan rencana pernikahan mereka.


Mark memutuskan untuk membiarkan keadaan tenang dulu baru memulai pembicaraan. Karena pembahasan dia dan Jade nanti bukan hanya tentang mereka berdua tapi tentang putra dan putri mereka, Marsha dan Parish.


"ayah ?!" seru Parish melihat sosok yang masuk dalam kamarnya.


Auncle Tom dan aunty Lesly membungkuk hormat pada tuan besarnya.


Mark memeluk Parish dengan sangat erat, kerinduan yang sudah lama tertahan.


Spanish masuk bersama Starla, dia cukup terkejut melihat kehadiran ayahnya.


"Maafkan ayah... maafkan ayah" ucap Mark berkali-kali.


"untuk apa yah ?" tanya Parish.


"karena ayah tidak tahu tentang penderitaanmu" ucap Mark.


Parish mengerutkan keningnya, dia tidak mengerti maksud ayahnya.


Spanish yang tahu situasinya, segera mengalihkan pembicaraan. Dia memeluk ayahnya, "maafkan Spanish yah, Spanish sudah tidak sopan pada ayah" katanya.


Mark menepuk punggung Spanish, "ayah yang salah Nish, terima kasih kamu sudah mengingatkan ayah" ucapnya.


"yah, tante Jade mana ? Venus ?" tanya Parish, lalu ayahnya datang bersama tante Jade dan Venus. Sekarang ayahnya terlihat datang sendiri.


Mark terdiam, dia belum sempat terpikir alasan tentang Jade pada Parish. Parish tidak tahu kalau mereka bertengkar.


"tante Jade sedang ada urusan sayang" kata Spanish, dia tahu ayahnya sedang bingung.


"kenapa kakak bisa tahu ?" tanya Parish memicingkan matanya kearah kakaknya.


"Marsha yang bilang" jawab Spanish sekenanya.


"Ooo.. kak Marsha mana ? tadi begitu bangun, Parish tidak melihat dia"


"Marsha ada pekerjaan nona" kata auncle Tom.


Parish mangut. Dia sudah tahu kalau Marsha sekarang kerja di tempat Kevin, membantu bisnis papanya.


Papanya ?! sepertinya Parish melupakan sesuatu. Parish mencoba mengingat. Tidak ada yang terlintas, dia lupa. Dia mencoba mengerutkan kening, ada cerita yang terlupa tapi apa. Pikirnya.


Dia terdiam lalu memandang orang-orang sekitarnya. Kepalanya tidak sakit lagi ketika mencoba mengingat.


Parish tersenyum, "aku tidak merasa sakit lagi, padahal tadi aku coba mengingat sesuatu yang aku lupakan" seru Parish.


"syukurlah sayang.. kamu sudah pulih" ucap Mark memeluk putrinya.


"sebenarnya ini semua karena ibu, aku bersama ibu selama ini" ucap Parish.


Semuanya tercengang. Pantas saja Parish tidak sadarkan diri dalam kondisi stabil. Ternyata dia berada di alam ibunya.


"kamu bertemu ibu ?" tanya Spanish.


"iya kak, ibu sangat cantik, senyumnya teduh menenangkan, pokoknya seperti yang selama ini kalian ceritakan" Parish mengingat.


"terus sayang.." kata Mark.


"ibu tinggal di kastil taman mawar yang indah. Parish masih mau disana, tapi ibu meminta Parish untuk pulang. Katanya nanti ayah dan kakak kesepian, padahal ayah dan kakak kan tidak mungkin kesepian aku bilang. Ada tante Jade dan Starla. Tapi ibu memaksa agar aku pulang, tempatku belum disana" Parish cemberut.


Mark dan Spanish duduk disisi tempat tidur Parish. Mereka mengenggam tangan Parish. Syukurlah Chrissy Mc. Milan mengembalikan Parish. Entah apa yang terjadi kalau ibunya itu tetap membiarkan Parish untuk tinggal.


"walaupun ada mereka tapi kami butuh kamu. Kamu harus janji pada kakak, jangan berkata kami bisa tanpa kamu. Kamu segalanya untuk kami" Spanish menangkup wajah adiknya.


"iya kak, ibu bilang dia akan merindukan dan menunggu kita disana" ucap Parish.


Spanish mengangguk.


"ayah tidak mau kehilangan kalian berdua" Mark memeluk kedua buah hatinya. Dia berucap terima kasih dalam hati pada mendiang istrinya karena tidak membawa putrinya.


Mereka berpelukan lama.


Auncle Tom, aunty Lesly dan Starla yang berada disitu meneteskan air mata, mereka terharu melihat kebersamaan keluarga itu.


"ayah, ibu punya pesan yang harus Parish sampaikan pada tante Jade dan kak Marsha" Parish memandang ayahnya.


"apa sayang ?" tanya Mark.


Parish menggeleng, "tidak bisa, kata ibu.. aku harus bilang pada tante Jade" ucapnya.


"baiklah.. ayah akan bicara pada tante Jade" sahut Mark.


"bukan bicara, tapi jemput tante Jade" ujar Parish akhirnya.


Semua kaget, Parish tahu yang terjadi.


"kakak bohong" Parish menjulurkan lidahnya, "ibu selalu melihat kita, aku tahu dari ibu tentang semua yang terjadi. Karena itu ibu memaksa aku untuk pulang, karena semua yang terjadi itu karena aku" jelas Parish.


Spanish mengaruk kepalanya yang tidak gatal, "ibu tahu segalanya ?"


Parish mengangguk, "selama aku disana, ibu bercerita semua tentang ingatanku yang terlupa. Perlahan aku mulai tahu semua bagaimana masa laluku. Trus ibu tahu kalau ayah dan tante Jade marahan. Kakak dan ayah marahan juga ibu tahu" jelas Parish.


Semua tercengang. Cerita Parish sulit dipercaya tapi begitu kenyataannya.


"ayo yah, ketempat tante Jade" paksa Parish.


"baiklah, ayah akan cari tahu dimana mereka" ujar Mark.


Parish tersenyum, "terima kasih yah" katanya.


*


Marsha mengaktifkan kembali ponselnya. Semua pesan dari Spanish masuk menanyakan keberadaannya dan memberi tahu kondisi Parish.


Hampir 2 minggu Marsha tanpa ponselnya.


Tiba-tiba ada pesan baru masuk.


Dari Parish. Marsha langsung membacanya.


maaf kalau aku ganggu kakak..

__ADS_1


Ayah dalam perjalanan ke desa untuk jemput tante Jade dan Venus. Mungkin sekitar 2 hari lagi akan kembali kesini.


Kalau kakak tidak sibuk, boleh aku minta kakak datang untuk menjenguk aku ?


maaf kalau aku banyak meminta.. 🙏🏻


Marsha senang, om Mark memperbaiki hubungannya dengan mama Jade. Tapi bagaimana hubungannya dengan Parish ? apakah harus dia lanjutkan, sedangkan dia tidak tahu apakah Parish menyukainya atau hanya menganggapnya sebatas kakak.


maaf, kemarin aku tidak pamit. Kamu sudah tertidur.


Dan beberapa pekerjaan harus aku tangani.


Baiklah besok aku datang, kamu mau dibawakan apa ?


Balas Marsha.


*


Di rumah sakit ...


Parish tersenyum mendapat balasan dari Marsha. Dia kemudian membalas.


besok aku sudah pulang kerumah. Kata dokter, tidak ada yang perlu di khawatirkan lagi. Jadi besok kakak kerumah saja, tidak usah bawa apa-apa. Kakak buatkan aku sup kayak lalu saja 😁


Di Restbarr, kamar khusus Marsha ...


Marsha tersenyum, lalu mengetik pada keypad


Syukurlah, kamu tetap jaga kesehatan.


Besok aku masak sup khusus buat kamu 😊


Parish membalas,


iya, sampai ketemu besok 😊


Marsha mengirim,


sampai ketemu besok, tidurlah 😊


Parish tersenyum, dia tidak membalas lagi. Dia lalu memejamkan matanya dan tertidur sambil memeluk ponselnya.


*


Parish pulang kerumah disambut Frey dan Grey yang membungkuk hormat pada nonanya.


"terima kasih kak Frey, kak Grey ... bagaimana keadaan kalian ?" tanya Parish.


"baik nona, hanya memar sedikit" kata Grey yang diikuti oleh anggukan Frey.


Parish tersenyum lalu masuk kedalam rumah.


Dia langsung masuk kedalam kamarnya dengan ditemani Starla. Kakaknya menemani ayahnya menjemput tante Jade dan Venus.


"tasnya sudah auncle taruh di dekat lemari. Nanti aunty akan kesini untuk membereskannya"


"iya auncle, terima kasih. Auncle dan aunty istirahat dulu, kan pasti capek temani aku dirumah sakit" ucap Parish.


"tidak apa nona, itu sudah kewajiban auncle" kata auncle Tom. Dia pun pamit seraya menutup pintu kamar.


"jadi kamu merasa lebih baik ?" tanya Starla setelah auncle Tom pergi.


"sulit dipercaya, kami disini mengkhawatirkanmu ternyata kamu tidak mau pulang karena bersama ibumu" Starla menggelengkan kepalanya.


"iya, ibu menitipkan pesan untuk tante Jade"


"trus kak Marsha ?" Starla memandang Parish, seingatnya Parish juga menyebut nama Marsha dirumah sakit.


"ibu memintaku untuk mengaku, kak Marsha sudah memberitahu semua tentang perasaannya. Masa aku tidak memberitahu tentang apa yang aku rasa" ucap Parish lirih.


"itu baru benar !" seru Starla.


"iya, padahal aku bilang.. biar Starla saja yang kasih tahu kak Marsha. Eh ibu marah, ibu bilang.. memangnya Starla yang suka pada Marsha ?!" Parish manyun.


Starla langsung duduk dari baringnya, "terima kasih calon ibu mertua, ibu mertua mengembalikan putri ibu yang pemalu ini" ucap Starla dengan pandangan keatas.


Parish mencubit pinggang Starla, "ihhh senang ya, dibelain ibu" katanya.


Starla meringis, "ya iyalah, walaupun aku belum ketemu tapi aku yakin ibu kamu orang baik" katanya.


Tok tok


"iya..." jawab Parish.


"nona, ada Marsha dibawah" kata aunty Lesly.


"iya aunty, tunggu sebentar" balas Parish.


Parish meraih ponselnya, jam makan siang dan tidak ada pesan apapun dari Marsha.


"panjang umur" ucap Starla.


Parish tersenyum. Dia enggan memberitahu Starla kalau dia yang meminta Marsha datang.


"ayo kita turun kebawah" katanya.


Parish melihat Marsha berdiri diujung tangga. Dia membawa kotak makanan.


"halo kak Marsha" sapa Starla.


"halo Star.. Spanish mana ?" tanyanya.


"Spanish ikut om Mark jemput tante Jade" jawab Starla.


Marsha mengangguk.


Langkah Parish terhenti, dia memandang Marsha lama. Tidak tahu harus bilang apa. Bingung dan gugup.


Starla yang sangat mengerti situasinya, segera pamit dengan alasan kedapur untuk melihat makan siang sudah siap atau belum.


"jangan cuma liat-liatan, ngomong !" katanya seraya beranjak.


Parish mencibir, Starla mulai menggodanya.


"bagaimana keadaanmu ?" tanya Marsha setelah Starla menghilang kedapur.

__ADS_1


"sudah lebih baik, terima kasih kakak mau datang kesini. Maaf tentang sikap ayah" ucap Parish.


"tidak apa, wajar om Mark bersikap begitu. Beliau hanya khawatir" kata Marsha.


Marsha lalu menyodorkan kotak makanan yang dia bawa, "tadi aku memasaknya di restorant, karena tidak keburu kalau masak disini. Soalnya aku baru selesai rapat dengan kak Kevin" katanya.


"maaf jadi merepotkan kakak" ucap Parish menerima kotak makanan dari Marsha.


"aku tidak pernah merasa direpotkan oleh kamu" ucap Marsha.


Parish tersenyum.


"ehem ! makanan sudah siap, kita makan siang dulu baru lanjutkan ceritanya" ujar Starla yang mengagetkan keduanya.


"ayo kak" ajak Parish.


Marsha mengangguk. Mengikuti Parish di belakang.


*


Selesai makan, Marsha pamit balik ke kantor karena masih ada yang harus dia urus. Padahal Parish masih ingin cerita. Ada banyak pertanyaan dan cerita yang harus dia jelaskan pada Marsha.


Parish dengan perasaan sedikit kecewa, mengantar Marsha keteras dimana mobil Marsha terparkir dihalaman depan.


Marsha yang tahu kalau Parish dengan manyun, memegang tangan Parish.


Parish tidak melepaskannya, dia membiarkan saja Marsha melakukannya.


"aku pergi dulu, nanti malam aku kesini lagi. Kamu istirahat, kan baru pulang dari rumah sakit" bujuk Marsha.


Parish mengangguk. Dia menunduk.


"mana senyumnya ?" pinta Marsha seraya membungkuk menatap wajah Parish.


Parish mengangkat wajahnya, lalu memamerkan senyumnya. Marsha membalas tersenyum.


"bye Parish" ucap Marsha seraya melepas tangan Parish.


"bye kak Marsha" ucapnya.


Parish masuk kedalam rumah setelah mobil Marsha menghilang keluar di balik pagar rumah.


*


Marsha menepati janjinya. Dia datang makan malam bersama Parish dan Starla. Setelah itu dia meminta izin pada Starla untuk bicara berdua dengan Parish di taman belakang. Starla mengiyakan, dia akan menonton tivi dengan auncle Tom dan aunty Lesly.


Di taman SyRishRose ...


Marsha membuka pembicaraan, "aku minta maaf, sudah membuat kamu jadi sakit. Andai saja..." belum sempat Marsha melanjutkan kalimatnya, Parish menutup mulut Marsha dengan telunjuknya.


"kakak sudah pernah bilang itu dirumah sakit, aku sudah mengerti semuanya kak. Tentang alasan selama ini kakak tidak pernah kasih tahu aku kalau kakak pemilik liontin ini. Ibu sudah memberitahuku, ibu bilang bukan salah kakak" jelas Parish seraya menyentuh liontinnya.


"ibumu ?!" tanya Marsha.


"iya, selama ini aku bersama ibu. Ibu memintaku pulang karena aku harus bicara pada tante Jade dan kakak. Besok begitu tante Jade datang, aku akan bilang semuanya"


Marsha mengangguk, "untuk aku bicara apa ?" tanyanya.


Parish mencium pipi Marsha cepat lalu memalingkan mukanya. Dia merona merah.


Marsha kaget bercampur senang, dia tidak menyangka mendapat perlakuan seperti itu dari Parish.


Marsha membalikan badan Parish agar lurus menghadapnya, dia lalu menangkup wajah Parish.


"ibu mau kamu bicara apa ?" tanya Marsha.


"ibu bilang, sudah saatnya aku bilang sama kak Marsha kalau aku suka sama kak Marsha" ucap Parish.


Marsha kaget.


Lalu Parish meneruskan kalimatnya, "dari awal ketemu hari pertama pembekalan, dari hari itu kak Marsha sudah memenuhi seluruh hatiku. Aku kecewa karena kita akan menjadi saudara, itu sebabnya aku bersikap aneh waktu itu. Maaf kak.. aku lupa tentang masa kecil kita tapi aku tidak lupa kapan aku suka sama kakak, bagaimana senangnya aku waktu jalan berdua kakak, seperti apa yang aku inginkan tapi kita akan menjadi saudara" kalimat terakhir Parish terdengar lirih.


Marsha memeluk Parish, "terima kasih ibu, terima kasih ibu sudah meminta putri ibu ini untuk bilang padaku. Kalau tidak aku akan mati penasaran" ucap Marsha


Parish melepaskan pelukan Marsha, "mati penasaran ?! kenapa begitu ?!" tanyanya manyun.


"ya kamu tidak akan pernah bilang kalau bukan ibu yang minta" sergah Marsha.


Parish terdiam lalu mengangguk. Dia menunduk.


Marsha menaikan dagu Parish agar memandangnya, "tentang kita jadi saudara, kita tunggu besok mama dan om Mark datang ya. Tapi aku mau kamu tetap disampingku, tetap ada untuk aku, jangan berpikiran yang buruk"


Parish mengangguk.


"terima kasih Rish... kamu sudah buat aku bahagia malam ini dan seterusnya. Cinta dari dulu sampai sekarang akhirnya terbalaskan" ucap Marsha.


Marsha memeluk Parish lama. Dan Parish merasa nyaman, bahkan tidak ingin melepasnya.


"kak, jadi mulai malam ini.. kita jadi kayak kak Spanish dan Starla ?" tanya Parish dalam pelukan Marsha.


Marsha melepaskan pelukannya, "kamu maunya bagaimana ?"


Parish kikuk, ihhh kenapa di tanya. Dia semakin bingung.


"aku cinta sama kamu dan kamu ternyata juga cinta sama aku, jadi kita sudah terikat hati sayang.." ucap Marsha yang membuat Parish melayang dan merona.


"mulai malam ini panggil aku sayang. Jangan kak lagi" ucap Marsha.


Parish tersenyum mengangguk, dia memeluk Marsha. Menjatuhkan kepalanya pada dada bidang Marsha. Marsha pun memeluk lebih erat dan mencium puncak kepala Parish.


"aku sangat mencintai kamu, sangat" ucap Marsha.


Parish melihat keatas, tatapan mereka bertemu.


"maafkan aku kalo selama ini tidak mengerti perasaan kakak" ucap Parish.


"aku yang tidak pintar untuk ungkapan rasaku sama kamu. Aku hanya berani berada didekatmu" jawab Marsha.


Parish memeluk Marsha dengan erat.


Satu babak baru dalam hidup mereka dimulai.


Bagaimana pun hasil keputusan orang tua mereka besok, yang mereka tahu hati mereka sudah menyatu dan tidak ingin dipisahkan.


Dan Marsha akan mempertahankan Parish.

__ADS_1


Sebaliknya dalam pikiran Parish. Apapun keputusan orang tua mereka, dia akan tetap bersama Marsha. Dia bahagia.


***


__ADS_2