
Marsha umur 15 tahun ...
Marsha mengamati sekolah seni kota RedRose dari toko sembako tempat dia bekerja.
Sekolah dimana murid-muridnya kebanyakan berasal dari kalangan atas. Anak pejabat, pengusaha, bahkan artis.
Mereka sombong dan kasar. Pikir Marsha awalnya.
Dia bahkan sering mendapat tatapan sinis ketika mereka mendatangi toko untuk membeli sesuatu. Mereka seolah mengejeknya, hey kamu orang miskin, baju kamu lusuh, kusut dan berantakan.
Marsha tidak perduli. Karena memang itulah dia.
Tapi semenjak ketemu dia.
Gadis manis berambut panjang sepinggang yang selalu tersenyum ramah kepadanya, penilaian Marsha tentang semua anak orang kaya yang bersekolah disini sombong dan jahat berubah.
Gadis manis itu selalu menyapanya duluan. Bahkan tidak segan untuk menepuk pundak Marsha dengan lembut ketika dia sedang memandang takjub pada pesona didepannya.
"kamu kenapa ?" tanyanya setelah menepuk pundak Marsha.
"tidak apa-apa" ucap Marsha gugup.
Gadis itu menggelengkan kepalanya.
"ada lagi yang kamu butuhkan ?" tanya Marsha.
"tidak ada lagi, sudah cukup. Sebotol air mineral, permen lolipop, satu pak sedang tisu basah dan kering" katanya seraya menyerahkan keranjang belanjanya pada Marsha.
Walaupun ini toko sembako tapi luasnya seperti minimarket. Jadi mereka bisa mengambil barang yang mereka butuhkan menggunakan keranjang belanja yang selalu di tumpuk Marsha didekat pintu masuk toko.
Marsha membawa keranjang belanja gadis itu menuju meja kasir dimana siang ini boss Alice, istri pemilik toko yang sedang menjaga.
Suaminya boss Hary sedang pergi mengambil barang. Biasanya boss Hary menjaga toko pagi hari, saat istrinya sibuk mengerjakan pekerjaan rumah tangga dan Malam hari sampai jam sepuluh malam.
Gadis itu mengikuti Marsha dari belakang. Dia berhenti di depan meja kasir, menunggu belanjaannya di hitung.
"Mars ! bantu aku" teriak boss Hary yang baru saja datang dengan mobil pickup-nya.
Dengan bergegas Marsha berlari menghampiri bossnya. Membantu menurunkan barang-barang isi toko yang sudah mulai habis sesuai catatannya dari mobil.
"hati-hati" pesan boss Hary.
"baik boss" sahut Marsha.
*
Gadis itu hendak melewatinya menuju pintu keluar saat dia masih mengangkat barang. Tapi tidak bisa, sempit sekali. Marsha harus menurunkan barangnya dulu baru ada ruang untuknya lewat.
Marsha mengerti. Dengan cepat dia menurunkan barangnya lalu mempersilahkan gadis itu lewat.
"muka kamu kotor" kata gadis itu memandangnya.
Marsha meraih ujung kaus yang dikenakannya, dia hendak melap mukanya. Tapi gadis itu menghentikan tangannya.
Mau tahu.. jantung Marsha berdesir cepat. Tangan gadis itu terasa lembut di kulitnya tanpa penghalang kaus seperti waktu tepukan dipundaknya.
"jangan pake itu, pake tisu" katanya.
Dia membuka plastik belanjaannya lalu membuka segel penutup tisu yang baru dibelinya, mengambil isinya beberapa helai lalu memberikannya pada Marsha.
Marsha mengambilnya seraya mengucap terima kasih.
"sama-sama, aku pergi dulu. Bye" dia pun pamit menuju sekolahnya.
"hey, jangan melamun" boss Hary menepuk pundaknya.
__ADS_1
Marsha tersentak, lalu melanjutkan pekerjaannya.
*
"kamu suka ya sama gadis bunga mawar itu ?" tanya boss Hary di siang terik membuyarkan lamunannya.
Marsha menoleh.
Boss Hary memanggil begitu karena gadis itu selalu memakai topi bundar dengan hiasan mawar merah mengelilingi lingkaran topinya.
"dia kan masih SMP boss" sergah Marsha.
"tapi kamu suka kan ?!" sahut boss Hary lagi, hendak menggodanya.
Marsha terdiam. Entah ini rasa suka atau apa, yang jelas dia selalu ingin memandang gadis itu. Walaupun dari kejauhan, hatinya sudah merasa senang.
"tidak ada salahnya Mars, hanya perasaan suka. Setelah kalian sama-sama dewasa, mari jadikan itu cinta" nasehat boss Hary.
"iya boss" ucap Marsha.
"trus bagaimana sekolahmu ?" tanya boss Hary.
Walaupun bekerja, tapi Marsha masih berstatus pelajar SMA C. Pagi hari dia bersekolah, siang hari dia bekerja di toko boss Hary dan malam harinya dia bekerja di Restbarr 'THE SHA' milik salah satu orang kaya di kota ini Tuan Shane Shannon.
Tuan Shane yang selama ini membantu semua biaya kehidupannya. Tuan Shane menganggap dia seperti anak sendiri. Karena di dunia ini, Marsha sudah tidak punya siapa-siapa lagi. Dari kecil dia dibesarkan oleh neneknya tanpa mengenal orang tuanya yang hanya meninggalkan pusara untuk dikenang. Marsha tidak pernah merasakan kasih sayang kedua orang tuanya. Hanya kasih sayang nenek, sampai setahun yang lalu neneknya meninggal.
Marsha beruntung mempunyai orang-orang baik seperti boss Hary dan keluarganya serta Tuan Shane Shannon dan pegawainya.
Boss Hary bahkan memintanya untuk tinggal di toko daripada tinggal digubuk kecil sendirian, dia menolak. Begitu juga Tuan Shane yang memintanya untuk tinggal di mess Restbarr, tapi dia tolak karena dia tidak ingin merepotkan terlalu banyak.
"baik boss" jawab Marsha.
Dia tahu maksud boss Hary. Kemarin dia sempat diskors lantaran berkelahi dengan anak gank sekolah tetangga. Ketua gank itu mengalami luka yang cukup serius setelah beradu satu lawan satu dengan Marsha.
Marsha mengerti.
Lingkungan sekolah dan lingkungan pekerjaannya bersama Tuan Shane membuatnya sering menghadapi bahaya yang kadang membuat dia memar, luka-luka bahkan sampai berdarah. Karena itu dia selalu berhati-hati dan waspada.
"itu si mawar merah sudah mau pulang" boss Hary menunjuk kearah sekolah seni dengan pandangan matanya.
Terdengar bunyi bel. Dan suara murid-muridnya pun mulai terdengar riuh.
Marsha senang, dengan begitu dia bisa melihat gadis itu sebentar sebelum dijemput oleh supir keluarganya.
"bolehkah aku...." Marsha ragu-ragu hendak minta izin.
Boss Hary tertawa.
"pergilah....." katanya seraya mengibaskan tangannya.
"Marsha !!!" boss Alice membuat Marsha berhenti melangkah.
"iya boss" jawab Marsha.
Boss Alice memberikan dia sebuah kamera pocket. Marsha melihat benda ditangannya dengan pandangan tidak mengerti.
"ambil fotonya, aku akan mencetaknya untukmu" boss Alice tersenyum.
Dia tahu dari cerita suaminya.
"kamu membuat Marsha tidak bisa tidur mom.. dengan adanya foto itu" kata boss Hary pada istrinya.
"justru aku membuat Marsha tidur nyenyak karena mimpi indah terbayang yang di foto dad..." bantah istrinya.
"sudah.. jangan dengarkan dad, dia hanya bercanda" boss Alice tersenyum.
__ADS_1
Boss Hary menjulurkan lidah. Tanda kalau dia berhasil membuat lelucon.
Marsha memandang kedua bossnya dengan mata berbinar-binar. Dia terharu. Mereka sangat baik.
"sudah cepat sana.. nanti dia pulang" tegur boss Hary.
"iya boss" jawab Marsha cepat.
Dengan bergegas dia menuju kesekolah seni. Berharap gadis itu masih ada di taman seperti biasanya menunggu jemputan.
*
Benar. Gadis itu duduk di bangku taman sekolah sambil membuat sketsa. Marsha sudah tahu tempat favorit gadis itu.
Marsha juga sudah menebak. Dari pertama kali melihat gadis itu, di tempat yang sama dan dengan aktivitas yang sama, gadis itu pasti mengambil kelas melukis.
Tapi di waktu yang lain sewaktu dia memberanikan diri masuk mengendap-endap kedalam lingkungan sekolah saat jam pelajaran dimulai, gadis itu sedang bermain piano di kelas musik.
Mungkin dia mempelajari semuanya. Pikir Marsha waktu itu.
Marsha kemudian memetik bunga mawar merah di dekatnya. Biarlah tukang kebun sekolah kaget bunganya telah terpetik, dia juga tidak tahu siapa yang petik. Pikir Marsha.
Marsha melangkah mendekat. Gadis itu melihatnya.
"hai, kamu kenapa bisa ada disini ?" tanyanya sambil menengok kekiri dan kanan.
"pak satpam akan menyuruh kamu keluar, karena kamu bukan murid disini" jelasnya.
Marsha tidak bicara apa-apa. Dia hanya berdiri mematung seraya menyembunyikan bunga mawar yang dipetiknya kebelakang.
Marsha lalu mendekat, kemudian memberi bunga itu padanya.
"terima kasih.. aku sangat suka bunga mawar" ucap gadis itu.
Dia lalu menyelipkan bunga itu dalam lembaran buku sketsanya. Lalu meneruskan gambarannya.
Marsha memilih mundur perlahan. Dia tidak ingin menganggu. Tapi dia masih ingin disini. Dia pun duduk di tembok pinggiran taman, tidak jauh dari tempat gadis itu duduk. Dia hanya ingin memandangnya. Itu saja.
*
Gadis itu melihat sebuah mobil minibus warna hitam berhenti di depan gerbang sekolah. Dengan bergegas dia mengumpulkan kertas gambarnya, merapikannya masuk kedalam tas tangan ukuran sedang.
"sampai ketemu lagi" ucapnya sebelum beranjak pergi.
Marsha tersadar, dia juga harus segera pergi. Kalau tidak, pak satpam sekolah akan mengusirnya keluar karena dia tidak punya kepentingan disekolah ini.
Tapi andai pak satpam tahu, Marsha punya kepentingan hati di sekolah ini.
*
Marsha kembali ke toko dengan wajah lesu. Dia melupakan sesuatu.
Kedua bossnya memandangnya. Mereka menanti kabar bagus dari Marsha.
"aku lupa mengambil foto" ucap Marsha.
Boss Hary tertawa terbahak-bahak sedangkan boss Alice menggelengkan kepalanya.
"sudah kubilang, anak ini pasti cuma bisa diam mematung. Lupa pada sekitarnya. Dunia serasa milik berdua Mars" ujar boss Hary.
"sudahlah, aku akan meletakan kameranya di laci kasir. Kamu potret begitu ada kesempatan" boss Alice meraih kamera di tangan Marsha. Dia menunjukan dimana dia menaruh kameranya.
Marsha mengangguk.
***
__ADS_1