Ada Mars Di Ruang Hati Parish

Ada Mars Di Ruang Hati Parish
Part 8


__ADS_3

Starla tertunduk melihat keadaan Parish dari kaca pembatas ruang perawatan. Dia tidak menyangka kondisi Parish sangat serius. Parish sampai tidak sadarkan diri.


Dokter sudah berusaha memberikan pertolongan tapi Parish tetap tidak bereaksi.


Tak lama dokter Steve keluar dari memeriksa Parish. Mark Mc. Milan, Spanish dan Starla pun segera memburunya dengan segala kecemasan yang terlihat dari raut wajah mereka.


Dokter Steve meminta mereka untuk sementara membiarkan Parish istirahat.


"jangan dulu dibesuk sampai dia sadar" kata dokter Steve.


"tapi aku ingin masuk kedalam Steve.... aku ingin temani Parish" protes Mark Mc. Milan.


"kamu ingin aku menolong Parish kan ?! ini penanganan yang terbaik yang bisa aku berikan. Aku sudah menempatkan suster untuk gantian menjaga Parish didalam sana, mereka akan selalu mengecek kondisi Parish. Aku akan terus memantau perkembangannya. Semoga reaksi obat yang aku berikan cepat bekerja, mengingat Parish alergi antibiotik. Kamu percayakan Parish padaku" dokter Steve mencoba menenangkan sahabatnya itu.


"Ayah.. aku mohon, demi Parish" ucap Spanish.


Dokter Steve kemudian pamit. Ayah hanya membalasnya dengan mengangguk.


Spanish merangkul bahu Ayahnya. Dia sudah meminta Ayahnya untuk pulang beristirahat dirumah, tapi Ayahnya tetap ingin berada dekat Parish.


"Ayah tidak mau pulang Nish... Ayah mau temani adikmu" ucap Ayah.


Spanish mengerti tapi dia juga khawatir dengan kesehatan Ayahnya.


"Baiklah... Ayah tidur dulu.. biar Spanish yang menjaga" Spanish berusaha tenang.


Mark Mc. Milan mengangguk. Dia lalu menuju sofa, mengambil bantal dan selimut dari dalam tas besar yang tadi dibawa aunty Lesly dan auncle Tom dari rumah. Dia merebahkan diri dan tidak lama dia pun terlelap.


Ruang perawatan Parish termasuk VVIP. Terdiri dari dua ruang dalam satu kamar. Jadi ruang depan bisa sebagai tempat menerima tamu dan beristirahat untuk penjenguk dan keluarga yang menunggu.


"aku antar pulang" ucap Spanish pada Starla yang kembali berdiri memandang Parish yang sedang tertidur. Parish berada disana bersama seorang suster yang sesekali mengecek monitor disebelah tempat tidur.


"aku sudah minta izin Papa Mama untuk menemani Parish. Aku bilang ada om Mark juga disini" kata Starla.


Spanish mengangguk.


Spanish menoleh kebelakang. Dia ingin memastikan Ayahnya sudah tidur. Karena ada yang ingin dia bicarakan dengan Starla tentang adiknya. Tapi dia ragu untuk membicarakannya di tempat itu, takut kalau Ayahnya masih bisa mendengar mereka.


"kita bicara di luar" ajak Spanish.


Starla mengangguk dan mengikuti Spanish keluar ruang perawatan.


*


Spanish duduk berdampingan dengan Starla di bangku taman depan kamar perawatan Parish.


"aku mau kamu jawab aku dengan jujur.. karena cuma kamu yang bisa membantuku"

__ADS_1


"ada apa ?" Starla menoleh.


"apa yang sedang Parish pikirkan ?"


Starla terdiam. Dia sangat tahu itu. Tapi dia sudah janji pada Parish untuk tidak bilang apapun pada siapapun, tidak terkecuali pada Spanish. Parish tidak mau kakaknya itu kepikiran.


"kalo hanya masalah ringan, Parish tidak mungkin sampai drop begitu. Aku sangat mengenal dan menjaganya" suara Spanish mulai berat.


Starla hanya terdiam memandang Spanish. Dia dilema. Tapi Parish harus dibantu. Tapi kalau Parish tahu bantuan itu adalah larangannya, Parish bisa marah besar. Starla menggeleng kuat.


"maafkan aku.. maaf" Starla mulai terisak.


Dia merasakan sesak dalam dadanya. Dia ingin yang terbaik untuk Parish, dan yang terpenting sekarang.. dia ingin Parish sadar.


Spanish memandang Starla. Dia memeluk tubuh Starla, gadis itu kini terisak dalam pelukannya.


"Parish... Parish.. aku tidak bisa kak" Starla melepaskan pelukan Spanish.


"aku sudah janji sama dia untuk akan selalu menjaga ceritanya" lanjutnya.


Spanish meraih jemari Starla.


"aku mengambil alih janjimu. Biar aku yang bertanggungjawab pada Parish nanti" ucap Spanish.


"tapi kak... dia tidak mau kamu jadi ikut kepikiran" sahut Starla.


"aku ingin adikku bangun Star.." Spanish lirih.


"kamu mau kan cerita sama aku" bujuk Spanish.


"tapi kamu janji, kamu tidak boleh melakukan apapun yang bisa bikin Parish kecewa sama kamu. Kamu kebanggaannya" Starla mencoba membuat kesepakatan dengan Spanish.


"aku janji demi Parish" ucap Spanish.


Starla mengangguk. Dan akhirnya cerita cinta Parish keluar dengan pelan dan hati-hati agar tidak ada yang mendengar.


*


Spanish terperanjat kaget. Jadi selama ini adiknya menyimpan perasaan suka pada Marsha. Dan dia tidak menyadari hal itu.


Spanish jadi teringat, bagaimana Parish selalu menyempatkan datang disetiap pertandingan mereka. Bagaimana Parish datang melihat mereka latihan. Bagaimana Parish selalu datang membawakan air minum kalau mereka lupa membawanya.


"Parish sangat terpukul begitu datang ke resto ketemu tante Jade dan ternyata mamanya kak Marsha. Kakak tau kalo ayahmu dekat dengan mamanya kak Marsha ?"


Spanish mengangguk.


"awalnya mereka bertemu karena bisnis. Tante Jade pemasok bunga di hotel ayah. Dan hubungan itu terjalin, aku sih baik-baik saja karena Marsha sahabatku. Aku dan ayah sengaja kasih kejutan untuk Parish" jelas Spanish.

__ADS_1


"dan Parish bukan hanya terkejut tapi drop kak" sergah Starla.


Spanish memandang Starla.


"jadi apa yang bisa kakak lakukan untuk Parish ? untuk adikmu ?" ujar Starla.


"aku aku... aku belum tau" ucap Spanish bingung.


"biarkan mereka dekat. Aku liat kak Marsha juga sudah mulai akrab dengan Parish"


"ayah.." ucap Spanish.


"bisakah kita menyadarkan Parish dulu. Aku yakin, kak Marsha bisa buat Parish bangun" Starla meyakinkan.


"aku akan bicara pada Marsha"


"bicara apa ? bilang kalo Parish suka padanya dari dulu ? apa kak Marsha juga suka sama Parish ? jangan kak.. bukan itu yang Parish mau" sahut Starla.


Spanish memandang kekasihnya itu. Dia mulai mencerna maksud Starla.


"jangan bicara apa-apa pada kak Marsha. Dari dulu Parish ingin cerita cintanya mengalir. Dia ingin kak Marsha membalas cintanya, tapi bukan karena terpaksa. Karena itu dari dulu Parish selalu menahan aku untuk bilang apapun. Hal ini menjadi rahasia kami" Starla menjelaskan lagi.


Spanish terdiam sejenak, dia mencoba berpikir. Disisi lain ada Ayah yang sedang menjelang hari bahagianya. Tapi adiknya sangat terluka sekarang. Sebagai kakak dia bisa merasakan apa yang Parish rasakan. Pantas saja setelah pertemuan di resto itu, ada yang berubah dari diri adiknya. Adiknya lebih banyak diam, menutup diri, dan sekalinya terlihat ceria tapi terasa hambar. Dia ingin adiknya juga bahagia. Tapi.. ahhhh... Spanish mendesah dalam hati. Ada rasa berat, tapi dia harus punya keputusan sekarang.


Dia akan berusaha untuk buat Parish bangun dari tidurnya, biarkan Parish sehat seperti sediakala dan tentunya buat Parish bahagia. Baru nanti dia akan pelan-pelan bicara pada ayahnya. Dia yakin ayahnya tahu keputusan yang terbaik untuk mereka.


"baiklah. Seperti yang Parish mau. Kita akan bikin semuanya seperti biasanya. Marsha akan selalu ada disamping Parish tanpa tau kalo ini adalah sebuah rencana" ucap Spanish.


"cuma kita yang tau" Starla tersenyum.


Spanish membalasnya dengan senyuman yang penuh percaya diri. Dia tidak salah sudah suka pada Starla. Starla sangat menyayangi Parish, sesuai harapannya untuk cewek yang akan jadi pacarnya, dan kelak jadi istrinya. Karena Spanish sangat ingin adiknya ikut bahagia, merasakan kebahagiaannya.


"terima kasih sayang" ucap Spanish menggoda.


Starla kaget lalu tersipu malu-malu.


"ihhhh kakak, nanti didengar orang" ucap Starla.


"kita sudah jadian. Seharusnya kamu sudah harus terbiasa panggil aku khusus. Sayang, ayang, bebeb, yang lain dari panggilan ke teman. Masa kak Spanish" protes Spanish manyun.


"aku harus panggil apa ?" tanya Starla bingung.


"ya apa.. asal jangan ada kak-nya" sergah Spanish.


"baiklah.. panggil ayang saja ya" ujar Starla.


"iya ayang beb" sahut Spanish seraya mencubit pipi Starla.

__ADS_1


Starla tertawa seraya memukul pelan pundak Spanish. Spanish memegang tangan Starla seraya ikut ketawa. Tertawa riang untuk memulai babak baru hubungan mereka.


***


__ADS_2