
Dokter Steve menemui Mark Mc. Milan dirumahnya. Dia harus memberitahu perkembangan Parish pada sahabatnya itu.
Mark berdiri diteras menyambut sahabatnya. Mereka berpelukan lalu Mark mempersilahkan dokter Steve masuk kedalam.
"kita bicara di taman belakang saja" ajak Mark.
Dokter Steve mengangguk.
Mark Mc. Milan memberi kode pada aunty Lesly untuk membuatkan minuman.
Aunty pun menyuruh asistennya, Megan untuk membuatnya. Megan mengangguk.
Dirumah ini auncle Tom dan aunty Lesly adalah kepala penanggung jawab. Aunty Lesly mengurus bagian dalam rumah sedangkan auncle Tom mengurus luar rumah.
Aunty Lesly mempunyai dua orang asisten. Megan dan Minny.
Sedangkan auncle Tom mempunyai asisten sekaligus putranya Tobby dan Rome yang bertugas sebagai keamanan. Lalu Hazel sebagai bagian taman. Serta Alex sebagai supir sekaligus sekretaris pribadi Mark Mc. Milan.
Hanya saja kalau urusan pribadi tuan muda dan nona mudanya, auncle dan aunty yang mengurusnya sendiri. Karena mereka dari kecil merawat Spanish dan Parish kala kedua orang tua mereka bekerja.
"katakan ada apa gerangan sampai kamu menyempatkan diri datang kesini dokter sibuk ?" canda Mark.
"kamu bisa saja, kamu itu tuan sibuk sedunia" balas dokter Steve.
Tidak lama kemudian, Megan datang membawa minuman dan cake untuk tuan besar dan tamunya.
"terima kasih Megan" ucap dokter Steve.
"sama-sama dokter. Permisi"
Mark mempersilahkan dokter Steve minum terlebih dahulu baru melanjutkan cerita mereka.
"ini tentang Parish"
"kenapa Parish ?" tanya Mark.
"aku merasa banyak kenangan yang tersimpan di RedRose utara. Aku pikir Parish bisa cepat mengembalikan memorynya disana" kata dokter Steve.
Mark menghela nafas berat.
Dia tidak ingin kembali kesana. Terlalu banyak kenangan dengan mendiang istrinya disana yang membuat dia sedih bila berlama-lama disana.
"kamu tahu kan apa alasan aku pindah kesini ?" Mark balas bertanya pada dokter Steve.
Dokter Steve mengangguk. Dia sangat tahu apa yang menjadi satu-satunya alasan Mark.
Kenangan Chrissy Mc. Milan.
Karena sangat mencintai Chrissy, dia tidak mudah membuka hati untuk wanita manapun. Sampai Jade datang.
Aura keibuan dan lemah lembutnya mengingatkan Mark akan pesona mendiang istrinya. Dia berharap jika Jade bisa menjadi ibu untuk Spanish dan Parish nantinya.
"tapi ini tentang Parish.. kamu tidak ingin dia hidup normal dengan semua ingatannya ? setidaknya biarkan dia mengingat tentang ibunya" sahut dokter Steve.
Mark menatap sahabatnya itu. Steve benar.
Sejak peristiwa naas itu, Parish tidak ingat tentang semua kejadian sebelumnya. Yang dia ingat, dia berada dirumah sakit, ayahnya dan kakaknya. Parish harus kembali mengenal satu persatu orang-orang disekitarnya.
"setidaknya, lakukan ini demi putrimu" ucap Steve seraya menyentuh pundak Mark.
"tapi aku tidak sanggup kembali kesana" sergah Mark.
"biarkan Parish pergi.. setidaknya dua atau tiga hari dia berada disana, lalu datang padaku untuk kembali konsultasi. Aku akan terus memantau keadaannya" jelas Steve.
Mark menghela nafas panjang. Dia berjanji akan memikirkan dulu tentang hal ini.
Mengirim Parish kesana tanpa pengawasan, itu sangat tidak mungkin. Karena bagaimanapun, RedRose utara sudah hilang dalam ingatan Parish. Dia tidak tahu seluk beluk kota itu semenjak kecelakaan.
__ADS_1
"baiklah.. kamu pikirkan dulu. Aku pamit ada praktek" ucap Steve.
"terima kasih Steve.. kamu sangat menyayangi anak-anakku" kata Mark.
"mereka juga anak-anakku kan ?!" balas Steve.
Dari Spanish dan Parish kecil, Steve sudah sangat menyayangi anak-anak itu seperti anaknya sendiri.
Mark tersenyum lalu beranjak mengantar Steve kedepan menuju mobilnya.
*
Mark meminta Spanish untuk keruang kerjanya setelah makan malam.
Parish bersikap biasa saja, dalam pikirannya bahwa kakak dan ayahnya pasti akan membicarakan urusan pekerjaan.
Spanish duduk berhadapan dengan ayahnya dimeja kerja.
"ada apa yah ?" tanya Spanish.
"ini tentang adikmu"
"Parish kenapa ?"
Mark lalu menceritakan tentang pembicaraannya dengan dokter Steve sore tadi.
Spanish mengerti. Bahwa masa lalu mereka berada di RedRose utara, bagaimanapun mereka pergi pasti mereka akan kembali juga kesana. Ibunya ada disana.
"ayah tidak bisa kesana karena pekerjaan ayah yang padat" ujar Mark.
"aku juga ada pertemuan dengan klien untuk membuat pameran otomotif yah. Mungkin seminggu aku akan berada di Sunflower" balas Spanish.
"memang Parish akan ditemani oleh auncle Tom dan aunty Lesly tapi ayah tetap ingin ada semacam pengawal untuk Parish tapi bukan orang asing. Kamu tahu kan sifat adikmu bagaimana" ujar Mark.
Spanish paham maksud ayahnya.
"aku punya calonnya yah" Spanish tersenyum ceria.
"siapa ?"
Spanish mengedipkan matanya.
Setelah beberapa saat akhirnya Mark Mc. Milan mengerti siapa yang dimaksud Spanish.
"ayah akan segera menemui dia" ujar ayahnya.
*
Mark Mc. Milan meminta bertemu di toko bunga Jade Shannon.
Mark memilih untuk datang duluan dari waktu yang telah mereka sepakati.
"kamu mau aku buatkan kopi ?" tanya Jade.
"nanti saja, aku menunggu Marsha" jawab Mark.
Jade mengerutkan kening.
Dia tidak tahu calon suaminya itu datang untuk menemui Marsha.
Ada apa ya. Pikirnya.
Tapi dia memilih untuk tidak bertanya, toh nanti baik Mark dan Marsha akan bercerita sendiri pada dirinya.
Sekitar setengah jam kemudian Marsha datang sesuai waktu kesepakatan. Dia kaget melihat Mark sudah datang duluan.
"maaf om.. aku datang terlambat" ucap Marsha.
__ADS_1
"tidak Mars, aku yang datang terlalu cepat. Aku kepikiran pertemuan kita ini. Kalau nantinya jawaban yang aku dapatkan tidak sesuai keinginanku" terang Mark.
Marsha semakin tidak mengerti kenapa tiba-tiba om Mark menelfonnya dan meminta untuk bertemu.
"Jade, boleh aku meminta kopi ?" ujar Mark.
"baiklah, kamu mau sayang ?" tanya Jade pada Marsha.
"iya ma, terima kasih"
Jade pun masuk ke pantry untuk membuat kopi. Sebenarnya dia bisa menyuruh pegawainya, tapi yang meminta ini adalah orang-orang spesial dihidupnya tentunya dengan senang hati dia membuatkannya.
Sampai kopi tersedia, Mark belum memulai pembicaraan. Ada beberapa panggilan ponsel yang harus dia jawab. Mark benar-benar sibuk.
"baiklah. Maafkan atas gangguan tadi"
"tidak apa om" jawab Marsha.
Mark memandang Jade yang duduk di dekat meja kasir agak jauh dari mereka.
"kalau aku minta kamu untuk pergi beberapa hari, mama kamu tidak apa ?" tanya Mark memulai pembicaraan.
"mama kadang khawatir om. Tapi memangnya ada apa ?" tanya Marsha yang tidak dapat menyembunyikan rasa penasarannya.
"aku ingin kamu menemani Parish ke RedRose utara" ujar Mark akhirnya.
Marsha sedikit kaget tapi dia mencoba bersikap biasa.
Lalu Mark Mc. Milan pun bercerita keadaan sebenarnya tentang Parish. Sebenarnya Marsha sudah tahu sedikit ceritanya karena Marsha yang mengantar Parish terapi waktu itu. Tapi kembali lagi, Marsha ingin tetap bersikap sopan tidak memotong pembicaraan Mark.
"bagaimana ?" tanya Mark.
"aku mau om" jawab Marsha.
Karena terus terang dia sangat menginginkannya. Dengan begitu dia bisa menunjukan tempat yang mungkin bisa mengingatkan Parish akan masa lalunya. Karena Marsha adalah salah satu dari ingatan yang hilang itu.
"tapi biar aku yang bicara dengan mama om. Mama kadang khawatir tapi aku yakin aku bisa menenangkannya" ucap Marsha.
"baiklah aku permisi dulu. Setelah bicara dengan Parish, aku akan mengatur segala sesuatunya" ujar Mark.
Marsha mengangguk.
Setelah meminum kopinya, Mark menghampiri Jade untuk pamitan.
Ada beberapa pertemuan yang harus dia hadiri dan beberapa pekerjaan yang mengharuskan untuk diurus secepatnya sebelum pernikahannya direncanakan ulang waktunya. Dia akan membahasnya nanti dengan Jade setelah semua urusannya selesai.
Setelah Mark pergi, Jade menghampiri putranya.
"om Mark meminta aku untuk menemani Parish ke RedRose utara" kata Marsha sebelum mamanya bertanya.
"tidak ! aku tidak ingin kamu kesana Mars. Bahaya untuk kamu" Jade menggelengkan kepalanya.
"tapi ini kesempatanku ma, aku bisa membantu Parish untuk mengembalikan ingatannya. Aku ingin dia mengingatku ma, aku ingin Roseku"
"tapi mama tidak mau Maxim menemukanmu" sergah Jade.
Dia teringat bagaimana mendiang suaminya menyuruh orang terbaiknya mencari seorang hacker untuk menghapus data Marsha di file manapun di RedRose utara. Orang-orang suruhan keluarga Maximiliano tidak akan mendapati jejak keberadaan Marsha.
"mama tenang, aku akan baik-baik saja. Disana ada kak Kevin yang bisa aku andalkan" Marsha sengaja menyebut Kevin.
Karena cuma satu nama itu yang bisa membuat Jade sedikit tenang apabila Marsha hendak ke RedRose utara. Karena itu wajib untuk Marsha selalu menemui Kevin apabila berkunjung kesana.
"baiklah.. tapi ingat, selalu kabari mama" pinta Jade mengabulkan permohonan putranya untuk pergi.
Marsha tersenyum lalu memeluk mamanya.
"terima kasih ma. Aku janji, aku akan baik-baik saja disana" ucap Marsha seraya tersenyum.
__ADS_1
***