Ada Mars Di Ruang Hati Parish

Ada Mars Di Ruang Hati Parish
Part 27


__ADS_3

Parish memeluk Starla senang, mereka baru saja masuk kamar setelah Marsha pamit pulang.


Starla senang, akhirnya Parish bisa menjalin hubungan dengan seseorang yang selama ini dia impikan.


Seseorang yang selalu dilihatnya dari jauh dan ternyata juga melihatnya dari jauh.


"cieee.. yang senyum-senyum sendiri" sindir Starla.


"senang ya Star kalau kita berhasil melepaskan beban dalam hati kita" ucap Parish memandang ke langit-langit kamarnya.


"iya, kalau dari awal kamu bilang mungkin tidak akan selama ini" goda Starla.


Parish memandang Starla, "ihhhh Starla, jangan buat aku merasa bersalah. Kak Marshanya tuh, kenapa tidak bilang duluan" sahutnya manyun.


"iyaaa kalian berdua salah. Sudah tahu suka tapi gak bilang" kata Starla lalu merapikan bantalnya, bersiap tidur.


"kamu sudah mau tidur ?" tanya Parish.


"iya aku sudah ngantuk, kakakmu tadi bilang sudah di jalan. Besok pagi mereka sampai" kata Starla.


Parish mangut.


Ponselnya berbunyi. Nada pesan masuk.


"cieee.. itu yang kamu tunggu, aku tidur duluan ya" pamit Starla seraya menutup matanya. Dia tertidur.


Walaupun Starla sudah dikasih kamar tamu tapi dia lebih memilih tidur bersama Parish. Dan Parish juga tidak keberatan, malah senang.


Parish membaca pesan dari Marsha.


Aku sudah sampai Restbarr... tapi belum masuk kamar, singgah sebentar di kantor. Kak Kevin mau bahas hal penting tentang kerjaan.


Parish membalas ...


Iya, aku tidur duluan. Besok pagi orang tua kita sampai, tadi kak Spanish bilang ke Starla.


Marsha mengirim balasan ...


Iya, mimpi indah sayang.. ❤


Parish tersenyum melihat emoticon love yang dikirim Marsha. Sekarang mereka benar-benar sudah jadi pasangan kekasih.


Parish membalas ...


Iya, jangan terlalu capek kerja. Jaga kesehatan 😊


Marsha geleng kepala, Parish masih saja bersikap datar. Dia lalu mengetik sambil tersenyum.


Iya sayang.. tapi aku mau emotny bukan itu 😔


Parish tidak mengerti, dia membalas ....


Mauny bagaimana ? 🙄


Marsha membalas ...


Tidurlah sayang.. 😘


Parish mengerutkan keningnya, ooo dia mengerti sekarang. Parish lalu membalas pesan Marsha.


Iya sayang, jangan terlalu lama lemburnya 😘


Marsha tersenyum senang ...


Iya sayang.. ❤


Parish pun membalas,


Sampai ketemu besok sayangku ❤


Marsha tersenyum lalu menyimpan ponselnya dalam saku jaket.


Kevin yang dari tadi memperhatikan Marsha sambil memeriksa laporan, menebak-nebak siapa gerangan yang bertukar pesan sehingga membuat adik angkatnya itu senyum-senyum sendiri.


"Parish ?!" tebak Kevin.


Marsha mengangguk, "kami jadian beberapa jam yang lalu" jawabnya.


Kevin tersenyum senang, "akhirnya dia membalas cintamu" katanya.


Marsha menggeleng, "dia menyukai aku dari awal ketemu di kampus. Aneh ya kak, takdirnya bisa pas begini" ucapnya seraya tersenyum.


Kevin kaget lalu dia mengangguk "saling menjaga, semoga kalian berjodoh" ucapnya.


"Aamiin, terima kasih kak"


Marsha lalu mengambil berkas yang harus dia periksa. Tiba-tiba dia teringat sesuatu, "kak, mama Jade dalam perjalanan pulang kesini. Om Mark menjemputnya" sahut Marsha.


"iya, aku sudah tahu tapi orang tuaku masih betah disana. Katanya mereka mau jual beli buah" Kevin tertawa.


Marsha ikut tertawa sambil geleng kepala. Kedua bossnya itu memang juara dalam urusan jual beli.


*


Pagi ini, suasana sarapan keluarga Mc. Milan ramai.


Mark Mc. Milan dan Spanish sudah pulang dan membawa Jade dan Venus.


"bagaimana keadaanmu Rish ?" tanya Jade.


"sudah lebih baik tante" jawab Parish.


Ponsel Parish berbunyi, pesan dari Marsha.


Aku sudah dekat arah rumahmu, apa tidak apa kalau aku ikut bergabung ?


Parish membalas,


Jangan main hp sambil nyetir sayang, cepat kesini. Semua sudah menunggu 😘


Tidak ada balasan dari Marsha. Parish pun meletakan ponselnya.


Tak lama terdengar langkah orang masuk.


Semua memandang Marsha.


Mark Mc. Milan beranjak, dia tahu Marsha berat hati untuk masuk apalagi bertemu dengannya. Dia sudah tahu tentang yang dirasakan Marsha dari Jade, "maafkan om Mars, seharusnya om tidak berpikir dangkal seperti itu. Kamu mau kan terima permohonan maaf om ?" ucapnya.


Marsha mengangguk, "Marsha yang minta maaf om, seharusnya lebih hati-hati menjaga Parish" katanya.


Mark memeluk Marsha, "ayo kita sarapan bersama" ajaknya setelah melepaskan pelukan.


Marsha mengangguk.

__ADS_1


Setelah sarapan, mereka memilih duduk diruang keluarga. Para pria memilih minum kopi sedangkan para wanita minum teh. Venus minta dibuatkan jus jambu.


"Parish, ada yang mau kamu bilang pada tante Jade ?" tanya Mark mengusik Parish yang sedang menemani Venus bermain lego.


Parish memandang tante Jade, dia menghampirinya lalu berlutut didepan Jade yang duduk bersebelahan dengan Mark di sofa.


"ibu bilang, tante Jade baik. Aku dan kak Spanish dapat merasakan kasih sayang ibu dalam diri tante Jade" Parish memandang dalam mata Jade.


"terima kasih sayang, tante sayang kalian berdua sama seperti kepada Marsha dan Venus" ucap Jade.


"aku tahu tante" Parish mengangguk.


"Dan aku beruntung memiliki kalian berdua" Mark menarik Parish agar duduk diantara mereka. Mark merangkul Parish dan Jade lama.


"sekarang, ada yang mau kamu bilang ke Marsha ?" tanya Mark.


Parish gugup, Marsha kini memandangnya. Spanish menyikut Marsha. Starla yang duduk disebelah Spanish pun senyum-senyum tidak jelas menggoda Parish.


"kak Marsha sudah tahu yah" Parish menunduk malu.


Kini pandangan Mark tertuju pada Marsha, "kamu sudah tahu jawaban perasaanmu Mars ?" tanyanya.


"iya om, semalam Parish sudah memberi tahu. Dan semalam kami sudah resmi jadian" ucap Marsha pelan, dia sudah siap menerima resiko penolakan dari ayah Parish.


"kalian sudah jadian tanpa bilang dulu pada kami ? trus pernikahan kami bagaimana ?" tiba-tiba nada bicara Jade meninggi.


Semua kaget. Apalagi Parish yang tidak pernah mendengar tante Jade begitu. Venus saja langsung beranjak memeluk Marsha.


"maaf ma, tapi mama bilang kalau Marsha boleh bersama Parish" sergah Marsha, masih berusaha untuk tenang dan membuat Venus ikut tenang.


Mark mengusap punggung Jade agar tenang, "seharusnya kalian bilang dulu pada kami. Karena kami sudah merencanakan semuanya" katanya.


Dia melihat pada Parish disebelahnya, "kamu mau ayah membatalkan pernikahan ayah ?" tanyanya.


Parish kaget, dia tidak bermaksud begitu tapi seperti ada sesuatu pertalian yang mungkin terlupa. Tapi apa. Pikirnya.


"Ayah yakin ?" tanya Spanish ragu.


"terserah adikmu" jawab Mark singkat.


"aku mencintai Marsha tapi aku juga ingin ayah bahagia" isak Parish. Dia bingung harus bagaimana, apa seharusnya dia tidak memulai semuanya.


"Parish..." ucap Marsha lirih.


"maaf kak, kita harus bagaimana sekarang. Parish bingung" Parish memandang Marsha. Tatapan mata mereka saling mengunci satu sama lain.


Marsha menghela nafas panjang.


"mama sudah putuskan, mama akan tetap melaksanakan pernikahan ini" sahut Jade seraya berdiri.


Mark pun ikut berdiri.


Jade memandang Mark, "tuan Mc. Milan, aku sangat bahagia. Karena itu, aku meminta putrimu untuk putraku"


Semua tercengang, ada apa ini. Kenapa jadi begini.


"jadi mereka duluan yang menikah ? atau kita ?!" Mark tertawa lalu diikuti Jade dan Spanish karena mereka berhasil membuat prank untuk Marsha dan Parish.


"maksud mama ?" Marsha tidak mengerti.


Parish yang berada ditengah semakin bingung.


"sayangku, sewaktu om Mark dan Spanish datang menjemput mama dan Venus. Kami sudah membahas semuanya dalam perjalanan pulang. Tentang kami dan tentang kalian. Pada dasarnya kami orang tua merestui cinta kalian. Dan kita memang sebagai keluarga tapi kita tidak sedarah. Kamu bisa menikahi Parish walaupun dia anak dari suami mama" jelas Jade menepuk pundak Marsha.


"dan kami sudah putuskan di hari pernikahan kami, kalian berempat tunangan" sambung Mark.


"iya, ayah akan bicara dengan tuan Ian Mathekevich dan nyonya Raline tentang kalian berdua"


Spanish dan Starla saling pandang. Mereka saja belum ada perencanaan apa-apa.


"Setelah Spanish dan Marsha wisuda, kalian boleh mengajukan pernikahan atau menunggu Starla dan Parish selesai kuliah dulu. Terserah, ayah dan mama akan mengaturnya untuk kalian" lanjut Mark seraya merangkul Jade.


Spanish, Starla, Marsha dan Parish saling pandang. Rencana yang dibuat ayah Mark dan mama Jade betul-betul terperinci dan sukses membuat mereka shock.


"ini keputusan yang cepat, padat dan berisi. Aku dan Starla akan mempelajarinya" Spanish tertawa seraya memegang tangan Starla.


Starla hanya menggelengkan kepalanya.


Marsha mengulurkan tangannya pada Parish, dia mengangguk begitu Parish memandangnya.


Parish hanya menggeleng lemah. Dia tidak tahu harus menjawab apa.


"aku akan bersama kamu" ucap Marsha.


Parish mengangguk.


"jadi semuanya akan menikah... terus aku bagaimana ?" suara Venus memecah keromantisan 3 pasangan itu.


Jade lalu menarik tangan Venus, "kamu akan selalu bersama kami sampai kamu berumur 20 tahun untuk meneruskan usaha papa bersama Kevin dan Marsha" katanya.


Marsha duduk berlutut di depan Venus. Adik kecilnya ini adalah salah satu amanat dari tuan Shane padanya dan Kevin. Mereka berdua akan berusaha menjaga Venus sampai Venus menjalankan Restbarr.


"kakak..." ucap Venus lirih.


"kamu adik kakak, sekaligus boss kecil kakak. Sampai kapanpun kakak akan selalu melindungi kamu" ucap Marsha.


Venus memeluk kakaknya, walaupun dia masih 8 tahun tapi dia sudah mengerti ceritanya. Kalau kakak yang selama ini bersamanya bukan kakak kandungnya, tapi dia sangat sayang pada Marsha karena dia tahu Marsha sangat menyayangi dia dan mamanya.


"Venus akan selalu sayang kakak" ucap Venus meneteskan air mata.


"hey jagoan ! boss kecil tidak boleh nangis di depan orang banyak" Marsha melepaskan pelukannya. Dia menghapus air mata Venus.


"seperti waktu kakak dirumah sakit ya, kakak menangis di depan kak Parish yang tidur" ucap Venus keceplosan.


Marsha terkejut, dia mengacak kasar rambut adiknya "jangan buka rahasia" katanya.


"anggap saja aku tidak dengar" Parish menahan ketawanya.


Semua tertawa lucu melihat Marsha yang jadi salah tingkah di depan semuanya.


Parish mengulurkan tangan membantu Marsha berdiri, "walaupun kamu nangis, tapi tetap tampan sayang" katanya.


Marsha beranjak berdiri dengan tatapan tanda tanya.


"aku tahu, aku tahu semuanya" ucap Parish seraya menyandarkan kepalanya di pundak Marsha.


Marsha merangkulnya. Dia bahagia.


*


Mereka bersiap pulang ke RedRose City.


Sudah tidak ada lagi yang diingat di kota ini, Parish sudah mengingat semuanya. Sekarang dia akan pulang dulu, nanti akan kesini lagi.

__ADS_1


Mereka mengunjungi makam Chrissy Mc. Milan lalu memutuskan untuk singgah makan di Restbarr sekalian pamit pada Kevin.


Mark semobil dengan Jade, Venus dan Alex yang jadi supirnya. Sementara Spanish dan Starla hanya berdua dimobil Spanish. Di mobil yang satunya seperti awal datang, auncle Tom, aunty Lesly, Marsha dan Parish.


Kevin menyambut mereka. Dia sudah menyiapkan makan siang untuk menjamu tamu-tamunya.


"terima kasih Vin" ucap Jade.


"sama-sama nyonya, aku akan menunggu kalian kembali lagi kesini" ucap Kevin.


"kamu duduk juga Vin, makan bersama kami" sahut Mark.


"iya Vin. Mama memintamu, bukan nyonya" ujar Jade.


Kevin terbelalak, "mama ?!" dia senang.


"iya, sudah seharusnya kamu memanggil aku begitu karena kamu dan Marsha adalah kakak bagi Venus. Iya kan sayang ?" Jade minta persetujuan dari Venus.


"iya ma, Venus senang punya banyak kakak. Semua kakak Venus, termasuk kak Kevin" Venus tersenyum pada Kevin. Dia lalu turun dari tempat duduknya, mengitari meja dan memeluk Kevin.


Kevin mengangkat Venus dan mengendongnya, "terima kasih boss kecil" katanya lalu mengambil tempat duduk bersebelahan dengan Venus.


"kamu makan duluan ya, aku mau ke kamarku dulu" kata Marsha seraya berbisik pada Parish.


Parish mengangguk.


Marsha langsung menuju kamar khususnya di lantai 3. Dia membuka lemari dan mengambil tas masa kecil Parish. Didalamnya terdapat beberapa buku sketsa Parish lengkap dengan alat tulisnya.


Marsha sengaja membawanya saat mengawal Parish dulu, dia ingin membantu Parish mengingat tapi ternyata Parish mengingat semuanya dengan cara lain.


Dengan segera Marsha keluar, dia tidak mau Parish dan keluarganya lama menunggu.


"itu kan ?!!!" Spanish kaget. Dia sangat mengenal tas itu.


Dulu ibu mereka membeli tas itu sepasang hanya beda versi. Kalau ransel untuk Spanish sedangkan Parish lebih feminim, dipakai menyilang di bahu.


"iya Nish, ini tas Parish yang terbawa denganku" Marsha menyerahkan tas itu pada Parish.


Parish meraih tasnya. Dia membuka isinya, buku sketsa dengan banyak gambar Marsha sewaktu di taman sekolah seni, "semuanya tentang kak Marsha" ucap Parish.


"iya, karena itu aku tidak mengembalikannya" sahut Marsha.


"trus kenapa sekarang dikembalikan ?" tanya Parish.


"karena aku telah memiliki orangnya" jawab Marsha singkat tapi berhasil bikin Parish berbinar bahagia.


"cieeeeee...." koor semuanya.


Wajah Parish merona merah, dia malu di goda sekeluarga. Dia mencubit kecil pinggang Marsha.


Marsha meringis lalu mengusap rambut Parish.


"ayo makan dulu, baru nanti dilanjut goda-godanya" ujar Mark.


Semua menurut dan tampak fokus dengan isi piring masing-masing.


*


Dalam mobil, Marsha melirik Parish yang lebih banyak diam.


Sekarang hanya mereka berdua. Entah karena apa, auncle Tom dan aunty Lesly pindah kemobil Spanish.


Sepertinya ini sudah direncanakan oleh keluarga mereka, agar dia dan Parish bisa berdua. Jadi Marsha tidak ingin membahasnya atau mau komplain.


Parish juga hanya bisa manyun pada Spanish, karena tidak mendapat pembelaan dari ayahnya saat komplain.


Marsha menarik tangan Parish dalam genggamannya.


Parish menoleh, dia tersenyum, "memangnya bisa menyetir dengan begitu ?" tanyanya.


"bisa, malah lebih semangat" jawab Marsha.


"hmmm masa iya, fokus nyetir sayang" ucap Parish.


"iya sayang, ini sudah konsen sambil sesekali liat kamu" balas Marsha.


"hmmm ada saja jawabannya" Parish geleng kepala.


Marsha melirik Parish sekilas lalu fokus menyetir dengan tetap memegang jemari Parish.


"nanti singgah di minimarket sayang, aku mau beli minuman dingin dan cemilan" kata Parish.


"iya sayang" sahut Marsha.


Tak lama, Parish merasa mengantuk. Dia terpejam.


*


Parish membuka matanya. Dia ketiduran, dan dia tersadar Marsha tidak ada dibalik kemudi. Mobil mereka berada dipelataran parkir sebuah minimarket.


Marsha datang dengan berlari kecil masuk kedalam mobil. Dia tersenyum melihat Parish sudah bangun.


"aku belikan kamu minuman dingin dan cemilan" kata Marsha menaruh kantong belanjaan dikursi belakang.


"terima kasih.. kenapa kakak tidak bangunkan aku"


Marsha memandang Parish tajam, "kamu panggil apa ?!" dia menekan kalimatnya.


Seakan sadar maksud Marsha, Parish meralat kalimatnya cepat "kenapa kamu tidak bangunkan aku, aku mau beli sendiri sayang..." dia memberi penekanan pada kalimat sayang.


Marsha mengusap kepala Parish, "mulai sekarang usahakan panggil aku kamu dan sayang. Aku akan merasa lebih baik" jelasnya.


"kenapa ?" tanya Parish.


"karena panggilan kakak, membuat aku merasa kamu menganggap aku sebatas itu saja. Aku merasa sedih, perasaanku langsung kacau" jelas Marsha.


"jadi selama ini kamu merasa sedih, merasa kacau ?" tanya Parish.


Marsha mengangguk.


"sama, aku juga merasa demikian. Saat aku cuma bisa melihat dari jauh, melihat cewek-cewek itu dekat-dekat kamu, mereka begitu agresif disebelahmu" Parish mengingat.


Marsha meraih jemari Parish dengan tangan kanannya, sementara tangan kirinya memegang pipi Parish, "tapi aku tidak pernah merespon mereka" katanya.


Parish mengangguk, "iya aku tahu, tapi tetap saja aku sakit liatnya"


Marsha membawa Parish dalam pelukannya, "maafkan aku, aku tidak tau kalau kamu akan merasa begitu"


"aku tidak apa" ucap Parish dalam pelukan Marsha.


Marsha semakin mempererat pelukannya. Hingga akhirnya Parish teringat sesuatu.


"ayo kita pulang sayang" Parish melepaskan pelukan Marsha.

__ADS_1


Marsha mengangguk. Dia menghidupkan mesin mobil dan melaju menuju arah RedRose City. Pulang.


***


__ADS_2