Ada Mars Di Ruang Hati Parish

Ada Mars Di Ruang Hati Parish
Part 28


__ADS_3

Hari-hari yang dilalui Parish terasa indah.


Marsha menghujaninya dengan begitu banyak perhatian dan keromantisan. Membuat Parish merasa sangat bergantung dan membutuhkan Marsha, bahkan begitu juga sebaliknya.


Spanish dan Marsha makin sering datang ke kampus karena deadline tugas akhir mereka yang begitu banyak revisi dari dosen pembimbing.


Hingga perjuangan panjang itu membuahkan hasil yang melegakan, mereka bisa wisuda sebelum pernikahan ayah dan mama Jade minggu depan.


"haruskah aku minta ayah agar kita langsung menikah saja ?" Spanish menyikut Starla.


Starla tersipu malu, "aku belum selesai kuliah yang" katanya.


"tidak masalah yang, kan bisa sambil mengurus rumah tangga" Spanish mengedipkan matanya.


Marsha menyodorkan air minum pada Parish.


"terima kasih, minum kamu mana ?" tanya Parish.


"setelah kamu minum, baru aku minum" jawab Marsha.


"cie, sebotol berdua" goda Starla.


Parish menjulurkan lidah.


"kamu bagaimana Mars ? tidak mau mengajukan pernikahan ?" tanya Spanish.


"ih kakak kenapa ajak-ajak Marsha, kami masih menikmati masa pacaran" sergah Parish.


"tapi pacaran setelah nikah itu lebih mantap sayang" sahut Spanish seraya merangkul Starla.


"aku terserah kamu, ayah dan mama tidak melarang kita untuk menikah. Yang penting aku dan Spanish sudah selesai kuliah" kata Marsha.


Parish memandang Marsha. Dia tidak ragu dengan kemampuan Marsha mencari nafkah untuk dirinya kelak. Toh sekarang Marsha sudah kerja sambil menyelesaikan studinya. Hanya saja, dia merasa masih terlalu cepat. Dia tidak ingin buru-buru. Tapi tidak punya kalimat yang tepat agar Marsha tidak tersinggung. Karena Parish tahu, Marsha sangat sensitif tentang hubungan mereka. Satu kesalahan saja, dia bisa kepikiran berhari-hari dan berulang kali meminta maaf.


"sayang.. kamu memikirkan apa ?" tanya Marsha.


"tidak ada sayang, aku masuk kelas dulu ya" Parish melirik jam tangannya.


Starla juga bersiap. Dia pamit pada Spanish.


Parish memegang pipi Marsha, "jangan berpikir yang aneh, aku baik-baik saja" katanya. Dia lalu mencium pipi Marsha.


Marsha mengangguk. Tapi sejujurnya, dia masih penasaran tentang jawaban Parish.


"bye sayang" pamit Parish.


"bye sayang" balas Marsha pelan.


*


Parish merebahkan badannya di tempat tidur. Kelas siangnya selesai sampai sore. Dia merasa kecapean dan mengantuk.


Ponselnya berbunyi. Pesan masuk dari Marsha.


Sudah dimana ? aku jemput ya


Parish membalas,


Aku sudah dirumah, tadi diantar Starla.


Boleh tidur sebentar, aku lelah


Marsha membalas,


Kamu tidak mau ketemu aku ?


Itu kan ?! mulai sensi lagi. Gumam Parish.


Dengan cepat dia membalas.


Bukan begitu sayangku, aku hanya mau istirahat sebentar. Nanti malam kita ketemu ya 😘


Parish berharap semoga bujukannya berhasil.


Tak lama Marsha membalas,


Baiklah sayang, semua yang kamu inginkan. Sampai ketemu nanti malam 😘


Parish membalas,


Iya sayang ❤


Marsha tidak membalas lagi.


Parish meletakan ponselnya di samping lalu meraih boneka teddy bearny dan tertidur.


*


Jam 7 malam, aunty Lesly masuk membangunkan untuk makan malam. Dengan bergegas, dia bersih-bersih, dandan sedikit memakai bedak tabur dan polesan lipbalm pada bibirnya agar tidak kering.


"maaf Parish ketiduran" ucap Parish melihat ayah dan kakaknya sudah menikmati makan malamnya.


"tidak apa, ayo duduk sini sayang" ujar Mark.


"aku sudah bilang pada ayah tentang pengajuan pernikahan. Kamu bagaimana ?" tanya Spanish seraya mengambilkan ayam goreng ke piring adiknya.


Parish memandang kakaknya, "Parish masih belum kepikiran sekarang" jawabnya.


"kenapa sayang ?" tanya Mark.


"Parish masih butuh waktu untuk bicarakan ini dengan Marsha" jawab Parish.


"aku yakin Marsha setuju, dia maunya langsung nikah" sahut Spanish.


"aku belum siap" jawab Parish singkat.


Mark Mc. Milan dan Spanish mengangguk mengerti.


*


Marsha datang jam 8 malam seperti biasanya. Parish mengajaknya duduk di teras taman belakang.


Parish merasa ada yang salah. Marsha hanya diam sambil terus mengenggam erat jemarinya. Tidak ada sepatah kata pun sampai Minny datang membawa minuman pun Marsha hanya sedikit tersenyum.


"sayang, ada apa ?" tanya Parish.


Marsha hanya menggeleng, "tidak ada apa-apa" katanya.


"yakin ?!" Parish memegang pipi Marsha.


Marsha mengangguk.


"trus kenapa kamu hanya diam, tidak bicara ?" sergah Parish, dia merasa tidak nyaman.


"kamu belum menjawab pertanyaanku" kata Marsha.


"tentang apa ?" Parish duduk tegak menghadap Marsha.


"aku mengajak kamu mengajukan pernikahan pada ayah dan mama" ujar Marsha akhirnya.


"astaga sayang, kamu kepikiran itu ? aku sudah bilang, jangan dipikirkan" Parish geleng kepala.


Marsha memandang Parish dengan wajah tidak suka, "kenapa ? itu pernikahan kita, kenapa jangan dipikirkan" katanya.

__ADS_1


Parish membalas tatapan Marsha, astaga ! aku salah bicara lagi. ungkap Parish dalam hati.


Parish menangkup wajah Marsha dengan kedua tangannya, "kamu marah ?" tanyanya.


Marsha memegang kedua tangan Parish yang menempel diwajahnya, "aku merasa kamu tidak mau menikah denganku" ucapnya lirih.


Parish terdiam, Marsha berpikir sampai kesitu. Dia menghela nafas panjang, bagaimana caranya menjelaskan pada Marsha.


"sayang, aku ingin kita begini dulu. Aku belum siap menikah sekarang, bukan karena aku tidak mau. Bukan !" Parish memandang Marsha lekat.


"tapi aku maunya kita sama-sama terus" kata Marsha.


"iya, aku tahu. Tapi dengan kita sekarang begini saja, sudah sama-sama terus. Aku hanya ingin menyelesaikan semua tugas sebagai putri ayah, menyelesaikan pendidikan. Aku tahu ayah tidak masalah kalau aku menikah lalu selesaikan kuliahku tapi akunya yang merasa aku harus selesaikan dulu satu-satu. Aku bahagia, ada kamu yang temani aku" jelas Parish.


Marsha memandang Parish, "bukan karena kamu tidak mau ?" dia meyakinkan.


"tidak sayang, kamu jangan berpikir yang aneh-aneh" balas Parish.


"baiklah, kita tunangan saja. Pernikahan kita bicarakan lagi setelah kuliahmu selesai" ucap Marsha akhirnya.


"terima kasih sayang, maaf aku buat kamu kepikiran" Parish merebahkan kepalanya di dada Marsha.


Marsha membalas memeluknya erat, "aku sangat mencintaimu, sangat" katanya lalu mencium puncak kepala Parish.


"aku tahu, aku juga mencintaimu selalu" ucap Parish dalam pelukan Marsha.


*


Moment wisuda Spanish dan Marsha di gelar hari ini jam 10 pagi. Parish sudah bersiap-siap dari jam 6 pagi. Dia membantu kakak dan ayahnya bersiap.


Parish lalu turun kebawah memastikan sarapan mereka sudah siap dalam kotak makanan karena mereka mau kerumah keluarga Shannon, sarapan bersama disana. Ayah akan didampingi oleh mama Jade.


"pagi aunty.. apa ada yang aku bawa duluan ? aku mau jalan sekarang" kata Parish melihat aunty yang sedang merapikan dapur.


"semuanya sudah aunty masukan dalam kotak makanan nona" aunty Lesly membalikan badannya, "wah cantiknya, nona tambah cantik saja" puji aunty Lesly.


"terima kasih.. jangan bikin aku geer aunty"


"dijamin saat acara, Marsha gelisah mau dekat nona terus karena takut ada yang dekati nona" goda aunty.


"itu yang aku takutkan, aunty tau sendiri Marsha bagaimana" Parish geleng kepala.


aunty Lesly mengangguk, "itu tanda Marsha cinta sama nona. Ya harus di jagalah, calon tunangannya cantik kayak bidadari begini" sahut aunty tambah memuji.


"terima kasih aunty... sudah ah, nanti aku jadi besar kepala" Parish tersenyum.


"nona, mobil sudah siap" kata auncle Tom, dia memandang kagum.


"iya auncle, kita duluan saja. Sebentar lagi kak Spanish dan ayah akan turun dan menyusul kita" Parish berjalan duluan sambil membawa kotak makanannya. Dia melewati auncle Tom yang mematung, "auncle !!!" Parish mengagetkan auncle Tom.


"iya nona, maafkan auncle. Nona begitu cantik hari ini. Masih acara wisuda sudah cantik begini, nikahan nanti pasti tambah cantik" puji auncle.


"hmmm mulai gombal lagi, sudah ya aunty. Ayo auncle" Parish menggandeng lengan auncle Tom.


*


Parish memasuki rumah keluarga Shannon. Dia langsung menemui mama Jade yang sedang menyiapkan sarapan dimeja makan.


"pagi mama.." sapa Parish mencium kedua pipi kanan kiri mama Jade.


"pagi sayang, kamu tolong mama liat Marsha dan Venus ya" kata Jade.


"iya ma, ini kotak makanan dari aunty. Aku langsung keatas ya" sahut Parish.


"iya, suruh mereka cepat turun" kata Jade.


"ok mamaku sayang" dengan bergegas Parish menaiki tangga.


"kak Parish, cantiiiiiiiiikkkkkk" puji Venus setelah berteriak dari depan kamarnya.


Bocah 8 tahun itu terlihat stylist dengan kemeja warna biru, jas abu-abu dengan celana pendek warna senada, dan memakai sepatu santai.


"ciumnya mana ?" kata Venus menyodorkan pipinya.


"dengan senang hati" Parish mencium kedua pipi Venus.


"terima kasih kakakku yang cantik" ucap Venus lalu turun kebawah.


"tinggal si bayi gede" gumam Parish.


Dia melangkah menuju kamar Marsha. Dia mengetuk tapi tidak ada sahutan.


"sayang, aku masuk ya" Parish menarik gagang pintu.


Marsha tidak ada di tempat tidur. Parish membuka lebar pintu dan masuk mencari Marsha. Dan tiba-tiba ada yang memeluknya dari belakang.


"pagi sayangku" bisik Marsha di telinga Parish.


"pagi sayang" Parish memegang tangan Marsha yang melingkar dipundaknya.


Parish hendak berbalik tapi Marsha mencegahnya, "aku mau kita begini sebentar saja, boleh ya" katanya.


Parish mengangguk, "tapi sebentar lagi semua berkumpul dibawah sayang" ucapnya.


"sebentar saja sayang" Marsha menahan.


"baiklah" Parish membiarkan posisi mereka sekarang. Parish terdiam karena dia merasa Marsha menghela nafas panjang. Seperti menyimpan beban yang berat dalam hatinya.


Setelah Marsha meregangkan pelukannya, Parish berbalik. Dia memegang kedua pipi Marsha.


"kamu sudah siap ?" tanya Parish, sebenarnya dia ingin bertanya hal yang lain tapi tidak jadi karena dia takut pembahasan yang itu itu lagi. Tentang pernikahan.


"iya, tinggal pakai Jas. Baju wisudaku sudah di gantung dalam mobil" kata Marsha. Dia mundur perlahan sambil memandangi Parish dari atas hingga ujung kaki.


Calon tunangannya itu begitu cantik hari ini. Dengan mengenakan gaun terusan perpaduan warna biru dan abu-abu, dandanan soft minimalis, rambut yang digelung rapi serta highheel yang memamerkan kaki indahnya.


Hari ini dresscode keluarga mereka adalah biru dan abu-abu. Mama Jade dan Parish yang menyiapkan semuanya. Mereka dari jauh hari sudah memesan kain dan meminta madam Vian membuat seragam untuk mereka. Dan akhirnya selesai tepat waktu.


"kamu cantik sekali sayang" ucap Marsha seraya maju dan memegang pipi Parish.


"terima kasih sayang, kamu juga sangat tampan" balas Parish seraya melakukan hal yang sama.


Dari awal mereka bersama, mereka suka menunjukan kasih sayang dengan memegang pipi satu sama lain. Sebuah sentuhan yang biasa tapi membuat mereka merasa saling membutuhkan.


"pokoknya setelah prosesi, kamu jangan jauh-jauh dari aku" kata Marsha mengusap pipi Parish dengan ibu jarinya.


"hmmmm mulai deh posesifnya, iya sayang iya" Parish mengambil jas Marsha yang di gantung di depan pintu lemari. Lalu menggandeng lengan Marsha hendak keluar dari kamar.


Langkah Marsha terhenti. Parish memandang Marsha.


Marsha mendekat wajahya, dia men**** bibir merah merona Parish. Parish membiarkan Marsha melakukannya.


"aku mencintaimu" ucap Marsha setelah melepaskn ****anny tadi.


Kini kening mereka bertemu. Parish mengatur nafas dan debar jantungnya yang tidak karuan.


"aku tau sayang, kita keluar ya. Semua sudah menunggu" ucap Parish.


Marsha mengangguk lalu mengamit jemari Parish keluar kamar.


Di ujung tangga, Venus sudah siap dengan ponselnya "tunggu, pose dulu" katanya.


Parish tersenyum, dia memakaikan jas Marsha dan memberi beberapa pose berdua dengan Marsha untuk Venus.

__ADS_1


"waaaaahhh perfect !!" seru Venus mengacungkan jempolnya.


"kirim ke wa kakak ya" ujar Parish.


"ok kakak cantik" balas Venus.


Mereka lalu bergabung dengan yang lain di meja makan. Tampaknya ayah dan kakaknya sudah datang.


Sarapan bersama lalu bergegas menuju auditorium kampus.


*


"Starla" Parish melambaikan tangannya begitu turun dari mobil.


Starla sudah menunggu mereka. Dia mengenakan baju senada dengan Parish. Sebagai calon tunangan Spanish, Starla memakai dresscode yang sama.


"kamu cantik Rish" puji Starla.


"terima kasih, kamu juga cantik kakak ipar" Parish balas memuji.


"ayang... kamu cantik sekali hari ini" puji Spanish.


"terima kasih yang, kamu juga tampan mempesona" balas Starla.


Parish berlagak seperti mau muntah. Spanish mencubit hidung adiknya gemas.


"kamu tuh, punya kakak tampan mempesona begini seharusnya bangga" Spanish menyombongkan diri.


"ya ya ya.. kalo diliat dari menara hotel ayah" Parish tertawa.


Marsha dan Starla ikut tertawa.


"sudah, kalian sampai kapan mau bicara terus. Sudah hampir jam 9 lewat, kamu dan Marsha harus sudah di dalam" tegur Mark Mc. Milan.


"iya yah, ayo Mars" ajak Spanish.


Marsha menyentuh pipi Parish, pamit. Parish mengangguk.


Ayah dan mama Jade mengajak Parish, Starla serta Venus masuk kedalam gedung lewat pintu yang berbeda dengan Marsha dan Spanish.


Ayah dan mama Jade menempati kursi VIP deretan Dewan Kampus karena ayah salah satu donatur di kampus ini.


Sedangkan Parish, Starla dan Venus duduk di kursi tamu undangan. Parish duduk di apit Starla dan Venus.


Setelah hampir 2 jam lebih, prosesi wisuda selesai. Mereka keluar gedung untuk mencari tempat buat sesi foto-foto mereka.


Spanish menarik tangan Starla untuk berfoto bersamanya. Sementara Marsha dan Parish foto bertiga bersama Venus. Orang tua mereka masih berbincang di dalam dengan dewan kampus.


"sekarang berdua" kata Venus. Dia bergaya bak fotografer profesional mengarahkan kamera ponselnya kearah Marsha dan Parish.


"Venus, foto kakak juga. Nanti foto berempat" kata Spanish memanggil Venus.


Venus mengangguk, lalu beranjak mendekati Spanish dan Starla.


Marsha dan Parish duduk istirahat sebentar di bangku taman.


"kamu capek sayang ?" tanya Marsha seraya menepuk-nepuk dahi Parish dengan tisu untuk menghilangkan keringat tanpa merusak makeup Parish.


"terima kasih. Tidak apa sayangku, apa sebaiknya kita cari saja photobothnya ? nanti orang tua kita menyusul" usul Parish.


"terserah kamu sayang" Marsha memegang pipi Parish.


"kak, kita langsung cari photoboth bagaimana ?" tanya Parish sedikit berteriak pada Spanish.


"tidak usah... tenang, kakak sudah janjian dengan kak Ori untuk sesi foto di studionya" balas Spanish.


Parish mengangguk. Baiklah, berarti mereka hanya menunggu orang tua mereka selesai bercerita terus langsung menuju ke studio ka Ori, fotografer ternama di Kota RedRose.


"hai Rish.." sapa seseorang.


Parish menoleh, "eh hai Mostly" sapa Parish.


Mostly melambai pada Spanish yang masih sesi foto-foto dengan Starla.


"kamu kenapa ada disini ?" tanya Parish setahunya anak salah satu patner kerja ayahnya itu tidak kuliah disini.


"ada sepupuku yang juga wisuda hari ini, aku menyempatkan diri datang" jelasnya.


"ooo sweety apa kabar ?" tanya Parish, dia teringat adik Mostly yang seumuran dengannya.


"dia baik, sama dengan kamu dia lagi semester sibuk" jawab Mostly seraya melihat sosok disebelah Parish yang dari tadi memandang dengan tatapan tajam.


Ya, Marsha sedang cemburu sekarang. Dari tadi Mereka berdua bicara seakan tidak ada Marsha disitu.


Seakan tahu kesalahannya, Parish memperkenalkan Marsha pada Mostly.


"Most, kenalkan calon tunanganku" ucap Parish.


Mostly agak sedikit terkejut, dia berfikir cowok itu adalah anak dari calon mama Parish seperti yang ayahnya ceritakan. Tapi kenapa bisa dia juga sebagai calon tunangan Parish. Dia tidak punya peluang. Pikirnya dalam hati. Padahal selama ini dia memendam rasa pada Parish, semenjak mereka bertemu di acara perusahaan daddynya.


Mostly mengulurkan tangan seraya menyebut nama, Marsha menyambutnya dan menyebutkan namanya juga.


Merasa suasana tidak nyaman dengan tatapan Marsha padanya, Mostly pamit pada mereka lalu mendekati Spanish, bicara sebentar dan pergi.


"siapa dia ?" tanya Marsha dengan tampang tidak suka.


"dia anak patner kerja ayah. Kami biasa bertemu di undangan acara kantor karena biasanya ayah mengajakku dan Spanish untuk menemani" jelas Parish.


"dia sepertinya suka sama kamu" ucap Marsha.


Parish memandang Marsha. Marsha dikuasai rasa cemburu sekarang.


"sayang, aku sukanya sama kamu" Parish mencium pipi Marsha.


Marsha memandang Parish, "terima kasih sayang" katanya seraya meraih jemari Parish dan menggengamnya erat.


*


Setelah dari studio foto kak Ori, mereka lanjut makan siang bersama lalu pulang kerumah. Spanish yang membawa mobil, mengantar Starla pulang. Sementara di mobil yang dikendarai auncle Tom, ayah, mama Jade dan Venus akan pulang kerumah Shannon untuk mengantar mama Jade dan Venus pulang.


Marsha yang membawa mobil mama Jade masih berdiam di pelataran parkir studio. Parish memandang Marsha, ada apa lagi. Pikirnya. Dia mencoba bersikap biasa.


"sayang, kita pulang ya" ajak Parish.


"kita menikah saja Rish" ucap Marsha.


Lagi-lagi tentang ini. Ucap Parish dalam hati.


"kita bicarakan dirumah" kata Parish memegang pipi Marsha.


Marsha menurut, dia menyalakan mesin mobil dan melaju menuju rumah keluarga Mc. Milan.


*


Parish menutup pintu kamarnya dengan kasar. Setelah pembicaraan yang alot akhirnya dia terpancing emosi juga.


Marsha ingin segera menikah setelah pesta pernikahan orang tua mereka digelar. Tapi Parish masih belum siap dan permintaan Marsha seperti sebuah paksaan untuknya.


Karena Marsha yang terus tidak mengerti, akhirnya Parish meninggalkannya sendirian di gazebo.


Pesan masuk. Dari Marsha.


Aku pulang sayang, love u ❤

__ADS_1


Parish tidak membalas. Dia bahkan melempar ponselnya diatas kasur. Dia menghela nafas, lalu masuk kamar mandi. Mungkin dengan berendam, dia akan lebih tenang.


***


__ADS_2